Lima tahun sudah Nadira menjalani sebuah pernikahan. Lima tahun pula rahimnya dijadikan bahan cibiran, saat setiap kali mertuanya melontarkan kata-kata tajam. Mandul. Wanita bermasalah.
"Mas, aku sudah lelah menghadapi ibumu yang selalu menuduhku mandul. Padahal kenyataannya kamu jarang menyentuhku. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" (Nadira)
Namun respon Ardian membuat Nadira terdiam.
"Sudahlah Nadira, gak usah di dengarkan ucapan Ibu. Jadi sabar saja. Lagian aku gak pernah menyembunyikan apapun darimu." (Ardian)
Bersabar, katanya.
Tapi sampai kapan kesabaran itu bisa bertahan?
Apakah dibalik ucapannya, Ardian menyembunyikan sebuah rahasia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ucapan Mertua Dibayar Tunai
Sendok Nadira bergerak pelan di atas piring. Suara logamnya nyaris tak terdengar di antara sunyi meja makan.
Nadira sekilas menatap suaminya, dingin. Tak ada tatapan lembut penuh cinta yang ia tunjukkan sebelum mengetahui rahasia suaminya.
“Mas,” panggil Nadira, memecah keheningan dimeja makan.
“Mulai bulan depan atau tiga hari lagi, aku pegang rumah makan cabang,” ucapnya datar di sela kunyahan, tanpa mengangkat pandang.
Gerakan Ardian terhenti. Ia menoleh. “Cabang apa?”
“Kamu lupa?” Nadira akhirnya mengangkat wajah.
Kening Ardian berkerut.
“Tante Rini, beliau sudah siapkan rumah makan cabang buat aku. Tinggal dapur. Semua urusan dapur diserahkan ke padaku. Karena aku yang paling tahu apa saja yang dibutuhkan. Modalnya juga sudah ditransfer kemarin.”
“Batalkan saja, minta Tante Rini buat cari orang lain yang mau mengelolanya, dan kamu fokus saja rumah makan mu.”
Nadira tersenyum tipis. “Nggak bisa. Aku sama Tante Rini sudah sepakat bekerja sama.”
“Itu hanya rumah makan, Dira.”
Sendok Nadira berhenti. Ia menoleh penuh, sorot matanya tajam.
Hanya rumah makan?
“Kalau begitu perusahaanmu juga isinya cuma berkas dan angka, Mas. Kenapa Mas repot-repot handle sendiri? Serahkan saja ke orang lain biar orang itu mengelolanya, jadi Mas gak akan repot-repot bolak balik ke sana.”
Ardian terdiam. Ia mengusap wajah, lalu menghela napas panjang. “Ya sudah. Terserah kamu.”
Nada itu terdengar pasrah, tapi Nadira tahu. Itu bukan jawaba setuju. Hanya Ardian jelas tak ingin ribut.
“Berarti aku akan jarang pulang. Karena Tante Rini sudah siapkan perumahan buat aku tinggali sementara,” lanjut Nadira, kembali menyendok makanan.
Ardian berdeham singkat. Tak ada jawaban lain.
Nadira menunduk, sudut bibirnya terangkat samar. Bukan bahagia, melainkan lega.
Ia menatap Ardian sekilas.
“Selamat pagi.”
Suara melengking itu datang dari ambang pintu.
Tangan Nadira yang sedang menyendok makanan berhenti. Ia mengangkat pandang perlahan. Ardian ikut menoleh.
“Kamu—”
“Mas Ardian.” Suara wanita itu lembut, memotong ucapan Ardian dengan sengaja.
Nadira kembali menunduk, melanjutkan makannya.
“Masih ingat aku, kan?”
“Ada apa?” tanya Ardian singkat.
“Aku disuruh antar makanan. Tante Wani masak khusus buat Mas,” ucapnya, sambil meletakan rantang diatas meja.
“Kok bukan Ibu yang antar sendiri?” Ardian menatap rantang itu.
“Tante Wani nggak mau naik darah gara-gara debat sama menantu yang nggak berguna.”
Sendok Nadira berhenti.
'Menantu nggak berguna?' Nadira tersenyum sinis.
Ia menelan makanannya pelan.
'Belum tahu saja, siapa yang sebenarnya nggak berguna di rumah ini.'
“Terima kasih ya. Sudah jauh-jauh datang . Duduk saja. Kita sarapan bareng,” ucap Nadira ringan.
“Oh, nggak perlu.” Dewi melirik makanan di piring Nadira, hidungnya sedikit mengkerut.
“Ya, mungkin kelihatannya kayak makanan hewan buat kamu,” sambung Nadira tenang. “Tapi ini makanan favorit Mas Ardian.”
“Oh ya?” Dewi terkekeh kecil. “Menurutku proteinnya berantakan. Nilai gizinya juga kurang.” Ia menoleh ke Ardian. “Mas, mending setelah makan minum vitamin. Takutnya kenapa-kenapa.”
“Bisa diam?!” bentak Ardian tiba-tiba.
Nadira berkedip pelan.
'Tumben Mas Ardian membelanya dari ucapan laknat itu.'
Ia menghela napas, lalu melirik jam di dinding.
“Sudah jam setengah delapan. Aku berangkat ke rumah makan,” ucapnya sambil berdiri. Ia meraih tasnya, melangkah menuju pintu. Baru dua langkah—
“Oh iya, Mas.” Nadira berhenti tanpa menoleh. “Jangan lupa cuci piring, ya. Hari ini Bibi sudah nggak kerja lagi.”
“Apa?” Ardian tersentak. “Kok bisa?”
“Karena aku kasihan dengan beliau. Sudah sepuh dan waktunya istirahat.”
Ia berbalik, melangkah pergi tanpa menunggu jawaban.
“Sudah, Mas,” suara Dewi terdengar di belakang. “Biar aku saja yang cuci.”
Langkah Nadira tak melambat.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
Ardian menghela napas panjang. Ia melirik meja makan yang kini dipenuhi piring kosong, lalu menoleh pada Dewi yang sudah menggulung lengan baju.
“Terserah kamu saja.”
Dewi tersenyum, segera mulai merapikan meja.
Pandangan Ardian kembali tertuju ke arah pintu. Punggung Nadira sudah tak terlihat.
“Dia makin aneh sekali belakangan ini.” Tangannya mengepal tanpa sadar.
...
Di luar rumah, udara pagi menyentuh wajah Nadira saat langkahnya berhenti seketika, saat ia menemukan sopir itu sudah berdiri di dekat mobil, tersenyum ramah yang dibuat-buat.
'Dasar, bermuka dua. Apa gak capek main drama?'
“Bu—”
“Saya bisa naik taksi,” potong Nadira tanpa menoleh.
Sopir itu tampak gelagapan. “Tapi… saya juga kerja jadi sopir, Bu Nadira.”
Nadira kembali menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan. Tatapannya masih sama.
“Sopir saya?” sudut bibirnya terangkat tipis. “Sopir yang setiap kali saya minta antar selalu punya alasan?” Nadira mendekat satu langkah.
Wajah pria itu memucat. Mulutnya terbuka, tapi tak satu kata pun keluar.
“Tapikan saya sudah izin sama Pak Ardian untuk libur.”
Nadira melipat kedua tangannya didepan dada. “Bukankah Bapak sopir saya? Dan bekerja dengan saya? Kenapa harus minta izin sama Mas Ardian?”
Nadira tak menunggu jawaban.
Ia berbalik, langkahnya tegas meninggalkan halaman rumah itu. Tanpa menoleh lagi.
Sang sopir berdiri di tempatnya, menatap punggung Nadira yang menjauh dengan sorot mata sinis.
“Siapa juga yang mau anterin situ,” gumamnya pelan, bibirnya mencibir.
Tangannya bergerak cepat merogoh saku celana. Ponsel ia keluarkan, layar menyala. Jemarinya lincah menekan beberapa warna. Sudut bibirnya terangkat saat nominal itu muncul.
“Satu juta?” napasnya terdengar ringan. “Yes.”
...
Perjalanan terasa singkat. Begitu mobil berhenti, Nadira turun dan melangkah masuk ke rumah makan miliknya. Sepertinya biasa, aroma masakan langsung menyambut, bercampur suara piring dan obrolan pelanggan yang sibuk dengan makanannya.
Ia berjalan lurus menuju kasir.
“Di mana Lala?” tanyanya singkat.
Pegawai di balik kasir melirik ke arah pintu. “Lala lagi… itu, Bu.” Jarinya menunjuk keluar.
Nadira menoleh. Sosok Lala terlihat baru saja masuk. “La, ikut saya.”
“Eh, ada apa, Bu?” Lala tampak terkejut.
Nadira tak menjawab. Ia sudah berbalik, melangkah lebih dulu.
Beberapa langkah kemudian, mereka masuk ke ruang kerja. Pintu tertutup pelan.
Nadira duduk santai di kursinya. Pandangannya terangkat, menatap Lala sejenak, tajam tapi tenang.
“Mungkin tiga hari lagi saya akan handle rumah makan cabang. Kamu yang pegang rumah makan ini sementara ya?” ucapnya tanpa basa-basi.
Lala terpaku. “Eh… kok tiba-tiba, Bu?”
Sudut bibir Nadira terangkat. “Mau bagaimana lagi? Modalnya sudah Tante Rini transfer ke saya.”
“Tapi—”
“Jangan tapi-tapi, Lala,” potong Nadira.
Lala menelan ludah, lalu mengangguk. “Baik, Bu. Saya akan lakukan tugas sesuai perintah Bu Nadira.”
“Sudah. Kamu boleh pergi.”
Lala keluar. Pintu kembali tertutup, meninggalkan Nadira sendiri.
Ia menghela napas panjang. Tangannya meraih ponsel. Satu nama tertera di layar, jarinya menekan tanpa ragu. Nada sambung terdengar beberapa detik sebelum suara di seberang muncul.
“Siska, saya ada pekerjaan buat kamu,” ucap Nadira datar.
“Pekerjaan apa, Bu?”
“Tiga hari lagi. Ikut saya.”
Hening singkat. “Baik, Bu.”
Sambungan terputus. Nadira meletakkan ponsel di meja.
Pandangan Nadira beralih ke kalender di dinding. Ia berdiri, mengambil spidol merah. Tangannya bergerak, melingkari satu tanggal.
“Aku beri kamu waktu bersenang-senang lebih dulu, Mas.”
Senyum tipis terbit di bibir Nadira.
Kling.
Layar ponselnya menyala. Nadira meraihnya, ibu jarinya berhenti sejenak saat membaca nama pengirim.
'Pulang jam berapa?'
Nadira mengetik singkat. 'Jam empat, kalau nggak sibuk.'
Belum sempat layar terkunci, bunyi itu terdengar lagi.
'Aku jemput. Ibu minta kita kumpul. Mbak Rani baru pulang dari rumah sakit karena keguguran.'
Alis Nadira saling mendekat.
"Keguguran? Kok bisa?"
Setelah beberapa detik, Nadira hanya menulis dua kata.
'Ya, Mas.'
Ia meletakkan ponsel kembali di meja. Pandangannya lurus ke depan, kosong. Tangannya perlahan mengepal, lalu mengendur lagi.
Nadira menarik napas dalam-dalam.
“Tuhan memang terasa gak adil. Tapi aku tahu, selalu ada alasan di balik semua ini.”
Tatapannya turun, jatuh pada lantai.
...
Waktu merayap pelan. Satu demi satu menit terlewati tanpa terasa. Ketika Nadira kembali menoleh ke jam dinding, jarumnya sudah menunjuk pukul setengah tiga.
Tumpukan map di hadapannya masih terbuka. Angka-angka, catatan belanja, dan daftar kebutuhan cabang berbaur tanpa selesai. Matanya terasa lelah, tapi jemarinya belum berhenti menulis.
Tok. Tok.
Ketukan pintu memecah fokusnya.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
“Ada apa La?”
“Bu, Pak Ardian mencari Anda. Beliau menunggu di luar.”
Nadira mengangkat wajah. “Sampaikan, saya akan segera datang.”
“Baik, Bu.”
Pintu kembali tertutup, menyisakan keheningan.
Nadira menghela napas. Dengan gerakan berat, ia merapikan berkas-berkas di meja, menyusunnya rapi sebelum memasukkannya ke dalam tas. Pulpen diselipkan, map ditutup.
Ia berdiri, menatap sejenak ruangan itu, lalu melangkah keluar, meninggalkan ruang kerja yang sejak siang menahannya dalam sunyi.
...
Setibanya diluar, ia menangkap sosok Ardian, berdiri di samping mobil, satu tangan di saku celana, sorot matanya lurus ke depan.
“Mas Ardian…”
“Masuklah.” Ardian membuka pintu. “Ibu sudah mendesak. Kita harus ke rumah.”
Nadira mengangguk. Tanpa kata lain, ia masuk ke dalam mobil. Pintu tertutup. Mesin menyala. Tak lama, kendaraan itu melaju, meninggalkan halaman rumah makan yang perlahan menjauh dari pandangannya.
Di dalam mobil, hening menggantung. Nadira menunduk, jemarinya sibuk di layar ponsel.
Kling.
Sekilas, matanya menangkap layar ponsel Ardian yang menyala. Satu nama tertera jelas.
Wisnu.
Sudut bibir Nadira terangkat tipis. Bahkan senyum Ardian yang muncul setelahnya, menjijikkan.
Beberapa saat kemudian, mobil berhenti di pelataran rumah mertuanya. Nadira turun lebih dulu. Ia berdiri diam, menarik napas dalam-dalam, berusahalah meluaskan kesabaran yang ia miliki untuk berhadapan dengan Ibu mertuanya.
“Kenapa masih berdiri? Ayo masuk.”
Nadira mengangguk. Langkahnya menyusul Ardian.
...
Setibanya di dalam rumah, suara tangis pecah, pilu dari ruang tengah, yang menyambut kedatangan mereka.
“Nak, akhirnya kamu datang,” suara Bu Wani menyusul, tatapannya lirih. “Ayo, tenangin mbakmu.”
“Iya, Bu,” jawab Ardian pelan.
Namun Ardian sudah melangkah lebih dulu, pergi tanpa menoleh. Seperti biasa. Bu Wani justru menatap Nadira, tatapan yang sama seperti selama ini.
“Kamu, buatkan minuman buat Rani.”
Nadira tak menjawab. Ia berbalik, melangkah ke dapur.
‘Mungkin Allah sedang membalas mu, Bu. Untuk setiap ucapanmu yang meremehkan perempuan yang berjuang dengan garis dua.’
Air panas dituangkan. Teh diaduk perlahan. Nadira mengangkat cangkir, lalu kembali ke ruang tengah.
Di sana, Mbak Rani terduduk lemah. Bahunya terguncang, napasnya terputus-putus. Tangis itu bukan sekadar suara, melainkan luka yang terbuka atas kehilangan calon bayinya.
“Iya… jangan menangis,” ucap Ardian, suaranya canggung.
“Aku ingin bayiku, Ardian!” jerit Rani, tangannya mencengkeram ujung baju.
Bu Wani mendengus pelan. “Rani, coba lihat Nadira. Dia saja belum punya anak, biasa saja.”
Kata-kata itu jatuh tepat di dadanya.
‘Di saat seperti ini pun, Ibu gak pernah lupa menyindirku.’
Nadira melangkah maju. Suaranya tenang. “Bukan karena aku belum punya anak, Bu. Itu nggak ada hubungannya dengan itu.”
Matanya mengarah lurus kearah iparnya. “Kehilangan itu ujian terbesar dari tuhan, dan juga... Apalagi sesama wanita yang sedang berjuang garis dua, seharusnya menjaga ucapan.”
“Kalau enggak...” Nadira sedikit mencondongkan tubuhnya kearah mertuanya. “Takutnya malah seperti ini.”
“Ardian, dengar itu istrimu, berani membalas ucapan orang tua,” sentak Bu Wani.
“Diam,” suara Pak Marlan memotong, berat. “Situasi begini masih saja ribut.”
Nadira tersenyum tipis. Ia menunduk, meletakkan cangkir teh di meja. Lalu ia mendekat ke Mbak Rani, berjongkok sejajar.
“Mbak Rani,” ucapnya pelan. “Kadang, luka paling dalam bukan juga datang dari takdir… Tapi dari ucapan yang tak pernah dijaga. Dari doa yang berubah jadi sumpah serapah, dari mulut perempuan yang lupa, kata-katanya bisa jadi pisau untuk perempuan lain.”
Ia mengangkat wajah, senyumnya lembut.
“Ayo kita berjuang bersama.”
“Bagaimana aku mau berjuang? Aku gak akan bisa hamil lagi. Aku mandul, Nadira.”
Nadira terdiam, kemudian menatap ibu mertuanya sekali lagi.
‘Ingatkan Bu? Ucapan yang selalu Ibu lontarkan tanpa pikir panjang, kini terjadi pada putrimu? Belum lagi ada fakta yang belum kamu ketahui tentang Mas Ardian. Tapi gak sekarang, tunggu waktu yang tepat.’