Seminggu menjelang hari bahagianya, dunia Jamila runtuh seketika. Di sebuah gubuk tua di tepi sawah, ia menyaksikan pengkhianatan paling menyakitkan: Arjuna tunangannya, justru bermesraan dengan Salina, sepupu Laila sendiri. Sebagai gadis yatim piatu yang terbiasa hidup prihatin bersama kakaknya, Jamal, serta sang kakek-nenek, Engkong Abdul Malik dan Nyai Umi Yati, Mila memilih tidak tenggelam dalam tangis.
Jamila mengalihkan rasa sakitnya dengan bekerja lebih keras. Dengan kulit hitam manisnya yang eksotis dan kepribadian yang pantang menyerah, ia mencari nafkah melalui cara yang tak lazim: live streaming di TikTok. Bukan sekadar menyapa penonton, Jamila melakukan aksi nekat memanjat berbagai pohon mulai dari jambu hingga durian sambil bercengkerama dengan para followers nya
Awalnya hanya kagum pada keberanian Laila, Daren, pemuda tampan dari Eropa perlahan jatuh cinta pada ketulusan Jamila, dan berniat melamarnya, apakah Jamila menerima atau tidak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indira MR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10. Review Bakso Beranak
Di kantor firma bergengsi di Berlin, aroma ruangan yang biasanya berbau parfum mahal dan kertas baru, kini berubah drastis menjadi aroma bawang goreng dan kaldu sapi yang menyengat. Jerry, yang awalnya skeptis, kini duduk bersila di karpet Turkey yang tebal bersama Daren.
Di depan mereka, terdapat dua mangkuk besar berisi bakso beranak yang dimasak chief koki di Berlin. Daren, dengan wajah memerah dan keringat bercucuran, sudah siap dengan ponsel di tangan.
"Jerry, hitung sampai tiga. Kita harus terlihat sangat... apa namanya... merakyat?" ujar Daren sambil gemetar memegang sendok berisi sambal merah membara.
"Daren, kalau perutku meledak sore ini, aku akan menuntutmu ke mahkamah internasional," gerutu Jerry, namun ia tetap ikut-ikutan.
Daren mulai merekam video.
"Hello, Jamila! Selamat pagi... eh, siang? Look! I eat meatball with baby inside! Bakso Beranak! And look at this red sauce... Sambal! Pedas sekali, but for you, I am strong!"
Daren menyuap satu bulatan bakso kecil yang dilumuri sambal sebanyak sepuluh sendok. Detik berikutnya, wajah Daren berubah warna dari putih pucat menjadi merah padam, lalu ungu. Matanya melotot. Ia ingin berteriak, tapi yang keluar hanya suara desisan uap panas.
"Eat it, Jerry! Don't just watch!" bisik Daren dengan suara serak. Jerry menyuap baksonya dan langsung tersedak.
"Oh mein Gott! It’s like eating a volcano!"
Setelah video mukbang cinta itu terkirim ke DM Jamila, Daren menyandarkan punggungnya ke dinding kaca dengan lemas. Ia mengetik pesan tambahan dengan bahasa Indonesia yang ia susun setengah jam lamanya menggunakan bantuan kamus dan insting:
Daren_From_Euro: "Jamila, look at me. Saya makan bakso beranak. Enak sekali! Jerry also like it (dia bohong padahal dia mau pingsan). Tapi Jamila, saya sedih. Hati saya panas bukan karena sambal, tapi karena Koko Sen dan Harun Dubai. Jangan dengar mereka. Mereka cuma punya uang, saya punya cinta dan... bakso. Please don't be Ani-ani, be my Ninja."
Di Pinggiran Kali Sukamaju Jamila yang baru saja selesai mencuci baju, mendengar bunyi denting notifikasi. Saat ia membuka video dari Daren, tawanya meledak begitu keras sampai-sampai seekor burung pipit yang sedang bertengger di pohon bambu terjatuh karena kaget.
"Astagfirullah, Mil! Itu si Bule kenapa mukanya kayak kepiting rebus gitu?" Kayla ikut melongok ke layar HP.
"Dia makan bakso beranak pake sambel segunung, Kay! Liat nih, temennya si Jerry sampe nangis di pojokan," Jamila tertawa geli sambil menggeleng-geleng. Ia segera membalas dengan emotikon jempol sepuluh biji dan pesan singkat.
Jamila_Ninja: "Wkwkwk, semangat Mr. Berlin! Hati-hati perutnya meletus. Don't worry, saya nggak bakalan jadi Ani-ani, saya sukanya jadi 'Anu-anu' aja (alias anu... lagi mau beli motor baru). Keep eating bakso!"
"Mil, beneran lu mau beli motor hari ini?" tanya Cintya sambil merapikan daster.
"Iya, Cin. Kasihan Mas Arjuna, sales-nya lagi seret. Lagian motor gue yang lama udah sering mogok kalau dipake nyari pete ke hutan sebelah. Yuk, ke showroom sekarang!"
Suasana showroom Maju Jaya siang itu cukup sepi. Arjuna sedang duduk termenung di balik meja kerjanya, menatap brosur motor matic terbaru dengan pandangan kosong. Tiba-tiba, pintu kaca terbuka. Jamila masuk bersama Kayla dengan gaya santai masih memakai kaos oblong dan celana training, sisa-sisa petualangan manjat pohon tadi pagi.
"Assalamualaikum, Mas Arjuna! Masih jualan motor atau jualan mimpi?" sapa Jamila riang.
Arjuna tersentak, wajahnya langsung cerah.
"Eh, My beib Jamila! Waalaikumsalam. Mau... mau servis motor?"
"Mau beli motor dong, Mas. Yang paling baru, yang bagasinya muat banyak pete," jawab Jamila sambil menepuk salah satu motor matic berwarna merah menyala.
Tiba-tiba dari arah pintu masuk, terdengar suara gesekan sandal jepit yang sangat agresif.
Sret! Sret! Sret!
Salina muncul dengan daster sanca barunya yang warnanya hijau neon berkilauan. Matanya langsung menyipit tajam melihat Jamila sedang berdiri dekat dengan suaminya.
"HEH! JAMILA! NGAPAIN LO DI SINI?!" teriak Salina sambil berkacak pinggang. Suaranya membuat kaca showroom bergetar.
"Lagi beli gorengan, Sal! Ya beli motor lah, masak beli siomay!" balas Jamila malas.
Salina tertawa mengejek, tawa yang terdengar seperti suara gagak sedang radang tenggorokan.
"Beli motor? Hahaha! Jangan mimpi! Lu palingan ke sini cuma mau godain laki gue kan? Ngaku lu! Mentang-mentang lu abis dapet gift Paus lu pikir bisa beli ini motor cash?"
Salina mendekati motor merah yang dipegang Jamila dan mengelusnya dengan protektif.
"Mas Arjuna, denger ya! Jangan mau di kadalin sama si tukang panjat pohon ini. Palingan dia mau minta cicilan nol persen seumur hidup atau mau bayar pake biji pete!"
"Sal, jaga mulut kamu," tegur Arjuna pelan, merasa malu pada rekan kerjanya.
"Gak bisa! Mas, liat tampilannya! Kaos dekil, rambut acak-acakan, bau matahari! Mana mungkin punya duit buat beli motor kelas sultan begini? Jamila, denger ya, kalau mau beli motor itu harus punya tabungan, bukan punya banyak followers doang!"
Salina kemudian berbalik ke arah kamera HP-nya yang ternyata sedang menyala (dia masih live!).
"Followers-ku yang berjumlah lima orang (tambah satu akun fake milik ibunya), liat nih! Ada orang halu mau beli motor tapi dompetnya kering kayak kerupuk!"
Jamila hanya tersenyum tenang. Ia merogoh tas selempangnya yang terlihat kusam.
"Sal, lu tau gak bedanya gue sama daster ular lu itu?"
"Apa?!" tantang Salina.
"Kalau daster lu itu banyak coraknya tapi harganya lima puluh rebu dapet tiga. Kalau gue... tampilannya sederhana, tapi isinya..." Jamila menarik keluar sebuah bungkusan plastik hitam dari tasnya.
BRAK!
Jamila meletakkan bungkusan itu di atas meja Arjuna. Plastik itu terbuka, menampakkan tumpukan uang pecahan seratus ribu yang sangat tebal, masih terikat rapi dengan karet gelang.
"Mas Arjuna, ini uang mukanya. Sisanya saya transfer sekarang juga. Saya ambil yang merah ini, cash tanpa cicilan, biar Mas Arjuna gak pusing dikejar-kejar debt collector kayak orang sebelah," ucap Jamila sambil melirik sinis ke arah Salina.
Salina melongo. Mulutnya menganga lebar, cukup luas untuk dimasukin cabe.
"Itu... itu duit beneran? Bukan duit monopoli?!"
Kayla menimpali sambil tertawa,
"Duit hasil keringat sendiri, Sal! Hasil jualan pete kualitas ekspor dan gift dari fans luar negeri. Makanya, daripada sibuk nyanyi lagu Ku Menangis sampe telinga orang berdarah, mending lo bantuin Mas Arjuna jualan!"
Arjuna gemetar saat menghitung uang itu. "Mil... ini... ini beneran?"
"Beneran, Mas. Bonusnya, tolong kirim motornya ke rumah sore ini ya. Dan oh iya, Sal..." Jamila mendekati Salina yang masih terpaku.
"Ini ada sisa sepuluh ribu, buat lu beli jamu pegel linu. Kayaknya otot leher lu tegang banget gara-gara kebanyakan teriak."ledek Jamila. Salina menghentakkan sandal nya.
Daren duduk di balkon apartemennya di Berlin, memandangi lampu-lampu kota yang indah. Di tangannya ada segelas air putih (untuk menetralisir sisa-sisa bakso beranak yang masih membuat perutnya bergejolak)
Ia baru saja melihat postingan terbaru Jamila: Foto Jamila duduk di atas motor merah baru dengan caption:
"Thanks for the support, guys! Terutama buat Mr. Daren"
Daren tersenyum lebar. Ia merasa ada harapan.
"Jerry," panggil Daren.
Jerry muncul dengan handuk kecil di leher, masih pucat.
.
"Ya, Daren?"
"Booking-kan aku tiket ke Jakarta. Kelas utama. Besok."
"Kamu serius? Bagaimana dengan meeting dengan klien dari Swiss?"
Daren berdiri, menatap arah cakrawala dengan penuh drama.
"Klien Swiss bisa menunggu. Tapi Ninja of Sukamaju tidak bisa. Aku harus ke sana sebelum Salina si daster ular melempari Jamila dengan batu yang lebih besar. Dan aku harus membawa oleh-oleh yang lebih keren dari bakso.
"Apa itu?" tanya Jerry penasaran.
"Cokelat Jerman. Dan satu set perlengkapan panjat pohon profesional merk Mammut," jawab Daren mantap.
Salina sedang duduk di teras rumahnya, merengut sambil mengunyah kerupuk putih dengan emosi.
"Sialan si Jamila... Beli motor cash... Gue aja daster nyicil sama tukang kredit keliling..."
Arjuna keluar dari rumah, membawa kunci motor Jamila.
"Sal, aku mau anter motor Jamila dulu ya."
"GAK BOLEH! Biar tukang showroom aja yang anter! Kamu di sini aja, pijitin kaki aku! Aku lagi stres mikirin gimana cara dapet followers sejuta dalam semalam!"
Tiba-tiba, suara notifikasi HP Salina berbunyi. Ada DM masuk ke akun live-nya.
:
User_Misterius: "Mbak, saya suka suara Mbak yang tadi di bawah pohon. Unik. Mirip suara mesin giling padi yang rusak. Mau gak saya kontrak buat jadi pengisi suara hantu di film horor terbaru saya?"
Salina terdiam sejenak, lalu matanya berbinar. "MAS ARJUNAAAA! AKU JADI ARTIS! AKU JADI ARTIS FILMMMM!"
Arjuna hanya menghela napas panjang, menatap langit malam Sukamaju.
"Ya Allah, semoga filmnya gak bikin penontonnya pingsan berjamaah..." do'a tulus Arjuna.
Di kejauhan, Jamila sedang mencoba motor barunya di jalanan desa yang sepi, rambutnya tertiup angin, sementara di Berlin, seorang pria Jerman sedang sibuk belajar cara mengupas pete lewat YouTube.
Akan kah Daren selamat sampai di Sukamaju tanpa tersesat di kemacetan Jakarta? Dan apakah Salina benar-benar akan menjadi bintang film horor internasional?
Mau tahu kelanjutannya? Jangan lupa like and komentar! 😂