NovelToon NovelToon
Tekad Gadis Desa

Tekad Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teen Angst
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author:

Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!

19. TGD.19

Hari itu, langit di atas desa tampak lebih biru dari biasanya, seolah alam pun ikut menahan napas menyambut pertemuan dua kutub yang berbeda. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik—yang tampak sangat tidak selaras dengan jalanan aspal desa yang sedikit berlubang—berhenti tepat di depan halaman rumah kayu Shelly.

Ibu Shelly berkali-kali merapikan taplak meja rajutannya, sementara Bapak duduk di kursi kayu dengan gelisah, berkali-kali membetulkan letak kopiahnya. Shelly sendiri berdiri di ambang pintu, mengenakan gamis batik sederhana namun elegan. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia mempresentasikan skripsinya di depan para profesor.

Turunlah sepasang suami istri dari mobil tersebut. Ayah Arkan, Pak Baskoro, seorang pria paruh baya dengan gurat wajah tegas khas pejabat bank yang baru pensiun. Di sampingnya, Ibu Arkan, Bu Ratna, tampil sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya: kacamata hitam bermerek, tas kulit mahal, dan setelan kain sutra yang halus.

Arkan turun dari kursi kemudi, tersenyum cemas ke arah Shelly.

"Assalamualaikum," ucap Pak Baskoro dengan suara bariton yang ramah.

"Waalaikumussalam... Mari, mari masuk, Pak, Bu," sambut Bapak Shelly dengan suara yang diusahakan setenang mungkin.

---

Suasana di ruang tengah terasa sangat kaku pada sepuluh menit pertama. Aroma kopi tubruk dan pisang goreng hangat memenuhi ruangan. Bu Ratna sesekali melirik ke arah langit-langit rumah yang terbuat dari kayu jati tua, lalu beralih menatap tangan Shelly.

"Jadi, ini Shelly?" tanya Bu Ratna, suaranya halus namun tajam. "Arkan tidak berhenti bercerita tentang kamu. Katanya, kamu yang membuat dia betah tidur di mess yang katanya... banyak nyamuknya ya?"

Arkan tertawa canggung. "Ma, nggak setiap hari kok nyamuknya banyak."

Shelly tersenyum sopan. "Mohon maaf jika tempatnya kurang nyaman, Bu. Di desa memang begini adanya. Tapi udaranya lebih bersih daripada di kota."

Pak Baskoro menyesap kopinya, lalu mengangguk puas. "Kopi ini enak sekali, Pak. Mantap."

"Itu hasil tanam warga di perbukitan sana, Pak," jawab Bapak Shelly mulai mencair. "Kami olah sendiri di koperasi."

Bu Ratna meletakkan cangkirnya, lalu menatap Shelly lekat-lekat. "Shelly, tante jujur saja ya. Tante agak kaget waktu Arkan bilang mau mutasi ke sini dua tahun. Dia itu arsitek berbakat di Jakarta. Kariernya sedang di puncak. Sebagai orang tua, tante ingin yang terbaik. Apa kamu tidak merasa sayang, anak sepintar kamu malah mengurusi lumpur di sini? Kenapa tidak ikut Arkan ke Jakarta dan bekerja di kementerian atau perusahaan multinasional?"

Ruangan seketika senyap. Ibu Shelly menunduk, meremas ujung jemputannya. Shelly menarik napas panjang, menatap Bu Ratna dengan pandangan yang teduh namun berani.

"Ibu Ratna," suara Shelly terdengar jernih. "Saya mengerti kekhawatiran Ibu. Di kota, kesuksesan mungkin diukur dari seberapa tinggi gedung yang kita tempati. Tapi bagi saya, kesuksesan adalah seberapa banyak orang yang bisa makan karena apa yang saya kerjakan. Lumpur ini mungkin kotor di mata orang kota, tapi dari lumpur inilah biaya kuliah saya dibayar, dan dari lumpur ini pula masa depan desa kami dibangun. Jika saya pergi, saya hanya akan menjadi satu dari jutaan pegawai di Jakarta. Tapi di sini, saya adalah nyawa bagi seratus kepala keluarga."

Pak Baskoro tampak terkesan, sementara Bu Ratna terdiam, mencoba mencerna jawaban yang tidak ia duga dari seorang gadis desa.

---

Setelah makan siang dengan menu ayam lodho yang membuat Pak Baskoro menambah porsi dua kali, Arkan mengusulkan untuk jalan-jalan ke area persawahan. Shelly menemani mereka, sementara Bapak dan Ibu Shelly tetap di rumah untuk beristirahat.

Bu Ratna berjalan dengan sangat hati-hati, mengangkat sedikit ujung kain sutranya agar tidak terkena debu.

"Lihat itu, Ma," Arkan menunjuk ke arah tiang-tiang kecil dengan panel surya di tengah sawah. "Itu sistem irigasi yang Shelly bangun. Semuanya otomatis. Bahkan papa pun mungkin nggak bisa bikin sistem manajemen air seefisien ini di kantor."

Pak Baskoro mendekat, memeriksa kabel-kabel tersebut. "Kamu sendiri yang merancang ini, Shelly?"

"Dibantu teman-teman kampus dan teknisi lokal, Pak. Kami menggunakan sensor yang terhubung ke server koperasi."

Tiba-tiba, seorang petani tua, Pak Kardi, berjalan mendekat sambil memikul seikat rumput. Melihat ada orang kota yang berpenampilan mewah, Pak Kardi berhenti dan menyapa.

"Loh, Mbak Shelly! Ini tamunya ya?" tanya Pak Kardi dengan logat desa yang kental.

"Enggeh, Mbah. Ini orang tua Mas Arkan," jawab Shelly.

Pak Kardi meletakkan rumputnya, lalu menjabat tangan Pak Baskoro dengan tangan yang kasar dan menghitam. "Bapak, terima kasih ya sudah kirim Mas Arkan ke sini. Dia anak baik. Kemarin dia bantu kami desain atap gudang yang roboh. Tapi yang paling hebat ya Mbak Shelly ini, Pak. Kalau nggak ada dia, kami mungkin sudah jual sawah ini buat bayar utang. Mbak Shelly ini malaikat desa kami."

Bu Ratna memperhatikan interaksi itu. Ia melihat bagaimana Pak Kardi menatap Shelly dengan rasa hormat yang luar biasa—sesuatu yang jarang ia temukan di kota, di mana orang hanya dihormati karena jabatan.

---

Sore harinya, saat Pak Baskoro dan Bapak Shelly asyik mengobrol tentang politik di teras, Bu Ratna meminta Shelly menemaninya duduk di bawah pohon mangga di samping rumah.

"Shelly," suara Bu Ratna kini lebih melunak. "Tante lihat orang-orang di sini sangat bergantung padamu. Tapi pernahkah kamu berpikir tentang dirimu sendiri? Kalau kamu menikah dengan Arkan, apa kamu sanggup hidup berjauhan? Arkan tidak mungkin selamanya di sini. Proyeknya akan selesai, dan dia harus kembali membangun gedung-gedung besar di kota."

Shelly menunduk sejenak, memainkan jemarinya. "Itu yang selalu menjadi bahan diskusi kami, Bu. Saya tidak ingin mengekang karier Mas Arkan, tapi saya juga tidak bisa mengkhianati amanah warga desa."

"Lalu apa solusinya? Cinta saja tidak cukup untuk membayar tagihan listrik di masa depan, Shelly."

"Ibu benar. Itulah sebabnya saya sedang mengembangkan sistem Koperasi Digital ini agar bisa dipantau secara mandiri oleh tim saya. Saya sedang mendidik tiga pemuda desa untuk menjadi penerus saya. Saya ingin dalam dua tahun ini, sistemnya sudah 'autopilot'. Jadi, jika saatnya tiba saya harus mengikuti suami saya, desa ini tidak akan rubuh. Tapi, saya tetap akan meminta izin untuk pulang dua kali sebulan. Desa ini adalah akar saya, Bu."

Bu Ratna tertegun. "Kamu sudah memikirkan itu sejauh itu?"

"Ayah saya selalu bilang, pengabdian itu bukan soal di mana kita berada, tapi soal apa yang kita tinggalkan. Saya tidak ingin meninggalkan desa ini dalam keadaan butuh saya selamanya. Saya ingin meninggalkan mereka dalam keadaan mandiri."

Bu Ratna menghela napas panjang. Ia melepas kacamata hitamnya, menatap mata Shelly dengan tulus. "Kamu tahu, Shelly? Awalnya tante ingin membawa Arkan pulang secepatnya. Tante pikir dia hanya sedang 'main-main' jadi pahlawan di desa. Tapi setelah melihat bagaimana orang-orang menatapmu, dan bagaimana cerdasnya kamu mengatur semua ini... tante sadar. Arkan tidak sedang kehilangan kariernya di sini. Dia sedang menemukan jiwanya."

Ia meraih tangan Shelly, meraba tangan yang tidak sehalus tangan gadis kota namun terasa sangat hangat. "Maafkan tante kalau tadi agak kasar. Tante hanya takut anak tante salah memilih jalan."

Shelly tersenyum, air matanya hampir jatuh. "Saya mengerti, Bu. Itu tanda Ibu sangat menyayangi Mas Arkan."

---

Malam harinya, sebelum keluarga Arkan berpamitan untuk kembali ke hotel di kota kabupaten, Pak Baskoro berdiri dan berdehem. Suasana menjadi khidmat.

"Pak," ucap Pak Baskoro kepada Bapak Shelly. "Terima kasih atas sambutan dan hidangannya. Saya dan istri sudah melihat sendiri apa yang dikerjakan Shelly dan Arkan di sini. Terus terang, saya bangga. Saya tidak pernah menyangka anak saya bisa berguna bagi orang banyak seperti ini."

Bapak Shelly mengangguk pelan. "Kami yang berterima kasih, Pak. Nak Arkan sudah banyak membantu kami."

"Jadi," Pak Baskoro melirik ke arah Arkan yang tampak tegang. "Saya rasa, tidak perlu menunggu terlalu lama. Jika Shelly sudah menyelesaikan masa 'autopilot'-nya di koperasi, dan jika anak-anak kita ini sudah benar-benar yakin, saya ingin kita meresmikan hubungan mereka. Saya ingin Shelly menjadi bagian dari keluarga kami."

Arkan membelalakkan mata. "Pa? Serius?"

Ibu Ratna tersenyum ke arah Arkan, lalu ke arah Shelly. "Iya, Arkan. Mama sudah kasih restu. Tapi syaratnya satu, Shelly tetap harus sering-sering masakkan Mama ayam lodho kalau kalian ke Jakarta nanti."

Ruangan itu meledak dalam tawa dan tangis haru. Ibu Shelly langsung memeluk Shelly erat-erat, sementara Bapak menjabat tangan Pak Baskoro dengan sangat kuat—sebuah jabatan tangan antara dua orang tua yang kini menjadi satu keluarga.

---

Setelah mobil keluarga Arkan menghilang di balik tikungan jalan desa, Arkan dan Shelly berdiri di depan halaman. Angin malam berembus dingin, namun hati mereka terasa sangat hangat.

"Aku nggak nyangka Mama bakal setuju secepat itu," bisik Arkan. "Tadi kamu bicara apa sama Mama di bawah pohon mangga?"

Shelly tersenyum misterius. "Rahasia sesama perempuan, Mas."

Arkan tertawa, lalu menatap hamparan sawah yang gelap di depan mereka. "Shel, terima kasih ya. Terima kasih sudah tetap jadi kamu. Terima kasih sudah tidak menyerah saat Mama memojokkanmu tadi."

"Aku nggak akan menyerah untuk hal yang berharga, Mas. Desa ini berharga, dan kamu... kamu juga berharga buat aku."

"Jadi, dua tahun lagi?" tanya Arkan.

"Dua tahun lagi," jawab Shelly mantap. "Aku akan pastikan sistem koperasi ini sempurna. Aku akan pastikan setiap petani punya tabungan sendiri. Dan setelah itu, aku siap membangun 'pondasi' yang lain bersamamu. Entah itu di sini, atau di Jakarta."

Arkan menggenggam tangan Shelly. "Di mana pun itu, asalkan ada bau tanah setelah hujan, kita akan baik-baik saja.

Cinta Shelly dan Arkan adalah bukti bahwa perbedaan status sosial dan latar belakang bukanlah tembok, melainkan jembatan. Shelly tetap menjadi "Dewi Padi" bagi desanya, dan Arkan menjadi pendamping yang menjaga agar cahaya Shelly tidak padam dimakan ambisi kota.

Malam itu, di sebuah desa terpencil di utara, sebuah kisah asmara yang lambat namun pasti telah menemukan pelabuhannya. Bukan karena harta, bukan karena rupa, tapi karena dua jiwa yang sepakat bahwa hal terbaik di dunia ini adalah tumbuh bersama, bermanfaat bagi sesama, dan tidak pernah lupa pada akar tempat mereka berpijak.

Shelly melihat ke arah sawahnya sekali lagi sebelum masuk ke rumah. Di kejauhan, sensor-sensor buatannya berkedip kecil dengan lampu hijau—tanda bahwa air cukup, tanah sehat, dan masa depan sedang baik-baik saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!