"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."
Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Lorong rumah sakit yang biasanya terasa sunyi, mendadak berubah menjadi panggung drama yang mencekam. Langkah kaki Roy yang lebar dan terburu-buru menggendong tubuh Alsava yang tak berdaya menjadi pusat perhatian. Di belakangnya, Winata berlari dengan wajah sembab dan napas tersengal.
Begitu sampai di unit gawat darurat, tim medis segera mengambil alih. Sava langsung mendapatkan penanganan intensif. Atas perintah otoritas Roy, Sava dipindahkan ke ruang perawatan VVIP yang sama dengan Garvi. Pemandangan di dalam ruangan itu begitu menyayat hati; dua penguasa Skyline Group, pasangan yang dikenal sebagai power couple paling dingin di Medan, kini terbaring berdampingan di atas ranjang medis dengan kabel-kabel yang melilit tubuh mereka.
Winata dan Roy berdiri di depan meja kerja seorang dokter senior bernama dr. Aris. Suasana di ruangan itu begitu tegang hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman martil.
"Bagaimana keadaan sahabat saya, Dok?" tanya Winata, suaranya bergetar hebat.
Dokter Aris menghela napas panjang, menatap catatan medis di layar monitornya dengan raut wajah prihatin.
"Nyonya Sava mengalami kelelahan yang ekstrem, beban pikiran yang melampaui kapasitas mentalnya, dan defisiensi vitamin yang cukup parah. Daya tahan tubuhnya sedang berada di titik terendah."
"Lalu untuk sakit perutnya?" Winata memotong cepat, matanya membelalak. "Tadi dia mengerang kesakitan luar biasa di bagian perut bawahnya. Apa itu gejala maag akut yang disebabkan oleh stres?"
Dokter Aris terdiam sejenak. Ia melirik Roy, lalu kembali menatap Winata dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada keraguan di matanya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk bicara.
"Sakit perut yang dirasakan Nyonya Sava bukan berasal dari lambung," ucap dokter itu dengan nada rendah. "Tiga tahun yang lalu, Nyonya Sava menjalani prosedur kuretase di bawah pengawasan saya secara rahasia. Beliau mengalami keguguran spontan saat usia kandungannya baru memasuki minggu kedelapan."
Deg.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Winata. Ia merasa pasokan oksigen di ruangan itu mendadak hilang.
"Keguguran?" bisik Winata tak percaya. "Tiga tahun lalu? Tapi... tapi dia tidak pernah bilang..."
"Rasa sakit yang dirasakan Nyonya Sava tadi kemungkinan besar adalah psychosomatic trauma," lanjut Dokter Aris. "Trauma masa lalu akibat keguguran itu kembali terpicu. Secara medis, fisik beliau mungkin sehat, tapi memori tubuhnya menyimpan rasa sakit itu."
Winata menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai menggenang. "Apa karena tadi kami sempat membahas masalah kandungan saat makan siang?"
"Sangat mungkin," jawab dokter. "Nyonya Sava selama beberapa tahun ini sebenarnya sedang menjalani terapi psikologis secara rutin untuk menghilangkan trauma pasca keguguran itu. Saya merasa perkembangannya sangat baik, tapi beban masalah saat ini—termasuk kecelakaan Mr. Garvi—membuat benteng pertahanannya runtuh. Trauma itu muncul kembali dalam bentuk rasa sakit fisik yang hebat."
Setelah mengucapkan terima kasih, Winata dan Roy melangkah keluar dari ruangan dokter. Baru saja pintu tertutup, lutut Winata terasa lemas. Ia terduduk di kursi tunggu koridor, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya.
Isak tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Tubuhnya terguncang hebat.
"Bagaimana bisa..." isak Winata di sela tangisnya. "Bagaimana bisa dia menyimpan beban seberat itu sendirian? Tiga tahun, Roy! Tiga tahun dia pura-pura kuat, pura-pura tidak terjadi apa-apa, sementara di dalamnya dia sedang berdarah-darah!"
Roy berdiri mematung di samping Winata. Wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi kini tampak sedikit melunak, meski ia tetap berusaha mempertahankan sisi profesionalnya. Ia mengulurkan sapu tangan kepada Winata.
"Nona Wina, tenanglah..." ucap Roy pelan.
"Bagaimana aku bisa tenang, Roy?! Aku ini sahabatnya! Aku asistennya! Tapi aku sama sekali tidak tahu kalau dia pernah kehilangan calon anaknya!" Winata mendongak, menatap Roy dengan mata merah yang penuh amarah dan kesedihan. "Apakah ini alasan Sava sangat ingin bercerai dari Garvi? Apakah si brengsek Garvi itu tahu kalau istrinya keguguran? Apakah dia tahu kalau Sava sering pergi ke psikolog untuk sekadar bisa bernapas?!"
Roy terdiam. Kebisuan pria itu justru membuat Winata semakin frustrasi.
"Roy! Jawab aku! Apa Garvi tahu?" seru Winata sambil menarik kerah jas Roy.
Roy menarik napas dalam. "Tuan Muda... Tuan Muda tidak tahu apapun. Kemungkinan Nyonya Muda sendiri yang meminta tim medis untuk menutup mulut dan menyimpan semuanya sendiri."
Winata tertawa getir di tengah tangisnya. "Sava terluka sangat dalam, Roy. Lebih dalam dari luka fisik yang dialami Garvi saat ini. Aku merasa tidak pantas menjadi sahabatnya. Aku merasa gagal..."
Winata kembali menangis tergugu, suaranya menggema di lorong VVIP yang sepi itu. Kesedihan itu bukan hanya untuk bayi yang hilang, tapi untuk kesepian yang dijalani Sava selama empat tahun pernikahan manipulasinya dengan Garvi.
Roy berjongkok di depan Winata, menatap wanita itu dengan serius. "Nona Winata, dengarkan saya. Jangan katakan apapun kepada Nyonya Muda bahwa kita sudah mengetahui rahasia ini. Biarkan beliau yang mengatakannya jika sudah siap."
"Tapi kenapa? Dia butuh dukungan!" protes Winata.
"Jika Anda mengatakannya sekarang, dia akan merasa semakin telanjang dan rapuh. Beliau adalah wanita yang sangat menjaga harga dirinya," jelas Roy dengan nada bijak. "Saat ini, tugas kita hanya menjaganya. Berikan dukungan tanpa harus mengungkit lukanya."
Winata menghapus air matanya dengan kasar, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kekuatannya. "Roy, aku berjanji padamu. Jika Garvi bangun nanti dan masih berani menyakiti Sava dengan drama Shila atau keegoisannya... aku tidak peduli jika aku harus dipecat dari Skyline. Aku akan membawa Sava pergi sejauh mungkin dari pria itu."
Roy hanya mengangguk samar. "Saya mengerti perasaan Anda."
Di dalam ruangan VVIP, jemari Sava bergerak perlahan dalam tidurnya yang tidak tenang.
**
Rumah Sakit Columbia Asia, Medan. Pukul 17.45 WIB.
Cahaya lembayung senja Kota Medan merayap masuk melalui celah gorden tipis di ruang VVIP, menyentuh lantai marmer dengan warna oranye yang temaram. Ruangan itu begitu luas, namun bagi Sava, oksigen di dalamnya seolah menipis. Aroma antiseptik yang tajam bercampur dengan dinginnya suhu AC yang menusuk hingga ke tulang.
Perlahan, kelopak mata dengan bulu mata lentik itu bergetar. Sava terbangun dengan rasa pening yang menghantam kepalanya seolah baru saja dihantam palu godam. Hal pertama yang ia rasakan adalah sisa lilitan di perut bawahnya—sebuah rasa sakit yang sangat ia kenali, rasa sakit yang seharusnya sudah ia kubur tiga tahun lalu bersama sebuah harapan yang gugur sebelum berkembang.
"Trauma itu..." bisik Sava dengan suara parau yang nyaris hilang.
Ia menghela napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang berpacu. Ia sadar sepenuhnya apa yang baru saja terjadi. Tubuhnya berkhianat. Di tengah badai pekerjaan dan pengkhianatan yang dilakukan Garvi, memori tubuhnya justru membangkitkan luka lama yang selama ini ia tutup dengan topeng ketegasan sebagai COO Skyline Group.
Sava menolehkan kepalanya ke samping. Di sana, hanya berjarak dua meter, Garvi terbaring kaku. Pria yang biasanya tampak begitu dominan, manipulatif, dan selalu memegang kendali atas hidupnya, kini tampak begitu rapuh di bawah lilitan selang medis. Hanya suara ritmik dari monitor jantung yang membuktikan bahwa sang singa Skyline masih bernapas.
Ruangan itu sunyi. Terlalu sunyi. Ke mana Winata dan Roy? Kenapa mereka meninggalkannya sendirian di dalam keheningan yang menyesakkan ini?
Sava berusaha menggerakkan tangannya yang terasa berat karena tertanam jarum infus. Saat ia menoleh ke nakas di samping ranjangnya, ia menemukan secarik kertas putih yang diletakkan di bawah gelas air mineral. Dengan sisa tenaganya, Sava bangkit, duduk bersandar di bantal, lalu meraih kertas itu.
Tulisan tangan yang rapi dan tegas milik Winata menyambutnya:
Sava, kalau kamu sudah bangun, jangan langsung turun dari ranjang! Kamu pingsan cukup lama dan dokter bilang daya tahan tubuhmu drop total. Aku dan Roy terpaksa kembali ke kantor sebentar untuk mengurus beberapa dokumen penting. Kami akan segera kembali sebelum jam makan malam.
Ponselmu ada di laci nakas, aku simpan di sana supaya kamu tidak terganggu suara notifikasi. Segera kabari aku kalau kamu sudah sadar.
Sava membuka laci nakas dan mengambil ponselnya. Layarnya menyala, menampilkan puluhan panggilan tak terjawab dan ratusan pesan masuk. Namun, ia mengabaikan semuanya dan langsung mencari kontak Winata.
Panggilan itu hanya berdering dua kali sebelum suara cemas Winata meledak di seberang sana.
"Ya Tuhan, Sava! Kamu sudah sadar? Bagaimana perasaanmu? Masih sakit perutnya? Masih pusing?" rentetan pertanyaan itu membuat Sava sedikit memejamkan mata.
"Aku sudah sadar, Win. Tenanglah," jawab Sava pelan. "Aku baik-baik saja."
"Jangan bohong! Dokter bilang kamu mengalami kelelahan ekstrem dan... ya, kamu tahu sendiri apa yang kambuh. Aku hampir mati jantungan melihatmu pingsan di restoran tadi," suara Winata terdengar bergetar, ada nada emosional yang tertahan di sana. "Aku dan Roy sedang di jalan kembali ke rumah sakit. Kamu ingin makan apa? Biar kami carikan di jalan."
"Aku tidak nafsu makan apa-apa, Win," potong Sava. "Bawakan saja aku pakaian ganti. Aku ingin pulang. Aku sudah tidak tahan berada di rumah sakit ini. Baunya... suasananya... semuanya membuatku semakin sakit."
Ada jeda cukup lama di seberang telepon.
"Tidak bisa, Sava," suara Winata berubah menjadi tegas, mode asisten sekaligus sahabat yang protektif.
"Infusmu baru boleh dicabut besok pagi. Dokter memberikan dosis vitamin dosis tinggi agar kondisimu stabil. Kamu baru boleh pulang besok setelah pemeriksaan terakhir. Untuk saat ini, aku mohon padamu, sekali saja jangan keras kepala. Kamu butuh fisik yang kuat untuk mengurus kekacauan di kantor dan... untuk menghadapi Garvi."
Sava terdiam. Ia menatap selang infus yang mengalirkan cairan ke dalam pembuluh darahnya. Ia tahu Winata benar. Ia tidak bisa bertarung dalam kondisi seperti ini. Jika ia ambruk, maka Skyline akan jatuh ke tangan Victor, dan Shila akan tertawa di atas penderitaannya.
"Baiklah," jawab Sava akhirnya dengan nada pasrah. "Besok pagi aku harus sudah keluar dari sini."
"Janji. Besok pagi aku sendiri yang akan mengurus administrasinya. Sekarang istirahatlah."
Panggilan berakhir. Sava meletakkan ponselnya di atas selimut. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Garvi.
Sava turun perlahan dari ranjangnya, menyeret tiang infus dengan langkah kaki yang masih sedikit goyah. Ia berdiri tepat di sisi ranjang Garvi. Wajah suaminya yang rupawan bak dewa Yunani itu tampak begitu damai, seolah tidak ada beban dosa di balik kulit pucatnya.
"Mas Garvi..." bisik Sava. Nama itu terasa berat di lidahnya. "Kamu selalu bilang kamu adalah pelindungku. Kamu memata-matai setiap langkahku karena kamu bilang kamu posesif dan ingin menjagaku. Tapi lihat kita sekarang..."
Sava menyentuh punggung tangan Garvi yang dingin.
"Tiga tahun lalu, saat aku kehilangan anak kita... di mana kamu? Kamu sibuk dengan duniamu, dengan manipulasi bisnismu. Dan sekarang, saat aku mencoba bertahan di tengah badai yang kamu ciptakan, kamu malah tidur di sini dengan tenang."
Setetes air mata yang sejak tadi ditahan Sava akhirnya jatuh, mendarat tepat di punggung tangan Garvi. Sava benar-benar rapuh.
***