Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 19
KEGILAAN DAN KEBERUNTUNGAN??
Gerbang besi mansion berdiri menjulang seperti rahang raksasa yang siap menelan kembali mangsanya.
Elizabeth berdiri terpaku di tengah halaman, tubuhnya gemetar, pistol masih tergenggam dengan tangan berdarah. Para anak buah Luis mengepung dari kejauhan, ragu mendekat, ragu menembak.
“Buka gerbang itu,” Suara itu datang dari samping. Dingin. Tegas. Tak terbantahkan.
Soraya melangkah maju dari bayang-bayang pilar, wajahnya pucat namun matanya menyala seperti besi yang ditempa api.
“SEKARANG!” ulangnya. “Atau aku yang akan menjelaskan pada Ibu bagaimana kalian membiarkan istri Luis mati di halaman rumah ini.”
Salah satu pria bersenjata menelan ludah. “Nona Soraya, tapi tuan Luis—”
“Aku tidak peduli.” Soraya menatapnya tanpa berkedip. “Buka gerbangnya dan biarkan dia pergi.”
Detik-detik membeku. Lalu, perlahan… gerbang besi itu bergerak. Berderit panjang memecah malam.
Elizabeth menoleh pada Soraya, mata mereka bertemu hanya sesaat. Soraya berbisik, nyaris tak terdengar, “Pergi. Jangan pernah menoleh.”
Elizabeth tak sempat menjawab. Ia berbalik dan berlari.
“KELUAR DARI SANA, ELIZABETH!”
Teriakan Luis mengguncang halaman ketika ia muncul dari pintu utama, wajahnya gelap oleh amarah yang nyaris gila. “KEJAR DIA! JANGAN BIARKAN DIA LEPAS!”
Sepatu-sepatu menghantam batu. Teriakan pecah. Senjata terangkat.
Elizabeth berlari sekencang mungkin. Tubuhnya menjerit. Kakinya pincang. Dadanya terasa seperti terbakar. Setiap tarikan napas seperti pisau yang mengiris paru-parunya.
Tapi ia tidak berhenti.
Lampu-lampu kota Birmingham menyambutnya dengan dingin. Jalanan lengang. Toko-toko telah tutup. Tak ada wajah. Tak ada pertolongan.
Hanya gelap. Dan langkah-langkah yang mengejarnya dari kejauhan serta mesin mobil, membuatnya tak akan berhenti untuk berlari dan menjauh.
“Aku tidak boleh mati di sini…” bisiknya pada dirinya sendiri, suara pecah.
Ia berbelok tanpa arah, masuk gang, keluar gang, tersandung, bangkit lagi. Gaunnya robek semakin parah, darah menodai kain seperti bunga gelap yang mekar.
Akhirnya, ketika suara langkah itu mulai menjauh, suara mesin mobil mulai tak terdengar, ketika dadanya hampir pecah—
ia melihat cahaya redup di ujung jalan.
Sebuah pub tua. Lampu neonnya berkedip lelah.
Tanpa pikir panjang, Elizabeth berlari ke arah tempat tersebut, mendorong pintu kayu itu dengan bahunya.
Suara ramai, musik rendah, tawa mabuk—semuanya menabraknya sekaligus.
Dan seketika… semua mata beralih padanya.
Gaun compang-camping. Rambut kusut. Darah di pelipis. Wajah pucat seperti hantu dan nafas yang tak karuan.
Eliza merasa asing di sana, namun dia tak peduli, ia gemetar dan hampir ingin pingsan.
“Nona? Kau baik-baik saja, perlu bantuan?” tanya seorang pria tua yang bekerja di sana sebagai bartender atau penjaga PUB tersebut.
Eliza hanya menatap nya dengan tatapan mengkilat dan sendu serta nafas ngos-ngosan bak nyawa yang hampir dicabut. “Boleh aku duduk sebentar di sini?”
Pria tua itu nampak kebingungan, namun dia tak menolaknya dan mempersilahkan Elizabeth duduk di kursi kosong yang berada di ujung dekat pintu masuk. Ia juga membawakan segelas air dingin dan tisu.
“Apa yang terjadi pada gadis cantik seperti mu?” tanya pria tua itu terheran dan merasa kasihan.
Eliza tak menjawabnya dan hanya diam.
Memahami akan kondisi Eliza, pelayan tadi memutuskan untuk pergi dan menyuruh Eliza tetap tenang.
“Terima kasih.” Kata Eliza yang sekilas membuat pria tua tadi menghentikan langkahnya dan tersenyum tipis, sebelum akhirnya Eliza sendirian di bangku tersebut.
Sorot mata yang tadinya memperhatikan dirinya, kini mereka semua acuh dan sibuk dengan urusan masing-masing. -‘Masih ada orang-orang baik disekitar mu Eliza.’ Batinnya dan menunduk mengingat ibu, ayah dan kedua adiknya, membuat ia sedih.
Wanita malang itu meraih tisu dan mengelap darah di pelipisnya, mencoba menutupi lengannya yang robek dan menunjukkan luka-lukanya. Sampai matanya tertuju ke sosok pria yang duduk di sudut ruangan, tepatnya di sofa VIP.
Eliza memperhatikannya dengan seksama. Sosok pria berkemeja hitam yang terlihat santai namun tegas. Tatapannya fokus ke depan namun telinganya mendengar pria yang tengah mengajaknya berbincang.
“Vale...” ucapnya nyaris tak terdengar.
Ia sangat ingat betul, bagaimana sorot mata tajamnya, rahang tegas kulit Tan, semuanya Eliza mengingat akan wajah di bingkai foto keluarga Vale.
Pria itu terlihat lebih dingin dari Luis Holloway. Pria itu memang berbeda.
Bukan hanya karena ketenangannya, tapi karena aura dingin yang melekat padanya seperti bayangan yang tak bisa dipisahkan dari cahaya. Ia tidak tertawa. Tidak menyela.
Tidak menatap lawan bicaranya. Hanya mendengarkan, seolah dunia di sekelilingnya hanyalah suara latar yang tak penting.
Elizabeth menelan ludah.
Dadanya terasa sesak, bukan karena rasa sakit kali ini, melainkan karena kesadaran yang perlahan menyusup ke tulang-tulangnya.
-‘Itu dia… Pria dari foto itu. Pria yang namanya membuat Luis kehilangan kendali. Pria yang keberadaannya disembunyikan di lorong sunyi mansion Holloway.’
“Vale..”
Seakan mendengar bisikan namanya sendiri, pria itu mengangkat wajah.
Tatapan peraknya menembus ruangan yang remang, melewati asap rokok dan lampu kekuningan—lalu berhenti tepat pada Elizabeth.
Waktu seperti melambat. Percakapan di sekeliling mereka tetap berjalan, musik tetap mengalun, gelas tetap berdenting. Tapi bagi Elizabeth, dunia seakan mengecil menjadi jarak di antara mereka berdua.
Vale mengamati. Bukan dengan terkejut.
Bukan dengan iba. Melainkan dengan ketenangan berbahaya, seperti seseorang yang terbiasa membaca kekacauan manusia.
Lelaki yang duduk di hadapannya masih bicara panjang lebar. “Jadi aku bilang padanya, bisnis di Birmingham sekarang jauh lebih—”
“Pergi,” potong Vale pelan. Suaranya rendah, datar, tapi cukup untuk membuat pria itu terdiam.
“Apa?”
Vale menoleh ke pria itu dengan tatapan datar. “Aku bilang, pergi. Aku sudah cukup mendengarkan mu.”
Pria itu tertawa canggung. “Kau selalu dingin, Tuan Vale. Baiklah, kita lanjut lain kali. permisi.”
Pria bernama Vale itu bangkit dari duduknya dan membuat Elizabeth sedikit tersentak lalu menunduk agar tidak ketahuan karena sudah mengamatinya. Namun ternyata, pria itu melenggang pergi, ditemani oleh pria tua bartender sampai tepat di pintu.
Tentu, Eliza tak akan melewatkan itu, dia harus bisa menembus pria itu dan ingin tahu lebih dalam, mungkin soal Luis Holloway.
“Terima kasih Anda sudah mau berkunjung kemari setelah sekian lama, Tuan Vale!” kata pria tua itu tersenyum ramah.
“Hm.” Balas Vale yang membuang rokoknya dan memijaknya. “Tempatmu sangat klasik, ada beberapa tempat yang harus kau perbaiki.”
“Saya mengerti Tuan, terima kasih!”
Di saat Vale dan Lou fokus ke bartender tadi, Eliza diam-diam keluar dan menunduk serta bergegas masuk ke dalam mobil Vale secara nekat, ia masuk lewat pintu belakang, lalu bersembunyi di bagasi mobil.
Vale menoleh sekilas ke sisi kiri, seolah dia tengah mengamati ke sekitarnya.
Tak berselang lama, pria itu masuk bersama asistennya, Lou. Mobil hitamnya melaju normal melewati kegelapan malam menjelang pagi. Bersamaan dengan itu, 3 mobil dari anak buah Luis baru saja datang.
PLAKK!
“BERANINYA KAU MEMBANTU DIA PERGI. SIAPA YANG MEMBERIMU HAK, HAH??” sentak Luis yang tak segan menampar keras Soraya.
Saking marahnya, Luis meraih pistol panjang dan hendak menembakkan nya ke arah kakaknya yang nampak ketakutan.
its too little to late Dude..
di rela menjadi samsak asal tubuhnya tdk dijamah 👏👏👏 attagirl