NovelToon NovelToon
Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:492
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 4 : DIBALIK SENYUM MAHAPATIH

Mahapatih Agung berdiri sendirian di pendapa kecil di sisi sebelah timur Rumah Kepatihan.

Api obor masih menyala, meski fajar hampir tiba. Wilwatikta jarang benar-benar tidur; ia hanya berganti wajah dari siang yang sibuk menjadi malam yang penuh bisik.

Mahapatih memandangi kolam teratai di hadapannya. Airnya tenang. Terlalu tenang, seperti halaman istana setelah eksekusi semalam—bersih, rapi, dan seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Ia tersenyum kecil.

“Negeri ini selalu lebih patuh pada tinta daripada darah,” gumamnya pelan.

Di belakangnya, seorang juru tulis menunduk, memegang lontar dan pisau kecil. Tangan lelaki itu gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena ia tahu setiap kata yang ditorehkan malam ini akan mengubah sejarah.

“Ki Juru Tulis, apa sudah kau tulis semua?” tanya Mahapatih tanpa menoleh.

“Sudah, Gusti Patih Agung,” jawab sang juru tulis lirih. “Rakryan Arya Wardhana… Telah dinyatakan bersalah atas pengkhianatan terhadap Wilwatikta. Dihukum mati demi ketenteraman kerajaan.”

Mahapatih mengangguk perlahan.

“Bagus.”

Ia akhirnya berbalik. Wajahnya tenang, hampir teduh—wajah seorang pengayom negara. Tak ada sisa kemarahan, tak ada kebencian. Yang ada hanya keyakinan.

“Tambahkan satu kalimat,” ujarnya. “Bahwa seluruh keluarganya turut lenyap dalam kekacauan malam itu.”

Juru tulis menelan ludah. “Termasuk… anaknya, Gusti?”

Mahapatih menatapnya.

Tatapan itu tidak keras. Justru sebaliknya—lembut, penuh pengertian. Tatapan yang membuat orang ingin menuruti perintah tanpa bertanya lagi.

“Sejarah tidak menyukai adanya celah,” katanya pelan. “Dan Wilwatikta tidak butuh anak pengkhianat untuk tumbuh dewasa.”

Pisau lontar kembali bergerak.

Di sisi lain dari pendapa Kepatihan, beberapa pejabat tinggi berkumpul: seorang patih, dua rakryan, dan seorang senapati istana. Wajah mereka tegang, mata mereka menatap Mahapatih dengan campuran hormat dan takut.

“Penjagaan telah diperketat Gusti Patih Agung,” lapor sang senapati. “Kami sudah menyisir lorong-lorong bawah tanah. Tak ada tanda-tanda bocah itu keluar.”

Mahapatih mengangkat alis tipis.

“Belum ditemukan,” katanya, lebih sebagai pernyataan daripada pertanyaan.

“Belum, Gusti.”

Keheningan menggantung sesaat.

“Cari terus,” ujar Mahapatih akhirnya. “Namun ingat—lebih baik ia mati di luar catatan daripada hidup dalam rumor.. Biarkan dia bisa memberi manfaat yang lebih besar dalam menata catatan Wilwatikta. Sebuah ketertiban”

Para pejabat mengangguk serempak.

Tak satu pun dari mereka berani bertanya apa maksud sebenarnya.

Mahapatih melangkah mendekati kolam. Ia mengambil segenggam bunga teratai yang gugur, lalu menjatuhkannya kembali ke air.

“Wilwatikta sedang sakit,” katanya, seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Dan penyakit harus dipotong, bukan dibujuk.”

Seorang patih memberanikan diri bicara. “Rakryan Arya Wardhana punya banyak pengikut setia, Gusti. Jika nanti muncul desas-desus—”

Mahapatih tersenyum.

“Desas-desus bisa diatur. Sama seperti jabatan. Sama seperti kesetiaan. Bila mereka berlebih dalam berumor, kembali berkumpul akan menjadi pilihan mereka"'

Ia menoleh, tatapannya kini tajam.

“Kalian jangan terlalu sering lupa,” lanjutnya, “bahwa kerajaan tidak berdiri di atas kebenaran. Ia berdiri di atas ketertiban.”

Tak ada yang menyanggah. Sebuah pernyataan yang diucapkan dengan halus dan seolah-olah berwibawa tetapi juga membawa ancaman bagi yang mendengar dan mereka yang bertindak tetapi bertentangan dengan pernyataan Mahapatih Agung.

Mahapatih tahu, di antara mereka yang berdiri di pendapa ini, akan selalu ada orang yang mengalami nasib seperti Rakyan Arya Wardhana, keluarga besar ditumpas . Dan para pejabat yang menemui Mahapatih juga menyadari, mereka bisa saja bernasib seperti keluarga Rakyan Arya Wardana.

Itulah sebabnya mereka patuh. Patuh dalam ketakutan dan ancaman.

Fajar mulai menyingsing. Cahaya keemasan menyentuh dinding-dinding batu Rumah Kepatihan, membuatnya tampak suci dan agung.

Mahapatih memejamkan mata sejenak.

“Akan kubuat Wilwatikta mengingatku sebagai penjaga kemakmuran dam kestabilan Nagari,” katanya pelan. “Bukan sebagai pembunuh.”

Ia membuka mata.

“Dan jika suatu hari sejarah membantahnya,” tambahnya, “berarti Wilwatikta memang pantas runtuh.”

Di kejauhan, kentongan pagi dipukul.

Hari baru dimulai.

Tak seorang pun di istana menyadari bahwa di luar tembok kerajaan, sebuah kesalahan kecil telah lolos dari catatan.

Sebuah napas yang seharusnya berhenti—

masih berlanjut.

Dengan nafas yang memburu Raka terus berjalan tanpa menoleh kebelakang.Seolah-olah bayangan pemburu begitu dekat dengan dia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!