Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Om Tampan
“Arga, hari ini kamu sibuk?” tanya Melani saat mereka sedang sarapan bersama.
Arga menoleh sekilas. “Sepertinya tidak, Ma. Ada apa?”
“Rencananya nanti siang Mama ingin mengajak kamu dan Vara ke butik langganan Mama, untuk fitting gaun pengantin,” ujar Melani tenang.
Arga berhenti menyuap makanannya. “Tidak usah, Ma. Suruh saja pihak butik membawa gaun terbaik mereka ke rumah. Biar Vara mencobanya di sini saja.”
Melani terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. Ia tidak perlu bertanya lebih jauh.
“Baiklah,” ucap Melani sambil melanjutkan sarapannya. “Kalau begitu, nanti sepulang kantor, Vara langsung kamu bawa ke sini.”
Arga mengangguk singkat.
...Ia kemudian menoleh ke arah Luna. “Luna, kamu sudah siap Ayo, kita berangkat sekarang. Om sekalian akan mengantar Luna ke sekolah.”...
“Sudah, Om. Ayo,” jawab Luna ceria.
Sebelum berangkat, Luna menghampiri kakek dan neneknya lebih dulu.
“Kakek, Nenek, Luna berangkat sekolah dulu ya,” ucap Luna sambil memeluk mereka bergantian.
“Hati-hati di jalan, Sayang,” ujar Nicholas sambil tersenyum.
“Belajar yang rajin,” tambah Melani lembut.
Luna lalu menoleh pada Arga. “Om, ayo berangkat.”
Arga mengangguk.
Di dalam mobil, suasana terasa hangat dan tenang. Beberapa saat kemudian, Luna memecah keheningan.
“Om…” panggilnya pelan.
“Hmm?” Arga melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalan.
“Om benar-benar akan menikah dengan Kak Vara, kan?” tanya Luna dengan mata berbinar.
Arga terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis. “Doakan saja ya, Luna. Semoga semuanya berjalan lancar.”
Luna mengangguk mantap. “Iya, Om. Luna akan selalu mendoakan Om dan Kak Vara… juga keluarga kita.”
Ucapan polos itu membuat dada Arga menghangat. Ia mengelus lembut pucuk kepala Luna sebelum kembali memusatkan perhatian pada jalan.
Waktu berlalu tanpa terasa. Jam dinding di ruang kerja Arga menunjukkan pukul tiga sore. Hari ini ia berniat pulang lebih awal.
“Erick,” panggil Arga saat sahabatnya masuk membawa beberapa berkas.
“Iya?” sahut Erick sambil meletakkan map di atas meja.
“Tolong panggilkan Vara,” ujar Arga.
Erick tidak langsung pergi. Ia menyilangkan tangan di dada, menatap Arga penuh selidik. “Ga ada yang kamu sembunyikan dariku, kan?”
Arga yang sedang menandatangani berkas berhenti, lalu mengangkat wajahnya. “Aku dan Vara akan menikah.”
“Apa? Menikah?” Erick terkejut, namun detik berikutnya ia tersenyum lebar. “Gila… kabar sebesar ini kenapa kamu sembunyikan dariku? Aku ini sahabatmu!”
“Aku lupa,” jawab Arga singkat.
“Lupa?” Erick melongo. “Kamu serius?”
“Ya. Karena semuanya mendadak. Awalnya ini permintaan Mama.”
Erick mengerutkan kening. “Kalau cuma permintaan Mama, kenapa kamu tidak menolak? Setahuku, kamu tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan.”
Arga terdiam. “Entahlah… aku juga tidak sepenuhnya mengerti. Aku hanya mengikuti kata hatiku.”
Erick mengangguk pelan. “Kalau begitu, aku setuju. Dari yang aku lihat, Vara gadis yang baik. Dia tulus menyayangi Luna. Tidak ada salahnya kamu memilihnya.”
Arga tidak menjawab, namun raut wajahnya mengisyaratkan persetujuan.
“Baiklah, aku panggilkan Vara sekarang,” ujar Erick, lalu keluar dari ruangan.
Begitu mendapat kabar bahwa Arga memanggilnya, Vara segera melangkah menuju ruang Arga. Jantungnya berdegup tak menentu. Ia masih belum terbiasa akan hal ini.
“Ya, Tuan. Anda memanggil saya?” ucap Vara begitu masuk.
“Sebentar lagi kita pulang,” kata Arga tanpa basa-basi.
“Pulang?” Vara terkejut. “Tapi jam kerja belum selesai, Tuan.”
“Aku tahu. Tapi ini perintah. Cepat kemasi barangmu, lalu tunggu aku di parkiran.”
Tanpa berani bertanya lebih jauh, Vara mengangguk dan keluar.
"Kalau Nita bertanya, aku harus bilang apa? Nita pasti penasaran melihat ku pulang lebih awal." Batinnya gelisah.
Ia kembali ke meja kerjanya dan mulai merapikan barang-barangnya.
“Ra, kamu kenapa?” tanya Nita heran.
“Aku harus pulang. Ada sesuatu yang harus aku urus,” jawab Vara singkat.
Nita semakin curiga. “Urusan apa? Tadi kan Tuan Arga memanggilmu.”
Vara tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis. “Aku pulang dulu ya, Nit.”
Tanpa menunggu balasan, Vara bergegas pergi.
Untuk saat ini, ia merasa lega karena berhasil menghindari pertanyaan Nita. Ia langsung menuju parkiran, berdiri menunggu Arga.
---
Sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun percakapan yang terjalin di antara mereka. Vara terlalu canggung untuk membuka pembicaraan, terlebih saat melihat Arga kembali pada sikapnya yang dingin dan datar, seolah jarak di antara mereka kembali terbentang lebar. Akhirnya, Vara memilih diam, menatap keluar jendela, mencoba menenangkan pikirannya sendiri.
Begitu mobil memasuki halaman rumah, Arga menangkap pemandangan sebuah mobil besar dengan boks tinggi terparkir di sana.
Pasti orang butik langganan Mama, batinnya yakin.
Sementara itu, Vara yang belum mengetahui apa pun hanya mengikuti Arga masuk tanpa bertanya.
Seperti biasa, orang pertama yang menyambut mereka adalah Luna.
“Om! Tante!” seru Luna riang sambil berlari kecil menuju Vara dan langsung memeluk pinggangnya.
“Om tidak disambut, nih,” ujar Arga datar, namun ada gurat bahagia di matanya.
Luna tersenyum lebar, lalu berdiri di tengah-tengah mereka dan menggandeng tangan Arga dan Vara bersamaan. “Sekarang sudah disambut dua-duanya.”
Melani yang melihat itu tersenyum hangat. “Vara, ayo sini,” panggilnya sambil menepuk sofa di sampingnya.
Vara segera mendekat dan duduk dengan sopan.
“Arga sudah memberitahumu kalau hari ini kamu akan fitting gaun untuk pernikahan kalian?” tanya Melani lembut.
Vara menoleh ke arah Arga. “Belum, Ma… Tuan belum memberi tahu.”
“Arga,” panggil Melani pelan, mengingatkan.
“Tadi pagi Mama hanya bilang aku harus membawa Vara pulang,” jawab Arga tenang.
Melani menghela napas kecil, lalu menggeleng pelan melihat sikap putranya.
“Baiklah, kita coba sekarang saja,” ucap Melani.
Vara mengangguk setuju.
Tak lama kemudian, Vara bersama dua orang pelayan butik menuju kamar tamu yang telah disiapkan untuk mencoba gaun.
Beberapa menit berlalu, lalu Vara keluar mengenakan gaun pertama.
“Bagaimana, Tuan, Nyonya?” tanya pelayan butik dengan hati-hati.
Arga dan Melani memperhatikan dengan saksama.
“Cantik,” gumam Arga tanpa sadar.
Namun sesaat kemudian ia menambahkan, “Tapi aku tidak suka yang ini terlalu terbuka.”
“Bagaimana menurutmu, Vara? Kamu suka?” tanya Melani, tidak ingin keputusan hanya datang dari mereka.
Vara tersenyum kecil, namun gelisah. “Kurang nyaman, Ma.”
Gaun pertama itu memang sangat pas di tubuh Vara, memperlihatkan siluetnya dengan indah. Namun bagian punggungnya terlalu terbuka, membuat Vara merasa tidak bebas bergerak.
“Kita coba yang lain,” ujar pelayan butik sigap.
Kali ini, begitu Vara berdiri di depan cermin, ia tersenyum lebih lama. Gaun ini terasa berbeda. Hatinya berdesir pelan.
Aku harap Arga juga menyukainya, batin Vara.
Tak lama kemudian, Vara kembali keluar mengenakan gaun berikutnya.
Kali ini, ia tampak jauh lebih anggun. Gaun itu menjuntai lembut mengikuti tubuhnya, membuat kesannya sederhana namun memikat.
“Tante cantik sekali! Seperti Barbie!” seru Luna penuh kagum.
Vara tersenyum mendengar pujian itu.
Arga terdiam beberapa detik, lalu tersenyum kecil. “Yang ini lebih bagus.”
“Mama juga setuju,” sahut Melani. “Kamu sendiri bagaimana, Vara? Suka?”
“Iya, Ma. Vara suka yang ini,” jawab Vara jujur.
Gaun itu berwarna lembut dengan potongan tertutup di bagian dada dan punggung. Lengan panjangnya transparan dengan hiasan renda halus, sementara bagian roknya mengembang ringan, anggun, dan memancarkan kesan mewah, layaknya gaun putri dalam dunia fantasi.
“Kalau begitu, yang ini saja,” putus Arga pada pelayan butik. “Tolong disiapkan sebaik mungkin.”
“Baik, Tuan. Terima kasih,” jawab pelayan butik lega sambil membungkuk hormat.
Setelah para pelayan mulai mengemasi barang-barang mereka, Luna tiba-tiba bersuara, “Nek, gaun untuk Luna juga ada, kan?”
“Tentu saja, Sayang. Untuk Luna pasti ada,” jawab Melani tersenyum.
“Terima kasih, Nek,” ucap Luna senang.
Melani lalu menoleh pada Arga. “Semua sudah Mama urus. Tinggal menunggu hari pernikahan kalian yang tinggal beberapa hari lagi. Oh iya, cincin pernikahan sudah kamu siapkan?”
“Belum, Ma. Besok Arga dan Vara akan mencarinya,” jawab Arga.
“Luna ikut, ya, Om?” sela Luna cepat.
“Kamu kan sekolah, Luna. Jadi tidak bisa ikut,” jawab Arga lembut. “Tapi Om janji, nanti saat libur kita jalan-jalan lagi.”
“Janji ya, Om?” Luna mengangkat kelingkingnya.
Arga mengangguk. “Janji.”
Arga kemudian menatap Vara penuh arti. “Oh ya, Vara. Mulai hari ini kamu tidak perlu kembali ke rumahmu. Kamu tinggal di sini saja.”
“Tapi, Tuan..” Vara refleks menyahut.
“Benar kata Arga,” potong Melani lembut. “Itu lebih baik. Dan satu lagi, kalian akan menikah. Kamu tidak perlu memanggil Arga dengan sebutan ‘Tuan’ lagi.”
Vara terdiam. Wajahnya tampak bingung.
Sebelum ia sempat menjawab, Luna menyela, “Kalau Tante bingung, panggil Om saja.”
“Masak Om?” Melani terkekeh.
“Panggil Om Tampan, Nek,” sahut Luna polos sambil tersenyum lebar.
Vara tak kuasa menahan senyumnya. Melihat tingkah Luna yang selalu bisa mencairkan suasana.