NovelToon NovelToon
PERISAI MALAM

PERISAI MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Kaya Raya / Keluarga / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU

Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam yang Sama — Tempat yang Tak Tersentuh

Jauh di luar sana, di wilayah yang tak tercantum di peta dan tak pernah disebut dalam laporan resmi, berdiri sebuah tempat yang seolah menolak waktu. Bangunan beton tua itu dikelilingi pagar besi berlapis karat dan kamera yang tak pernah tidur. Tidak ada jalan utama menuju ke sana—hanya jalur sempit yang hanya dikenal oleh mereka yang memang tidak ingin ditemukan.

Di tempat inilah rahasia disimpan.

Di tempat inilah masa lalu tidak pernah benar-benar mati.

Hujan turun pelan, membasahi atap seng dan lantai beton yang retak. Air mengalir seperti garis-garis tipis, menciptakan suara ritmis yang menekan, seolah menghitung mundur.

Dan di tengah keheningan itu…

terdengar tawa.

Tawa seorang perempuan.

Pelan.

Tertahan.

Namun sarat kepuasan yang kejam.

“Ha… ha… ha…”

Ia berdiri di depan meja panjang dari baja, jemarinya menyentuh permukaannya yang dingin. Lampu tunggal di atas kepala memantulkan bayangannya—tinggi, ramping, dan penuh kendali. Wajahnya sebagian tertutup cahaya, sebagian lain tenggelam dalam gelap, membuat siapa pun sulit menebak usia maupun niat sebenarnya.

“Setelah sekian lama,” ucapnya lirih, “akhirnya kalian muncul juga.”

Seorang anak buah masuk. Langkahnya cepat, namun penuh kehati-hatian. Ia berhenti beberapa meter darinya dan menunduk hormat.

“Kami mendapat konfirmasi penuh,” lapornya. “Target yang selama ini Anda cari telah terdeteksi. Mereka hidup dengan identitas baru.”

Perempuan itu menoleh perlahan. Tatapannya tajam, menusuk.

“Sebutkan,” katanya singkat.

“Elisabet,” jawab anak buah itu. “Anak dari keluarga kaya raya yang kekayaannya berasal dari perebutan warisan, manipulasi ahli waris, dan transaksi yang seharusnya tidak pernah terjadi.”

Perempuan itu tersenyum tipis.

“Dunia lama yang busuk,” gumamnya. “Tak pernah berubah.”

“Dan Armand,” lanjut anak buah itu. “Mantan Ketua Perisai Malam. Pernah memimpin operasi rahasia, pengamanan tingkat tinggi, dan penghapusan jejak. Ia menghilang bertahun-tahun lalu.”

Perempuan itu melangkah mendekat.

“Dengan membawa sesuatu yang besar,” katanya menyambung, suaranya kini dingin. “Sesuatu yang membuat banyak orang kehilangan tidur.”

Anak buah itu mengangguk.

“Mereka kini memiliki tiga anak,” tambahnya. “Dua perempuan, satu laki-laki.”

Hening sejenak.

Kemudian, tawa itu kembali terdengar—lebih pelan, lebih dalam.

“Tiga anak…” ulangnya. “Mereka benar-benar ingin menutup buku lama.”

Ia berbalik dan membuka sebuah laci. Di dalamnya tersimpan berkas-berkas usang dan foto-foto lama. Salah satunya menunjukkan Elisabet muda, berdiri di tengah kemewahan yang dibangun di atas pengkhianatan keluarga sendiri. Foto lain memperlihatkan Armand dengan seragam hitam Perisai Malam, sorot matanya keras dan tak mengenal ragu.

“Mereka pikir waktu akan memaafkan,” ucap perempuan itu. “Padahal waktu hanya menunggu.”

Ia menutup laci dengan pelan.

“Kita tidak akan menyerang secara terburu-buru,” perintahnya.

Ia mengangkat satu jarinya, memberi isyarat agar semua yang berada di ruangan itu memperhatikan.

“Kita tidak akan menyerang secara terburu-buru,” ulangnya, suaranya tenang namun mengandung perintah mutlak. “Kesalahan terbesar adalah bertindak saat emosi memuncak. Aku tidak tertarik pada kesalahan.”

Anak buah itu menegakkan tubuhnya.

“Apa langkah pertama, Nona?”

Perempuan itu tersenyum tipis—senyum yang tidak pernah mencapai matanya.

“Kita mulai dengan mengingatkan,” katanya. “Bukan menyerang. Mengingatkan.”

Ia berjalan menuju dinding besar yang dipenuhi layar. Satu per satu menyala, menampilkan rekaman jarak jauh—rumah keluarga Bastian dari berbagai sudut: gerbang, halaman, lampu taman yang masih menyala.

“Lihat betapa damainya hidup mereka sekarang,” ucapnya pelan. “Elisabet selalu menyukai ilusi ketenangan. Dan Armand… ia percaya dirinya bisa meninggalkan dunia lama begitu saja.”

Tangannya berhenti pada satu layar—jendela kamar utama.

“Mulai malam ini,” lanjutnya, “mereka harus merasa diawasi. Tanpa tahu oleh siapa. Tanpa tahu dari mana.”

Anak buah itu mengangguk.

“Pengintaian pasif?”

“Ya,” jawabnya. “Tidak ada kontak langsung. Tidak ada pesan. Belum.”

Ia menoleh tajam.

“Siapa pun yang melanggar perintah ini, aku anggap musuh.”

Suasana ruangan mengeras. Tidak ada yang berani membantah.

“Perisai Malam pernah mengajarkan Armand satu hal,” katanya sambil melangkah perlahan, “bahwa ancaman paling efektif bukan yang terlihat, melainkan yang dirasakan.”

Ia berhenti di depan meja, mengambil sebuah benda kecil—logam gelap berbentuk simbol lama Perisai Malam.

“Dia membawa ini pergi,” gumamnya. “Bukan hanya benda, tapi rahasia. Nama. Jalur. Orang-orang yang seharusnya tetap tersembunyi.”

Ia mengepalkan benda itu di tangannya.

“Elisabet membantunya kabur,” lanjutnya. “Dengan uang kotor keluarganya. Dengan darah ahli waris yang tak pernah tercatat.”

Anak buah itu menelan ludah.

“Dan anak-anak mereka?”

Perempuan itu menoleh perlahan.

“Jangan sentuh mereka,” katanya dingin. “Belum.”

Ia mendekat, suaranya merendah namun mematikan.

“Anak-anak itu adalah kunci terakhir. Jika kita menyentuhnya terlalu cepat, Elisabet akan hancur. Dan aku ingin dia sadar sepenuhnya saat itu terjadi.”

Ia berdiri tegak.

“Siapkan jalur penarikan,” perintahnya. “Tempat aman. Tanpa saksi. Kita akan mengambil Elisabet dan Armand bersamaan. Mereka tidak boleh sempat berpisah.”

“Bagaimana jika Armand melawan?” tanya seseorang dari sudut ruangan.

Perempuan itu tertawa kecil.

“Dia pasti melawan,” jawabnya santai. “Itu sebabnya aku ingin dia hidup.”

Ia berbalik menuju pintu. Mantel hitamnya bergerak mengikuti langkahnya.

“Biarkan mereka tidur malam ini,” katanya sebelum keluar. “Biarkan mereka bermimpi tentang keluarga.”

Pintu besi menutup perlahan di belakangnya.

Malam yang Sama — Kilas Balik yang Terkubur

Sebelum Elisabet mengenal ketenangan,

sebelum nama Bastian menjadi tempat berlindung,

ada malam lain—malam yang membentuk segalanya.

Bertahun-tahun lalu.

Rumah itu berdiri megah, lebih mirip istana daripada tempat tinggal. Lampu kristal menggantung di langit-langit tinggi, memantulkan cahaya keemasan di dinding marmer. Namun kemewahan itu tidak membawa kehangatan—hanya jarak dan ketakutan.

Elisabet berdiri di ujung tangga. Gaunnya rapi, punggungnya tegak. Di bawah, suara teriakan saling tindih.

“Dia tidak berhak!” ujar seorang wanita paruh baya.

“Harta ini milik keluarga inti!” sahut wanita lain, beberapa tahun lebih tua dari Elisabet.

“Kalau bukan kita yang ambil, orang lain akan!”

Pertemuan keluarga itu bukan tentang duka, melainkan pembagian warisan. Ayahnya baru dimakamkan pagi tadi, namun malamnya mereka sudah berkumpul—bukan untuk berdoa, melainkan untuk bertarung.

Elisabet menggenggam tangannya sendiri.

Ia masih muda saat itu.

Dan ia tahu… ini salah.

Di tengah ruangan, seorang pria—pamannya—membanting map ke meja.

“Dokumen ini palsu,” katanya keras. “Ada transaksi yang tidak pernah aku setujui!”

Ibu Elisabet berdiri tenang di seberang meja. Terlalu tenang.

“Semua sudah sah,” jawabnya dingin. “Kamu terlambat.”

Elisabet menatap ibunya.

Dan untuk pertama kalinya, ia melihat siapa perempuan itu sebenarnya.

Malam itu, seseorang tidak pulang.

Malam itu, sebuah nama dihapus dari silsilah keluarga.

Malam itu, Elisabet mengerti bahwa kekayaan mereka dibangun di atas sesuatu yang tidak seharusnya.

Beberapa tahun setelahnya.

Elisabet duduk di dalam mobil hitam, jendela tertutup rapat. Tangannya gemetar memegang ponsel. Di luar, hujan turun deras.

“Ini terlalu berbahaya,” ucapnya pada seseorang di ujung telepon. “Kalian tidak bisa terus seperti ini.”

Suara di seberang garis terdengar rendah dan terlatih.

“Kami sudah terlalu dalam,” jawab Armand saat itu—belum menjadi suaminya, hanya pria dengan mata lelah dan masa lalu kelam. “Kalau aku berhenti sendiri, mereka akan memburuku.”

“Lalu apa yang kamu inginkan dariku?” tanya Elisabet, hampir berbisik.

Hening sejenak.

“Kau punya akses,” jawab Armand akhirnya. “Uang. Dokumen. Jalur keluar.”

Elisabet memejamkan mata.

Itu adalah titik tanpa kembali.

Malam pelarian.

Gudang tua. Bau besi dan debu. Suara langkah kaki mengejar.

“Cepat!” bisik Armand sambil menarik tangan Elisabet. “mereka sudah curiga.”

“Kalau mereka menangkap mu” suara Elisabet pecah.

“Mereka akan menghapus ku,” potong Armand. “Dan kamu bersamaku.”

Ia membuka sebuah koper kecil. Di dalamnya bukan uang, melainkan data—hard drive, kode, dan daftar nama. Sebuah penemuan ilmiah yang berbahaya.

“Inilah yang mereka cari,” ucap Armand. “Inilah yang membuatku hidup… dan membuat kita diburu.”

Elisabet menatap benda itu lama.

Lalu ia menutup koper itu dengan tangannya sendiri.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “kita pergi sekarang.”

Malam itu, Elisabet meninggalkan nama lamanya.

Malam itu, Armand meninggalkan organisasinya.

Dan malam itu, sebuah perempuan lain—yang kini tertawa di balik bayangan—kehilangan sesuatu yang seharusnya tidak pernah dicuri.

Kembali ke Malam Ini

“Elisabet!”

Elisabet terbangun dengan napas tersengal. Dadanya naik turun cepat, keringat dingin membasahi pelipisnya. Kamar gelap. Sunyi. Namun mimpi itu terasa terlalu nyata.

Ia duduk, menekan dadanya sendiri.

“Tidak… bukan lagi,” bisiknya.

Armand bergerak di sampingnya.

“Elisabet? Mimpi buruk lagi?”

Ia mengangguk pelan.

“Masa lalu itu… kembali. Rasanya seperti… dipanggil.”

Armand terdiam sejenak. Ia menatap ke arah jendela, lalu kembali ke istrinya.

“Selama ini kita selalu berlari,” katanya lirih. “Mungkin… malam ini, masa lalu memutuskan untuk mengejar.”

Elisabet memeluk dirinya sendiri, matanya berkaca-kaca.

“Kalau mereka menemukan kita…” suaranya bergetar. “Bagaimana dengan anak-anak?”

Armand meraih tangannya, menggenggamnya erat.

“Aku tidak akan membiarkan apa pun menyentuh mereka,” ucapnya tegas. “Apa pun yang harus aku lakukan.”

Namun di lubuk hatinya, Armand tahu—

janji itu akan segera diuji.

Dan di tempat yang tak tersentuh siapa pun,

seorang perempuan tersenyum dalam diam,

seolah mimpi Elisabet barusan

bukan kebetulan

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!