NovelToon NovelToon
Tanah Wonosobo

Tanah Wonosobo

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Duda / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.

Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.

Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.

Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.

Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?

Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hanya ego

  Galih mencoba mengusir hawa dingin yang menusuk kulit, dengan memakai jaket tebal. Bersama Rama, ia pergi berziarah ke makam kedua orang tua Arumni yang berada di desa. Mereka berjalan kaki dari mobil ke makam, melewati jalan yang dipenuhi rumput liar, saat langit masih gelap.

  Di makam, Galih menatap sendu. Ia teringat kenangan bersama kedua orang tua Arumni yang pernah menjadi mertuanya itu—tentang bagaimana dulu ia meminta restu, restu yang diberikan secara terpaksa oleh bu Sari.

  "Assalamu'alaikum, mbah ibu. Assalamu'alaikum, mbah kakung." Ucap Rama setibanya di sana.

  "Ternyata ibu benar, aku memang bukan suami yang baik untuk Arumni," selalu kata itu yang Galih bisikan dalam hati, ketika berziarah ke makam pak Yadi dan bu Sari. Setelah itu, baru Galih membersihkan makam pak Yadi dan bu Sari, lalu meletakan bunga diatasnya.

 "Mbah ibu... Mbah kakung... Cucu mu yang tiba-tiba sudah sebesar ini, masih memiliki keinginan yang belum terwujud. Aku ingin, sekali saja bisa pergi sama ayah dan ibu, seperti keluarga yang lain, meskipun ayah dan ibu sudah berpisah."

 Dipegangnya pundak Rama setelah mendengar curhatannya itu, "Rama, mbah ibu sama mbah kakung nungguin doa dari kita, bukan curhatan kamu." Sergah Galih yang langsung mendapat jawaban dari belakang.

 "Keinginan mu akan terwujud, Rama." Ucap Adit yang langsung membuat Galih dan Rama menoleh cepat.

  "Ayah!" dengan penuh rasa bahagia Rama menghampiri, mencium tangan dan memeluk Adit seperti dia sedang melakukan pada ayah kandungnya sendiri, lalu melakukan hal yang sama pada Arumni.

 "Terimakasih, Tya." Bisik nya saat memeluk Tya. Rupanya mereka telah membuat kesepakatan melalui chat semalam, agar Tya memberi kesempatan pada Rama, bisa bersama-sama ayah dan ibunya di makam itu.

  "Sama-sama," bisik Tya yang membuat Arumni merasa ingin tahu apa yang mereka bisikan.

 Adit memberi kesempatan pada Galih yang memimpin doa. Setelahnya Adit terburu-buru pamit akan bertugas, membiarkan anak dan istrinya bersama Galih sesuai keinginan Rama.

 "Aku harus pergi sekarang, tugas sudah menunggu." Kata Adit, lalu memberi pesan pada Galih. "Galih, mumpung hari libur buatlah Rama bahagia sesuai keinginannya."

 Ucapan Adit membuat Galih bingung dalam menanggapi, "iya." Jawabnya singkat, sambil mengangguk.

  "Terimakasih, ayah. Ayah sudah memberi kesempatan untuk ibu bersama kita sebentar." Ucap Rama pada Adit.

 Adit mengusap kepala Rama, "sama-sama, sayang." Lalu berbisik pada Tya sembari melirik Arumni, "awasi ibu mu ya, sayang."

  "Siap, ayah." Katanya.

  Adit tersenyum pada Arumni, ia hendak pergi begitu saja, membuat Arumni memanggilnya sebelum jauh.

  "Mas." Panggil Arumni seraya berlari mengejarnya, "kamu nggak papa, kan?" ucap Arumni sesampainya di belakang Adit.

 Adit memegang tangan Arumni dengan memberi sedikit tekanan lembut. "Aku percaya padamu. Aku memang merasa sedikit sakit, tapi aku tahu ini hanya ego." Adit menghela napas dalam, mencoba melepas perasaan itu. "Aku rasa ini keputusan yang tepat, sesekali membiarkan kalian memiliki waktu buat Rama."

 "Tapi mas—" ucap Arumni yang langsung dipotong oleh Adit.

  "Galih kakak mu, kan? bersenang-senang lah bersama kakak, ya?" Gurau Adit yang membuat Arumni merasa semakin tak enak hati.

 Rasa takut masih ada, meski ia tahu bahwa emosi suaminya itu selalu stabil. Dipandangnya punggung suaminya yang terburu-buru pergi meninggalkan makam, sesekali Adit menoleh untuk memberikan senyuman lembut, meyakinkan pada sang istri bahwa dirinya akan baik-baik saja.

 Udara mulai terasa hangat, mereka pun pergi meninggalkan makam.

 "Ayo om Galih, kita ke desa ibu." Ajak Tya sembari menarik-narik tangan Galih, lalu mereka berjalan mendahului Arumni dan Rama melewati jalan yang ditumbuhi rumput liar itu.

  Tangan Rama melingkar ke lengan Arumni, rasa bahagianya tak terhingga saat mendapat kesempatan itu.

 Arumni tersenyum menatap Rama. "Rama, kamu cepat sekali tumbuhnya? baru SMP sudah lebih tinggi dari ibu."

 "Ayah bilang nggak pernah lihat aku tumbuh." Ucap Rama yang membuat Arumni tertawa.

 "Memangnya, ada yang pernah lihat pertumbuhan orang lain?"

 "Eemm, aku rasa nggak ada. Ayah cuma bercanda."

 Di sepanjang jalan yang ditumbuhi rumput liar itu, Arumni dan Rama membicarakan banyak hal. Begitu asyiknya sampai Arumni tidak menyadari, saat mereka hampir sampai di mobil Galih, Galih berhenti dan berbalik arah, hingga membuat Arumni terkejut, dan hampir terjatuh saat menabrak Galih.

"Aaaaa...!!" Arumni menjerit ketika dirinya hampir terjatuh saat menabrak Galih.

 Beruntung dengan sigap Rama menangkap tubuh Arumni, jika tidak mungkin Arumni sudah jatuh tersungkur ke tanah.

Napasnya terengah-engah. "Huft, hampir saja," Ucapnya, seraya meletakkan tangan ke dada.

"Hati-hati ibu." Ucap Rama dan Tya.

"Maaf Arumni, aku tidak sengaja," ucap Galih yang langsung dipotong oleh Arumni.

"Aku yang minta maaf, mas. Aku nggak tahu kalau kamu berhenti di sini."

Semua jadi tertawa akibat insiden itu, lalu Galih membukakan pintu untuk Arumni, namun Rama dan Tya menyuruhnya untuk duduk di kursi depan. Arumni menolak sementara Galih diam penuh harap.

"Kamu saja yang di depan Rama... Biar ibu sama Tya tetap di belakang." Katanya.

"Nggak papa, ibu. Cuma sebentar juga sampai," kata Rama.

"Iya, ibu. Ayah juga sudah mengijinkan ibu, kan?" saut Tya.

"Tya... Rama..." Arumni tak ingin membuat Adit merasa cemburu, meskipun dia tidak melihatnya.

"Ibu...." Ucap Rama dan Tya memohon, yang akhirnya membuat Arumni terpaksa mau duduk di depan.

"Nurut aja Arumni, biar kita cepat sampai." Galih bicara pelan, namun Arumni tetap mendengarnya. "Sudah, ayo naik!" ajak Galih sebelum menekan pedal gas.

Arumni akhirnya mau duduk di depan, anak-anak tidak akan pernah memahami hubungan orang dewasa. Untung jarak makam dan desa Arumni sudah tidak begitu jauh, jadi rasa tegang itu tidak akan berlangsung lama, pikirnya.

Galih melajukan mobilnya, pelan. Sebelum memasuki gapura desa Arumni, Galih memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.

"Kenapa turun di sini, mas?" tanya Arumni.

"Iya, om Galih. Kenapa turun di sini?" saut Tya.

"Iya, ayah?" imbuh Rama.

Galih membuka sabuk pengamannya, "kalian mau lihat matahari terbit paling indah?"

"Mau..." jawab Rama dan Tya dengan antusias.

Arumni tersenyum, lalu ikut turun dari mobil mengikuti Galih dan anak-anak.

Mereka berdiri di atas bukit, menatap ke arah matahari terbit. Matahari di pagi itu memancarkan sinar emas yang menyinari seluruh TANAH WONOSOBO yang masih sepi, hanya ada kicauan burung dan udara segar.

Arumni tampak menahan napas, menatap lukisan alam yang begitu indah itu.

"Aku berjanji untuk selalu menatap ke arah timur, menantikan keindahan ini setiap hari." Sepenggal ungkapan rasa dari Galih untuk Arumni yang sudah mustahil untuk dimiliki.

"Mas, ini wilayah ku, aku tinggal di sini, tapi aku belum pernah lihat matahari terbit dari sini." Kata Arumni.

"iya, aku tahu."

Arumni menatap Galih, "sudah tahu? aku baru memberi tahu sekarang lo, mas."

"Ya, aku tahu saja. Karena kan sudah pasti di jam segini, orang-orang sedang sibuk bersiap untuk kerja atau sekolah, jadi mana mungkin akan sempat melihat ini."

"Iya, kamu benar."

"Jadi boleh dong, aku minta foto bertiga." Ucap Rama yang membuat Galih dan Arumni menoleh ke arahnya, "biar aku bisa cerita sama teman-teman ku, ibu... aku juga ingin mereka tahu kalau aku punya ibu seperti mereka."

"Iya, ibu, kasihan kakak Rama." Kata Tya sambil meminta ponsel Rama, "sini aku fotoin."

Ucapan Rama dan Tya tak mampu membuat Arumni menolak. Mereka foto bertiga dengan Tya sebagai fotografer.

Rama merasa cukup bahagia setelah mengambil banyak foto bersama ayah dan juga ibunya, lalu mereka melanjutkan perjalanan ke rumah Arumni yang letaknya sudah tidak begitu jauh dari gapura itu.

...****************...

1
Althea
aku kasih vote buat karyamu ya thor 👍
Restu Langit 2: terimakasih 😍
total 1 replies
Djabat
bahagianya A A 😄
Restu Langit 2: iya 🤭
total 1 replies
Djabat
semoga selalu bahagia Adit arumni
Restu Langit 2: Aamiin
total 1 replies
Djabat
semoga terwujud cita-citanya ya Rama
Restu Langit 2: Aamiin ☺
total 1 replies
Djabat
sip, keren👍
Djabat
nah lo
Djabat
ha ha arumni bisa aja
Restu Langit 2
oke, terimakasih banyak ☺
Djabat
aku bayangin gimana modisnya mama alin dalam berpenampilan
Djabat
mas ayah🤣🤣
Restu Langit 2: ha ha 🤣
total 1 replies
Djabat
semoga cepet move on dari masalalu ya Galih.
Restu Langit 2: aamiin
total 1 replies
Djabat
betul mama alin
Djabat
ganteng-ganteng jerawatan 😄
Restu Langit 2: pubertas 🤭
total 2 replies
Djabat
nikah lagi aja Galih. Lama-lama pasti lupa sama masalalu mu
Restu Langit 2: sedang diusahakan🤭
total 1 replies
Djabat
ikut saja arumni, cuma di alun-alun kan? 😄
Restu Langit 2: takut suaminya salah sangka 🤭
total 1 replies
Djabat
aku sudah baca langit Wonosobo thor 👍
Fatra Ay-yusuf
jangan biarkan masalalumu membelenggumu Galih, kubur masalalumu rajutlah kisah yng baru,
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/
Restu Langit 2: terimakasih banyak wahai readers 😘😘
total 1 replies
Fatra Ay-yusuf
wahwah kiren nikah gw nggk di undang nih thor 🤣
Restu Langit 2: Sepuluh tahun itu cukup mengubah banyak hal, sampai nggak ada yang tahu kapan dia nikah 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!