Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.
Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.
Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 (twenty three)
Dua bulan telah berlalu sejak ledakan di Menara Agro-Santara. Bagi publik, Detektif Ratna Sari hanyalah statistik korban jiwa dalam sebuah tragedi terorisme. Namun, di bawah lampu remang-remang sebuah bar kumuh di pinggiran Batam yang berbau solar dan amis laut, seorang wanita duduk dengan tenang. Rambutnya yang dulu panjang kini dipotong bob tajam, memberikan kesan efisien dan mematikan.
Ratna tidak lagi mengenakan seragam detektif yang menyesakkan. Ia memakai jaket kulit hitam yang menyembunyikan memar-memar permanen di bahunya. Di depannya, duduk Si Kancil, seorang broker informasi yang wajahnya penuh keringat dingin meski pendingin ruangan berputar maksimal.
"Informasi ini bisa membuatku berakhir di dasar laut dengan kaki terikat semen, Nona," bisik Si Kancil. Tangannya gemetar saat menyodorkan sebuah tablet enkripsi.
Ratna meletakkan kartu perak bersimbol Phoenix di atas meja. "Kau sudah mengambil uangnya, Kancil. Sekarang, berikan aku nama."
Si Kancil menelan ludah. "Sangkala itu hanya pion. Mereka adalah bagian dari The Syndicate of Ashes. Orang-orang yang percaya bahwa populasi manusia harus dipangkas secara berkala melalui perang dan wabah agar sumber daya bumi tetap terjaga. Simbol Phoenix itu... itu adalah tanda bahwa mereka akan membakar dunia untuk membangunnya kembali dari abu."
Berdasarkan data dari Si Kancil, Ratna melacak keberadaan sindikat ini hingga ke sebuah kapal pesiar mewah, The Eternal Sun, yang sedang berpesta di perairan internasional dekat Singapura. Di sana, hukum negara tidak berlaku.
"Hendra, kau sudah masuk ke sistem mereka?" Ratna berbisik melalui mikrofon mikro yang tertanam di balik antingnya.
"Sudah, Jenderal," suara Hendra menyahut dari markas rahasia mereka di bunker bawah tanah. "Aku sudah membuatkan identitas palsu yang sempurna. Kau adalah Madame V, janda kaya dari kartel berlian Afrika Selatan. Namun hati-hati, enkripsi kapal ini setingkat militer. Jika mereka mendeteksi transmisi keluar, mereka akan mengunci seluruh kapal."
Ratna melangkah naik ke dek kapal dengan gaun malam berwarna merah darah yang menjuntai indah. Setiap langkahnya memancarkan aura bangsawan, namun matanya yang tajam sedang memetakan setiap pintu keluar, posisi penjaga, dan kaliber senjata yang mereka bawa di balik jas rapi mereka.
Di dalam aula utama, aroma parfum mahal bercampur dengan bau kekuasaan yang busuk. Ratusan orang bertopeng emas berdansa di bawah lampu kristal raksasa. Di tengah ruangan, sebuah panggung lelang berdiri.
"Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya," suara seorang pria dengan topeng Phoenix perak menggema. "Malam ini, kita tidak melelang lukisan atau permata. Kita melelang masa depan. Sebuah data genetik dari subjek yang berhasil selamat dari ledakan termobarik 10.000 derajat Celcius. Kami menyebutnya: The Immortal General DNA."
Ratna merasa darahnya mendidih. Mereka sedang menjual rahasia keberadaannya.
Saat Ratna mencoba mendekati panggung untuk menanamkan virus digital milik Hendra, seorang pria tinggi mencegat jalannya. Pria itu tidak memakai topeng. Wajahnya keras, simetris, dengan sebuah bekas luka vertikal yang membelah alis kirinya.
"Warna merah sangat cocok untukmu, Detektif... atau haruskah aku memanggilmu, Jenderal?" suara pria itu rendah dan bergetar, penuh dengan otoritas yang tenang.
Ratna berhenti, otot-ototnya menegang, siap untuk melakukan serangan mematikan. "Siapa kau?"
"Namaku Ares," jawab pria itu sambil menyesap sampanyenya. "Aku adalah kegagalan pertama dari eksperimen yang kau hancurkan di Jakarta. Dan aku di sini untuk memberitahumu satu hal: kau sedang berjalan masuk ke dalam mulut naga yang jauh lebih besar."
"Aku sudah membunuh naga yang lebih besar darimu di medan perang yang bahkan tidak bisa kau bayangkan," desis Ratna.
Ares tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya yang dingin. "Sangkala hanyalah sebuah cabang. Phoenix adalah akarnya. Saat ini, tim pembersih mereka sedang menuju ke pesisir Jawa Barat. Tempat di mana kau menyembunyikan ibumu dan anak kecil itu."
Jantung Ratna seakan berhenti berdetak. "Jika kau menyentuh mereka..."
"Bukan aku yang melakukannya," potong Ares. "Tapi jika kau ingin menyelamatkan mereka, kau punya waktu tepat sepuluh menit sebelum kapal ini menembakkan rudal pencegat ke koordinat gubukmu. Pilihannya: ambil data genetikmu di panggung itu, atau selamatkan keluargamu."
"Hendra! Kau dengar itu?!" teriak Ratna, tidak lagi peduli dengan penyamarannya.
"Aku mendeteksinya, Bu! Ada kapal perusak yang mendekati posisi Ibu Sarah! Aku tidak bisa menghentikannya dari sini!"
Ratna menatap panggung lelang. Data itu rahasia transmigrasinya bisa jatuh ke tangan orang-orang paling berbahaya di dunia. Namun, bayangan wajah Sarah yang mulai tersenyum dan tawa Bagas melintas di pikirannya.
Seorang jenderal tidak pernah meninggalkan rakyatnya. Dan keluarganya adalah rakyatnya yang paling berharga.
"Teguh! Siapkan sekoci cepat di lambung kiri!" perintah Ratna.
Tanpa ragu, Ratna merobek bagian bawah gaun merahnya agar bisa bergerak bebas. Ia mengeluarkan dua belati keramik dari balik pahanya. Penjaga bersenjata mulai mengepungnya, namun bagi Ratna, mereka hanyalah pion yang menghalangi jalannya.
Dengan gerakan yang sangat cepat, ia menerjang barisan penjaga, mematahkan leher satu orang dan menggunakan tubuhnya sebagai perisai dari tembakan laser yang mulai memenuhi ruangan. Ia tidak menuju panggung. Ia menuju pusat kendali rudal kapal..
"Jika aku tidak bisa menghentikan rudalnya, aku akan meledakkan kapal ini bersama kalian semua!" teriak Ratna di tengah hujan peluru.