Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.
Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Mesin pesawat Airbus A330 yang membawa mereka melintasi hamparan samudera Hindia menderu dengan suara rendah dan bergema, menciptakan getaran konstan yang merambat melalui setiap bagian tubuh penumpang dan meninabobokan sebagian besar orang di kabin yang temaram. Cahaya di dalam kabin telah dimatikan sebagian untuk memberikan kenyamanan bagi mereka yang ingin tidur selama penerbangan yang panjang dari Johor Bahru menuju Seoul, namun sebagian kecil penerangan tetap menyala di bagian langit-langit untuk membantu pramugari dalam melakukan tugasnya.
Namun, bagi Lisa Ahn, kantuk adalah kemewahan yang tidak bisa ia nikmati dalam waktu dekat. Ia duduk di kursi jendela dengan punggung yang tegak lurus, matanya tetap fokus pada layar laptop yang terletak di pangkuannya. Lampu latar layar yang menyala dengan cahaya biru tajam menerangi wajahnya yang tampak pucat akibat kurang tidur dan perjalanan yang melelahkan, namun ekspresi di wajahnya tetap penuh dengan determinasi yang tak tergoyahkan. Jari-jari telunjuknya meluncur dengan gesit di atas permukaan sentuh, mengetikkan berbagai kata kunci dan mengakses berkas-berkas yang tersimpan dalam arsip digital kepolisian Korea Selatan.
Sebelum pesawat lepas landas dari Bandar Udara Internasional Senai, ponselnya sempat bergetar dengan lembut di dalam kantong kemejanya. Ia sempat membukanya sebentar dan menemukan pesan singkat dari Kapten Park, atasannya di Kepolisian Kota Seoul. Pesan itu menyatakan bahwa keberhasilannya dalam melacak dan menemukan bukti penting di Johor Bahru telah membuahkan penghargaan luar biasa dari markas besar kepolisian di Sejong. Bahkan ada ucapan bahwa pemerintah berpotensi memberikan medali kehormatan atas kontribusinya dalam menyelesaikan kasus pembunuhan yang telah menjadi kasus dingin selama beberapa bulan.
Namun pikiran tentang medali dan pujian itu terasa sangat hambar di lidahnya. Ia bahkan tidak bisa merasakan sedikit pun rasa bangga yang seharusnya muncul saat mendapatkan pengakuan atas kerja kerasnya. Pikirannya masih tertambat erat pada momen ketika Sam pingsan di sudut jalan pelabuhan Johor Bahru, ketika sosok teman setimnya itu hampir menghilang sepenuhnya, dan ketika asap hitam yang menyakitkan itu sempat melahap sebagian lengan arwah itu sebelum akhirnya bisa kembali stabil di kamar hotel.
𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘨𝘪, janji Lisa dalam hati, matanya tetap terpaku pada layar laptop yang menampilkan antarmuka sistem arsip kepolisian yang kompleks. Ia tahu bahwa waktu yang mereka miliki sangat terbatas, dan setiap detik yang terbuang adalah kesempatan yang hilang untuk menemukan jawaban yang dicari.
"Kau seharusnya istirahat."
Suara Sam yang lembut terdengar di sebelahnya, membuat Lisa sedikit terkejut karena terlalu fokus pada pekerjaannya. Ia menoleh ke arah kursi sebelah yang kebetulan kosong—pesawat tidak penuh sehingga mereka bisa mendapatkan dua kursi bersebelahan tanpa harus berbagi dengan orang lain. Sam duduk di sana dengan posisi yang rileks, meskipun tubuhnya masih tampak agak transparan dan tidak sepenuhnya jelas seperti manusia biasa. Ia sudah jauh lebih baik daripada kondisi di hotel Malaysia kemarin malam, namun masih belum pulih sepenuhnya. Cahaya yang mengelilingi tubuhnya juga masih terlihat lebih redup dari biasanya.
"Penghargaan itu tidak akan lari ke mana-mana, Detektif." Lanjut Sam dengan senyum tipis yang lembut, mencoba membuat suasana menjadi lebih ringan. "Kamu sudah bekerja terlalu keras dalam beberapa hari terakhir. Tubuhmu perlu istirahat agar bisa berpikir dengan jernih."
Lisa menggelengkan kepala perlahan, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop yang masih menyala terang di hadapannya. "Aku tidak butuh penghargaan, Sam. Aku tidak melakukan semua ini untuk mendapatkan pujian atau medali. Aku butuh jawaban. Jawaban tentang siapa kamu sebenarnya, dan apa yang telah terjadi padamu hingga kamu menjadi seperti ini."
Ia berhenti sejenak, menatap wajah Sam dengan tatapan yang penuh dengan kekhawatiran yang tulus. "Waktumu semakin tipis. Aku merasakannya setiap saat, bahkan sekarang juga. Getaran energimu yang biasanya stabil mulai menjadi tidak menentu lagi. Kalau kita tidak menemukan namamu segera, aku takut 'glitch' itu akan datang lagi dan kali ini benar-benar menghapusmu dari dunia ini. Dan aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi."
Sam terdiam mendengar kata-kata Lisa, ekspresi wajahnya menjadi lebih serius. Ia mengangguk perlahan sebagai bentuk pengakuan atas kekhawatiran yang diutarakan oleh Lisa. Ia sendiri juga merasakan bahwa eksistensinya semakin tidak stabil dari hari ke hari, seolah ada sesuatu yang sedang menariknya menjauh dari dunia ini tanpa bisa ia lawan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Lisa kembali fokus pada layar laptopnya. Ia telah mengakses bagian arsip digital yang khusus untuk kasus-kasus dingin tahun 1987—tahun yang menjadi perkiraan awal kematian Sam berdasarkan analisis awal yang dilakukan oleh tim forensik yang bekerja sama dengan ahli paranormal. Ia menyaring pencarian dengan kata kunci yang telah ditentukan sebelumnya: Kematian Anak, Hotel Emerald, 1987, Laki-laki.
Layar laptop mulai menampilkan daftar berkas yang sesuai dengan kata kunci tersebut. Halaman demi halaman bergulir cepat di bawah jendela pencarian, sebagian besar adalah kasus kecelakaan lalu lintas yang menimpa anak-anak atau kasus kematian akibat penyakit yang tidak bisa disembuhkan pada masa itu. Beberapa kasus lain juga muncul namun tidak memiliki hubungan dengan Hotel Emerald yang menjadi fokus pencarian mereka. Lisa merasa sedikit frustasi ketika sudah membuka puluhan berkas namun belum menemukan apa-apa yang relevan.
Namun kemudian, setelah beberapa saat lagi menggulir halaman, sebuah berkas yang berbeda muncul di layar. Berkas itu tidak seperti yang lain yang dibuat dalam format digital modern—ini adalah berkas yang dipindai dari dokumen fisik lama dengan kualitas gambar yang cukup buruk akibat usia dan kondisi penyimpanan yang kurang baik. Judul berkas itu tertulis dengan jelas di bagian atas layar: “Laporan Investigasi Tertutup: Insiden Sayap Barat Emerald.”
Lisa merasa detak jantungnya menjadi lebih cepat. Ia menahan napas dengan hati-hati, lalu mengklik berkas itu untuk membukanya secara lengkap. Di bagian awal laporan tersebut, terlampir sebuah foto kecil yang sudah menguning akibat usia. Foto itu menunjukkan seorang bocah laki-laki berusia sekitar tujuh tahun dengan rambut hitam yang rapi dan wajah yang ceria, memberikan senyum yang sangat akrab pada kamera—senyum yang persis sama dengan senyum yang sering ditunjukkan oleh pria yang kini duduk di sebelahnya. Di bawah foto itu, tertera sebuah nama yang ditulis dengan tinta hitam yang sudah nyaris pudar akibat waktu yang telah berlalu: Samuel Bahng.
"Sam..." Lisa berbisik dengan suara yang bergetar karena emosi yang meluap-luap, matanya tidak bisa lepas dari foto bocah kecil itu di layar laptop. Ia segera memperbesar gambar tersebut dengan menggunakan fungsi zoom pada layar, ingin melihat lebih jelas setiap detail wajah bocah itu yang telah tumbuh menjadi sosok arwah yang kini menjadi teman setimnya. "Lihat ini... lihat apa yang kubaca."
Sam yang sebelumnya hanya duduk diam di kursi sebelah segera mencondongkan tubuhnya ke arah layar laptop dengan kecepatan yang mengejutkan. Matanya yang biasanya tampak teduh kini menyala dengan kilatan yang kuat ketika menangkap nama yang tertulis di bawah foto itu. Pada saat yang sama, atmosfer di sekitar kursi mereka seolah mendadak membeku. Cahaya lampu kabin yang terletak di atas mereka mulai berkedip-kedip dengan tidak stabil, dan beberapa lampu kecil di bagian lain kabin bahkan mati sejenak sebelum menyala kembali dengan terang. Suara mesin pesawat yang biasanya stabil juga seolah menjadi lebih keras sejenak sebelum kembali normal.
Sam mencoba mencengkeram bagian pegangan kursi dengan tangannya, meskipun ia tahu bahwa tangannya hanya akan menembus material logam dan kain itu tanpa bisa menyentuhnya. Ia tidak bisa mengontrol reaksi tubuhnya yang semakin tidak stabil akibat gelombang kejut metafisika yang menghantam inti jiwanya dengan kekuatan yang luar biasa.
"Samuel..." Gumamnya dengan suara yang penuh dengan kagum dan kebingungan, seolah tidak bisa percaya pada apa yang dilihatnya. "Samuel Bahng. Anak dari Jack Bahng."
Kata-kata itu keluar dari mulutnya dengan sangat lambat, seolah ia sedang mencoba merasakan setiap huruf dalam nama itu. Bagi Sam, nama itu bukan sekadar rangkaian huruf yang ditulis di kertas atau layar komputer—itu adalah kunci yang telah lama dicari untuk memutar gembok karat yang mengunci ingatan masa lalunya yang telah hilang selama bertahun-tahun.
Tiba-tiba, Sam memejamkan mata erat-erat, tubuhnya sedikit menggigil akibat sensasi yang luar biasa yang muncul di dalam dirinya. Ia merintih pelan, kepalanya tertunduk ke depan dan kedua tangannya mencoba menutupi wajahnya meskipun tidak bisa menghilangkan rasa sakit yang menyakitkan.
Memori-memori fragmentaris mulai meledak dengan sangat cepat dalam benaknya seperti kilatan petir di malam yang gelap: ia bisa merasakan bau kue ulang tahun yang manis dan harum, mendengar suara tawa seorang pria yang kuat dan hangat yang memanggilnya dengan nama 'Sammy', merasakan sentuhan tangan besar yang lembut yang mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang. Dan kemudian ada gambar lain yang jauh lebih suram: dinginnya lantai marmer yang licin di lantai bawah hotel, suara teriakan yanh menyakitkan telinga, dan kegelapan yang sangat dalam yang perlahan-lahan menutupi pandangannya hingga ia tidak bisa melihat apa-apa lagi.
"Itu aku..." Suara Sam terdengar serak dan penuh dengan emosi yang menyesakkan ketika ia akhirnya membuka matanya kembali, matanya sudah merah akibat kesedihan yang meluap-luap. Ia menatap Lisa dengan tatapan yang penuh dengan kebenaran yang baru saja ditemukannya.
"Aku bukan Rhino/Sam—itu hanya nama yang kubuat sendiri karena tidak bisa mengingat nama asliku. Aku bukan sekadar arwah penasaran tanpa asal-usul yang hanya bisa berkeliaran di dunia ini. Aku Samuel. Aku punya ayah yang mencintaiku dengan tulus... dan aku punya hidup yang dicuri dariku oleh sesuatu atau seseorang yang belum aku ketahui siapa."
Lisa menatap Sam dengan pandangan yang dalam dan penuh dengan pemahaman, tangannya tanpa sadar terulur perlahan mendekati bagian atas laptop di mana bayangan tangan Sam berada, seolah ingin menyentuhnya dan memberikan dukungan yang ia butuhkan.
"Samuel Bahng. Akhirnya kau punya nama kembali. Akhirnya kau tahu dari mana kau berasal."
Sam mendongak perlahan, menatap Lisa dengan mata yang kini berpendar lebih jernih daripada sebelumnya, meskipun masih sarat dengan kesedihan yang dalam dan tak terperi. Ia tidak bisa menemmukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan rasa terima kasih yang besar yang ada di dalam hatinya kepada wanita yang telah rela melakukan segala cara untuk membantu dirinya menemukan jati dirinya yang hilang.
"Terima kasih... Kau telah mengembalikan identitasku yang telah hilang selama bertahun-tahun. Tapi..." Ia menghentikan bicara sejenak, lalu menunjuk dengan jempolnya yang samar ke arah bagian bawah laporan yang belum sempat dibaca oleh Lisa. "Ada sesuatu yang lain di sana. Kau harus membacanya."
Lisa mengikuti arah yang ditunjuk oleh Sam, matanya kembali fokus pada layar laptop yang masih menyala terang di pangkuannya. Ia menggulir halaman laporan tersebut ke bawah dengan hati-hati, membaca setiap baris teks yang ada dengan seksama. Di bagian akhir laporan tersebut, terdapat sebuah kolom yang berisi informasi tentang penyebab kematian anak laki-laki bernama Samuel Bahng. Tulisan di sana sangat jelas dan tidak bisa disalahartikan: Penyebab Kematian: Tidak Teridentifikasi. Kasus Ditutup atas Permintaan Keluarga.
Lisa merasa darahnya menjadi dingin membaca kalimat itu. Ia tahu bahwa kalimat itu adalah indikasi bahwa ada sesuatu yang tidak benar dengan kasus kematian Samuel pada masa itu—ada yang menyembunyikan kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan mereka memiliki cukup kekuasaan untuk membuat kasus itu ditutup secara sepihak tanpa klarifikasi yang memadai.
"Ada yang menyembunyikan kebenaran tentang bagaimana aku mati." Ia menatap foto dirinya sendiri sebagai bocah kecil di layar laptop dengan tatapan yang penuh dengan tekad. "Dan pria di foto itu... ayahku Jack Bahng... dia tahu sesuatu tentang semua ini. Tidak mungkin dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku."
Lisa menutup laptopnya perlahan dengan kecepatan yang hati-hati, rahangnya mengeras dengan jelas menunjukkan tekad yang kuat yang muncul di dalam dirinya. Ia tahu bahwa kepulangan mereka ke Seoul kali ini bukan lagi sekadar akhir dari satu kasus pembunuhan yang telah mereka selesaikan di Malaysia. Kepulangan itu adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan berbahaya—perang melawan bayangan masa lalu yang telah tersembunyi selama bertahun-tahun dan yang mungkin masih memiliki kekuasaan yang cukup untuk membahayakan mereka berdua.
"Kita akan mendatangi Jack Bahng. Begitu kita mendarat di Incheon, kita akan langsung mencari dia. Kita akan menemukan jawaban tentang apa yang sebenarnya terjadi padamu pada tahun 1987 di Hotel Emerald, dan kita akan memastikan bahwa mereka yang bertanggung jawab harus membayar untuk apa yang telah mereka lakukan."
Sam mengangguk perlahan mendengar janji itu, ekspresi wajahnya menjadi lebih tenang meskipun masih terdapat kesedihan yang mendalam di dalam matanya. Ia tahu bahwa perjalanan yang akan datang tidak akan mudah—bahkan mungkin jauh lebih berbahaya daripada kasus yang mereka hadapi di Johor Bahru. Namun dengan memiliki nama kembali dan memiliki teman yang siap membantu dirinya sampai akhir, ia merasa bahwa akhirnya ada harapan untuk mendapatkan keadilan yang telah lama dicarinya.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ
dan bagaimanapun kita memang berdampingan dengan mereka☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️
apakah si SAM korban pembunuhan ?