NovelToon NovelToon
Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: mommy Almira

Intan harus berjuang membuktikan pada keluarga sang suami bahwa dia bukanlah pelacur walaupun dia terlahir dari rahim seorang pelacur. Namun akibat pengkhianatan sang suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya dan tidak diperlakukan dengan adil oleh suaminya, akhirnya Intan terjerumus dalam sebuah dosa dengan kakak iparnya . Dan hal itu lah yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya bersama dengan Aldy. Dan intan harus rela dibenci oleh anak kandungnya sendir hingga bertahun- tahun lamanya akibat sang anak dipengaruhi oleh keuarga Aldy jika sang ibu bukan orang baik. Apakah Intan bisa kuat menjalani kehidupannya yang dipenuhi dengan kebencian dari keluarga Aldy dan juga anak kandungnya...? Yuk baca cerita selengkapnya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Kurang komunikasi

Lima tahun kemudian

Arkan kini sudah duduk di bangku kelas empat Madrasah ibtidaiyah. Iya, ini adalah permintaan Aldy yang menginginkan Arkan belajar di sekolah islam. Agar kelak Arkan menjadi anak yang soleh dan tentu saja ilmu agamanya juga bagus.

Tentu saja Intan sebagai seorang ibu sangat mendukung. Intan sadar diri kalau dia tidak dilahirkan dari keluarga yang pandai dalam ilmu agama. Apalagi sang ibu yaitu bu Yuyun bekerja sebagai wanita penghibur yang sudah pasti jauh dari ilmu agama.

Ditambah lagi pak Wito yang sakit- sakitan. Tentu saja kedua orang tua Intan tidak mendidik tentang ilmu agama kepada Intan. Bisa dibilang Intan adalah anak yang kurang didikan dari segi apapun. Dia hanya belajar di sekolah saja.

Namun beruntungnya Intan bukan gadis yang banyak tingkah. Dia juga tidak nakal. Intan bersekolah dengan baik, dan bisa menjaga dirinya sendiri dari pergaulan yang tidak baik. Namun sekali lagi, untuk urusan ilmu agama, masih terbilang sangat minim.

Tapi tentu saja anak yang dididik ilmu agama dengan baik oleh kedua orang tua jauh lebih mengerti agama dari pada anak yang dibiarkan tumbuh sendiri tanpa arahan ataupun bimbingan tentang agama. Seperti Intan contohnya.

Kedua orang tua Intan tidak penah mengingatkan Intan untuk sholat lima waktu. Jadi Intan mau sholat ataupun tidak, kedua orang tua Intan tidak perduli. Sang ibu sibuk dengan pekerjaannya sebagai wanita penghibur. Sedangkan bapaknya, tidak bisa berbuat apa- apa karena sakit- sakitan.

Dulu ketika Intan menikah dengan Ridwan, intan merasa beruntung karena Ridwan merupakan imam yang baik untuk Intan. Dia membimbing Intan, menjadi imam sholat untuknya. Namun setelah Ridwan meninggal, Intan seperti kehilangan arah hingga akhirnya dia bekerja di diskotik atas paksaan sang ibu.

Dan setelah menikah dengan Aldy, dia mulai mengikuti Aldy yang memang rajin dalam beribadah. Tapi begitu Aldy pindah kerja dan tinggal di Bandung dan hanya bertemu sebulan sekali, Intan kembali ke setelan awal.Yang tadinya rajin sholat kini jadi bolong- bolong sholatnya.

Apalagi Aldy yang jarang di rumah juga jarang mengingatkan Intan Sholat apalagi menjadi imam untuknya. Ketemu saja jarang. Komunikasi juga tidak selancar dulu.

Intan dan Aldy hanya bertelpon dalam seminggu hanya dua kali bahkan kadang hanya satu kali. Itu pun hanya menayakan kabar saja , tidak banyak obrolan di antara mereka. Dan ketika menelpon, Aldy lebih banyak bicara dengan Arkan ketimbang dengan Intan.Karena lebih banyak hal yang bisa dibahas ketika ngobrol dengan Arkan. Sedangkan dengan Intan hanya ngobrol sepentingnya saja.

Sering kali Intan merasa kesepian. Apalagi ketika Arkan pergi sekolah. Arkan berangkat sekolah pukul tujuh pagi dan pulang pukul tiga sore. Otomatis Intan sendirian di rumah. Dan ketika malam tiba, Intan juga tidur sendiri tanpa suami. Hati Intan merasa hampa. Punya suami tapi seperti tidak punya suami.

💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝

"Intan... Kamu mau ke mana...?'' tanya Tantri yang baru pulang dari warung melihat Intan mengeluarkan motornya dari garasi rumah.

"Aku mau ke rumah mertuaku. Abi sedang sakit..." jawab Intan sambil duduk di motornya sambil memakai helm.

Sedangkan Arkan mengunci pintu rumah, karena dia juga akan ikut menjenguk sang kakek. Karena kebetulan hari ini hari sabtu, sekolah Arkan libur.

"Suami kamu nggak pulang, abinya sakit...?'' tanya Tantri.

" Mas Aldy sudah dua bulan nggak pulang, Tan..." jawab Intan terlihat sedih.

"Lho kenapa...? Bukannya pulangnya sebulan sekali...?'' tanya Tantri.

"Katanya sih lagi keluar kota, makanya dia nggak bisa pulang..." jawab Intan.

"Gimana sih, kan suamimu kerjanya di luar kota, kenapa pergi ke luar kota lagi...?'' tanya Tantri.

"Lagi ngurusin pekerjaan di semarang katanya..." jawab Intan.

"Yang sabar ya Intan, semoga perkerjaan suamimu cepat selesai, biar dia cepat pulang menemui kamu dan Arkan..." ucap Tantri sambil mengusap lengan Intan.

Iya, sebagai teman sekaligus sahabat, Tantri tentu saja kasihan pada Intan. Tantri tentu paham dengan kondisi Intan yang sering kesepian karena tinggal berjauhan dengan suami ditambah lagi kurang komunikasi.

Intan lalu melajukan sepeda motornya ke jalanan raya menuju rumah mertua. Jarak dari rumah Intan ke rumah orang tua Aldy cukup jauh, sekitar tujuh kilometer. Intan biasa menempuh perjalanan lebih dari lima belas menit.

Tadi pagi Aldy menelpon Intan dan memberitahu kalau abi Abdul sakit. Penyakit diabetes abi kambuh. Katanya sih abi Abdul kemarin minum kopi manis sebanyak dua gelas tanpa sepengetahuan umi Fatimah, jadi gula darahnya langsung naik drastis dan segera dibawa ke dokter. Padahal menurut dokter, abi harus dirawat, tapi abi menolaknya dengan alasan tidak betah tidur di rumah sakit.

IYa, sudah sepuluh tahun abi Abdul divonis menderita penyakit diabetes kering. Dia sudah lama menjalani hidup sehat tanpa gula. Untuk asupan karbohidrat pun abi Abdul mengganti beras biasa dengan beras khusus penderita diabet. Kadang dia juga menggantinya dengan singkong, kentang, ataupun ubi. Agar gula darahnya tetap stabil.

Namun semakin bertambahnya usia, abi Abdul suka bandel. Dia sering memakan makanan yang seharusnya tidak boleh dia makan. Tentunya tanpa sepengetahuan umi. Karena kalau sampai umi tahu, umi akan ngomel.

Karena menurut abi, percuma saja menghindarai makanan dan minuman sedangkan penyakitnya tetap ada di dalam tubuh. Tetap sakit juga walaupun kumatnya jarang- jarang. Abi pun kesal dan sering makan apa saja yang ingin dia makan.

Akhirnya Intan dan Arkan sampai di rumah umi Fatimah. Intan memarkirkan motornya di halaman rumah mertuanya.

"Ayo Arkan..." ucap Intan yang menenteng buah untuk oleh- oleh buat abi.

Mereka berdua berjalan menuju teras rumah. Dan dari ruang tamu samar- sama terdengar suara umi Fatimah sedang mengobrol dengan seseorang lewat sambungan telpon.

"Jangan lupa, nanti di depan ka'bah, kamu doakan abi sama umi, doakan abi biar sakitnya cepat sembuh..." ucap Umi Fatimah yang sedang fokus bicara lewat sambungan telpon.

"Umi telponan sama siapa...? Kok katanya di depan ka'bah...? Memangnya siapa yang lagi ada di mekah...?'' ucap Intan dalam hati sambil berdiri di depan pintu yang setengah terbuka. Sedangkan Arkan berdiri di belajang Intan.

"Assalamualaikum..." ucap Intan.

Umi Fatimah pun kaget mendengar salam Intan. Iya, karena fokus menerima telpon, umi sampai tidak mendengar suara motor Intan yang berhenti di halaman rumah.

"Intan..." ucap Umi begitu melihat Intan berdiri di depan pintu sedang menatapnya.

"Iya Umi..." jawab Intan sambil mengangguk sopan.

Intan pun heran melihat umi Fatimah yang terlihat gugup dan kaget saat melihatnya.

"Ehm...su..sudah dulu menelponnya ya... Itu Intan, maksudnya menantu saya datang..." ucap umi Fatimah kepada seseorang yang sedang menelponnya.

"Assalamualaikum..." umi mengakhiri sambungan telponnya.

"Kenapa kok umi kayak gugup gitu..." ucap Intan dalam hati yang heran melihat tingkah umi yang menurutnya aneh.

"Umi..." ucap Intan lalu menyalami ibu mertuanya. Begitu juga dengan Arkan yang salim kepada sang nenek.

"Arkan, cucu umi... Tambah ganteng saja..." umi Fatimah mengusap kepala Arkan. Arkan tersenyum mendengar pujian dari sang nenek.

"Umi... Tadi siapa yang nelpon umi...? Kalau tidak salah tadi umi bilang dia lagi di mekah ya...? Memang ya siapa yang lagi umroh mi...?'' tanya Intan.

"Kamu nguping...?'' tanya umi Fatimah dengan ketus.

"Ehm...enggak kok Mi.. Tadi Intan tidak sengaja dengar..." jawab Intan yang menyesal kepo pada ibu mertuanya.

"Itu anaknya teman umi... Lagi umroh dia..." jawab umi lagi- lagi dengan nada ketus.

"Oh iya umi..." jawab Intan.

"Nek.. Kakek mana...? Katanya kakek sedang sakit ya. Kakek sakit apa nek...?'' tanya Arkan untuk mengalihkan perhatian sang nenek yang sudah mulai jutek pada Intan.

Iya, tentu saja Arkan yang sudah mulai besar sudah paham jika umi Fatimah memang sering bicara dengan nada jutek pada Intan.

"Kakek ada di kamar, sana kamu tengok kakek, nanti kakeknya dipijitin ya, biar cepet sembuh..." jawab umi Fatimah.

"Iya umi..." jawab Arkan.

" Ayo mah..." Arkan mengajak sang mama agar tidak dijutekin terus oleh umi Fatimah.

"Arkan duluan ya, nanti mama nyusul..." jawab Intan.

"Iya mah..." Arkan lalu masuk ke kamar abi Abdul.

"Umi... Ini Intan tadi beli buah..." Intan memberikan kantong belanjaan berisi buah segar.

Umi Fatimah menerima kantong tersebut dan melihat isinya.

"Ya ampun Intan... Ngapain kamu beli buah ini..." umi Fatimah kembali kesal melihat buah- buahan yang dibawa oleh sang menantu.

"Lho... Memangnya kenapa Mi...? Buahnya masih segar kan...?'' tanya Intan tidak mengerti kenapa ibu mertuanya marah padahal tadi waktu membeli buah, Intan sengaja memilih buah segar dan kualitasnya bagus.

"Kamu mau meracuni abi...! Abi kan tidak boleh makan buah- buahan ini...!" sahut umi Fatimah sambil melotot pada Intan.

"Ma...maaf umi... Tapi sebelum- sebelumya , Intan dan mas Aldy biasa bawa buah kalau nengok abi sakit. Dan abi selalu makan buah yang Intan bawa..." ucap Intan.

"Iya tapi kalau buah yang ini, abi nggak boleh makan...!" sahut umi Fatimah lagi- lagi dengan ketus.

Iya, tadi Intan membeli buah semangka, pisang dan juga anggur. Dan menurut dokter, penderita diabetes tidak boleh makan buah tersebut.

"Aduh maaf ya umi, Intan nggak tahu kalau abi nggak boleh makan buah itu..." Intan merasa bersalah karena salah membeli buah.

"Kamu ini memang nggak ngerti apa- apa Intan...!'' sahut umi Fatimah sambil meletakkan kantong berisi buah di atas meja makan.

Intan terdiam tanpa berani bicara apapun lagi pada ibu mertuanya. Intan lalu minta ijin pada umi Fatimah untuk menengok abi Abdul di kamarnya. Dan di dalam kamar Arkan sedang memijit kaki sang kakek sambil ngobrol berdua.

"Assalamualaikum Abi...." ucap Intan lalu masuk ke kamar abi.

"Waalaikumsalam Intan..." jawab abi Abdul sambil tersenyum hangat pada Intan.

"Gimana keadaan Abi...? " Intan terlihat sedih melihat bapak mertuanya yang begitu baik padanya terbaring sakit.

"Sudah agak baikan..." jawab abi.

"Abi kok bisa sakit lagi sih, baru dua bulan lalu abi sakit... Apa abi kecapekan...?'' tanya Intan sambil memijit kaki bapak mertuanya seperti Arkan.

"Namanya juga abi kan sudah semakin tua, kalau sakit ya wajar. Apalagi kan penyakit abi memang penyakit yang gampang kambuh...." jawab abi.

"Abi cepet sembuh ya bi, makannya dijaga, jangan makan makanan yang dilarang oleh dokter..." ucap Intan.

Abi Abdul terkekeh.

"Itu yang susah Intan... Kemarin abi ingin sekali minum kopi...." ucap Abi Abdul.

Lalu abi menceritakan kalau dia kemarin minum kopi dua gelas dan penyakitnya langsung kumat.

"Ya Alloh abi... Lain kali jangan begitu dong bi... Abi harus jaga makanan dan minuman. Supaya penyakit abi nggak sering kumat. Intan nggak tega kalau lihat abi sakit begini..." ucap Intan.

Iya, di keluarga besar Aldy, hanya abi Abdul yang baik dan perduli sama Intan. Jadi Intan pun sayang sekali pada abi Abdul. Intan jadi sedih jika melihat bapak mertuanya sakit karena Intan jadi teringat almarhum pak Wito ketika dia masih hidup dan sakit- sakitan.

"Abi... Maafin Intan ya, tadi Intan beli buah. Tapi nggak tahu kalau buah yang Intan beli itu buah yang tidak boleh dimakan oleh abi karena bisa meningkatkan gula darah...." ucap Intan merasa bersalah.

"Tapi Intan beneran tidak tahu kalau abi tidak boleh makan buah semangka, anggur sama pisang, bi..." sambung Intan merasa tidak enak pada abi.

"Tidak apa- apa Intan, namanya juga tidak tahu..." jawab abi Abdul sambil tersenyum pada menantunya itu.

"Lho jadi kakek nggak boleh makan buah yang tadi mama beli...?'' tanya Arkan sambil menoleh pada Intan. Intan mengangguk.

"Nanti buahnya siapa dong yang makan...?'' tanya Arkan dengan polosnya.

"Ya sudah Arkan saja yang makan buahnya..." jawab abi Abdul.

"Eh jangan sayang... Biar umi saja atau nanti kalau ada tamu kan bisa disuguhkan buat mereka.

"Tidak apa- apa Intan... Kalau Arkan ingin makan buahnya...." sahut abi.

"Nanti saja kita beli lagi buat dimakan di rumah..." ucap Untan sambil mengusap lengan Arkan.

"Intan..." ucap Abi Abdul.

"Iya abi..." jawab Intan.

Intan dan abi Abdul saling menatap. Dan Intan merasa heran kenapa tiba- tiba abi Abdul terlihat sedih.

"Ada apa Abi...? Apa ada yang sakit. Yang mana yang sakit abi, biar nanti Intan pijit..." tanya intan.

"Tidak... Bukan itu nak..." sahut abi Abdul.

"Nak... Abi minta maaf ya kalau abi belum menjadi mertua yang baik buat Intan..." ucap Abi Abdul dengan mata berkaca- kaca.

"Ih abi... Abi ini bicara apa... Abi ini bapak mertua Intan yang paaaaaaling baik..." sahut Intan sambil menggenggam tangan Abi.

Abi Abdul menghela nafas. Iya, entah kenapa Intan selalu bingung dengan sikap abi abdul yang sudah beberapa minta maaf kepada Intan setiap mereka berdua bertemu.

"Intan... Bilangin sama Aldy, suruh dia berhenti ngopi, abi perhatikan dia ngopinya kuat banget. Abi tidak mau Aldy seperti abi..." ucap Abi Abdul mengalihkan pembicaraan.

"Iya abi, Intan sudah sering mengingatkan soal itu, tapi mas Aldy suka tidak mau dengerin omongan Intan...." sahut Intan.

Bersambung.....

1
Salsa
Playing victim banget si Fatimah 😄😄
Asmara
Keren ceritanya
Asmara
Umi sendiri yg duluan menghina Intan giliran dibalas sama Intan dia mewek merasa terzolimi ih najis bgt mertua model begitu 😡
Asmara
Pasti si Aldy punya istri lain
Asmara
Hadeh apes amat kamu Intan
Asmara
Suami nyebelin si Aldy😡
Asmara
Sungguh terlalu mertua sama iparmu Intan 😡
Salsa
Ceritanya menarik 🥰🥰🥰
Salsa
Ngeselin ya si Aldy
Salsa
Apes amat nasibmu Intan ,pynsuami nggak tegas, ibu mertua menyebalkan, adik ipar ngeselin , ibu kandung nya jg edan , lengkap SDH penderitaan kamu
Salsa
Aldy sebenarnya cinta SMA intan cuma gengsi saja dia
Salsa
Suka nya ngalahin org lain tuh si Umi.. pdhl anak sndiri jg salah
Salsa
Umi Fatimah itu ciri" orng munafik
Asmara
Akhirnya menikah jg
Asmara
Duhh intan intan kasihan amat hidupmu
Asmara
Ibunya nggak ngotak
Asmara
Hadir Thor ,.
Mommy Almira: Mksih dah mampir 😊
total 1 replies
Salsa
Lanjut Thor, ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!