NovelToon NovelToon
Benih Titipan Sang Milyarder

Benih Titipan Sang Milyarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Slice of Life / Single Mom / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Komedi
Popularitas:13.8k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?

Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.

Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.

Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kotak Perhiasan

Ya. Tadi malam memang terjadi sesuatu.

Pikiran Maggie mungkin tertuju pada Kael, tetapi jadwal mereka hari ini tidak sejalan. Para pria berkumpul di pabrik Tuak lokal yang tersembunyi di hutan di perbatasan utara Keraton. Mereka pergi ke sana dengan gerobak yang ditarik kuda.

Babby sitter manis bernama Nubia, yang ikut bersama Joann dan Monica, datang menjelang siang untuk menjemput Biann. Dia menyenangkan, dan Sierra yang sebentar lagi akan punya adik, terlihat senang berperan sebagai kakak bagi Biann.

Para perempuan makan siang seperti seorang pengantin di sebuah gazebo besar di ujung taman. Saat mereka diantar melewati taman, dia melirik ke arah pintu masuk tempat dia dan Kael bertemu.

Makan siang di gazebo menghadap langsung ke persiapan pernikahan, supaya Salifa bisa sekalian mengawasinya. Katanya itu ide Salifa. Hari itu cerah dan hangat. Keraton tampak berkilau.

Para pria sedikit mabuk, terlihat dari banyaknya pesan yang diterima para perempuan. Salifa mengangkat HPnya. Haikal mengirimkan segunung pesan yang tidak bisa dia pahami dan tiga emoji hati.

Semua tertawa.

Maggie menahan layar HPnya miring ke bawah meja, tanpa suara. Kael mengirim pesan, ingin dia ada di sini, tiga kali berturut-turut.

Ya, mereka memang sedang minum.

Meski acara mereka berakhir di waktu yang sama, para pria menghabiskan sore dengan tidur, sementara yang lain bergiliran menjalani manikur, rambut, dan riasan.

Maggie terkejut mengetahui bahwa meski datang terlambat, satu slot tetap disiapkan untuknya. Nubia mengembalikan bayi yang lapar, dan dia melakukan pedikur sambil menyusuinya.

Dengan mendapat perhatian yang hangat, kehadiran Nubia, dan emosi menjelang pesta pernikahan Adiputra, Maggie merasa lebih seperti dirinya sebelum Biann lahir. Sejujurnya, masa ketika dia mulai berkencan dulu bukanlah yang terbaik.

Namun hidupnya berubah sepenuhnya. Dia berada di Jogjakarta untuk sebuah pernikahan bak dongeng. Kukunya sedang dicat hijau cerah agar serasi dengan gaun yang dibelikan seorang pengusaha kaya dan berkuasa yang membawanya ke sini dengan jet pribadi. Pria yang membantunya mengurus bayi yang baru lahir dan bahkan hadir saat kelahirannya. Dan pria yang mendogy-style nya di taman, di belakang sebuah Keraton.

Hidup siapa yang sedang dia jalani?

Dia mengganti posisi Biann untuk membangunkannya agar bisa menyusu di sisi lainnya. Dia perlu memompa untuk memastikan persediaan botol cukup untuk pesta pernikahan dan resepsi.

Akan ada sesi tarian. Maggie memejamkan mata sejenak dan membayangkan melintasi aula dansa dalam pelukan Kael.

Hari-hari itu sempurna.

Namun dia tahu mimpi ini akan berakhir. Pesta pernikahan Adiputra akan segera selesai dan Kael akan terbang kembali ke Jakarta, dan Kael akan melanjutkan bisnisnya.

Secepat itu.

Namun saat ini, hidupnya terasa lebih sempurna dari sebelumnya. Maggie hanya perlu menggenggamnya dengan kedua tangan.

Si manikur menyandar dan mulai membereskan peralatannya.

Selesai.

Maggie menggerakkan jari-jari kakinya. Kuku-kuku itu berkilau seperti zamrud pada perhiasan yang Kael belikan untuknya.

“Sudah sempurna,” katanya pada perempuan itu. “Terima kasih.”

“Nikmati malammu, Nyonya!” jawabnya.

Biann tertidur lagi di dadanya. Ia mengangkat bayi itu dan membawanya ke tempat tidur. Biann tampak begitu kecil di sana, meringkuk di antara kain sendawa dan meja ganti, sama sekali tak selaras dengan seprai satin emas dan tirai manik-manik.

Bayi itu sudah mulai berisi, pipinya makin chubby selama perjalanan ini. Semua orang bilang bulan-bulan pertama berlalu begitu cepat. Maggie percaya itu. Ia melepas pakaian Biann, terpukau melihat perut dan paha kecilnya yang berisi. Biann terbangun, meliriknya dengan tatapan mabuk, lalu tertidur lagi.

Maggie mengganti popoknya dan memakaikan baju mewah yang Kael beli di Jogjakarta. Anak-anak akan turun untuk sesi foto keluarga.

Keluarga Adiputra meminta seluruh klan Barros ikut saat mereka bersiap untuk pernikahan adiknya dengan Davis.

Jennie masuk ke kamar mereka, merapikan kuku dan mendapat slot lebih awal dengan salah satu penata rambut. Rambutnya dikepang setengah, rumit, menakjubkan.

“Berputarlah,” katanya. “Biar kulihat.” Jennie menyentuh ikalnya pelan.

“Kamu kelihatan memukau. Aku harus bagaimana?”

“Kamu mau naik atau turun?” Jennie duduk di tepi ranjang dan mencubit lembut kaki kecil Biann. Setelah sempat rewel saat dipakaikan baju, bayi itu kembali pingsan.

Maggie ke kamar mandi dan menatap cermin, rambutnya berantakan diterpa angin. Berantakan karena makan siang di luar. Ia mungkin harus mandi dan mulai dari awal. “Ke atas, kayaknya. Tapi ikalmu itu. Gila.”

“Kamu pakai apa?” tanya Jennie.

“Kael belikan gaun di Jogjakarta. Hijau zamrud.” Ia menuju lemari untuk mengambil tas.

“Dia beliin kamu gaun?”

“Iya.” Ia membuka ritsleting tas dan menggantung gaun itu di pengait pintu lemari.

“Aku suka. Itu bakal menonjolkan rambutmu.”

“Masih ada lagi.” Maggie melangkah ke meja.

Salah satu kotaknya dilengkapi kunci digital dengan kombinasi yang bisa diprogram. Ia menjatuhkan penutup berornamen yang menyamarkan tambahan modern itu lalu mengetikkan kodenya.

Saat kotaknya dibalik dan dibuka, Jennie menarik napas. “Ini asli?”

Ia mengangguk. “Aku enggak pingin menerimanya. Tapi—”

“Jadi kenapa kamu menerimanya?”

Tiba-tiba Maggie teringat Davis Adiputra pernah mencoba membelikan perhiasan untuk Jennie di awal hubungan mereka, dan Jennie menolaknya.

“Susah nolaknya. Menurutmu aku salah?” Rasa bersalah pum menyergapnya.

Jennie mengusap dahi Biann, menghaluskan garis tegang yang sempat melintas di wajahnya selama itu.

"Enggak ada yang salah. Keadaanmu jauh berbeda." Ia mengulurkan tangan untuk memegang kotak perhiasan itu.

"Setidaknya selama kami di sini. Begitu pulang, dia harus kembali ke hidupnya."

Tatapan Jennie bertemu dengan tatapannya. "Kalian berdua pacaran?”

”Kami, umm?”

Maggie ragu. Biasanya ia tidak menyembunyikan banyak hal dari Jennie. Kakaknya itu selalu tahu soal Biann dan ikut menemaninya ke janji dokter sebelum ia cukup berani memberi tahu orang tua mereka.

Namun ada rasa tidak nyaman tentang penilaian yang ia tangkap dari Jennie soal perhiasan itu.

Jennie belum yakin. Itu membuat Jennie tertawa. "Aku yakin kalian pacaran. Kamu kelihatan bahagia."

"Jangan khawatir, Jennie. Aku tahu ini cuma mimpi. Enggak akan bertahan. Aku bakal bersenang-senang beberapa hari ini aja." Maggie mengambil kotak itu dan menutupnya. "Lalu aku lanjutkan hidupku sebagai Single mom yang bekerja di toko keluarga."

Biann bergerak, dan Jennie meletakkan tangan di perutnya. "Kamu tahu, itu terdengar persis kayak alur di series Hallmark."

Memang benar. Menonton film-film itu adalah salah satu hobi favorit mereka.

"Iya, kah? Tapi biasanya enggak ada miliarder. Biasanya tukang roti atau tukang serabutan."

Jennie mengernyit sambil berpikir. "Kamu benar. Tapi aku ingat Pretty Woman."

Itu membuatnya tertawa. "Aku bukan pekerja seks, Jennie."

Pipi Jennie memerah. "Aku enggak bermaksud begitu."

"Yakin?"

"Itu kan katamu." Jennie pura-pura menutup telinga Biann. "Maksudku, Milyarder yang terlalu sibuk dan sesekali perlu untuk mencium mawar."

Sejenak Maggie terdiam, teringat taman mawar dan bertanya-tanya apakah Jennie memergokinya.

Jennie berjalan ke meja dan menyentuh kotak perhiasan. "Jangan remehkan dirimu. Bisa aja ada pria baik di Jakarta."

"Tentu. Aku bakal menghabiskan waktu di toko dan merawat Biann."

Biann bergerak lagi, jadi ia mengangkatnya dan menyandarkannya ke bahunya. Bayi itu langsung bersendawa keras.

Ketukan pelan membuatnya menoleh ke pintu.

Nubia menyelipkan kepala ke dalam. "Ooh, lihat rambutmu, Jennie."

Jennie menyentuh rambutnya. "Maggie selanjutnya."

“Okay kalau begitu,” kata Nubia sambil merentangkan tangan ke arah bayi itu. “Dia udah menyusu, kan?”

“Sudah.” Maggie menyerahkan bayi itu kepadanya lalu memasukkan kembali barang-barang Biann ke dalam tas popok.

Sierra masuk ke ruangan. “Aku yang bawa tasnya!”

“Uh anak yang hebat,” katanya sambil menyerahkan tas itu padanya.

“Aku memang hebat! Aku mau jadi kakak!” Mata Sierra berbinar saat menatap Biann. “Aku berharap punya adik seperti Biann!”

“Aku juga,” katanya.

“Aku bakal kirim pesan kalau kami butuh kamu,” kata Nubia. “Aku akan tetap memantau selama upacara.”

“Aku mau memompa ASI sekali lagi. Perlu kukirimkan ke kamu?”

“Tinggalkan aja di sini. Aku bisa minta seseorang mengambilnya. Aku punya dua botol di kulkasku.” Nubia melambaikan tangan. “Bersenang-senanglah, Mama!” katanya sambil memutar tubuh Biann ke arahnya. Bayi itu sudah tertidur lagi di bahunya.

“Mandi dulu, Nyonya,” kata Jennie. “Sebentar lagi kita harus ke Villa pengantin untuk rambut dan riasanmu. Saatnya dandan.”

Maggie bergegas ke kamar mandi. Ia sedang menjalani mimpi paling manis.

...𓂃✍︎...

...Bagian tersulitnya adalah bertahan. Bertahan untuk tetap hidup, bertahan tetap menjadi baik-baik saja, bertahan untuk senang dari banyaknya hal yang tidak sesuai ekspektasi....

...────୨ৎ────...

1
Adellia❤
tau gak sih nyengirr teruss q selama baca ini sumpah ini momen paling sempurna buat momy yg baru lahiran berada di kota yg sejuk makan di pinggir jalan bayi yg tidur aroma kopi yg wangii dan... cowok ganteng di sebelah enggak perlu mati dulu buat ke surga ya maggie... 😍😍😍
Adellia❤
jangan lupa main ke candi borobudur ya kael enggak harus naik ke candi karna pasti repot bawa bian kasian juga panas stay ajah di kampoeng seni borobudur ada kuliner pertunjukan seni dan mini konser dari artis" daerah termasuk dari jatim juga loh😍😍
Adellia❤
kael... ya ampuun kasian bangett km iih gemezzz sini q bantu😂😂
Adellia❤
kebayang paniknya kael 😂😂
Adellia❤
kayak mimpi ya maggie bahkan untuk bayanginya ajah maless pergi" dgn bayi baru lahirr rasanya enggak mungkin😂😂
Adellia❤
ya ampuun tuh pesawat dah kayak apartemen komplitt km gak akan kesusahan maggie😍
Adellia❤
ya ampuun ampe nangiss q 😭😭 seorang cowok single tampan kaya raya punya jett pribadi datengin emak" baru lahiran punya bayi kecil kira" segede apa cintanya kael ke maggie😭😭
Adellia❤
hidup sesuka hati manusia lenyap dalam sekejap😂😂
Adellia❤
seriuss 200 galon?? banjir bandang donk.. 😂😂 ah jadi ingett mas" yg nyumbang ratusan milyar di sumatra kemaren dan dy bener" memastikan sumbanganya utuh sampai ke masyarakat tanpa di potong ini itu😍😍
Adellia❤: iya loh sumpah salut banget dy tuh bener" manej sendiri sumbangan dari donatur bener" utuh jadi bener" sampe ke masyarakat yg membutuhkan😍😍
total 2 replies
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
sipuuttt
lagii saii😍
Cindy
lanjut
Dwi ratna
kirain kael bpknya bian, berarti judulnya benih titipan musisi nmanya bukan milyader
Cindy
lanjut
Dwi ratna
s bian anknya kael bukan si? 😤
Cindy
lanjut
Putri Salju
lanjuutt💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!