Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nokia Kuning dan Pijatan Sang Mafia
Keesokan paginya, suasana kosan sudah sibuk dengan suara langkah kaki Rea yang terburu-buru. Gadis itu sudah rapi dengan seragam kafenya.
"Paman, makanan yang kemarin masih ada kan? Makan itu saja ya, Rea sarapan di sana saja biar sempat," ucap Rea sambil memakai sepatunya dengan ceroboh. "Emm, nanti Rea punya kejutan untuk Paman pas pulang! Bye bye Paman!"
Rea melambaikan tangannya dengan ceria dan segera berlari keluar. Galen yang masih duduk di sofa hanya menatap pintu yang tertutup itu dengan alis bertaut. Kejutan? batinnya heran.
Sesampainya di kafe, Rea langsung disambut oleh rekan kerjanya.
"Reaaa!" panggil Sindy, teman sesama pelayan di sana.
"Haiii, Sindy!" jawab Rea bersemangat.
Sindy mendekat dan berbisik dengan wajah serius, "Hari ini kita bakal pulang larut malam. Nanti ada beberapa rombongan yang sudah pesan tempat, jadi siapkan mental dan kuatkan dirimu, ya!"
"Siappp!" Rea memberikan hormat layaknya prajurit, membuat Sindy tertawa.
"Ahh, kau ini ada-ada saja. Ayo, cepat bantu aku di dapur!"
Di Kosan...
Sementara Rea sibuk bekerja, Galen tidak tinggal diam. Ia merasa lukanya sudah jauh lebih baik berkat perawatan Rea. Ia berdiri di dekat jendela, memantau keadaan luar.
Beberapa saat kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Leon masuk: "Tuan, kami sudah menyiapkan segalanya. Malam ini kami akan memantau kafe tempat gadis itu bekerja agar keadaannya aman."
Galen tidak membalas, tetapi matanya menatap tajam ke arah jalanan. Ia tidak suka jika ada orang yang mengganggu ketenangannya, terutama jika itu melibatkan gadis yang kini sedang bekerja keras.
Malam itu, kafe tempat Rea bekerja memang sangat ramai. Rea berlari ke sana kemari membawa nampan, melayani rombongan orang-orang yang berpakaian rapi namun terlihat sedikit kasar. Ia tidak sadar bahwa di pojok kafe, ada beberapa pria berbadan tegap dengan pakaian sipil yang diam-diam mengawasinya—anak buah Galen yang diperintahkan untuk menjaganya tanpa ia ketahui.
"Dua kopi hitam dan satu croissant!" seru Rea pada bagian dapur, keringat mulai membasahi pelipisnya. Ia benar-benar lelah, tetapi ia tetap berusaha memberikan pelayanan terbaik.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Kafe akhirnya mulai sepi dan jam kerja Rea berakhir.
"Da, Sindy!" pamit Rea sambil melepas celemeknya.
"Da, Rea! Mau kuantar?" tawar Sindy melihat Rea yang tampak kelelahan.
"Tidak usah, lagian dekat sini, kok. Makasih ya!" Rea melambaikan tangan dan berjalan menjauh. Namun, ia tidak langsung pulang. Ia mampir ke sebuah toko HP kecil di pinggir jalan.
Rea melihat-lihat etalase dengan teliti. "Emm, yang ini sajalah, murah tapi awet," gumamnya menunjuk sebuah ponsel di pojok bawah. "Mbak, pakai bungkus kado yang itu ya, biar cantik."
"Siap, Kak!"
Dengan hati berbunga-bunga, Rea melanjutkan perjalanan ke kosannya. Begitu sampai, ia langsung masuk dengan wajah ceria. "Pamannnnn!"
Galen yang baru saja selesai mandi dan mengenakan kemeja hitam kiriman Leon, sedang duduk tenang di sofa. Rambutnya masih sedikit basah, menambah kesan tampan yang membuat Rea sempat tertegun sejenak.
"Paman, tutup matanya! Rea punya hadiah buat Paman," seru Rea semangat.
Galen menghela napas, namun ia menuruti permintaan gadis itu dan menutup matanya. "Sekarang, buka matanya!"
Galen membuka mata dan melihat sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas kado mewah bermotif bunga. Galen terdiam. Tunggu, kenapa kotak ini dibungkus kertas dari toko HP ternama? batin Galen curiga. Ia melihat logo "iPhone" terbaru di kertas pembungkusnya (Rea sengaja meminta kertas bekas pembungkus iPhone agar terlihat keren).
Dari mana gadis ini mendapat uang sebanyak ini hanya dalam sehari? Apa dia melakukan hal berbahaya? batin Galen mulai waspada.
"Ayo Paman, buka!" desak Rea dengan mata berbinar.
Galen merobek kertas itu dengan cepat. Namun, begitu kotak aslinya terlihat, Galen langsung ternganga. Di dalamnya bukan iPhone keluaran terbaru, melainkan sebuah HP Nokia 3310 Reborn berwarna kuning cerah. HP kecil dengan tombol fisik yang terkenal tahan banting.
"Hehehe, bagus kan Paman?" Rea tertawa bangga, tidak menyadari ekspresi bingung Galen. "Itu batrenya awet lho, Paman! Bisa buat main game ular juga kalau Paman bosan di rumah."
Galen menatap HP kuning di tangannya, lalu menatap Rea. Seorang bos mafia yang terbiasa dengan teknologi militer tercanggih, kini memegang HP "tahan banting" berwarna kuning terang.
"Kau... membelikan ini untukku?" suara Galen terdengar rendah, ada nada yang sulit dijelaskan.
"Iya! Biar Paman tidak merasa kesepian lagi dan bisa hubungi Rea. Suka kan, Paman?"
Galen perlahan mengepalkan tangannya pada ponsel mungil itu. Di matanya, ponsel murah ini tiba-tiba terasa jauh lebih berharga daripada ponsel satelit yang ia punya. "Ya. Aku suka," jawab Galen singkat, sambil menyembunyikan senyum kecil yang nyaris tak terlihat.
"Tapi Paman, ini tidak gratis ya!" ucap Rea sambil berkacak pinggang, mencoba terlihat tegas meski wajahnya masih terlihat sangat lelah.
Galen mengangkat sebelah alisnya. "Maksudnya? Kamu minta uang kembali?"
"Ih, bukan!" Rea mendengus. "Paman kan tidak punya uang. Jadi, bayarnya pakai tenaga saja. Sekarang Paman harus pijit kaki Rea. Hari ini Rea capek banget lho, pelanggannya ramai sekali sampai kaki Rea rasanya mau copot."
Tanpa menunggu persetujuan, Rea langsung merebahkan dirinya di sofa. Dengan santainya, ia mengangkat kakinya yang pegal dan menumpukannya begitu saja di pangkuan Galen.
Galen mematung. Ia menatap kaki mungil Rea yang kini berada di atas celana kain mahalnya. Gadis ini benar-benar tidak punya rasa takut, batin Galen tidak percaya.
Pria yang biasanya memerintah ratusan anak buah bersenjata, pria yang tangannya terbiasa memegang senjata untuk melenyapkan nyawa orang, kini harus menghadapi sepasang kaki mungil yang kelelahan. Jika anak buahnya melihat ini, reputasi Galen sebagai mafia paling kejam akan hancur seketika.
"Kenapa diam saja, Paman? Ayo pijit!" desak Rea sambil memejamkan mata, mulai merasa nyaman.
Galen menghela napas panjang. Perlahan, tangannya yang besar dan kuat mulai menyentuh pergelangan kaki Rea. Ia memijatnya dengan sangat canggung dan kaku, takut kekuatannya justru malah mematahkan tulang gadis itu.
"Ahhh... iya di situ Paman. Enak sekali," gumam Rea hampir tertidur.
Galen hanya bisa menggelengkan kepala. Di bawah cahaya lampu kos yang remang-remang, sang mafia kejam itu akhirnya menyerah pada permintaan gadis lugu ini. Ia memijat kaki Rea dengan sangat hati-hati, sambil terus memperhatikan wajah damai Rea yang mulai terlelap. Ada senyum tipis yang sangat tersembunyi di sudut bibir Galen malam itu.
Galen menatap Rea yang sudah terlelap sepenuhnya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati—seolah sedang memegang porselen mahal yang mudah pecah—ia mengangkat tubuh mungil Rea dari sofa. Tubuh gadis itu terasa sangat ringan di lengan kekar Galen.
Saat Galen melangkah menuju kamar, Rea sedikit menggeliat dalam tidurnya. Kepalanya bersandar di dada bidang Galen, dan ia bergumam pelan di tengah mimpinya.
"Pamannnn... makasih ya udah tinggal di sini... jadi temen Rea..." gumamnya dengan suara sangat kecil, hampir seperti bisikan angin.
Langkah Galen terhenti sesaat. Kata "teman" terasa sangat asing di telinganya. Di dunianya, tidak ada teman, yang ada hanyalah sekutu atau musuh. Namun, mendengar suara tulus Rea, sesuatu yang keras di dalam hati Galen seolah sedikit terkikis.
"Hemhhh..." Galen hanya mendengus pelan sebagai jawaban, meski ia tahu Rea tidak mendengarnya.
Ia membaringkan tubuh Rea di ranjangnya yang sederhana. Galen sempat menarik selimut hingga menutupi bahu gadis itu agar tidak kedinginan. Ia berdiri sejenak di kegelapan kamar, menatap wajah polos Rea yang terlihat sangat damai tanpa beban.
Setelah memastikan Rea tidur dengan nyaman, Galen keluar dan menutup pintu dengan sangat pelan. Ia kembali ke ruang tamu dan merebahkan tubuh tingginya di sofa yang terasa semakin sempit. Ia menatap langit-langit kamar kos yang kusam, memikirkan bahwa dalam beberapa hari lagi, ia harus kembali ke dunia hitamnya yang penuh darah dan pengkhianatan.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Galen tertidur dengan tenang tanpa harus memegang senjata di bawah bantalnya.