NovelToon NovelToon
Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa / Komedi / Slice of Life / Urban
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Kembali ke Hutan Beton

Tiga minggu berlalu sejak malam api itu. Kedai kopi di desa kini telah berdiri kembali dengan wajah baru yang lebih tangguh, dinamai warga sebagai "Kedai Harapan". Namun, di balik keberhasilan renovasi itu, Gia dan Rian tahu bahwa ketenangan mereka hanyalah semu. Niko memang mendekam di sel tahanan kabupaten, tetapi ayahnya, Tuan Mahendra, mulai bergerak di balik layar untuk mematikan kasus putranya.

"Kita berangkat besok pagi, Gia," ujar Rian sambil melipat sebuah peta lama Jakarta di atas meja bar yang masih berbau kayu baru.

Gia menatap penampilannya di cermin kecil. Ia telah memotong rambutnya sedikit lebih pendek dan mengenakan kacamata berbingkai besar. Ia bukan lagi Gia yang dikenal sebagai manajer pemasaran di perusahaan kosmetik ternama. Sementara Rian, pria itu kini mengenakan jaket kulit tua dan topi pet, tampak seperti kurir barang atau supir antar-kota.

"Kamu yakin mandor itu masih bisa dipercaya, Rian?" tanya Gia ragu.

"Pak Jaka adalah orang yang menyelamatkan nyawaku saat firma itu mencoba mencelakakanku. Dia menyimpan data itu di tempat yang bahkan tidak terpikirkan oleh orang kaya seperti Mahendra," jawab Rian mantap. "Kita masuk ke Jakarta lewat jalur darat, pakai bus umum. Jangan sampai ada jejak digital kalau kita meninggalkan desa."

Keesokan harinya, perjalanan dimulai. Setelah berpamitan pada Pak Jaya yang melepas mereka dengan doa dan sekantong bubuk kopi terbaik, Gia dan Rian menempuh perjalanan sepuluh jam menuju Jakarta.

Begitu menginjakkan kaki di Terminal Kampung Rambutan, udara panas dan polusi Jakarta langsung menyapa paru-paru Gia. Ia sempat terpaku, melihat gedung-gedung tinggi di kejauhan yang dulu adalah dunianya. Namun, sebuah sentuhan hangat di pundaknya menyadarkannya.

"Fokus, Gia. Kita di sini bukan untuk nostalgia," bisik Rian.

Mereka menuju sebuah kawasan kumuh di pinggiran proyek pembangunan apartemen yang mangkrak di Jakarta Pusat. Di sebuah bedeng kayu yang tersembunyi di balik tumpukan besi tua, mereka bertemu dengan Pak Jaka, seorang pria tua dengan wajah yang dipenuhi garis-garis keras kehidupan.

"Rian? Kamu masih hidup, Nak?" suara Pak Jaka bergetar saat melihat Rian.

"Aku kembali, Pak. Dan aku butuh barang itu sekarang," ujar Rian tanpa basa-basi.

Pak Jaka melirik Gia dengan penuh curiga, namun Rian segera meyakinkannya. "Dia orangku. Dia yang akan membantuku menyebarkan ini."

Pak Jaka mengangguk, lalu ia berjalan menuju sebuah kotak perkakas tua yang terkunci rapat. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah pipa besi kecil yang tampaknya sudah berkarat. Dengan gerakan teliti, ia memutar tutup pipa tersebut dan mengeluarkan sebuah flash disk hitam yang dibungkus plastik kedap udara.

"Ini adalah bom waktu yang kamu simpan, Rian. Mahendra sudah mengirim orang ke sini berkali-kali, menggeledah bedengku, mencarinya di setiap sudut. Tapi mereka tidak akan pernah menyangka kalau aku menyimpannya di dalam pipa air yang masih aktif," Pak Jaka terkekeh getir.

Rian menerima benda kecil itu seolah benda itu beratnya berton-ton. Di dalam benda kecil ini, ada ribuan data korupsi, laporan palsu material bangunan yang menyebabkan runtuhnya gedung parkir di Kuningan dua tahun lalu, dan bukti aliran dana ke pejabat tinggi.

"Ayo pergi, Gia. Kita tidak boleh lama di sini," ajak Rian.

Namun, saat mereka baru saja keluar dari area bedeng, tiga buah motor besar tiba-tiba mengepung jalan keluar mereka. Para pengendaranya mengenakan helm gelap, menatap mereka dengan tatapan mengancam.

"Tuan Mahendra menitipkan salam untukmu, Rian. Dia bilang, pensiunmu di desa harusnya selamanya," salah satu dari mereka bersuara, sambil mengeluarkan tongkat pemukul dari balik jaketnya.

Gia merasa lututnya lemas, tapi ia teringat semua latihan singkat yang diberikan Rian selama di desa. Ia menggenggam tasnya erat-baik, di dalamnya ada botol semprotan lada yang ia buat sendiri dari ekstrak cabai rawit kebun ayahnya.

"Gia, tetap di belakangku!" perintah Rian.

Rian maju, gerakannya tidak lagi kaku seperti kuli bangunan. Ia bergerak dengan presisi seorang petarung yang terlatih. Saat salah satu pengendara motor mencoba menerjang dengan motornya, Rian justru melompat, menendang dada pria itu hingga jatuh tersungkur.

"Gia! Sekarang!" teriak Rian saat dua orang lainnya mencoba menyergapnya sekaligus.

Gia melihat celah. Ia berlari ke arah salah satu pria yang sedang mencoba mencabut senjata tajam. Dengan keberanian yang datang dari entah mana, Gia menyemprotkan cairan cabai itu tepat ke arah celah helm pria tersebut.

"ARGGHHH! MATAKU!" teriak pria itu kesakitan.

"Hebat, Neng!" puji Rian sambil membanting lawan terakhirnya ke tanah.

Tanpa membuang waktu, Rian menarik tangan Gia menuju jalan raya yang ramai. Mereka melompat ke dalam sebuah taksi yang kebetulan melintas.

"Ke mana, Pak?" tanya supir taksi.

"Ke pusat warnet tercepat di Jakarta Barat," jawab Rian singkat.

Di dalam taksi, Gia terengah-engah. Napasnya memburu, namun ada rasa bangga yang luar biasa di dadanya. "Rian, aku... aku tadi beneran ngelakuin itu?"

Rian menatap Gia dengan bangga, lalu ia menggenggam tangan gadis itu. "Kamu baru saja mengalahkan anak buah salah satu orang terkuat di kota ini, Gia. Manajer pemasaran emang nggak ada tandingannya kalau sudah urusan 'strategi lapangan'."

Rian menatap flash disk di tangannya. "Sekarang, kita lakukan tahap terakhir. Kita hancurkan Mahendra dari dalam. Kita akan kirim data ini ke semua media massa, Ombudsman, dan ke akun anonim paling berpengaruh di Twitter. Malam ini, Jakarta akan melihat keruntuhan sebuah dinasti."

Gia mengangguk mantap. "Dan besok pagi, kita akan minum kopi di Jakarta sebagai orang yang bebas."

Malam itu, di sebuah warnet kecil yang tersembunyi di gang sempit, Gia dan Rian mulai mengunggah data-data maut tersebut. Setiap klik pada tombol 'Send' terasa seperti sebuah pembalasan dendam bagi semua orang yang pernah dikhianati oleh Mahendra, termasuk mereka berdua.

Namun, di puncak gedung Mahendra Tower, Tuan Mahendra sedang menatap layar monitornya yang mendadak dipenuhi peringatan kebocoran data. Wajahnya yang biasanya tenang kini pucat pasi. Ia tahu, bayang-bayang masa lalunya telah kembali untuk menagih hutang.

1
Satri Eka Yandri
penasaran pov gia wktu di kota,di fitnah apa yah?
Sefna Wati: ayo baca bab selanjutnya kak
biar GK penasaran waktu gia di kota kenapa difitnah🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!