NovelToon NovelToon
Menikah Dengan SEPUPU

Menikah Dengan SEPUPU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Payang

Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.

Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.

Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.

Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Tindak Lanjut Pandji.

"Ini buah buat kamu," Pandji mengangkat sedikit tangannya untuk menunjukan tentengan yang ia bawa.

"Tapi biar Mas saja yang bawa masuk ya, ini lumayan berat," imbuhnya cepat sebelum Melitha sampai menyambutnya, mengisyaratkan pada isi tentengan yang cukup banyak.

"Aaaa.... Iya, terima kasih ya, Mas...." Melitha tersenyum, melirik sekilas tentengan yang di maksud Pandji, sedangkan satu tangan lainnya lagi membawa tentengan juga, entah apa itu, batin Melitha.

"Mari, silahkan masuk, Mas...." ajaknya lagi untuk kedua kalinya.

"Lewat mana?" Pandji masih berdiri di tempatnya.

Melitha memberanikan diri menatap Pandji dengan raut bingungnya.

"Mas nggak mungkin menerobos masuk dengan paksa, yang ada akan melanggar tubuh kamu yang masih berdiri di ambang pintu masuk, Mel..." Pandji kembali tersenyum tipis.

"Oh...." Melitha langsung melihat dimana posisinya berdiri, kulit wajahnya seketika merona begitu menyadarinya.

"Ma-maaf, Mas," Melitha cepat bergeser mundur.

Berusaha menyembunyikan rasa malunya, Melitha buru-buru masuk sedangkan Pandji menyusul di belakangnya.

"Siapa tamunya?" Harry bertanya begitu adiknya itu muncul lagi di ruang makan yang menyatu dengan dapur mereka.

"Saya, Mas..." Pandji muncul di belakang Melitha setelah menyibak gorden pembatas antara ruang keluarga dan ruang makan.

"Kamu, Pandji," Harry tersenyum lebar menyambut kedatangan adik sepupunya itu. Tanpa diminta ia membantu mengambil alih buah tangan yang dibawa Pandji dan meletakannya di atas meja yang ada di samping kulkas.

"Hai, Paman!" Adri dan Naomi yang sudah duduk rapi di kursi mereka masing-masing segera melorot turun, menghambur ke pelukan Pandji yang mengembangkan kedua tangannya lebar ke arah mereka.

"Anak-anak pintar!" Pandji tertawa, setelah mencium satu persatu pipi kedua bocah itu, ia melonggarkan pelukannya, mengambil buah tangan yang tadinya sempat ia letakan di meja bunga.

"Ini, Paman bawakan yogurt sama popcorn buat kalian."

"Asik, terima kasih, Paman!" Paman baik sekali!" kini keduanya yang balas mencium pipi Pandji sebelah menyebelah.

Harry dan Melitha tersenyum melihat kehangatan itu.

"Pandji, kamu datang disaat yang tepat. Ayo, duduk dulu, kita makan malam bersama." Harry menarik satu kursi yang kosong buat adik sepupunya itu.

Pandji yang sudah terbiasa ada disana, tanpa banyak basa basi menerima tawaran itu. Dan tidak menolak juga saat Harry sebagai kepala keluarga rumah itu memintanya memimpin doa makan.

"Mbak Raya mana, Mas... kok tidak ikut makan? Sakit?" duga Pandji, sejak tadi tidak melihat kehadiran isteri dari kakak sepupunya itu.

"Mama Bidadali ming-gat, Paman! Ke lumah kakek!" sahut Naomi mendahului.

Harry langsung tersedak mendengar ucapan jujur putrinya, sepertinya si gadis kecilnya itu menguping pembicaraannya bersama Melitha saat tadi menyiapkan masakan makan malam.

"Mas nggak jemput mbak Raya pulang?" Pandji beralih pada Harry yang baru saja meredakan sedaknya dengan segelas air minum.

"Tidak..." Harry menggeleng, kembali melanjutkan saat melihat raut keheranan Pandji padanya.

"Bukan Mas yang ngusir mbak Raya-mu, dia sendiri yang memilih pulang saat bibi Harun menasehati dirinya dan mbak Rita malam itu. Dan ini sudah kesekian kalinya ia pergi dari rumah.... "Harry menatap Pandji dengan sorot kosong.

"Mas berharap, selama di sana Mbakmu itu bisa merenungkan apa yang telah ia lakukan. Bila dia pulang, bukan Mas yang minta, tapi keinginannya sendiri...."

Mendengarnya, Pandji mengunyah makanannya dalam diam. Ia dapat melihat sorot lelah di mata kakak sepupunya itu. Ia memang belum pernah mengalami hidup berumah tangga, tapi sering mendengar keluhan beberapa rekannya, bahkan beberapa kenalannya juga.

Hatinya sedih melihat Adri dan Naomi yang tengah lahap menikmati lauk telur urak arik mereka ditemani tumisan kangkung, hidangan makan malam yang sederhana. Dua bocah itu pasti tidak mengerti biduk rumah tangga yang tengah terjadi pada kedua orang tuanya, batin Pandji.

"Bila mas Har kerja, Naomi siapa yang temani kalau mbak Raya nggak ada di di rumah?" lagi, Pandji kembali bertanya dengan nada penasaran. Setahunya, Adri ke sekolah juga bersama Melitha, jadi tidak ada siapa-siapa di rumah.

"Di kantor ada tempat penitipan anak untuk para karyawan yang kesulitan mendapat pengasuh. Anak-anak juga bisa sekalian sekolah disana, ada PAUD nya."

Pandji mengangguk kecil mendengarnya, setidaknya keponakannya itu tidak terlantar walau ibunya pergi dari rumah.

"Naomi kangen Mama?" tanya Pandji pelan, memandangi Naomi yang baru selesai makan.

"Nggak! Lumah aman saat Mama nggak ada, Paman!"

Pandji kaget mendengar jawaban tidak terduga dari mulut keponakannya itu, ia spontan menatap Harry, juga pada Melitha seakan minta klarifikasi. Seburuk-buruknya seorang ibu, seorang anak pasti merindukannya bila berjauhan, tapi kenapa keponakannya itu tidak, batinnya.

"Mama suka bentak-bentak dan jewer telinga, Paman. Kami takut kalau Mama ada di rumah," Adri yang lebih pendiam dibandingkan adiknya itu tiba-tiba ikut berbicara juga, seolah memberi klarifikasi apa yang ada dalam benak sang paman.

"Iya, Paman! " Naomi ikut menimpali sambil memasukan potongan apel yang baru di kupas Melitha ke dalam mulut kecilnya.

"Beda tama tante Da-hel! Dembut.... Lamah, penayang, gak pelit tlaktilin No-mi tama Papah matan tiang tadi...." kenangnya. Raut batita itu mendadak suram, mendung bergelayut di wajahnya.

"Lho, kok malah sedih bicara tentang tante Da-helnya?" Pandji tertawa kecil, walau tidak mengenal wanita yang disebut keponakannya itu, ia berusaha mencairkan suasana agar bocah itu kembali gembira seperti sebelumnya.

"No-mi... Mau tante Da-hel... Jadi Mamanya No-mi.... Huaaaaaaaa...." tangisnya pecah membahana.

Pandji gelagapan, maksud hatinya ternyata tidak sesuai ekspektasi, malah membuat runyam suasana makan malam mereka.

Melitha cepat bertindak, menggendong Naomi seraya membawanya pergi meninggalkan meja makan menuju kamar. Adri yang sudah selesai makan segera berpamitan pada ayah juga pamannya, membawa serta buah tangan sang paman agar bisa membantu bibinya membujuk adiknya yang sedang menangis itu.

"Maafin aku ya, mas Har... sudah buat Naomi menangis," ucap Pandji merasa tak nyaman. tangannya turut membantu membereskan meja makan, mengangkat peralatan makan kotor yang telah mereka gunakanan ke westafel, sementara Harry yang mencucinya.

"Tidak mengapa.... " Harry tersenyum sembari membilas piring.

"Naomi itu anaknya baperan, mudah sekali dekat dan lengket dengan seseorang yang perhatian padanya karena jarang mendapat kasih sayang dari ibunya." Harry kembali menghampiri Pandji di meja makan begitu pekerjaan mencucinya sudah selesai.

"Ya... Misalnya seperti pada bibinya Melitha dan baru-baru ini pada bu Rahel juga," ungkapnya, mengambil duduk tepat di hadapan Pandji.

"Jadi Da-hel itu bu Rahel maksudnya." Pandji tertawa, mengingat apa yang diucapkan oleh lidah cadel keponakannya.

"Dia... siapa Mas?" lanjut Pandji tanpa niat menyelidiki.

"Beliau atasannya Mas di tempat kerja. Oh, ya... Katakan apa maksud kedatanganmu kemari?" Harry cepat mengalihkan pembicaraan ke topik yang seharusnya, tidak enak membicarakan wanita lain yang sudah berkeluarga apalagi itu adalah atasannya.

"Aku ingin menindaklanjuti pembicaraan kita yang terakhir itu, Mas," jawab Pandji.

"Aku meminta izin untuk membawa Melitha keluar besok, seusai jam sekolah, Mas. Tapi sebelumnya aku juga mau menemui kepala sekokahnya dulu."

"U-untuk apa.... Mas mau menemui pak Harjanto?" Melitha yang baru tiba dan mendengar pembicaraan kedua kakaknya itu langsung menyela, hatinya mendadak was-was, khawatir dirinya telah ketahuan meretas akun kakak sepupunya itu.

Bersambung✍️

1
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
kyk acara transtv dl. dibawain ama si panda
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sapose neh
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
laki2 tuh klo curhat begini y? harus ada perantara nya
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sambil nyanyi aq bacanya
〈⎳ FT. Zira
kann kann kann.. bener kannn🤧
〈⎳ FT. Zira
pandji yg seorang perwira aja gini, apalagi Arya nanti yak🤭
〈⎳ FT. Zira
kakak adek nasib nnya gini amat... athor nya hahat...😭😭😭 harus ada ganti pokoknya
〈⎳ FT. Zira
main serong biar dapet doku gak sih ini🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
wweehhh😳😳😳
〈⎳ FT. Zira
mau sekeras apa juga pada akhirnya runtuh juga
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
kan Si jalan raya dengan tak Elok itu satu jenis bun🤔 sama2 murahan eh🤸🤸🤸
Teteh Lia
habis sudah kesabaran babang Harry
Teteh Lia
Oh ya ampuun... kejam sekali dirimu, masa suami suruh tidur di lantai.
sari. trg
atur dulu anakmu Bu
sari. trg
waduh! siapa tuh bapaknya?
Zenun
harusnya tanya dulu mengapa Hary bisa bicara gitu, ada bukti apa
Dewi Payang: Harusnya begitu memang.....
total 1 replies
🟢≛⃝⃕|ℙ$Fahira𝓛𝓲𝓷𝓰𝓧𝓲☕︎⃝❥
waduhhh... ternyata oh ternyata Raya berani sekali ya melakukan itu... ishhh ishhh ishhh...
Dewi Payang: Baiklah....😁😍
total 7 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
is is is ternyata jalang teriak jalang oy
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩: is is is... kok mirip elok ya🤭
total 2 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
masih aja loh si ibu. gmn klo si harry yg selingkuh?! pasti kln nge reog
Dewi Payang: klo anak sendiri dimaklumi, kko menantu gak boleh salah🤭
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
woaahhhh ortunya juga mau2 aja menampung
Dewi Payang: Wkwk😂😂 padahal maksud mengadu pengen ortu jadi penengah kalu bisa dibelain ya kak🙈🙈🙈🙈
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!