Cover by me.
Saat SMP Reani Sarasvati Ayuna pernah diam-diam jatuh pada Kadewa Pandugara Wisesa, sahabat kakaknya—Pramodya yang di ketahui playboy. Tapi bagi Kadewa, Rea cuma adik dari temannya, bocah kecil yang imut dan menggemaskan.
Patah hati saat Kadewa masuk AAL sambil menjalin cinta pada gadis lain dan kali ini cukup serius. Rea melarikan diri ke Jakarta, untuk melanjutkan kuliah dan setelahnya menetap dan berkarir disana sebagai encounter KAI, berharap bisa menjauhkan dirinya dari laut dan dari...
Kadewa..
Tujuh tahun berlalu, takdir menyeretnya kembali. Kadewa datang sebagai Kapten TNI AL yang lebih dewasa, lebih mempesona, dan lebih berbahaya bagi hatinya.
Rea ingin membuktikan bahwa ia sudah dewasa dan telah melupakan segalanya. Namun Kadewa si Paus yang tak pernah terdeteksi dengan mudah menemukan kembali perasaan yang telah ia tenggelamkan.
Mampukah cinta yang terkubur tujuh tahun itu muncul kembali ke permukaan, atau tetap menjadi rahasia di dasar samudra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Untuk Apa Aku Capek
Di ujung Utara Indonesia, tepatnya di Kepulauan Natuna. Suara adzan berpadu dengan suara ayam jantan yang bersahutan dari kejauhan.
Di kamar sederhana itu, Kadewa di bangunkan oleh Mbak Nasya.
"Dek, bangun. Ikut Masmu ke masjid sana," perintah Mbak Nasya begitu lembut.
Kadewa yang memang sejak sore sudah tertidur karena kelelahan akibat perjalanan panjang itu pun menggeliat sebentar di atas ranjangnya, meregangkan tubuhnya, mengucek kedua matanya, lalu duduk perlahan.
Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibanding semalam seolah tidur panjang itu telah menyapu sebagian beban yang menempel di dadanya.
Kadewa mengangguk kecil, masih setengah sadar. “Iya, Mbak.”
Ia bangkit dari ranjang, meraih baju kaos milik mas Argan yang di pinjamkan mbak Nasya kemarin dan ia gantung di sandaran kursi. Saat kakinya menyentuh lantai, dingin pagi Natuna langsung merambat naik, membuatnya sedikit tersenyum kecut. Dingin yang benar-benar dingin, alami. Bukan dingin dari pendingin ruangan, bukan dingin dari rumah besar yang terlalu sepi.
Dari luar kamar, terdengar suara langkah kaki berat namun teratur.
“Udah bangun?” suara bariton itu menyapa.
Kadewa menoleh. Di ambang pintu berdiri Mas Argan—Letkol Argantara, suami Mbak Nasya. Sudah tampak rapih mengenakan baju Koko, sarung, serta pecinya. Tampak siap untuk pergi sholat subuh ke masjid.
Kadewa baru sadar, kemarin ia bahkan tak tahu kapan kakak iparnya itu pulang dari dinas. Selesai sholat magrib, ia langsung tertidur. Perjalanan panjang dari Surabaya ke Natuna menguras sisa tenaga dan kewaspadaannya.
“Iya, Mas,” jawab Kadewa.
Mas Argan menatap Kadewa sekilas, lalu mengangguk kecil. Tidak banyak komentar. Tidak ada pertanyaan berlapis. Seolah cukup dengan melihat kondisi Kadewa pagi itu, ia sudah tahu bahwa bocah yang biasanya ceria itu sedang membawa sesuatu yang tak ringan.
“Ambil wudhu,” katanya singkat. Nada suaranya datar, tapi tidak dingin. Lebih ke tenang. “Kita jalan lima menit lagi.”
“Iya, Mas.”
Kadewa melangkah ke kamar mandi. Air wudhu yang dingin menyentuh kulitnya, membuat kesadarannya benar-benar utuh. Saat membasuh wajah, ia sempat menatap bayangannya di cermin kecil. Matanya masih lelah, tapi tidak sekosong kemarin.
Ketika Kadewa keluar dari kamar mandi, Mas Argan sudah menunggu di ruang depan. Mbak Nasya berdiri di dekat pintu, menggendong Yasa yang kini sudah ikut terbangun juga, matanya setengah terbuka dan pipinya menggembung lucu.
Kadewa sempat mencolek pipi keponakannya itu sejenak sambil tersenyum tipis.
“Mas berangkat dulu,” pamit Mas Argan pelan.
Mbak Nasya mengangguk sambil mengelus punggung Yasa perlahan. “Hati-hati,” ucapnya lembut.
Mas Argan menunduk sedikit, mengecup pipi putranya sekilas, lalu menoleh pada Kadewa. Tatapannya singkat, tapi mengandung isyarat jelas mengajaknya untuk berangkat.
Kadewa membalas anggukan itu kecil, lalu melangkah mendekat ke pintu.
“Subuh di sini dingin, Ndu” kata Mbak Nasya pada Kadewa. “Pakai jaketnya, ya.” tambah Mbak Nasya menyerahkan jaket milik suaminya untuk di kenakan adik bungsunya itu.
Takut Kadewa tidak terbiasa dengan hawa dingin di sini.
“Iya, Mbak,” jawab Kadewa.
Pintu pun terbuka. Udara pagi Natuna langsung menyergap, asin dan dingin. Mas Argan melangkah lebih dulu, Kadewa mengikutinya.
Dari ambang pintu, Mbak Nasya memandang punggung mereka hingga menjauh. Ada rasa tenang yang tumbuh di dadanya karena untuk pertama kalinya sejak adiknya datang tanpa apa-apa pun, Kadewa tidak sendirian.
Di belakang mereka, pintu tertutup pelan.
Dan pagi pun benar-benar dimulai.
Tidak berapa lama mereka sudah selesai melaksanakan sholat subuh, sudah keluar dari masjid dan mulai berjalan pulang.
Langit di ufuk timur mulai berubah warna biru pucat bercampur jingga tipis. Cahaya matahari perlahan merambat naik, menyentuh permukaan bumi dengan hangat yang masih malu-malu. Bersamaan dengan itu, aktivitas di kompleks mulai bergerak, setelah sebelumnya suara terompet untuk membangun seluruh penghuni kompleks terdengar.
Di kejauhan, beberapa prajurit berjalan berkelompok menuju lapangan. Ada yang berlari kecil untuk pemanasan, ada yang memanggul perlengkapan, ada pula yang saling menyapa singkat diselingi canda ringan. Semuanya tampak teratur dan hidup.
Sepatu-sepatu lars beradu dengan aspal.
Satu peluit komando terdengar nyaring, memecah udara pagi.
Laut di kejauhan berkilau samar, tenang, seolah ikut menyaksikan rutinitas yang tak pernah absen.
Kadewa berjalan di samping Mas Argan, langkahnya tertinggal setengah tapak. Sejak berangkat ke masjid, ia nyaris tak bersuara, padahal biasanya ia selalu punya celoteh jenaka untuk kakak iparnya itu. Tapi kali ini tidak.
Ia hanya mengikuti.
Mengamati.
Menyerap semuanya dalam diam.
Mas Argan yang dasarnya tidak banyak bicara juga tidak memaksa percakapan. Ia berjalan dengan santai, dengan punggung yang tampak tegak, wajah tenang, seolah memberi ruang pada siapa pun di sampingnya untuk bicara jika sudah siap.
Mereka melewati lapangan kecil tempat beberapa prajurit mulai pemanasan.
“Pagi, Komandan,” sapa seorang prajurit sambil menegakkan badan dan memberi hormat.
Mas Argan tampak mengangguk singkat. “Pagi.” balasnya dengan suara datar, tapi cukup hangat di telinga Kadewa.
Setelah puluhan langkah, Kadewa akhirnya bersuara.
“Mas…” suaranya pelan, hampir tenggelam oleh suara langkah para prajurit.
Mas Argan melirik sekilas. “Hmm?”
Kadewa menarik napas, menatap ke depan, ke arah lapangan yang mulai ramai. “Di sini… tiap pagi selalu begini ya, Mas?” tanyanya pelan. “rame.”
Mas Argan tidak langsung menjawab. Langkahnya tetap konstan, seirama dengan denting sepatu lars para prajurit di sekitar mereka. Ia melirik sekilas ke arah lapangan, lalu ke arah laut yang mengintip di sela bangunan barak.
“Iya,” jawabnya akhirnya. Singkat. Tidak ditambahi apa pun.
Kadewa mengangguk kecil. Entah kenapa jawaban sesederhana itu terasa cukup. Mereka berjalan beberapa langkah lagi.
“Libur juga ada?” tanya Kadewa lagi, masih dengan basa-basi yang sama.
Mas Argan menghembuskan napas pelan lewat hidung. “Ada. Tapi jarang dipakai.”
“Kenapa?”
Mas Argan menoleh sekilas. Tatapannya tidak menusuk, hanya memastikan Kadewa masih di sisinya. “Kalau kebanyakan libur,” katanya tenang, “badan bisa lupa caranya kerja.”
Jawaban itu datar, bukan kelakar, bukan pula nasihat. Mas Argan hanya membeberkan faktanya.
Kadewa terdiam. Ia kembali menatap lapangan. Para prajurit kini mulai berbaris. Ada teriakan komando yang tegas, diikuti gerakan serempak. Tidak ada wajah malas. Tidak ada yang terlihat ragu. Semua bergerak karena memang itu yang harus mereka lakukan.
Bukan karena disuruh jadi hebat.
Bukan karena dituntut sempurna.
Hanya karena… ini tugas mereka.
Kadewa menghela napas pelan. Entah sejak kapan dadanya terasa lebih longgar. Tidak sepenuhnya ringan, tapi tidak sesak seperti biasanya.
“Mas,” ucapnya lagi, ragu-ragu.
Mas Argan kembali menoleh. “Kenapa?”
“Mereka…” Kadewa berhenti sejenak, mencari kata. “pernah ngeluh capek nggak sih?”
Mas Argan memperhatikan barisan itu lebih lama kali ini. “Capek,” jawabnya jujur. “Udah pasti. Prajurit juga manusia, capek itu wajar.”
Kadewa mengangguk pelan. Langkahnya melambat setengah tapak, matanya masih tertahan pada barisan itu.
“Kalau capek…” ia ragu, lalu melanjutkan, “boleh berhenti, nggak, Mas?”
Mas Argan tidak langsung menjawab. Ia berhenti sejenak, bukan untuk Kadewa, tapi karena seorang prajurit lewat dan kembali memberi hormat singkat. Setelah itu barulah ia berjalan lagi, seolah pertanyaan itu perlu ruang.
“Boleh,” jawabnya akhirnya. “Kalau udah waktunya.”
Kadewa menoleh. “Kalau belum waktunya?”
“Ya jalan terus,” ujar Mas Argan ringan. “Bukan karena kuat. Tapi karena kalau berhenti di waktu yang salah, yang repot bukan cuma diri sendiri, tapi satu pleton bahkan satu kesatuan juga ikut repot ”
Kadewa terdiam.
Bukan diam yang berat. Bukan pula diam yang tertekan.
Lebih seperti diam karena heran.
Ada dunia yang berjalan dengan aturan seperti itu. Dan anehnya, dunia itu justru tampak tertib dan tenang.
Mereka sudah hampir sampai di rumah. Rumah dinas milik Mas Argan dan Mbak Nasya sudah terlihat di depan sana.
Ia menyelipkan tangan ke saku jaket, meremas ujung kainnya pelan karena angin pagi bertiup cukup kencang kali ini.
“Mas,” ucapnya lagi, kali ini lebih pelan dari sebelumnya. “Kalau Mas dulu… milih ini karena apa?"
Mas Argan melambatkan langkah, tapi tidak berhenti.
Kadewa melanjutkan, nadanya ragu tapi jujur ia cukup penasaran. “Kan sebelumnya profesi Mas juga udah jelas. Pembalap ARRC. Juara tiga kali. Bawa nama Indonesia.” Ia melirik sekilas, lalu kembali menatap jalan. “Kalau soal uang… pasti lebih gede juga daripada jadi pilot pesawat tempur.”
Mas Argan tidak langsung menjawab. Langkahnya tetap tenang, wajahnya datar, tapi rahangnya sedikit mengeras, bukan marah, lebih seperti mengingat sesuatu yang lama disimpan.
“Menjanjikan, iya,” katanya akhirnya. “Seru juga. Senang, tentu. Karena Itu hobi saya.”
Ia berhenti sejenak, memalingkan pandangan ke arah laut yang kini terlihat jelas di ujung jalan. Ombaknya tenang, berkilau diterpa cahaya pagi, tapi menyimpan kedalaman yang tak bisa ditebak.
“Tapi bukan itu yang saya cari,” lanjutnya pelan.
Kadewa menatapnya. Kali ini bukan sekadar mendengar, tapi benar-benar memperhatikan.
Mas Argan kembali melangkah. Suaranya terdengar lebih rendah, lebih jujur, seolah pagi Natuna memberinya keberanian untuk membuka hal yang jarang ia ucapkan.
“Balapan itu soal diri sendiri,” katanya. “Tentang kecepatan, adrenalin, piala, nama. Kalau jatuh, yang nanggung ya saya sendiri. Kalau menang, yang dipuji juga saya.”
Kadewa menyimak dalam diam.
“Tapi di sini beda,” Mas Argan melanjutkan. “Di militer, satu orang salah langkah, dampaknya ke banyak orang. Bukan cuma ke karier, tapi ke nyawa.”
Keduanya sampai di rumah dinas, tapi sama-sama menghentikan langkah tepat di halaman dan mas Argan menoleh ke Kadewa, kali ini menatap adik iparnya lebih lama dari sebelumnya.
“Saya nggak nyari hidup yang paling enak, Ndu,” katanya pelan. “Saya nyari hidup yang kalau capek, saya tahu buat apa.”
Kalimat itu jatuh pelan, tapi menghantam.
Kadewa berdiri terpaku. Angin pagi menerpa wajahnya, dinginnya kini terasa berbeda, bukan lagi menusuk, melainkan menyadarkan.
“Mas nggak nyesel?” tanya Kadewa lirih, hampir seperti takut pada jawabannya sendiri.
Mas Argan tersenyum tipis. Mereka melanjutkan jalan. “Capek, iya. Takut juga pernah. Tapi nyesel?” Ia menggeleng. “Nggak.”
Mas Argan membuka pintu rumah, memberi jalan pada Kadewa untuk masuk lebih dulu.
“Karena ini pilihan saya dan karena disini,” lanjutnya sebelum mereka benar-benar masuk, “saya tahu siapa diri saya, dan untuk apa saya terbang setiap hari.”
Kalimat itu sederhana. Tapi bagi Kadewa, kata terbang tidak pernah sesederhana itu.
Bayangan lama tiba-tiba menyelinap ke kepalanya.
Tentang kabar setahun lalu, saat Mbak Nasya baru saja dinyatakan hamil Yasa. Tentang berita yang mengguncang layar televisi dan linimasa dunia bahwa pesawat tempur Mas Argan dinyatakan hilang di udara Natuna, setelah ditembak rudal oleh negara yang berani mengklaim setengah laut disana itu sebagai milik mereka.
Tentang dua minggu tanpa kabar.
Tentang status missing in action.
Tentang wajah Mbak Nasya yang pucat, tapi tetap berdiri tegak, menolak roboh di hadapan siapa pun.
Tentang dunia yang gaduh.
Tentang laut ZEE Indonesia yang akhirnya diakui sepenuhnya tak lagi bisa diganggu gugat.
Dan tentang satu nama yang berulang kali disebut media, dielu-elukan sebagai pahlawan, lalu menghilang kembali dengan sunyi.
Mas Argantara.
Kakak iparnya itu… sehebat itu.
Dan ironisnya, tetap berdiri di hadapannya sekarang dengan tenang, sederhana, tanpa sedikit pun sikap merasa paling berjasa.
Kadewa menunduk pelan saat melangkah masuk ke dalam rumah.
Dadanya terasa penuh, tapi bukan sesak.
Lebih seperti… tersentuh oleh kenyataan bahwa ada orang yang memilih jalannya sendiri, menanggung risikonya sendiri, dan tidak pernah menuntut pengakuan atasnya.
Dan untuk pertama kalinya, di tempat yang jauh dari rumah, dari tuntutan, dari nama besar yang selalu membayanginya. Kadewa mulai bertanya pada dirinya sendiri.
Kalau suatu hari aku harus capek, capek yang gimana yang mau kupilih?
ah pokoknya author is the best lah👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
another story keep in save folder🤭
semangat thor gas pol
buat tmn mnyambut ramadhan
jgn coba" mlarikan diri xa 🤣