NovelToon NovelToon
RAHASIA SURAT WASIAT

RAHASIA SURAT WASIAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:704
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.

Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketemuan Yang Menyakitkan

Sinar matahari siang menerangi Pasar Cihampelas dengan terik, membuat udara di sekitar pasar terasa panas dan lembap. Ridwan sedang melayani seorang pembeli yang menderita gatal-gatal akibat alergi, menjelaskan dengan sabar cara penggunaan ramuan daun sirih dan kunyit yang dia siapkan. Tempat lapaknya sudah semakin dikenal oleh banyak orang, dan hari ini dia telah menjual hampir separuh dari stok ramuan yang dia bawa.

Tiba-tiba, suara teriakan kasar menggangu suasana yang sedang ramai namun tenang. “Jangan beli obat dari penjual kampungan seperti ini!” suara tersebut terdengar dengan jelas di tengah keramaian. “Obatnya tidak teruji dan bisa membuat kamu sakit lebih parah!”

Ridwan mengangkat kepalanya dan melihat seorang pria muda berusia sekitar dua puluhan tahun dengan penampilan mewah mengenakan jas kulit hitam dan kacamata hitam besar mendekat ke arah lapaknya. Pria tersebut memiliki rambut hitam yang diatur dengan rapi dan wajah yang tampak sombong serta penuh dengan rasa tidak senonoh. Ridwan mengenalnya dengan jelas—itu adalah Rio, saudara tirinya yang pernah membawanya ke hutan dengan niat jahat delapan tahun yang lalu.

Namun, Rio seolah tidak mengenali Ridwan sama sekali. Dia berdiri di depan lapak dengan tangan yang disilang di dadanya, melihat ramuan obat di atas meja dengan ekspresi yang penuh dengan penghinaan. “Lihat saja ini!” ujarnya dengan suara yang cukup keras agar banyak orang bisa mendengar. “Ramuan yang dibuat secara sembarangan tanpa izin resmi, ditempatkan di atas meja yang tidak bersih—siapa yang berani meminumnya?”

Beberapa pembeli yang sedang menunggu berbalik arah dan mulai menunjukkan ekspresi ragu-ragu. Ridwan tetap tenang, berdiri dengan tegap dan melihat Rio dengan mata yang penuh dengan tekad. “Tuan mungkin salah paham,” katanya dengan suara yang jelas dan tenang. “Semua ramuan yang saya jual dibuat dengan resep tradisional yang telah terbukti efektif selama bertahun-tahun. Saya menggunakan bahan-bahan alami yang bersih dan segar, dan telah membantu banyak orang dengan masalah kesehatan yang tidak kunjung sembuh dengan obat-obatan modern.”

Rio hanya menertawakan kata-kata Ridwan dengan suara yang menyakitkan hati. “Resep tradisional?” tanya dia dengan nada penuh dengan penghinaan. “Itu hanya alasan bagi orang-orang yang tidak memiliki pendidikan dan keahlian untuk membuat obat yang tidak aman! PT. Dewi Santoso—perusahaan saya—menjual obat-obatan yang sudah teruji secara ilmiah dan memiliki izin resmi dari pemerintah. Itulah obat yang seharusnya kamu beli, bukan sampah seperti ini!”

Ridwan merasa darahnya mulai mendidih dengan kemarahan, tapi dia tetap menjaga emosinya dengan baik. Dia tahu bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk membongkar identitasnya atau bertengkar dengan Rio. “Setiap orang memiliki hak untuk memilih jenis pengobatan yang cocok untuk dirinya sendiri, Tuan,” jawabnya dengan suara yang tetap stabil. “Saya tidak memaksakan orang untuk membeli ramuan saya—mereka datang sendiri karena telah mendengar testimoni dari orang lain yang telah merasakan khasiatnya.”

Pada saat yang sama, Mira yang baru saja datang ke pasar untuk membeli ramuan lagi melihat kejadian tersebut dari kejauhan. Dia segera mendekat ke arah lapak dengan langkah yang cepat, berdiri di samping Ridwan dengan ekspresi yang penuh dengan kemarahan. “Rio, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya dia dengan suara yang jelas dan tegas. “Mengapa kamu menghina pedagang yang hanya mencoba membantu orang lain?”

Rio melihat Mira dengan ekspresi yang sedikit terkejut, kemudian segera mengubah wajahnya menjadi lebih sopan. “Oh, Mira,” ujarnya dengan suara yang lebih lembut. “Aku hanya khawatir akan keselamatan masyarakat. Penjual obat yang tidak memiliki izin seperti ini bisa membahayakan banyak orang.”

“Tidak benar sekali apa yang kamu katakan!” jawab Mira dengan suara yang penuh dengan keyakinan. “Saya sendiri telah merasakan khasiat ramuan yang dibuat oleh mas ini. Sakit kepala kronis yang saya derita selama bertahun-tahun sudah membaik secara signifikan setelah hanya beberapa hari mengkonsumsinya. Semua ramuan yang dia jual aman dan efektif!”

Beberapa pembeli yang telah merasakan manfaat ramuan Ridwan juga mulai bersuara mendukungnya. “Benar sekali!” suara seorang wanita tua terdengar dengan jelas. “Ramuan dari mas ini telah menyembuhkan sakit pinggang saya yang sudah tidak kunjung sembuh selama setahun!”

“Ya! Saya juga sudah merasakan khasiatnya!” tambah seorang pria muda di sebelahnya. “Sakit maag yang saya derita sudah tidak muncul lagi setelah mengkonsumsi ramuan dari sini!”

Rio melihat sekeliling dengan ekspresi yang penuh dengan kekesalan. Dia tidak menyangka bahwa Ridwan memiliki banyak pendukung yang siap membela dirinya. “Baiklah, jika itu yang kamu inginkan,” katanya dengan suara yang penuh dengan kemarahan tersembunyi. “Tetapi ingatlah—jika ada orang yang sakit karena meminum obat dari penjual kampungan ini, perusahaan saya tidak akan bertanggung jawab!”

Dengan itu, Rio berbalik dan pergi dari pasar dengan langkah yang cepat dan marah. Mira melihatnya pergi dengan ekspresi yang penuh dengan kesedihan, kemudian berbalik ke arah Ridwan dengan wajah yang penuh dengan maaf. “Maafkan aku, mas,” ujarnya dengan suara yang lembut. “Rio adalah anak perusahaan dan seringkali bertindak semena-mena tanpa memikirkan perasaan orang lain. Dia tidak tahu apa-apa tentang pengobatan tradisional dan hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang kuno dan tidak berguna.”

Ridwan hanya tersenyum lembut, mengangguk dengan pemahaman. “Tidak apa-apa, Ibu Mira,” jawabnya dengan suara yang tenang. “Saya tidak keberatan dengan apa yang dia katakan. Yang penting adalah saya bisa membantu orang lain yang membutuhkan, dan mereka yang sudah merasakan khasiat ramuan saya tahu bahwa apa yang saya lakukan adalah benar.”

Setelah kejadian tersebut, pembeli justru semakin banyak datang ke lapak Ridwan. Mereka yang awalnya ragu sekarang semakin yakin dengan khasiat ramuan yang dia jual, terutama setelah melihat bagaimana dia bisa tetap tenang dan sopan meskipun dihina oleh orang yang berpangkat tinggi seperti Rio.

Pada sore hari, setelah pasar mulai sepi dan siap untuk ditutup, Ridwan duduk di kursi yang tersedia dengan rasa lelah namun juga rasa puas. Dia telah berhasil mengatasi ujian pertama yang diberikan oleh Rio tanpa harus menggunakan kekerasan atau membongkar identitasnya. Ini menjadi pembelajaran berharga baginya bahwa kekuatan kata-kata yang bijak dan kesabaran bisa lebih efektif daripada kemarahan dan kekerasan.

Dia mengambil buku pengobatan milik ibunya dari tasnya, membukanya dengan hati-hati dan melihat tulisan tangan ibunya yang rapi di antara halaman-halaman buku tersebut. Di hatinya, dia berjanji bahwa dia tidak akan pernah menyerah dalam menghadapi rintangan dan penghinaan seperti yang dilakukan oleh Rio. Besok pagi, dia akan pergi menemui keluarga Wijaya dan mulai mengambil langkah-langkah penting untuk mengungkap kebenaran dan memberikan keadilan bagi ibunya. Dia tahu bahwa perjalanan yang akan dia tempuh tidak akan mudah, tapi dengan dukungan dari orang-orang baik seperti Pak Joko, Mira, dan pembeli yang telah mempercayainya, dia merasa bahwa dia memiliki kekuatan yang dibutuhkan untuk menghadapi segala tantangan yang akan datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!