NovelToon NovelToon
MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 Garis Yang Bergerak

Rutinitas Naya berjalan seperti biasa, seolah badai yang sempat mengguncang hidupnya beberapa waktu lalu hanyalah angin lewat. Setiap awal bulan, ia akan mendatangi kosan-kosan miliknya untuk mengambil laporan dan uang sewa. Ia sudah hafal betul alurnya—kosan pertama, lalu kosan kedua, memastikan semua kamar terisi, tidak ada keluhan berarti, dan para penghuni merasa nyaman.

Bagi Naya, kosan bukan sekadar aset. Di sanalah sebagian besar kerja kerasnya berbuah. Setiap pintu kamar, setiap lorong sempit, menyimpan cerita perjuangan yang dulu ia jalani seorang diri.

Setelah urusan kosan selesai, Naya melanjutkan kegiatan yang hampir selalu sama: berbelanja kebutuhan rumah. Di rumahnya sekarang, ia memperkerjakan seorang asisten yang tidak menginap. Pagi hingga sore, asisten itu membantu membersihkan rumah dan memasak.

Menjelang magrib, rumah kembali sunyi, dan Naya mengurus semuanya sendiri.

Rumah yang kini ia tempati sudah jauh berbeda dari rumah kecilnya dulu saat pertama kali menginjakkan kaki di kota. Rumah ini lebih luas, halamannya cukup lega, dan suasananya tenang. Namun, kesederhanaan tetap menjadi pilihannya. Tidak ada barang berlebihan. Semua tertata rapi, fungsional, dan seperlunya.

Bagi Naya, kenyamanan bukan soal kemewahan, melainkan ketenangan.

Seperti biasa, ia memilih berbelanja di swalayan tempat Mira bekerja. Bukan tanpa alasan. Swalayan itu lengkap, jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah, dan harganya masih masuk akal.

Hari itu, Mira sedang bertugas di bagian kasir. Wajahnya tampak lelah, matanya sedikit sayu, tetapi senyumnya tetap terjaga. Saat Naya meletakkan barang-barangnya di meja kasir, Mira menyapanya dengan ramah.

“Selamat siang, Mbak. Ada promo minyak goreng hari ini, mau sekalian?” tanya Mira dengan suara sopan.

Naya tersenyum tipis. “Tidak, terima kasih. Ini saja sudah cukup.”

Mira mengangguk, lalu memproses belanjaan Naya dengan cekatan. Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada tatapan curiga. Semuanya berlangsung seperti transaksi biasa—dua orang asing yang kebetulan berada di ruang yang sama.

Setelah membayar, Naya keluar dari swalayan. Ia menuju motornya, lalu pergi meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi.

Namun Mira sempat memperhatikan punggung Naya yang menjauh. Ada sesuatu dalam diri perempuan itu yang membuat Mira tanpa sadar membandingkan hidup mereka.

Enak ya jadi wanita tadi, batinnya lirih. Ke mana-mana bawa kendaraan sendiri, belanja tanpa mikir, hidup kelihatan tenang.

Mira menghela napas pelan. Coba aku seperti itu… dan Pak Adit mau bertanggung jawab.

Lamunannya buyar saat seorang pembeli lain sudah berdiri di depannya, menunggu dilayani. Mira tersenyum kembali, menekan perasaan yang mengendap di dada, lalu kembali pada perannya sebagai kasir—peran yang selama ini harus ia jalani sendiri.

Di rumah keluarga Pramudya, suasana justru sedang tidak kondusif.

Aluna masih bersikeras ingin bertemu dengan perempuan yang ia sebut sebagai umminya. Sejak pertemuan singkat di mall itu, sikap Aluna berubah. Ia menjadi lebih sensitif, mudah menangis, dan sering melamun.

Ia bahkan menolak makan.

“Aluna, cukup,” kata Sagara dengan nada yang mulai meninggi. “Abi sudah bilang, ummi kamu sudah meninggal.”

Aluna menggeleng keras. Matanya berkaca-kaca. “Tidak! Ummi masih hidup!”

Ia berlari mengambil sebuah foto dari laci lemari. Foto mendiang ibunya, Alya Pramudya, yang selama ini selalu disimpan rapi.

“Oma lihat,” kata Aluna sambil menunjuk foto itu. “Ummi yang di mall itu sama mukanya. Sama seperti ummi di foto.”

Salma Pramudya terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia ingin menyangkal, tetapi lidahnya kelu. Kemiripan itu terlalu nyata untuk diabaikan.

Sagara mengusap wajahnya dengan frustrasi. Ada perasaan tidak nyaman yang perlahan merayap di benaknya.

“Raka,” katanya kemudian dengan suara lebih rendah namun tegas, “selidiki perempuan yang mirip Alya itu. Siapa dia. Di mana tinggalnya.”

Raka yang sejak tadi duduk santai langsung mendesah pelan. “Iya, Bang,” jawabnya, meski jelas ada rasa malas.

Dalam perjalanan ke kantor, Raka menggerutu sendiri.

Kerjaan kantor belum kelar, sekarang ditambah urusan tuan putri yang lagi ngambek.

Kalau begini terus, kapan aku punya istri?

Hidupku isinya kerja dan ngurusin masalah keluarga orang.

Namun jauh di dalam hatinya, Raka tahu perintah ini bukan perkara sepele. Jika Sagara sudah turun tangan langsung, berarti ada sesuatu yang tidak bisa dianggap remeh.

Sementara itu, kehidupan Naya terus berjalan. Beberapa minggu setelah kejadian dengan Ratna, Naya kembali membuat keputusan besar. Ia membeli sebidang tanah lagi. Lokasinya tidak terlalu jauh dari kosan-kosan sebelumnya.

Kali ini, Naya tidak membicarakannya lebih dulu dengan Adit. Bukan karena menyembunyikan, melainkan karena Adit sendiri sudah sepenuhnya menyerahkan urusan kosan dan investasi pada istrinya.

“Urusan begituan, Mas percaya sama kamu,” kata Adit suatu malam. “Mas ikut saja keputusan kamu.”

Transaksi berjalan lancar. Sertifikat tanah pun berpindah tangan tanpa kendala.

“Terima kasih, Bu Naya,” kata penjual tanah itu. “Semoga tanah ini lebih bermanfaat ke depannya.”

“Sama-sama,” jawab Naya singkat.

Di dalam mobil, Naya menatap sertifikat tanah yang baru saja ia terima. Ada rasa puas yang tenang, tetapi juga tanggung jawab besar yang ia rasakan. Semua yang ia capai bukan hasil instan.

Ada kerja keras, pengorbanan, dan kepercayaan yang ia jaga selama bertahun-tahun.

Dalam benaknya, rencana lain mulai tersusun.

Ke depan, aku ingin beli tanah di desa, pikirnya. Aku ingin desa itu lebih maju.

Ia teringat kebunnya dulu, rumah sederhananya, dan tetangga-tetangga yang pernah membantunya bertahan hidup di masa sulit. Naya tidak pernah lupa dari mana ia berasal.

Semoga cita-citaku terwujud, batinnya.

...----------------...

Selamat pagi readers selamat membaca

Tinggalkan jejak kalian ya...

Like komennya terimakasih..

1
sherapine
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!