Elyra Azzahra mencintai Leonard Attahaya tanpa mengetahui siapa sosok Leonard sebenarnya.
Saat kebenarannya terungkap nyatanya perbedaan kasta dan jurang sosial menjadi titik kehancuran keyakinan Elyra akan cinta, namun dia tetap memilih bertahan.
Namun, harapan itu kembali runtuh ketika Leonard ternyata telah dijodohkan. Dalam kehilangan, Leonard memberontak, dan rela mengorbankan segalanya demi Elyra. Bagi Elyra dunia adalah cinta dan cinta bukan berarti dunia.
Mampukah Elyra bertahan demi cinta? atau justru menyerah dengan dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Merepotkan
“Baik, perkenalkan nama saya Dimas Aditya. Kalian dapat memanggil saya Pak Dimas. Sekarang kita perkenalan satu-satu ya. Berdiri dari duduknya, dan silakan perkenalkan diri kalian masing-masing.”
Perkenalan pun dimulai, semua memperkenalkan diri dengan gayanya masing-masing hingga sampai di bagian Elyra.
“Nama saya Elyra Azzahra, saya suka mendengarkan musik, tidak suka menyanyi.” Singkat Elyra dan kembali duduk.
“Ah ya, Bapak lupa, sebutkan prestasi kalian dan partisipasi kalian di sekolah juga ya.” Elyra kembali bangkit dari duduknya.
“Maaf Pak, apa harus semua?” tanya Elyra, Dimas mengangguk.
“Ya harus semua. Kalian ikut ekstrakurikuler apa? Dan pernah ikut turnamen atau lomba apa? Serta prestasi apa saja yang sudah diraih.” Ucap Dimas lagi, Elyra menatap semua teman-temannya.
“Pak, itu di hati Elyra lagi bilang, ‘dih, merepotkan!’ gitu Pak!” ucap seorang siswa di barisan belakang.
“Wah, kamu CCTV di kepalaku ya.” Canda Elyra, semuanya tertawa mendengar itu.
“Nama saya Elyra Azzahra, saya mengikuti ekstrakurikuler wajib dan bonusnya hanya volley. Sedangkan prestasi saya, prestasi di nasional saya meraih gelas best speech di debat nasional. Mendapatkan juara dua di bidang desain dan kaligrafi nasional…” Elyra terus menyebutkan semua prestasinya sampai tingkat sekolah.
“Wah, Elyra lagi pamer itu.” Teriak lagi seorang siswa di pojok, Elyra tersenyum sinis.
“Kan sudah gua bilang, itu di hatinya lagi bilang merepotkan.” Tambah yang lain, sedangkan Dimas sendiri tak menyangka akan sebanyak itu. Dia tahu bila di kelasnya ada siswa berprestasi, tapi tak menyangka bila sampai semenggunung itu.
“Apa rencana setelah lulus sekolah?” tanya guru itu lagi, Elyra menatap semua teman kelasnya.
“Saya mau menikah, Pak.” Jawab Elyra, sontak sorak sorai terdengar dari seisi kelas.
“Semua orang juga mau menikah, maksudnya rencana setelah sekolah. Melanjutkan ke perguruan tinggi mana?” tanya lagi Dimas, Elyra nampak diam sejenak.
“Setelah lulus saya mau nikah, dan untuk urusan kuliah akan dipikirkan lagi Pak.” Hening seketika, mereka mengira bila ucapan Elyra sebelumnya adalah candaan saja. Tapi ternyata Elyra mempertegas lagi ucapannya.
“Patah hati nasional ini.” Teriak seorang siswi, sontak drama para siswa terjadi. Elyra hanya menggelengkan kepalanya dan kembali duduk.
Setelah hari itu, kabar tentang Elyra yang sudah memiliki pacar menyebar ke seluruh penjuru sekolah bahkan sampai ke sekolah seberang pun terdengar beritanya.
Ada guru yang menanyakan ulang kebenaran itu secara langsung pada Elyra, dan jawaban Elyra kadang hanya senyuman atau membenarkan saja. Tapi bila pertanyaannya apa susah memiliki pacar, Elyra selalu menjawab, tidak.
Satu bulan berlalu, dan kini Elyra sudah bersiap dengan baju seragam dan tas ransel berisi perlengkapan volley. Tangannya sudah dibalut sedemikian rupa.
“Assalamu’alaikum!” Elyra kembali masuk ke dalam rumah Leon seperti biasanya, di sana nampak Leon dengan baju kaos dengan sablon bertuliskan ‘Semangat Elyra!’ terpampang nyata. Dia menggunakan celana santai dan topi.
“Wah gantengnya, mau ke mana nih? Apa mau diculik aja?” Canda Elyra, Leon tersenyum dan mengambil ransel di tangan Elyra.
“Boleh diculik, sampai akhir juga boleh kok.” Jawab Leon, keduanya masuk ke dalam mobil sport Leon dan berangkat menuju ke tempat turnamen diadakan.
“Lyra?” Seorang teman Elyra melambaikan tangannya, dan Elyra juga melambaikan tangannya sembari mendekat.
“Wah bawa orang sekarang, siapa nih Ly?” tanya teman Elyra.
“Semuanya kumpul dulu, kita akan bermain 30 menit lagi, sekarang kita harus segera bersiap.” Deon nampak memberi isyarat. Leon mendekat ke arah Elyra dan mengusap kepala Elyra sejenak.
“Ingat, jangan memaksakan diri ya.” Leon mengecup kening Elyra sebelum membiarkan gadis itu pergi dengan rombongannya.
“Siapa dia, Lu?” tanya teman Elyra yang lain, Elyra mengangkat bahunya.
“Begitulah,” jawab Elyra. Dia berjalan menuju ruang ganti dan mengganti pakaiannya. Dia sudah siap bertarung lagi sekarang, dan tersenyum saat melihat love di bagian pojok bajunya.
“Dasar,” Elyra masuk ke lapangan, riuh penonton membuat suasana menjadi panas. Leon duduk di bangku VIP yang disediakan oleh petugas penyelenggara, karena memang Leon bukan orang sembarangan. Dan tentu saja, dia juga duduk tidak di tempat sembarangan.
Para pemain nampak memasuki lapangan, Elyra melambaikan tangannya ke arah Leon sambil tersenyum. Leon terkekeh dan mengangguk memberi isyarat.
Sontak hal itu menjadi sorotan para penonton, kepala sekolah tempat Elyra belajar juga datang dan duduk di samping Leon.
“Apa ada sesuatu yang membuat Anda datang, Tuan Leonard?” tanya kepala sekolah itu dengan sopan.
“Dia yang membuatku datang.” Leon menunjuk Elyra, kepala sekolah itu menelan salivanya sendiri.
“Elyra memang gadis berbakat, tapi dia baru saja mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu dan tangannya terluka. Mungkin Anda akan sedikit kecewa dengan penampilannya hari ini.” Jelas kepala sekolah itu, Leon tersenyum.
“Dia tidak pernah membuat saya kecewa, Pak,” tukas Leon, dan permainan dimulai.
Seperti yang sudah direncanakan, Elyra tidak bertanding di pertandingan pertama dan kedua, namun diturunkan saat pertandingan ketiga dan kini sudah 1-1 dan pertandingan pasti akan panjang.
Elyra bermain dengan baik, Leon bahkan berdiri memberi tepuk tangan saat Elyra beberapa kali berhasil memberi poin. Sedangkan Elyra fokus dengan permainannya, meski sesekali melirik Leon juga.
Pertandingan diakhiri dengan 3-1 dengan empat pertandingan dan tim Elyra menang. Leon bertepuk tangan keras, dan pertandingan usai.
Elyra membawa ranselnya menuju ke arah bangku penonton. Dia melihat pagar di bangku VIP yang tidak bisa dia lalui.
“Elyra, kamu tidak ikut evaluasi?” tanya Deon, Elyra menatap Leon.
“Tidak Pak, ini pertandingan terakhir saya. Jadi saya tidak perlu ikut evaluasi.” Jawab Elyra dan kembali menatap Leon dengan wajah cemberut.
“Kenapa wajahnya begitu?” tanya Leon, dia keluar dari area VIP dan mengusap keringat di kening Elyra.
“Aku harus mandi dan balik ke sekolah, aku nggak main di pertandingan berikutnya jadi ini terakhir. Aku nggak bawa motor loh.”
Leon terkekeh dan mengambil kipas mini yang ada di ransel Elyra.
“Pak, saya izin membawa Elyra memeriksakan tangannya.” Leon meminta izin langsung pada kepala sekolah.
“Baik, silakan Tuan.” Leonard tersenyum dan pamit, dia mengambil tas ransel Elyra dan membiarkan kipas di lehernya agar bisa lebih segar.
“Maaf, saya guru Elyra, Anda ini siapanya Elyra?” tanya Deon mengulurkan tangannya.
“Saya Leonard, pacarnya Elyra,” jawab Leon menerima uluran tangan Deon.
“Dih, siapa pacar siapa?” Elyra menyenggol lengan Leon.
Deon nampak terganggu dengan keakraban tak biasa itu.
“Hem, Pak Deon ini calon suami saya.” Jawab Elyra, Leon seketika terkejut dan tertawa mendengarnya.
“Astaga, aku lupa dalam kamus kecilmu itu tak ada pacaran.” Leon menarik pinggang Elyra agar lebih dekat padanya.
Deon nampak mengepalkan tangannya melihat Elyra yang biasanya bersikap acuh tak acuh pada siapa pun kini nampak manis di hadapan orang lain.
🤣