Caroline Watson mengorbankan seluruh masa mudanya demi pria yang ia cintai. Ia setia berdiri di sisi suaminya, menyingkirkan impian pribadinya sendiri. Namun pada akhirnya, pria itu justru menceraikannya dengan alasan yang kejam—Caroline tidak mampu memberinya seorang pewaris. Keputusan itu meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Dengan hati hancur, Caroline memilih menghilang dari hidupnya.
Lima tahun kemudian, ia kembali menginjakkan kaki di negeri itu, ditemani seorang bocah laki-laki kecil dengan wajah polos yang menawan.
Kehidupan barunya yang selama ini tenang mulai terguncang ketika mantan suaminya mengetahui kebenaran—bahwa Caroline telah melahirkan seorang putra. Seorang anak yang memiliki darahnya.
Namun kali ini, Caroline bukan lagi perempuan lemah yang dulu pernah ia tinggalkan. Ia telah berubah menjadi sosok yang jauh lebih kuat dan tak mudah disentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewisusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghindar
Stockholm, Swedia.
Setelah terbang selama beberapa jam dari negara mereka, Hustonia, akhirnya mereka mendarat di Bandara Internasional Arlanda.
Ini bukan kali pertama Caroline datang ke negara ini. Ia sudah sering ke sini dan mengenal banyak tempat dengan baik. Kali ini, ia tidak menghubungi siapa pun untuk menjemputnya, karena ia sudah menyewa sebuah mobil.
Caroline menyewa mobil yang akan ia gunakan selama beberapa minggu tinggal di Stockholm sebelum pindah ke pedesaan di wilayah Utara Swedia. Ia memutuskan untuk menjauh dari hiruk-pikuk kota besar, ingin menghabiskan hari-harinya di pedesaan sambil menikmati alam dan menyembuhkan pikiran serta hatinya.
…
Setelah mengambil barang bawaan mereka, Caroline dan Milla berjalan keluar dari bandara. Namun, begitu mereka meninggalkan terminal, langkah Caroline terhenti. Ia melihat dua sosok yang sangat dikenalnya di pintu keluar.
“Sial!! Kenapa mereka ada di sini? Apa mereka datang untuk menjemputku?” gumam Caroline pelan. Namun Milla, yang berjalan di samping Caroline sambil mendorong troli koper, masih bisa mendengar ucapannya.
“Nona muda,” Milla melirik Caroline dengan cemas. “Kau sedang hamil, tolong kurangi kata-kata seperti itu…”
Caroline tidak mendengar ucapan Milla karena pikirannya sibuk mencari cara untuk menghindari dua orang yang tidak ingin ia temui. Ia berbalik ke arah berlawanan, menarik Milla agar mengikutinya.
Ia belum siap bertemu dengan mereka, apalagi kembali ke dunia yang telah lama ia tinggalkan. Saat ini, ia hanya ingin hidup dengan tenang dan menyembuhkan hati yang terluka.
Namun usahanya untuk menghindari mereka sia-sia. Kedua orang itu sudah melihatnya saat ia melangkah keluar dari pintu.
“Caroline Watson, berhenti di situ,” panggil seorang wanita berambut panjang cokelat gelap. Ia mengenakan setelan kerja eksekutif berwarna merah. Meski memakai sepatu hak tinggi setinggi tujuh inci, langkahnya tetap cepat dan mantap saat mengejar Caroline.
Caroline berpura-pura tidak mendengar dan mempercepat langkahnya. Milla mengikuti di sampingnya dengan kebingungan dan kecemasan ketika menyadari seseorang mengenali mereka begitu saja saat baru tiba di negara ini.
“Nona muda, apa mereka orang-orang Tuan… maksudku, orang-orang William?” tanya Milla berbisik, tetapi getaran di suaranya jelas menunjukkan kepanikan. “Ya Tuhan… mereka sudah menemukan kita?” katanya sambil melirik wanita cantik bersetelan merah dan seorang pria tinggi tampan yang berjalan beberapa langkah di belakangnya.
Caroline tidak menjawab Milla. Ia hanya menggelengkan kepalanya dan terus berjalan cepat.
“Bukan William? Lalu siapa yang mengirim mereka!?” Milla mencoba berpikir. Tak lama kemudian, wajahnya memucat saat sebuah sosok terlintas di benaknya. “Oh, tidak… mereka pasti orang-orang Ratu Ular, kan!? Mereka sudah tahu tentang—” Milla tidak melanjutkan kalimatnya, tetapi matanya melirik ke perut Caroline yang masih tampak rata.
Caroline, “…”
Ia merasa geli mendengar ucapan Milla. “Bibi, kau salah. Mereka bukan dari Hustonia,” jawab Caroline cepat.
“Hah!? Bukan dari negara kita?” Milla bertanya lagi, tetapi Caroline tidak mau repot-repot menjawabnya.
Caroline mulai menyerah untuk kabur karena ia sudah bisa mendengar langkah kaki mereka yang semakin mendekat. Ia sempat berpikir wanita itu tidak akan bisa mengejarnya dengan sepatu hak setinggi itu, tetapi ternyata ia salah.
Wanita itu mempercepat langkahnya. “Oh, ayolah, Caroline… berhentilah sekarang. Kami sudah tahu kau akan tiba hari ini dan kemana tujuanmu!”
Caroline terkejut mendengar kata-katanya.
“Sial!!! Dari mana mereka tahu?” Ia sudah menghindari mereka hampir empat tahun. Dan untuk perjalanan kali ini, ia yakin mereka tidak akan mengetahuinya. Namun tetap saja mereka menemukan jejaknya. Hal itu benar-benar membingungkannya.
Caroline menghentikan langkahnya. Ia berbalik menatap wanita dan pria di belakangnya. Wajahnya tanpa ekspresi, mengabaikan senyum ramah dari kedua orang itu.
Mata abu-abu terangnya memancarkan sorot dingin saat menatap mereka. “Bagaimana kau tahu aku mendarat hari ini?” tanya Caroline.
Ini tidak normal. Dua orang ini muncul di negara ini. Mereka tidak punya urusan di Swedia, apalagi tinggal di sini. Pasti mereka sengaja terbang ke sini hanya untuk menunggunya.
Wanita bersetelan merah itu menjawab, “Astaga, Caroline… meski penampilanmu berubah…” Ia berhenti sejenak, menggeleng pelan seolah tidak ingin melanjutkan ucapannya. Namun pikirannya justru mengkhianatinya. “Ugh, yah, meskipun kau sekarang sedikit gemuk… aku tetap mengenalimu, sayang.” Ia menyeringai, memperlihatkan gigi kelincinya yang indah.
Caroline, “…”
“Sialan wanita ini!! Bagaimana bisa lidahnya setajam itu!? Bagaimana bisa ia mengucapkannya dengan begitu ringan!?” Caroline hanya bisa meluapkan amarahnya dalam hati.
Meski kesal, ia tidak bisa benar-benar marah. Wanita bersetelan merah itu mengatakan kebenaran. Ia memang bertambah berat badan, bukan sedikit, tapi cukup banyak setelah menikah. Terkadang, ia berpikir mantan suaminya tidak tertarik padanya karena ia tidak lagi terlihat seksi.
“Ups, maaf, Caroline sayang…” ujar wanita bersetelan merah sambil menepuk mulutnya pelan. Lalu ia melanjutkan, “Dan, sayangku, kau tidak perlu menyembunyikan wajah cantikmu dengan topi itu. Aku tetap mengenalimu…” katanya sambil terkikik.
Caroline memutar bola matanya, mengabaikan wanita bersetelan merah itu. Ia mengalihkan pandangannya ke pria bersetelan hitam.
Ia tak bisa menahan rasa terkejut saat melihat wajah pria itu setelah bertahun-tahun. Ia masih tampak menawan dengan rambut pendek yang disisir rapi, membuatnya terlihat seperti seorang pemimpin mafia.
Yang lebih mengejutkan Caroline adalah aura pria itu yang kini semakin kuat. Tak ada seorang pun yang bisa menolak pesonanya di tempat umum seperti ini. Setiap wanita kini menatapnya dengan mulut ternganga, seolah sedang melihat harta karun yang tak bisa disentuh.
Namun bagi Caroline, pria ini adalah sumber sakit kepalanya. Ia berharap bisa menghilang dari tempat ini, karena ia belum siap berbicara dengannya.
“Tyler, bagaimana kau tahu aku mendarat di sini hari ini?” suara Caroline terdengar serius saat ia menatap mata Tyler Rake yang tenang.
“Astaga… aku sedih sekarang. Caroline-ku, kau mengabaikanku!” wanita bersetelan merah itu tiba-tiba menyela dengan ekspresi memelas.
Caroline, “…”
“Ooh, sudahlah, Lucy Keller!” Caroline menghela napas panjang. Mata terangnya sedikit menyipit, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. “Baiklah, baiklah… kau jawab pertanyaanku. Aku akan memperhatikanmu,” katanya dengan nada pasrah.
Caroline tidak punya pilihan selain berbicara dengan dua orang ini — sahabatnya sendiri dan sumber sakit kepalanya.
tapi juga kasian Caroline dibohongin 😢
keluarga ini ribet banget
ditampar → bangkit → balas semuanya
ini baru definisi wanita kuat 😭
Benjamin kelihatan panik tapi masih sok kuasa
Caroline kuat banget, ditampar tapi masih bisa berdiri dan melawan
keluarga Watson ini toxic parah