Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Flashback - 6 Bulan yang Lalu
Zaverio yang berusia 9 tahun setengah duduk di ruang kerja kakeknya—Darwan Kusuma—dengan postur yang terlalu dewasa untuk anak seusianya.
"Kakek," katanya dengan nada datar. "Aku ingin bicara tentang bisnis."
Darwan tertawa—tawa yang terdengar meremehkan. "Kau masih kecil, Zav. Biarkan orang dewasa yang urus bisnis."
"Aku tahu tentang rencana Kakek dengan keluarga Paramitha dan Syailendra," kata Zaverio tanpa emosi. "Aku tahu Kakek merencanakan untuk memecah belah mereka. Menyebarkan rumor. Membuat mereka bermusuhan."
Darwan membeku. Senyumnya luntur.
"Apa yang kau—"
"Aku punya bukti," potong Zaverio dingin. "Rekaman percakapan Kakek dengan Tante Taruni. Dokumen transfer dana ilegal. Email yang Kakek kirim ke kompetitor untuk menyabotase tender Paramitha Corp."
Darwan menatapnya dengan mata yang berubah gelap—berbahaya.
"Dari mana kau dapat semua itu?"
"Aku punya cara," jawab Zaverio, mata hijau nya menatap tanpa takut. "Dan kalau Kakek tidak berhenti sekarang... aku akan berikan semua bukti ini ke Kakek Darma dan Kakek Arjuna. Mereka akan tahu siapa yang sebenarnya di balik konflik keluarga mereka."
Hening panjang.
Kemudian Darwan tertawa—tawa yang terdengar... kalah.
"Kau bukan anak kecil biasa, Zaverio Kusuma."
"Tidak," jawab Zaverio. "Aku tidak biasa. Dan aku tidak akan membiarkan Kakek menghancurkan keluarga yang aku sayangi."
Kembali ke Masa Sekarang
Darwan menatap Zaverio dari kejauhan, dan untuk sejenak, mata mereka bertemu.
Kakek tua itu tidak tersenyum. Dia hanya menatap dengan ekspresi yang sulit dibaca—campuran antara takut, marah, dan... bangga?
Zaverio tidak peduli.
Dia sudah memastikan Darwan terkunci—semua rekening ilegalnya diblokir, semua rencana jahatnya digagalkan, semua koneksi gelapnya diputus.
Pria tua itu sekarang hanya boneka yang tidak punya taring.
"Zav? Kenapa melamun terus sih?" Anindita menggoyangkan lengan Zaverio.
Zaverio tersenyum tipis—senyum yang sangat langka darinya.
"Tidak apa-apa," katanya. "Aku hanya berpikir..."
Aku akan menjaga ini. Aku akan menjaga tawa kalian, kebahagiaan kalian, kehidupan kalian.
Aku akan memastikan tidak ada dendam. Tidak ada pengkhianatan. Tidak ada kematian.
Dan aku akan memastikan Anindita Paramitha hidup panjang, bahagia, dan dicintai.
Karena kali ini, aku tidak akan gagal.
Anindita menarik tangannya. "Ayo main ayunan! Vyan dorong Dita, Zav dorong Vyan!"
"Aku tidak mau didorong sama dia!" protes Vyan.
"Vyan manja!" ejek Anindita.
"DITA!"
Zaverio mengikuti mereka dengan langkah tenang, mengamati dua sahabat kecil ini yang berdebat konyol tentang siapa yang lebih kuat mendorong ayunan.
Di kejauhan, tiga kakek tertawa melihat cucu mereka bermain.
Aditya dan Arman berbincang serius tapi sesekali tertawa.
Matahari sore menyinari panti asuhan dengan cahaya emas yang hangat.
Semuanya damai. Semuanya harmonis.
Dan Zaverio Kusuma—anak berusia 10 tahun dengan ingatan pria dewasa yang sudah mati dan terlahir kembali—bersumpah dalam hatinya:
Aku akan menjaga kedamaian ini dengan nyawaku.
Tidak akan ada lagi air mata.
Tidak akan ada lagi kematian.
Hanya kebahagiaan.
Aku berjanji.
...****************...
Satu Tahun Kemudian - Mansion Paramitha
Zaverio Kusuma berusia 11 tahun berdiri kaku di tengah kerumunan orang berpakaian hitam, tangannya terkepal begitu erat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. Rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibanding rasa sakit di dadanya yang terasa seperti diremas oleh tangan raksasa.
Ini tidak mungkin. Ini tidak seharusnya terjadi.
Di hadapannya, sebuah peti mati kayu mahoni dengan ukiran elegan terbaring di ruang tamu megah mansion Paramitha. Di dalam peti itu—dengan wajah pucat dan tenang seolah hanya tertidur—terbaring Aditya Paramitha.
Ayah dari Anindita.
Pria yang seharusnya masih hidup.
Zaverio sudah mengubah segalanya. Dia memastikan Aditya tidak pernah bertemu Taruni Anindya—wanita beracun yang di timeline sebelumnya menikahi Aditya dan kemudian meracuninya. Dia sudah melumpuhkan Darwan, memotong semua jalur kotor kakeknya untuk menyakiti keluarga Paramitha.
Tapi kenapa? KENAPA Aditya tetap mati?!
Tepat seminggu yang lalu, Aditya ditemukan tidak bernyawa di kamarnya sendiri. Tidak ada tanda-tanda kekerasan. Tidak ada jejak racun. Dokter menyebutnya "kegagalan jantung mendadak"—sesuatu yang sangat jarang terjadi pada pria sehat berusia 37 tahun.
Dan yang paling menyakitkan—kali ini tidak ada pesan terakhir untuk Anindita. Tidak ada kata-kata penutup. Tidak ada kesempatan untuk pamit.
Aditya pergi begitu saja, meninggalkan putrinya yang baru berusia 6 tahun sendirian.
"Papa... Papa kumohon bangun..."
Suara kecil itu memecah lamunan Zaverio. Dia menoleh, dan jantungnya remuk melihat pemandangan di hadapannya.
Anindita—gadis kecil berusia 6 tahun dengan dress hitam yang terlalu besar untuknya—berlutut di samping peti mati ayahnya, tangannya memegang tangan ayahnya yang sudah dingin, air matanya mengalir tanpa henti membasahi pipinya yang pucat.
"Papa jangan tinggalkan Dita... Dita janji akan jadi anak baik... Dita janji tidak akan nakal lagi... Papa kumohon... Bawa Dita bersama Papa" Suaranya parau karena sudah menangis berjam-jam.
Darma Paramitha—kakek Anindita yang biasanya tegap dan berwibawa—kini terlihat seperti pria tua yang kehilangan segalanya. Punggungnya membungkuk, tangannya gemetar saat meraih cucu perempuannya.
"Dita, cucuku..." Darma berlutut di samping Anindita, memeluknya dengan lembut tapi erat. "Kumohon sayang, jangan katakan itu. Jangan bilang kau ingin pergi dengan Papa. Kakek masih di sini... Kakek akan selalu bersamamu..."
Tapi Anindita menggeleng keras, tubuhnya bergetar dalam tangisan yang memilukan.
"Mama sudah pergi... Sekarang Papa juga pergi... Kenapa mereka meninggalkan Dita? Apa Dita anak yang jahat?" Anindita menatap kakeknya dengan mata yang penuh keputusasaan—mata yang terlalu dewasa untuk anak seusianya. "Apa Dita tidak cukup baik hingga Mama dan Papa tidak mau bersama Dita?"
"TIDAK!" Darma memeluk cucunya lebih erat, air matanya jatuh membasahi rambut Anindita. "Kau anak terbaik di dunia, cucuku. Papa dan Mama tidak meninggalkanmu karena kau jahat. Mereka hanya... mereka hanya dipanggil Tuhan lebih cepat. Tapi mereka sangat mencintaimu. Sangat..."
Zaverio berpaling, tidak sanggup melihat lagi. Tangannya menutupi wajahnya, berusaha menahan air mata yang mengancam tumpah.
Aku gagal. Lagi.
Bahkan dengan kesempatan kedua, bahkan dengan semua pengetahuan masa depan, dia tetap tidak bisa melindungi Anindita dari rasa sakit ini.
Di sudut ruangan, Darma masih memeluk Anindita yang menangis histeris. Pria tua itu menatap kosong ke depan, bibirnya bergetar.
Istriku... menantuku... dan sekarang putraku...
Darma Paramitha sudah kehilangan tiga orang yang paling dia cintai. Dia tidak tahu dosa apa yang dia lakukan hingga Tuhan menghukumnya sebrutal ini.
Tapi dia harus kuat. Untuk Anindita. Untuk cucu satu-satunya yang tersisa.
Di sudut lain ruangan, Arman Syailendra berdiri dengan Vyan di sampingnya. Pria itu menatap peti mati sahabatnya dengan rahang yang mengeras, mata yang penuh kemarahan tertahan.
Ini bukan kecelakaan, pikir Arman dengan yakin. Aditya dibunuh. Aku tahu itu.
Tapi polisi sudah melakukan investigasi menyeluruh. Tidak ada bukti pembunuhan. Tidak ada racun dalam tubuh. Tidak ada trauma fisik. Secara hukum, ini adalah kematian alami.
Tapi Arman kenal Aditya. Pria itu sehat, atletis, tidak punya riwayat penyakit jantung. Tidak mungkin dia tiba-tiba mati begitu saja.
Ada yang salah. Tapi aku tidak punya bukti.
Vyan menarik baju ayahnya. "Papa, apa Dita akan baik-baik saja?"
Arman menatap putranya—anak laki-laki berusia 6 tahun yang matanya berkaca-kaca melihat sahabatnya menangis.
"Papa tidak tahu, nak," jawab Arman jujur, suaranya serak. "Tapi kau harus ada untuk Dita sekarang. Dia kehilangan papanya. Dia butuh sahabat terbaiknya."
Vyan mengangguk dengan serius—serius yang tidak sesuai usianya. "Aku akan jaga Dita, Pa. Aku janji."
Setelah upacara pemakaman yang panjang dan melelahkan, tamu mulai berdatangan untuk memberikan belasungkawa. Darma Paramitha berdiri menerima ucapan dukacita dengan wajah yang berusaha tegar, tapi setiap orang yang melihatnya bisa melihat betapa hancurnya pria tua itu.
Di sampingnya, kakek lain ikut berdiri—memberikan dukungan moral.
Darwan Kusuma.
Zaverio yang melihat itu dari kejauhan merasa darahnya mendidih. Tangannya terkepal, rahangnya mengeras.
Kakek... apa ini perbuatanmu?