Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.
Tidak ada yang berani menentangnya.
Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.
Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:
kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.
Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.
Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Bukan karena kata istri melainkan cara Lucane mengatakannya. Tegas. Final. Tanpa ruang bantahan.
Semua kepala menunduk patuh, mengangguk mengerti.
Lucane lalu berjalan masuk, dan Jema mengikutinya. Lorong-lorong luas dengan lampu kristal dan lantai marmer terasa sunyi, seolah mansion itu memiliki napas sendiri.
Mereka naik ke lantai dua.
Lucane berhenti di depan sebuah pintu besar.
“Ini kamar kamu,” ucapnya singkat.
“Kamu bebas melakukan apa pun di mansion ini. Tapi ingat satu hal jangan buat kekacauan.”
Nada suaranya bukan ancaman, melainkan peringatan yang tak perlu diulang.
“Hm. Oke,” jawab Jema santai, meski matanya menilai setiap detail.
Ia ragu sejenak, lalu bertanya pelan, “Kalau kamu… tidur di mana?”
Lucane menatapnya sebentar, lalu menunjuk pintu kamar di seberang lorong.
“Di sana.”
“Oh…”
Tak ada kecanggungan. Tak ada penjelasan. Semua terasa terlalu… terkontrol.
Jema membuka pintu kamarnya.
Dan dunia seolah berhenti.
Kamar itu lebih besar dari apartemennya luas, elegan, dengan pencahayaan hangat. Tempat tidur besar berlapis linen mahal, sofa empuk, meja rias besar, dan jendela tinggi yang menghadap taman pribadi.
“Apa aku salah masuk kamar…?” gumam Jema pelan.
Ia melangkah ke walk-in closet.
Langkahnya terhenti.
Rak-rak penuh gaun formal dan kasual dari brand ternama. Deretan sepatu dan sandal tertata rapi. Tas-tas mewah berjajar seolah etalase butik.
Di meja aksesori, gelang, jam, cincin, kalung semuanya berkilau.
“Ini cuma pernikahan kontrak…” Jema menghela napas pelan.
“Kenapa dia seroyal ini?”
Di ambang pintu, Lucane menoleh sebentar. Senyum tipis nyaris tak terlihat tersungging di sudut bibirnya.
Tanpa berkata apa pun, ia pergi.
Pintu tertutup.
Jema berdiri terpaku beberapa detik, lalu menjatuhkan dirinya ke lantai berlapis karpet tebal.
“Ini benar-benar gila,” ucapnya lirih.
Ia menatap langit-langit, pikirannya berputar.
Mansion mewah. Status nyonya. Suami dingin yang terlalu sempurna.
Dan pernikahan yang katanya cuma kontrak.
Jema tersenyum kecil bukan bahagia, bukan takut.
Melainkan siap bertarung.
* * * *
Malam itu hujan turun tanpa suara, seolah dunia menahan napas.
Di sebuah ruangan gelap berlampu temaram, Kapten Reiner berdiri membelakangi jendela. Bayangannya memanjang di lantai beton, kaku dan dingin. Di hadapannya, tiga sosok berdiri tegap wajah mereka tak asing, tapi nama mereka sudah lama dihapus dari catatan resmi.
“Spectre tidak boleh dibiarkan hidup,” ucap Reiner akhirnya. Suaranya datar, tanpa emosi.
“Sekarang dia bukan hanya mantan aset. Dia ancaman.”
Salah satu pria mengangkat kepala. “Karena Alexander?”
Reiner berbalik perlahan. Tatapannya tajam, menusuk.
“Karena Jema,” jawabnya pelan. “Alexander hanya mempercepat bencana.”
Ia berjalan mendekat, menekan meja logam dengan telapak tangannya.
“Kalian tahu aturannya. Tidak ada peringatan. Tidak ada keraguan. Di mana ada kesempatan di situlah dia dibersihkan.”
Hening.
“Dia sudah keluar dari organisasi,” lanjut Reiner. “Tapi dia tahu terlalu banyak. Pola kita. Nama kita. Wajah kita. Dan sekarang…”
Senyumnya tipis, nyaris tak terlihat.
“…dia dilindungi oleh nama yang membuat banyak orang gemetar.”
Pria kedua mengepalkan tangan. “Spectre tidak mudah.”
“Aku tidak menyuruh kalian membunuh perempuan biasa,” potong Reiner dingin.
“Aku menyuruh kalian menghapus legenda.”
* * * *
Pagi itu, Jema terbangun dengan perasaan aneh.
Kasur empuk. Langit-langit tinggi. Dan fakta bahwa ia bukan lagi di apartemen sempitnya.
“Oh ya…” gumamnya sambil duduk.
“Aku sudah menikah. Dengan pria sedingin kulkas premium.”
Setelah menyelesaikan ritual bersih-bersihnya, Jema turun ke ruang makan.
Dan benar saja
Di ujung meja panjang, pria tampan itu sudah duduk rapi, kemeja putih lengan panjang, jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya. Ekspresinya datar, fokus pada tablet sambil menikmati sarapannya dengan tenang.
“Hm, cepat sekali dia bangun,” gumam Jema.
“Atau jangan-jangan dia memang tidak pernah tidur.”
Jema melangkah mendekat.
“Selamat pagi,” ucapnya ramah dengan senyum lebar yang nyaris terlalu cerah untuk pagi hari.
Beberapa maid yang sedang menyusun hidangan langsung menunduk lebih dalam. Aura tegang langsung terasa seolah mereka menunggu Lucane meledak karena suara di pagi hari.
Namun Lucane… tetap diam.
Jema menyipitkan mata, lalu tersenyum makin jahil.
“Selamat pagi juga, Tuan Lucane yang terhormat,” kekehnya, sedikit membungkuk berlebihan.
Lucane akhirnya mengangkat pandangan. Menatap Jema beberapa detik dingin, datar, sulit ditebak.
“Sarapan,” ucapnya singkat.
“Jangan banyak bicara.”
Jema cemberut tipis.
“Ck. Dasar pria membosankan,” gumamnya.
Jelas terdengar.
Lucane tidak menoleh. Tapi sudut alisnya bergerak sangat tipis.
“Aku akan ke kantor,” lanjutnya.
“Kamu tetap di mansion.”
“Oh, tentu,” jawab Jema cepat, mengangguk patuh.
“Dengan senang hati aku akan bermalas-malasan secara profesional.”
Lucane berdiri.
Liam muncul tak lama kemudian, rapi seperti biasa.
“Tuan,” sapa Liam hormat.
Lucane mengambil jasnya dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Pintu depan tertutup.
Tinggal Jema. Meja panjang. Dan belasan pasang mata maid yang kini mengarah padanya.
Suasana hening.
Jema menoleh ke kiri dan kanan, lalu tersenyum kikuk.
“…Santai saja, aku tidak gigit kok”
Beberapa maid tampak terkejut. Ada yang nyaris tersenyum, tapi langsung menunduk lagi.
Jema duduk dan mengambil sepotong roti, mengunyahnya sambil menatap ruangan besar itu.
“Hm…” gumamnya.
“Apa ya yang bakal aku lakukan dulu hari ini?”
Ia menatap tangga, lorong panjang, lalu kembali ke roti di tangannya.
“Tidur lagi sepertinya pilihan yang sangat bijaksana.”
* * * *
Setelah menyelesaikan sarapannya, seorang maid senior mendekat sambil membawa piring berisi buah segar yang tersusun rapi.
“Nyonya, ini buah segar,” ucapnya sopan.
“Terima kasih,” jawab Jema ramah.
Maid itu menunduk ringan.
“Saya Berin, Nyonya. Maid senior di sini. Jika Nyonya bosan, saya atau Nelli bisa menemani Nyonya berkeliling mansion.”
Jema mengangguk kecil.
“Hm, baiklah. Terima kasih.”
Berin pun pamit dengan sikap anggun.
Tak lama kemudian, seorang maid lain muncul. Wajahnya lebih muda, ekspresinya cerah jelas berbeda dari kebanyakan penghuni mansion ini.
“Nyonya, saya Nelli. Saya siap membawa Nyonya berkeliling… istana ini,” ucapnya bersemangat.
Mendengar kata istana, Jema langsung terkekeh.
“Oh?” Jema menyeringai.
“Kupikir mansion ini cuma diisi orang-orang kaku seperti pemiliknya.”
Ia berdiri sambil merentangkan tangan kecil.
“Baiklah. Antar aku melihat istana milik Dewa Kaku itu.”
Nelli menahan tawa, tapi sudut bibirnya tetap terangkat.
“Baik, Nyonya,” jawabnya, sedikit nyengir.
Mereka pun mulai berkeliling.
Nelli menjelaskan setiap sudut dengan antusias seolah sedang memandu tur tamu penting.
“Ini ruang baca Tuan Lucane. Tidak banyak orang yang boleh masuk ke sini.”
Jema melirik rak buku tinggi.
“Pantas… aromanya serius sekali.”
Berikutnya, ruang gym pribadi.
“Wow,” Jema bersiul pelan.
“Ini gym atau markas superhero?”
Lalu ruang kerja Lucane luas, sunyi, dan terlalu rapi.
“Ruang ini biasanya terkunci, Nyonya.”
Jema mengangguk penuh pengertian.
“Kelihatan. Debunya saja takut masuk.”
Mereka berjalan ke taman belakang yang sangat luas, kolam renang outdoor dan indoor yang biasa digunakan para tuan muda, hingga area bersantai.
“Ini kolam renang indoor, dan yang di luar itu outdoor.”
“Lengkap sekali,” gumam Jema.
“Aku berenang di sini bisa nyasar tidak, Nelli?”
Nelli terkekeh kecil.
Perjalanan berlanjut ruang keluarga, ruang tamu besar, kamar-kamar tamu, bar mini.
“Bar mini?” Jema berhenti.
“Ini mini versi orang kaya ya?”
Ada juga bioskop mini.
Jema melongo.
“Kalau nonton sendirian di sini rasanya kayak jadi tokoh utama film.”
Dan akhirnya
“Di sebelah sana ada ruang tembak,” jelas Nelli, menunjuk bangunan terpisah.
“Dan di sisi belakang… lapangan helikopter.”
Jema terdiam.
Ia menoleh pelan ke Nelli.
“…Oke,” katanya akhirnya.
“Sekarang aku yakin. Ini bukan mansion.”
Ia menghela napas panjang.
“Ini markas rahasia orang dingin berkedok manusia.”
Nelli akhirnya tertawa kecil cepat-cepat menutup mulutnya.
“Maaf, Nyonya.”
Jema ikut tertawa ringan.
“Tidak apa-apa,” katanya santai.
“Sepertinya hidupku di sini akan sangat… tidak membosankan.”
Dan tanpa ia sadari,
langkah kecil Jema sudah mulai mengubah suasana mansion yang selama ini terlalu sunyi.
* * * *