NovelToon NovelToon
Anak Untuk Rayyan

Anak Untuk Rayyan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Nikahmuda / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana.

Entah bagaimana Alana bisa terbangun dalam sebuah kamar asing dengan seorang pria di sampingnya. Tapi bukan itu masalahnya.

Masalahnya, video mereka malam itu diputar di momen yang paling Alana tunggu setelah kelulusan yaitu penghargaan dirinya sebagai siswi paling berprestasi.

Cerita ini remake dari tulisanku Dalam Pelukan Dosa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 - New Alana

Hari sudah siang. Rumah sudah rapi, lantai sudah dipel, dan dapur bersih tanpa satu piring kotor pun. Makan siang untuk Alana juga sudah disiapkan di meja makan.

Rayyan bersiap untuk pergi ke Brawline, coffee shop tempat kerjanya. 

Dia berdiri di depan cermin sambil merapikan rambutnya, lalu mengambil jaket yang digantung di belakang pintu, memakainya sambil memutar bahunya sedikit. Saat hendak pergi, dia menoleh. Ranjang itu masih terisi. 

Alana masih tertidur.

Dengan langkah pelan, Rayyan mendekat tanpa menimbulkan suara. Dia berhenti tepat di sisi ranjang, di depan Alana yang tidur dengan tubuh miring ke samping. Selimut hanya menutup sampai pinggangnya.

Rambutnya berantakan, beberapa helai menempel di pipi. Napasnya teratur, namun wajah Alana terlihat sangat lelah. Matanya bengkak bahkan meski tertutup. Sisa air mata terlihat mengering di sudut mata dan pipi.

Semalaman Alana menangis hebat. Dia baru bisa tidur ketika matahari sudah terbit. Daripada tidur lelap, Alana lebih terlihat seperti kehabisan energi.

“Gue tahu lo kuat, Na,” ucapnya lirih. 

Rayyan memandang Alana cukup lama. Diam. 

Lalu, tatapannya beralih ke perut Alana. Rayyan tersenyum kecil. Dia menunduk sedikit, mendekat ke perut Alana sambil tetap menjaga suara serendah mungkin.

“Papa pergi kerja dulu ya.”

Ucapannya ringan, seperti bercanda, tapi cara dia mengatakannya ada rasa sayang yang nyata.

Rayyan berdiri kembali, mengambil kunci motor dari nakas kecil dekat pintu, memastikan tidak ada suara yang mengganggu Alana. Dia membuka pintu kamar perlahan, mengintip sebentar untuk memastikan Alana tidak terusik.

Setelah yakin semuanya aman, Rayyan keluar dan menutup pintu tanpa suara, menyelinap ke luar rumah untuk berangkat kerja.

Sementara itu, Alana bangun ketika matahari perlahan turun dari puncaknya. Cahaya yang masuk lewat celah tirai mengenai wajahnya, membuatnya mengerjapkan mata pelan. Kelopak matanya terasa berat seperti ditarik dari dua sisi. Bengkak, panas, dan perih saat bergerak. 

Dia menarik napas pendek. Kepalanya berdenyut, seperti penuh tekanan. Terasa lebih berat daripada biasanya.

Perlahan, Alana memindahkan tubuhnya ke tepi ranjang. Gerakannya lambat.

Sudut matanya menangkap sepiring sarapan dan gelas minum di atas nakas. Roti dan telur yang sudah mulai mendingin. Air minum sudah tidak berembun lagi.

Perutnya tiba-tiba mual. Alana berdiri dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Begitu tiba, dia langsung memuntahkan isi perutnya.

Dia bertahan sebentar, memegang wastafel untuk menjaga keseimbangan. Setelah itu, dia menyalakan keran dan meraup air dengan kedua tangannya. Dia berkumur, membilas bibirnya, lalu menumpahkan sisa airnya ke wastafel.

Saat dia mengangkat kepala, cermin di depannya terlihat buram tertutup uap tipis. Mungkin sisa mandi Rayyan sebelumnya.

Ada dorongan untuk Alana mengangkat tangannya dan mengusap permukaan cermin dengan telapak tangan. Gerakannya lambat, meninggalkan jejak lebar di kaca.

Pantulan wajahnya terlihat di cermin. Tatapannya yang kosong perlahan berubah datar, menatap cermin itu.

Rambut kusut berantakan. Wajah sayu dan lesu. Mata bengkak dan sembab. Bekas air mata di pipi dan sudut mata. Kantung mata menggelap. Kulit wajah kering hingga terlihat mengelupas di bagian pipi. Bibirnya pecah-pecah.

Alana menatap dirinya cukup lama. Tidak bergerak. Tidak berkedip. Semakin lama, ada rasa jijik yang Alana rasakan.

Alana baru melihat betapa menyedihkannya dia sekarang.

Lalu Alana teringat ucapan Rayyan semalam.

Alana yang dulu tidak seperti ini. Alana yang dulu selalu tampil rapi, elegan, dan menawan. Wajahnya selalu sempurna. Sorot matanya penuh percaya diri.

Alana sekarang… menyedihkan.

Terbesit di pikirannya, bagaimana Rayyan bisa tahan melihatnya setiap hari seperti ini? Padahal baru sekali Alana melihatnya dia sudah merasa jijik dan muak pada dirinya sendiri.

Jantungnya bergemuruh hebat.

Tiba-tiba, Alana merindukan dirinya yang dulu.

Alana menunduk. Tidak ingin melihat wajahnya lebih lama lagi. Tangannya yang berada di kedua sisi wastafel bergetar.

Lalu pelan-pelan, dia mengalihkan pandangan ke rak kecil di samping cermin. Ada gunting di sana.

Tanpa pikir panjang, Alana mengambil gunting itu.

Dia berdiri kembali di depan cermin.

Menatap dirinya sekali lagi.

Alana menarik napas panjang. Dan tanpa ragu, Alana mulai menggunting rambut panjangnya.

...***...

“Assalamualaikum!” 

Suara Rayyan terdengar pelan tapi jelas saat pintu apartemen terbuka. Lampu sensor di area pintu menyala. Rayyan melepas sepatu dan meletakkannya di tempat semula. Satu tangannya memegang kantong plastik.

Rayyan berjalan masuk, menatap ke sekitar. Apartemen itu masih rapi seperti saat Rayyan meninggalkannya. Tidak ada benda yang bergeser. Tidak ada gelas kotor di meja.

Rayyan menoleh ke arah balkon. Tapi Alana tidak ada disana. Rayyan menduga mungkin Alana sedang berada di kamar.

Rayyan segera menuju ke meja makan, menaruh kantong plastik yang dibawanya ke atas meja makan.

“Alana, ini gue bawa soto ayam. Ayo makan!” panggil Rayyan.

Rayyan berjalan ke dapur, mengambil dua mangkok bersih dari rak, lalu kembali ke meja makan untuk menyiapkan soto ayam yang dibelinya.

Saat kembali, Rayyan membuka tudung saji. Gerakannya terhenti ketika melihat ayam goreng yang dibuatnya tadi pagi berkurang satu. Nasi dan tumis kangkung yang dibuatnya juga berkurang. 

Rayyan membeku sebentar. Padahal biasanya setiap pulang, makanan itu selalu utuh tanpa tersentuh sama sekali.

Tiba-tiba, terdengar pintu kamar terbuka. Rayyan menoleh. “Na, ini…” 

Ucapan Rayyan tidak selesai. Rayyan terpaku. 

Alana berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang berbeda. Rambut panjangnya kini berubah menjadi pendek sebahu. Bajunya rapi, bukan hanya piyama yang diambil Rayyan secara asal-asalan dan belum diganti dari kemarin. Wajah Alana terlihat lebih segar dengan sapuan make up tipis di wajahnya. 

Alana hanya diam. Namun kali ini tatapannya tidak kosong, tatapan itu jelas tertuju pada Rayyan.

Alana melirik tangan Rayyan yang memegang tudung saji. “Gue makan makanannya.” 

Dan… Alana ngomong!

Nada suaranya terdengar datar dan tenang seperti yang Rayyan tahu.

Alana melangkah keluar. Langkah kakinya tampak lebih mantap dan terukur, tidak lagi terseret seperti sebelumnya.

Alana berdiri di seberang meja di depan Rayyan.

Rayyan menatapnya tanpa berkedip. Mulutnya terbuka sedikit. 

Alana menghela napas pendek, tampak tidak nyaman dengan tatapan itu. “Kalau gue aneh, ngomong aja langsung.”

“Enggak.” 

Rayyan menggeleng cepat. 

Dia menatap Alana lekat, kemudian tersenyum lembut. “Lo… cantik.”

Ada sensasi hangat yang perlahan muncul di dadanya. Biasanya pujian seperti itu hanya terdengar seperti omong kosong baginya, namun kali ini terasa berbeda.

Alana berusaha mempertahankan wajah datarnya, menahan sudut bibirnya agar tidak terangkat. “Gue emang selalu cantik,” jawabnya datar.

Senyum Rayyan melebar, matanya sedikit berkedip cepat seperti orang yang merasa lega sekali. Sorot wajahnya jelas menggambarkan rasa senang yang tidak bisa disembunyikan.

Alana tampak kembali seperti dulu.

“Oke,” balas Rayyan pelan.

Alana duduk di kursi. Sementara Rayyan mulai menyiapkan soto ayam yang dibawanya. Perlahan, Rayyan menuangkannya ke mangkok, menaruh koya, perasaan jeruk nipis, dan sambal. Tangannya bergerak rapi, sudah terbiasa meracik makanan.

“Kata Bunda, lo nggak boleh makan terlalu pedes. Jadi, dikit aja ya sambelnya,” ucap Rayyan sambil melirik Alana sebentar.

Alana tidak menjawab. Tatapannya hanya mengikuti gerakan tangan Rayyan sebentar, lalu kembali lurus ke depan.

Rayyan hanya tersenyum tipis.

Tidak lama, Rayyan selesai menyiapkan dua mangkok soto ayam. Dia mendorong satu mangkok ke depan Alana

“Makan dulu,” ucap Rayyan. 

Dia memperhatikan Alana.

Alana melirik mangkuknya. Kuahnya bening kekuningan, uapnya naik tipis. Bau bawang gorengnya kuat. Dia meraih sendok, mengaduk sedikit, lalu menyuap perlahan. 

Tidak ada ekspresi di wajahnya, namun Alana memakan makanannya sendiri.

Rayyan tersenyum lebar. 

Melihat tatapan Alana tidak lagi kosong saat sudah membuatnya bahagia, apalagi melihat Alana makan sendiri di depannya dengan wajah yang kembali seperti sebelumnya.

Rayyan mengambil sendok, lalu ikut makan sendiri.

Alana tidak menghabiskan makanannya, seperti biasa. Dia hanya makan setengah porsi. Perutnya terasa enek ketika makan terlalu banyak.

Rayyan sudah menghabiskan makanannya. Dia bangun, mengambil mangkok kosong dan membawanya ke dapur. Lalu, dia kembali untuk membersihkan meja.

Sementara itu, Alana tetap duduk diam di tempatnya. Tapi tiba-tiba Alana berdiri, menatap Rayyan datar. “Vitamin gue.”

Rayyan terdiam sebentar. “Vitamin… oh iya vitamin. Lo minum vitamin ya.” 

Rayyan menepuk keningnya. “Gue sampe lupa saling senengnya lihat lo sekarang.”

Rayyan segera mengambilkan vitamin Alana dari lemari kecil di dekat kulkas, lalu menyerahkan pada Alana. 

Alana minum dengan sendirinya tanpa banyak bicara.

Rayyan masih memperhatikan setiap gerakan Alana dengan senyum di wajahnya. 

“Na,” panggil Rayyan pelan.

Alana menoleh.

“Karena gue lagi seneng dan lo juga udah cantik, gimana kalau kita keluar?”

...----------------...

1
Nadiaaa
kpn up lagi kak
Retno Harningsih
up
Nadiaaa
doubel up kk🤭
Chillzilla: yahhh udah aku set satu² kak😁
total 1 replies
Nadiaaa
semangat nulisnya kak 💪 lanjut terus sampe tamat💗
Chillzilla: makasih kak🤗🤗
total 1 replies
Nadiaaa
👍
Nadiaaa
kpn lanjut kak
Chillzilla: nanti sore kakk
total 1 replies
Nadiaaa
suka❤️‍🔥
Nadiaaa
lanjut
Nadiaaa
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!