Seorang wanita bernama Eun Chae hampir memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang membosankan setelah mendapatkan diagnosa mengidap penyakit linglung atau amnesia di usianya yang baru 30 tahun. Terlebih parahnya, Eun Chae tidak ingat bagaimana dirinya telah kehilangan kedua orang tuanya setahun yang lalu, dalam sebuah kecelakaan saat berlibur ke luar negeri. Siapa sangka pria yang menolongnya ternyata seorang chef terkenal di media sosial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon originalbychani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 21 : Ssam-Jang
(*Fiksi, karya author Chani*)
Senin, 2 Februari 2026. Pukul setengah dua belas, menjelang siang di kota Seoul.
"Tak terasa, hari ini sudah minggu pertama di bulan Februari," ujar Eun Chae.
"Benar. Babak semi-final akan berlangsung 5 hari lagi. Itu artinya, waktu untuk bersiap tidak banyak," kata Chef Do.
"Oh iya. Kapan jadwal oppa dengan editor majalah ternama itu?" tanya Eun Chae.
"Karena berdasarkan ketersediaan waktu satu sama lain, urutanku setelah Chef Ik Jun," jawab Chef Do.
"Wah, kali ini waktu kalian benar-benar mepet. Bagaimana dengan tema atau petunjuk di babak semi-final? Apa sudah diumumkan?" selidik Eun Chae.
"Sudah, melalui email masing-masing. Temanya cukup bebas, yaitu 'Signature Dish' yang berarti hidangan apa saja yang dikuasai kami bertiga."
Mendengar penjelasan Chef Do, tiba-tiba Eun Chae teringat akan pertemuan pertamanya dengan pria itu.
"Buatlah menu andalanmu. Ini tidak enak, cara memasaknya salah! Aku takkan kembali lagi," akting Eun Chae iseng.
"Hmm," respon Chef Do, memahami maksud Eun Chae.
"Hehe. Oppa masih ingat? Waktu itu kita belum saling mengenal. Jujur, awalnya kukira oppa seorang yang garang dan kurang peka," ungkapnya.
Karena sang lawan bicara terdiam selama beberapa detik, Eun Chae membujuknya.
"Dan ternyata, aku salah. Saat itu, oppa ditugaskan sebagai inspektur kuliner mewakili kota Seoul. Tentunya, oppa melakukan semuanya dengan baik dan itu membanggakan," katanya, sembari menepuk kedua tangan sekali.
"Bisakah kau tebak kenapa semua itu terjadi?" alih Chef Do.
"Kenapa? Ceritakan padaku, oppa!" ucap Eun Chae antusias.
Pria itu menghela nafas sekali, lalu bercerita.
"Alasan utama bisnis kedai itu gagal adalah penggunaan bahan yang kurang segar untuk menghemat biaya, serta sikap pemilik kedai yang keras kepala. Sebelum memberi penilaian mutlak, aku telah beberapa kali memberinya peringatan. Aku bahkan menawarkan bimbingan sebagai pakar kuliner, tapi semua itu diabaikannya. Dengan terpaksa, aku mendatangi kedainya secara langsung dan menyelesaikan tugasku sebelum tenggat waktu. Seperti yang kau tahu, masih banyak pelanggan yang mendukungnya dan tidak setuju pada penilaianku. Dia juga memutuskan pindah ke daerah lain tanpa sepengetahuanku. Jadi, ucapanku saat itu tidak mempengaruhi hasilnya," jelas Chef Do, selancar air.
"Daebak," desah Eun Chae terkejut, lalu cengengesan.
"Ada lagi yang mau kau tanyakan padaku?" tambah pria itu.
"Tidak. Tidak ada, Chef!" sahut Eun Chae, bergaya hormat seperti prajurit kecil.
Kini, kekasihnya yang hampir tidak sanggup menahan tawa.
"Maaf, aku sudah salah paham," hibur Eun Chae, seraya mendekat.
"Ya sudah. Sebelum mulai memasak, bantu aku mempersiapkan bahan dan peralatan," ajak Chef Do, sambil tersenyum diam-diam.
Menu Chef Do untuk babak berikutnya adalah ssam, yaitu santapan daging yang diberi saus cocol, acar, bawang putih, lalu dibungkus dengan daun sayuran hijau.
(*- Pengenalan trio saus Jang, *yakni sejenis saus fermentasi ala Korea / saus cocol untuk ssam : gochujang**, doenjang, gan**jang** -)
"Wah, sudah lama aku tidak makan ssam. Apalagi, buatan Yu Hyeon oppa! Pasti lezat sekali," kata Eun Chae bersemangat.
"Eun Chae-ya, bahan apa yang paling penting saat membuat ssam?" tanya Chef Do.
"Uhm, daging?" tebak Eun Chae.
"Benar. Daging adalah salah satunya," kata pria itu.
"Kurasa, semua elemennya penting. Tidak mungkin kita makan ssam tanpa sayur, kimchi, ataupun--" ujar Eun Chae sambil berpikir.
"Apa lagi menurutmu?" uji Chef Do lagi.
"Saus?" ucap Eun Chae pelan.
"Bagus, akhirnya kau menyadari elemen terpenting dalam ssam," puji Chef Do.
"Horee!" pekik Eun Chae senang.
"Kalau begitu, kita akan membuat tiga macam saus spesial. Yang pertama, saus pizza gochujang. Lalu, saus mustard doenjang. Dan yang terakhir, saus jamur ganjang," arah Chef Do.
"Wah, trio saus Jang!" respon Eun Chae, sembari mengeluarkan buku catatan kecil dan pulpen miliknya.
"Saus pizza gochujang ini sederhana. Orang awam bisa membeli saus pasta atau saus pizza yang sudah jadi di supermarket, lalu dicampurkan dengan pasta gochujang, rasionya sesuai selera," terang Chef Do, lalu dengan segera dicatat oleh Eun Chae.
"Tunggu, Chef. Dua menit saja," sanggah wanita itu, lalu dikabulkan oleh gurunya.
"Siap?" tanya Chef Do, saat muridnya berhenti mencatat.
"Yes, Chef!" balas Eun Chae.
"Untuk pakar kuliner sepertiku, kugunakan tomat segar. Bumbu rebusan tomat dan airnya; garam, bawang putih digeprek dan dicacah halus, daun basil dicincang, sedikit minyak wijen, irisan jahe tipis 3 lembar, potongan bawang bombai, satu sendok makan gula, dan gochujang," tambah Chef Do.
Dengan reputasi sebagai seorang chef selebriti, ucapannya yang jelas dan berurutan itu diimbangi dengan gerakan tangan yang profesional dan efisien.
Sementara itu, Eun Chae terus memperhatikan dan mencatat apa yang diajarkan padanya dengan seksama.
"Saus kedua, mustard yang dicampur dengan doenjang. Untuk membuat saus ini, orang awam juga banyak menggunakan yang instan. Agar sesuai standarku, kita gunakan bubuk mustard dan 4 bahan lainnya," ujar Chef Do.
"Ok, Chef. Apa saja 4 bahan lainnya?" simak Eun Chae.
"Kita gunakan gula pasir, cuka, kecap asin, dan 1 telur ayam yang dikocok hingga tercampur saja," bimbing Chef Do.
"Wah, rasanya benar-benar kompleks. Pasti enak," lontar Eun Chae sambil mencatat, lalu mengacungkan jempol.
"Kita masukkan telur dan gula pasir ke dalam mangkuk berbahan stainless steel, aduk rata. Setelah itu, kita isikan wajan dengan air. Untuk memasaknya, letakkan mangkuk dalam wajan, lalu nyalakan kompor dengan api sedang. Teknik ini disebut bain marie atau double boiling," jelas Chef Do.
"Wah, bahasa apa itu? Tolong aku, Chef!" pinta Eun Chae, nampak sedikit panik.
Chef Do lagi-lagi menampilkan senyuman menggodanya, lalu membantu wanita itu.
"Bain- marie- bahasa Perancis, bukan nama seseorang. Lalu, double- boiling- bahasa Inggris," dektenya, sambil menuliskan pada buku catatan Eun Chae.
"Hehe. Terima kasih, Chef," kata Eun Chae, tersenyum manis.
"Sama-sama. Selanjutnya, kita campurkan cuka, kecap asin, dan tidak lupa pasta doenjang. Lalu, pelan-pelan tuangkan ke dalam campuran telur. Aduk merata selama dipanaskan hingga mengental," alih pria tampan itu, diikuti dengan anggukan kepala Eun Chae.
"Wah, aromanya sangat unik dan menggugah selera," ucap Eun Chae kagum.
"Sepertinya, kamu tidak sabar ingin mencicipi semuanya. Kalau begitu, tolong siapkan sayuran dan dagingnya," amat Chef Do, hampir saja tertawa lagi.
"Ok, Chef. Untuk sayurnya, aku sudah tahu. Lalu, kita pakai daging apa?" balas Eun Chae, dengan cekatan melakukan perintah gurunya.
"Biasanya, daging babi atau daging sapi. Tapi, kamu tidak kularang memilih daging unggas atau lainnya," ujar Chef Do.
"Kalau begitu, daging sapi saja, kesukaan Chef," putus Eun Chae.
"Tak kusangka, kamu bahkan memperhatikan hal-hal seperti ini," tawa Chef Do.
"Tentu saja! Itu karena selama ini Chef telah menjagaku dengan baik, bahkan membuatkan masakan terlezat dalam hidupku," ungkap Eun Chae tulus.
"Itu karena aku menyayangimu," tegas pria itu, hingga membuat Eun Chae tersipu.
Sejenak terbawa suasana, keduanya hampir saja berciuman saat memasak.
"La-- Lalu, bagaimana dengan saus yang terakhir, Chef?" lirih Eun Chae, sambil berusaha menutupi wajahnya yang merona.
"Ehem-- Terakhir, saus jamur yang dicampur dengan ganjang. Itu mudah. Kita gunakan sejumlah jamur Pyogo dan jamur Paeng-i. Potong-potong keduanya, tambahkan kaldu rebusan, sedikit arak beras, dan ganjang. Panaskan hingga mendidih, tiriskan sebentar. Lalu, kita proses dalam blender hingga halus," arah Chef Do, entah mengapa gerakannya sedikit bertambah cepat.
(*Jamur Pyogo lebih dikenal secara internasional sebagai jamur Shiitake, dan jamur Paeng-i sebagai jamur Enoki*)
"Ok, Chef," respon Eun Chae.
"Dan, kita sudah selesai membuat semua sausnya," kata Chef Do, tak sadar menghembuskan nafas lega.
Eun Chae mengangguk pelan, lalu membalas tatapan gurunya.
"Kita lanjutkan yang tadi?" usul pria itu tiba-tiba.
"Oh.. Itu--," ucap Eun Chae terpana.
Saking gugupnya, Eun Chae hanya menurut dan menutup matanya.
"Chef, daging dan sayurnya?" sela Eun Chae, saat keduanya hampir lupa total.
"Kita simpan dulu saja semuanya setelah ini."
Itulah peraturan cinta sang guru. Mana mungkin murid manisnya mampu menolak kejutan seribu tahun itu?
- Bersambung -