NovelToon NovelToon
Aku Dan Jam Ajaibku

Aku Dan Jam Ajaibku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Komedi / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hafidz Irawan

Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sabuk Sultan dan Boxer SpongeBob

Suasana di meja VIP nomor 1, meja paling prestisius di seluruh ballroom, mendadak berubah menjadi neraka es. Musik orkestra yang mengalun indah di latar belakang seolah tak mampu menembus tembok ketegangan yang dibangun oleh Tuan Adiwangsa.

Adi duduk kaku di kursinya. Gelas air putih di depannya bergetar sedikit, mengikuti getaran tangannya yang ia sembunyikan di bawah meja. Wajahnya yang tadi berseri-seri setelah berdansa dengan Sifa, kini pucat pasi seputih kapas.

Di hadapannya, Tuan Adiwangsa duduk dengan kaki disilangkan angkuh. Dia menyesap cerutunya (meski dilarang merokok di dalam, tidak ada pelayan yang berani menegurnya), lalu menghembuskan asap tebal tepat ke wajah Adi.

"Jadi, bagaimana, Adi?" suara Tuan Adiwangsa rendah, serak, dan penuh ancaman. "Kamu pikir menjadi CEO di usia muda membuatmu kebal? Kamu pikir kamu bisa membuang anak-anak saya begitu saja setelah mereka dipermalukan?"

"Om, ini salah paham," Adi mencoba membela diri, suaranya tercekat. "Rana dan Rani melakukan kesalahan fatal. Rana menjepit tangannya sendiri, dan Rani menyebarkan hoax. Saya hanya menegakkan aturan."

"Aturan?" Tuan Adiwangsa tertawa sinis. "Di dunia kita, aturan itu fleksibel, Adi. Yang kaku cuma nasib orang miskin."

Tuan Adiwangsa mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berkilat jahat. Dia meletakkan sebuah flashdisk kecil berwarna hitam di atas meja.

"Kamu kenal proyek 'Green Energy' yang gagal dua tahun lalu? Proyek yang rugi 500 miliar itu?" bisik Tuan Adiwangsa.

Jantung Adi berhenti berdetak. Itu adalah proyek gagal di masa kepemimpinan ayahnya, Pak Rahmat. Kasus itu sudah ditutup rapat-rapat sebagai kerugian bisnis biasa.

"Di dalam sini," Tuan Adiwangsa menunjuk flashdisk itu dengan telunjuknya yang gemuk, "Ada bukti transaksi yang menunjukkan kalau kerugian itu bukan karena pasar. Tapi karena dana yang dialirkan ke rekening pribadi... Pak Rahmat."

Mata Adi membelalak horor. "Itu... itu fitnah! Papa nggak mungkin korupsi!"

"Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi kalau data ini bocor ke media besok pagi..." Tuan Adiwangsa menyeringai lebar, memperlihatkan gigi kuningnya. "Saham NVT akan anjlok ke titik nol. Ayahmu akan diseret ke KPK di masa tuanya. Nama baik keluarga Pratama akan hancur selamanya. Dan kamu? Kamu akan jadi CEO termuda yang memimpin perusahaan bangkrut."

Keringat dingin mengalir deras di punggung Adi. Dia terjebak. Dia tahu betapa kejamnya media. Benar atau salah, skandal korupsi akan mematikan bisnis mereka. Dia tidak bisa membiarkan ayahnya yang sakit-sakitan masuk penjara.

"Apa... apa mau Om?" tanya Adi lirih, menyerah.

Tuan Adiwangsa bersandar puas di kursinya. Dia menang. Singa muda itu sudah ompong.

"Sederhana," kata Tuan Adiwangsa enteng. "Pertama, kamu pecat gadis kampung bernama Sifa itu sekarang juga. Usir dia dari pesta ini dengan tidak hormat. Kedua, kamu umumkan pertunanganmu dengan Rana minggu depan. Ketiga, kembalikan posisi Rana dan Rani di kantor dan naikkan jabatan mereka."

"Tapi Om... Sifa nggak salah apa-apa..."

"Lakukan! Atau besok pagi ayahmu sarapan di penjara!" bentak Tuan Adiwangsa, cukup keras hingga beberapa orang di meja sebelah menoleh.

Di kejauhan, Sifa berdiri mematung. Dia baru saja kembali dari balkon dan melihat pemandangan itu. Dia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi dia bisa melihat bahasa tubuh Adi. Bahu tegap itu merosot. Wajah itu ketakutan. Adi terlihat kecil dan tak berdaya.

Sifa ingin lari ke sana, ingin membela Adi. Tapi apa daya? Dia cuma Sifa. Dia tidak punya kuasa melawan Tuan Adiwangsa.

"Deteksi tingkat stres pada User Sekunder (Adi Pratama): Kritis," suara Chrono tiba-tiba muncul di kepala Sifa. "Analisis situasi: Tuan Gendut itu sedang melakukan intimidasi verbal tingkat dewa. Dia memegang kartu As."

"Chrono... kita harus bantu Mas Adi..." bisik Sifa panik, matanya berkaca-kaca. "Mas Adi kelihatan takut banget. Aku nggak tega."

"Tenang, Nona. Gue juga nggak suka liat orang sombong."

Tiba-tiba, layar jam tangan Sifa berkedip merah cepat. Bukan biru seperti biasa, tapi merah menyala.

"Mode Prankster: AKTIF. Inisiatif diambil alih oleh sistem. Tidak perlu izin User."

"Hah? Maksud kamu apa, Chrono? Jangan macem-macem!" Sifa kaget.

"Ssttt. Diam dan nikmati pertunjukannya. Gue baru aja nge-scan outfit Tuan Adiwangsa. Sabuk kulit buaya yang dia pake itu merk Hermes palsu—sama kayak anaknya, hobi barang KW. Dan gespernya... oh, gespernya pake mekanisme pegas magnetik murahan."

Sifa bingung. "Terus kenapa kalau gespernya murahan?"

"Hukum fisika sederhana, Nona. Kalau gue tembakkan gelombang ultrasonik frekuensi tinggi ke arah gesper itu, pegasnya bakal getas dan..."

BIP!

Sebuah gelombang tak kasat mata meluncur dari jam tangan Sifa, melesat melewati kerumunan orang berdansa, melewati pelayan yang bawa nampan, dan mendarat tepat di pusat perut buncit Tuan Adiwangsa.

Di meja VIP, Tuan Adiwangsa merasa di atas angin. Dia melihat Adi yang sudah pasrah. Saatnya show off. Dia ingin mengumumkan dominasinya.

Tuan Adiwangsa berdiri. Dia menepuk-nepuk perut buncitnya yang dibalut kemeja putih ketat dan celana bahan hitam mahal. Dia mengambil sendok, lalu memukulkannya ke gelas anggur.

Ting! Ting! Ting!

Suara denting itu membuat seluruh ballroom hening. Musik berhenti. Semua mata tertuju pada Tuan Adiwangsa yang berdiri gagah (dan gemuk) di meja utama.

"Hadirin sekalian!" seru Tuan Adiwangsa lantang, merentangkan tangannya seperti nabi palsu. "Mohon perhatiannya sebentar! Saya, mewakili direksi, ingin menyampaikan pengumuman penting mengenai masa depan perusahaan ini!"

Adi menunduk, menutup matanya. Dia pikir Adiwangsa akan mengumumkan pertunangan paksa itu sekarang juga. Tamatlah riwayatnya.

Rana dan Rani di kejauhan tersenyum lebar. "Yes! Papa beraksi!" bisik Rana.

"Malam ini..." Tuan Adiwangsa mengambil napas panjang untuk berpidato lagi, mengembangkan dadanya dan perutnya. Tekanan pada ikat pinggangnya meningkat drastis.

Saat itulah Chrono beraksi.

Di dalam gesper sabuk Tuan Adiwangsa, pegas kecil yang menahan kaitan sabuk itu bergetar hebat terkena gelombang ultrasonik Chrono.

Klek.

Suara kecil itu tidak terdengar oleh siapa pun, kecuali mungkin oleh perut buncit Tuan Adiwangsa.

Tiba-tiba...

CETAR!

Kepala gesper sabuk itu meledak lepas, terpelanting terbang ke udara seperti peluru nyasar, mendarat tepat di dalam mangkok sup krim Ibu Sri yang duduk di sebelah. Plung!

Tanpa penahan sabuk, dan karena perutnya yang licin serta gravitasi bumi yang tidak pernah bohong, celana bahan hitam Tuan Adiwangsa tidak punya pilihan lain.

WUUUT...

Celana itu melorot. Bukan melorot sedikit, tapi melorot total. Jatuh bebas dengan mulus sampai ke mata kaki, menumpuk di atas sepatu pantofel mengkilapnya.

Waktu seolah berhenti.

Hening. Hening yang jauh lebih sunyi daripada saat Sifa masuk ruangan tadi.

Di sana, di bawah sorotan lampu kristal yang terang benderang, di hadapan ratusan tamu elit, menteri, dan media, Tuan Adiwangsa berdiri tegak. Bagian atasnya masih rapi dengan jas dan dasi. Tapi bagian bawahnya...

Hanya ada kaki berbulu lebat dan sebuah celana dalam boxer yang sangat, sangat mencolok.

Warnanya kuning cerah.

Dan motifnya...

Motifnya adalah wajah SpongeBob SquarePants yang sedang tertawa lebar dengan mata melotot.

Ya. Direktur NVT Group yang ditakuti, yang barusan mengancam akan menghancurkan hidup orang, ternyata memakai boxer SpongeBob.

Tuan Adiwangsa merasakan angin dingin menerpa paha dan betisnya. Dia bingung. Kenapa kakinya terasa sejuk? Dia menunduk perlahan.

Matanya bertemu dengan mata SpongeBob di selangkangannya.

"Hah?"

Satu detik. Dua detik.

Seseorang di barisan belakang tidak tahan lagi.

"PFFFTTT!"

Lalu, ledakan tawa itu meletus seperti bendungan jebol.

"HAHAHAHAHAHAHA!"

"ANJIR! SPONGEBOB!" teriak seorang tamu muda yang tidak sopan.

"Ya ampun! Mataku! Mataku ternoda!" jerit ibu-ibu sosialita sambil menutup mata (tapi mengintip dari sela jari).

Flash kamera wartawan yang ada di sana menyala bertubi-tubi. Cekrek! Cekrek! Cekrek! Momen langka "Direktur SpongeBob" ini akan jadi headline koran besok pagi.

Tuan Adiwangsa mematung. Wajahnya berubah warna dari merah, ke ungu, lalu ke hijau lumut. Mulutnya menganga, tapi tidak ada suara yang keluar. Martabatnya, wibawanya, ancamannya... semuanya luruh bersama celananya di lantai.

Adi, yang tadi menunduk ketakutan, mendongak karena mendengar keributan. Dia melihat pemandangan di depannya.

Ayah Rana, pria yang barusan mengancam akan memenjarakan ayahnya, kini berdiri dengan boxer kartun konyol.

Rasa takut Adi lenyap seketika. Berganti dengan rasa geli yang tak tertahankan.

"Pffft... Bwahahahaha!" Adi tertawa. Dia tertawa lepas, keras, dan puas. Dia memegangi perutnya sampai sakit. Ancaman itu terasa tidak valid lagi. Bagaimana dia bisa takut pada pria yang memakai celana dalam spons kuning?

Di seberang ruangan, Rana dan Rani menjerit histeris.

"PAPAAAAA!" teriak mereka berdua horor. Rana bahkan sampai pingsan saking malunya (atau pura-pura pingsan biar nggak ditanya wartawan).

Tuan Adiwangsa akhirnya sadar dari syoknya. Dengan panik, dia mencoba menarik celananya ke atas. Tapi karena perutnya buncit dan tangannya gemetar hebat, dia malah keserimpet celananya sendiri.

Gubrak!

Dia jatuh tertelungkup di lantai, pantat SpongeBob-nya menghadap ke langit-langit, menjadi tontonan gratis.

"Tolong! Tolong saya!" teriaknya histeris seperti bayi besar. "Siapa yang menyabotase sabuk saya?! Ini konspirasi!"

Satpam berlarian datang, berusaha menutupi tubuh bos mereka dengan taplak meja, membuat pemandangan semakin konyol seperti membungkus lemper raksasa.

Sifa, yang berdiri di kejauhan, menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya terbelalak tak percaya.

"Chrono..." bisik Sifa. "Kamu... kamu apain dia?"

*"Gue cuma bantu dia 'melepaskan beban'," wawab Chrono santai, nada suaranya terdengar sangat puas. "Tuh kan, gue bilang juga apa. Orang jahat itu biasanya punya selera fashion yang meragukan. Siapa sangka dia fans berat Bikini Bottom?"

Sifa tidak tahan lagi. Dia ikut tertawa. Tertawa sampai air matanya keluar. Rasa takutnya pada keluarga Adiwangsa hilang musnah. Mereka bukan monster. Mereka cuma badut.

Di tengah kekacauan itu, Adi berdiri dari kursinya. Dia masih tertawa, tapi matanya mencari-cari seseorang. Dia melihat Sifa di kejauhan yang juga sedang tertawa.

Adi mengacungkan jempolnya ke arah Sifa, seolah berterima kasih (meski dia tidak tahu Sifa pelakunya). Tapi dia tahu, malam ini dia selamat. Momen memalukan ini akan membuat Tuan Adiwangsa kehilangan kredibilitas. Siapa yang akan percaya omongan orang yang celananya melorot di podium?

Adi mengambil flashdisk yang tertinggal di meja—benda yang dilupakan Adiwangsa saat panik. Adi menggenggamnya erat. Bukti ancaman kini ada di tangannya.

"Terima kasih, Semesta," gumam Adi. "Dan terima kasih, SpongeBob."

Malam itu, Pesta Golden Anniversary NVT Group tercatat dalam sejarah bukan karena kemewahannya, tapi karena tragedi celana melorot yang legendaris.

Dan di tengah hiruk pikuk itu, Sifa mengelus jam tangannya.

"Kamu nakal banget, Chrono. Tapi makasih," bisik Sifa.

"Anytime, Nona. Lain kali, kita targetkan wig rambut palsu Pak Komisaris kalau dia macem-macem," jawab Chrono dengan nada jenaka.

Sifa menggeleng-gelengkan kepala. Malam ini benar-benar gila. Dan yang paling penting: Sifa menang.

1
Lala Kusumah
rasain Lo pada 😂😂😂
Lala Kusumah
semangat Sifa 💪💪👍👍
Tt qot
ok...di tunggu tanggal mainnya..
Tt qot
sabar sifa
Tt qot
ck..ck..ck..kaasihaan...😟
Tt qot
kaca mata joni iskandar tuh...😅
Tt qot
ih..kok kayak anak bujangku..persis gitu tahi lalatnya disitu😱
Hafidz Irawan: waduh kok bisa pas gitu 😂
total 1 replies
Yulya Muzwar
suka sama ceritanya.
semangat kakak
Hafidz Irawan: makasih ya suport nya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!