Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: SANGKAR EMAS DIRGANTARA
Suara pintu yang tertutup rapat seolah menjadi lonceng kematian bagi kebebasan Alana. Ia berdiri mematung di tengah kamar yang luasnya hampir menyamai tipe rumah minimalis di pinggiran kota. Kamar ini indah, penuh dengan furnitur kelas atas dan aroma sandalwood yang maskulin, namun bagi Alana, setiap sudutnya terasa seperti jeruji besi.
Ia menyentuh liontin berlian biru yang baru saja dipasangkan Arkano. Benda itu terasa dingin dan berat, pengingat permanen bahwa setiap langkah, napas, dan detak jantungnya kini berada di bawah pengawasan sang mafia.
"Pelacak GPS..." gumam Alana getir. "Kau benar-benar tidak memberiku celah, Arkano."
Alana berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Di bawah sana, ia melihat setidaknya sepuluh pria berseragam hitam dengan senjata api tersampir di bahu mereka, berpatroli dengan presisi militer. Tidak ada jalan keluar yang mudah. Jika ia mencoba melarikan diri sekarang, ia hanya akan menjadi sasaran empuk sebelum sempat mencapai gerbang utama.
Tok! Tok!
Pintu terbuka tanpa menunggu jawaban. Marco masuk membawa sebuah nampan berisi sarapan mewah dan beberapa botol vitamin.
"Tuan Arkano memerintahkan Anda untuk menghabiskan semua ini, Nyonya," ucap Marco dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Alana menoleh dengan tatapan tajam. "Katakan pada tuanmu, aku bukan hewan peliharaan yang harus diberi makan sesuai jadwal."
Marco tidak bergeming. Ia meletakkan nampan itu di meja rias. "Tuan juga mengatakan, jika Anda menolak makan, maka jadwal patroli di sektor tempat tinggal sahabat Anda—Rian—akan ditingkatkan menjadi 'zona merah'. Anda tentu tahu apa artinya itu bagi warga sipil, bukan?"
Darah Alana berdesir hebat. Ini adalah ancaman terang-terangan. Arkano tahu persis di mana titik lemahnya. "Dia pria yang licik," desis Alana.
"Dia pria yang menjaga miliknya, Nyonya," koreksi Marco sebelum membungkuk hormat dan keluar, mengunci pintu dari luar sekali lagi.
Alana terpaksa duduk dan menelan roti panggang itu meski rasanya seperti pasir di tenggorokannya. Ia harus tetap kuat. Otaknya mulai bekerja keras. Jika ia tidak bisa keluar, maka ia harus membawa informasi itu masuk.
Tugas dari Hendra sangat jelas: Daftar pembeli senjata.
Data itu pasti ada di ruang kerja pribadi Arkano yang berada di ujung koridor lantai dua. Ruangan itu memiliki pengamanan biometrik dan sensor gerak. Untuk masuk ke sana tanpa memicu alarm, ia butuh sesuatu yang hanya dimiliki Arkano—sidik jari atau akses suara.
Malam harinya, Arkano kembali ke kamar dalam keadaan lelah. Ia melonggarkan dasinya dan melempar jasnya ke kursi sembarang arah. Alana sudah menunggu, duduk di sofa dengan buku di tangannya, berpura-pura tenang.
"Kau belum tidur?" tanya Arkano, suaranya terdengar lebih lembut dari tadi pagi.
"Bagaimana aku bisa tidur jika aku merasa diawasi oleh kamera di setiap sudut ruangan ini?" balas Alana tanpa menatapnya.
Arkano berjalan mendekat, ia duduk di samping Alana dan menyandarkan kepalanya di bahu wanita itu. Tindakan yang sangat rentan untuk pria sepertinya. "Hanya di koridor dan taman, Alana. Aku masih memberimu privasi di dalam kamar ini. Aku bukan monster yang ingin melihatmu mandi melalui layar monitor."
Alana menutup bukunya. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Arkano. Ini adalah kesempatannya. Sesuai perintah Hendra: Rayu dia jika perlu.
"Kau terluka?" Alana memberanikan diri menyentuh bahu Arkano yang tampak tegang.
Arkano sedikit terkejut dengan sentuhan itu. Ia menoleh, menatap mata Alana yang biasanya penuh api permusuhan, kini tampak sedikit melunak—meski itu hanya sandiwara.
"Hanya pekerjaan rutin. Ada beberapa pengkhianat di pelabuhan yang harus diberi pelajaran," jawab Arkano. Ia meraih tangan Alana dan mencium jemarinya satu per satu. "Kenapa kau tiba-tiba peduli?"
Alana menelan ludah. "Aku istrimu, kan? Setidaknya itu yang tertulis di kertas yang kau paksakan padaku."
Arkano terkekeh rendah. Ia menarik Alana ke dalam pelukannya, membenamkan wajahnya di leher Alana. "Istriku... aku suka mendengarnya."
Alana merasakan tangan Arkano merayap di pinggangnya, posesif dan mendominasi. Di dalam kepalanya, Alana menghitung setiap detik. Ia harus membuat Arkano benar-benar lengah. Ia mulai membalas pelukan itu, menyandarkan tangannya di dada bidang Arkano, merasakan detak jantung pria itu yang kuat.
"Arkano..." bisik Alana.
"Ya, Sayang?"
"Jika kau memang mempercayaiku sebagai istrimu... bisakah kau melepaskan sedikit saja pengawalan ini? Aku merasa tercekik."
Arkano melepaskan pelukannya sedikit untuk menatap wajah Alana. Matanya menyipit, mencoba mencari kejujuran di sana. "Kau ingin aku melepaskan pengawalan agar kau bisa mengirim laporan pada Hendra?"
Jantung Alana seakan berhenti berdetak. Apakah dia tahu?
Arkano tersenyum miring, sebuah senyuman yang mengerikan namun tampan di saat yang sama. Ia mengusap bibir Alana dengan ibu jarinya. "Aku tahu kau masih berkomunikasi dengan mereka, Alana. Lipstik yang kau bawa itu... pemancar yang cukup kuno untuk standar duniaku."
Alana membeku. Seluruh tubuhnya mendadak dingin.
"Tapi aku membiarkannya," lanjut Arkano. "Karena aku ingin melihat sejauh mana kau akan bermain peran. Aku ingin tahu, mana yang lebih dulu menyerah: kesetiaanmu pada polisi yang korup itu, atau rasa cintamu padaku yang mulai tumbuh secara perlahan."
Arkano menarik Alana mendekat hingga tidak ada jarak di antara mereka. "Kau ingin akses ke ruang kerjaku? Baiklah. Besok aku akan membawamu ke sana. Kita lihat, apakah kau cukup berani mencuri data di depanku, atau kau justru akan memohon padaku untuk melindungimu saat kau tahu siapa Hendra yang sebenarnya."
Arkano mencium Alana dengan dalam, sebuah ciuman yang penuh dengan tantangan dan gairah yang menyesakkan. Malam itu, Alana menyadari bahwa ia tidak sedang bermain kucing-kucingan dengan seorang mafia biasa. Ia sedang berdansa di atas api dengan seorang pria yang sudah tahu semua langkahnya sebelum ia sendiri melakukannya.
Di kegelapan kamar, saat Arkano akhirnya terlelap dengan tangan yang masih memeluk pinggangnya erat, Alana menatap langit-langit. Musuh yang ia hadapi jauh lebih cerdik dari apa yang diajarkan di akademi polisi.
Apakah ia sedang menjebak Arkano, atau justru ia yang sedang masuk ke dalam perangkap yang tak berujung?