Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.
Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.
Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4 (four)
Pukul sembilan empat puluh lima malam. Dermaga Lama Sukamaju tampak seperti sisa-sisa peradaban yang terlupakan. Bangunan gudang kayu yang sudah lapuk berdiri miring di tepi Sungai Ciliwung yang alirannya deras dan berwarna hitam pekat malam itu. Bau air sungai yang payau bercampur dengan aroma kayu basah yang membusuk menusuk penciuman Detektif Ratna Sari saat ia melangkah keluar dari mobilnya.
Ia sengaja datang sendiri. Teguh sudah ia perintahkan untuk tetap berada di radius dua kilometer sebagai bala bantuan cadangan, berjaga-jaga jika ini adalah jebakan maut.
Ratna menggenggam kartu memori kecil di saku jasnya. Di tangan satunya, ia memegang senter yang cahayanya menembus kabut tipis yang menyelimuti dermaga.
"Aku sudah di sini!" teriak Ratna. Suaranya bergema di antara pilar-pilar dermaga yang kosong. "Lepaskan Mbah Mansur!"
Hening sejenak, hanya suara riak air yang menghantam tiang beton. Tiba-tiba, lampu sorot dari sebuah kapal tongkang tua yang tertambat di ujung dermaga menyala, membutakan pandangan Ratna.
"Langkah yang berani, Detektif," suara wanita yang sama dengan di telepon tadi terdengar dari pengeras suara kapal. "Letakkan kartu memori itu di atas peti kayu di depanmu, lalu mundur sepuluh langkah."
Ratna melihat sebuah peti kayu tua bertanda 'PT. SM'—Silva Maju. Ia tidak segera menuruti perintah itu. "Aku ingin melihat Mbah Mansur dulu! Bagaimana aku tahu dia masih hidup?"
Dari kegelapan di atas kapal, dua orang pria berbadan besar menyeret seorang pria tua yang terikat di kursi. Itu Mbah Mansur. Wajahnya lebam, dan mulutnya disumpal kain, tapi matanya yang penuh ketakutan menatap Ratna dengan memohon.
"Mbah!" Ratna berteriak, hatinya perih melihat pria tua yang hanya ingin membeli kue ulang tahun itu kini menjadi pion dalam permainan kotor ini.
"Cukup dramanya, Sari," sosok wanita muncul dari balik lampu sorot. Ia mengenakan gaun sutra berwarna merah marun yang sangat kontras dengan lingkungan dermaga yang kotor. Wajahnya cantik, namun matanya sedingin es. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah belati kecil yang berkilau terkena cahaya.
"Siapa kau?" tanya Ratna dengan nada rendah yang berbahaya.
Wanita itu tersenyum tipis, memperlihatkan deretan gigi yang rapi. "Panggil saja aku Selina. Aku adalah 'penghapus' dalam sistem ini. Dan kau, Detektif, baru saja membuat pekerjaan penghapusanku menjadi sangat rumit."
"Jadi kau yang membunuh Samsul Bahri? Kau yang menghancurkan wajahnya?" Ratna melangkah maju satu langkah, tangannya tetap berada di dekat holster senjatanya.
Selina tertawa, suara tawa yang terdengar seperti gesekan biola yang sumbang. "Samsul adalah pengkhianat. Dia mencoba menjual rahasia Proyek S.K. kepada pihak asing. Kami hanya memberikan hukuman yang pantas. Sekarang, kartu memori itu, atau pria tua ini akan menyusul Samsul ke dasar sungai tanpa wajah."
Ratna menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. "Kartu ini ada padaku. Tapi jika kau membunuhnya, aku akan menghancurkan kartu ini sekarang juga. Kau tahu aku bisa melakukannya secepat kilat."
"Mari kita bernegosiasi kalau begitu," Selina melambaikan tangan, dan anak buahnya mendorong kursi Mbah Mansur ke tepi pagar kapal yang tidak memiliki pembatas. "Kau berikan kartu itu, dan aku akan membiarkan kalian berdua pergi. Sederhana, bukan?"
"Kau berbohong," sahut Ratna. "Orang sepertimu tidak pernah meninggalkan saksi hidup."
"Kau pintar, Sari. Itulah mengapa aku menyukaimu," Selina memberi kode, dan tiba-tiba dari arah belakang Ratna, muncul sosok lain.
Ratna berbalik cepat, namun ia terlambat. Sebuah hantaman keras dari popor senjata menghantam tengkuknya. Pandangan Ratna mengabur, dunianya berputar saat ia jatuh berlutut di atas kayu dermaga yang kasar.
"Teguh..." gumam Ratna lemah, mencoba meraih ponselnya.
Sosok yang menghantamnya melangkah maju ke bawah cahaya lampu. Ratna membelalakkan mata saat melihat siapa yang berdiri di sana. Bukan anak buah Selina yang tidak dikenal, melainkan Komisaris Bambang.
"Maafkan saya, Ratna," kata Bambang dengan suara berat yang penuh penyesalan semu. "Dunia ini tidak seputih yang kamu kira. 'S' bukan hanya sebuah nama, ini adalah cara kita bertahan hidup di kota ini."
"Pak... Komandan... Kenapa?" Ratna terbatuk, darah mulai terasa di mulutnya.
Bambang mengambil kartu memori dari saku Ratna yang lemas. "Kayu-kayu itu adalah napas bagi Sukamaju, Ratna. Tanpa bisnis itu, kota ini akan mati kelaparan. Proyek S.K. adalah masa depan kita semua. Samsul ingin menghancurkannya, dan kamu... kamu terlalu idealis."
Selina turun dari kapal dengan langkah anggun, mendekat ke arah mereka. "Kerja bagus, Komisaris. Sekarang, urus Detektif ini. Aku akan mengurus si tua itu."
"Tunggu!" Ratna mencoba berdiri dengan sisa kekuatannya. "Jika kalian membunuhku, rekan saya sudah tahu segalanya! Teguh punya salinan datanya!"
Bambang tertawa kecil, sebuah tawa yang membuat bulu kuduk Ratna meremang. "Brigadir Teguh? Anak muda yang setia itu? Sayangnya, dia baru saja mengalami 'kecelakaan' rem blong di jalan menuju sini. Aku rasa dia sedang berjuang untuk hidupnya di dalam parit sekarang."
Dunia Ratna terasa runtuh. Teman setianya, Mbah Mansur, dan dirinya sendiri semuanya terjebak.
"Sekarang," Selina mengangkat belatinya ke arah leher Mbah Mansur yang meronta-ronta. "Mari kita lihat bagaimana seorang pahlawan mati."
Tiba-tiba, sebuah suara ledakan keras terdengar dari arah gudang kayu di belakang dermaga. Bukan tembakan, melainkan ledakan tangki bensin. Kobaran api membumbung tinggi, menciptakan kekacauan seketika.
"Apa itu?!" teriak Bambang.
Di tengah kebingungan itu, sebuah bayangan melesat cepat dari balik kegelapan. Sebuah tembakan jitu mengenai lampu sorot kapal, membuat dermaga seketika menjadi gelap gulita.
"Ratna! Lari ke arah sungai!" sebuah suara bisikan yang sangat dikenal Ratna terdengar di dekat telinganya.
Ratna tidak bertanya lagi. Dalam kegelapan, ia berguling dan menendang kaki Bambang hingga pria itu terjatuh, lalu ia berlari sekuat tenaga ke arah kapal. Ia harus menyelamatkan Mbah Mansur sebelum semuanya terlambat.