NovelToon NovelToon
A Little Bit Of LaNi

A Little Bit Of LaNi

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Amara masih bisa merasakan sisa-sisa kehangatan dari kecupan singkat Nicholas di keningnya. Rasanya seperti ada jutaan kembang api yang meledak di dalam dadanya. Dengan wajah yang semerah tomat masak, ia berbalik dan berlari menuju pintu pagar. Karena terlalu fokus pada debar jantungnya yang menggila, ia tidak memperhatikan jalan.

Krak! Buk!

"Aduhh!"

Kaki Amara tersandung sebongkah batu hias di pinggir taman depan. Ia hampir saja terjungkal mencium aspal jika tidak segera menyeimbangkan badannya dengan memegang tiang pagar. Rasa sakit di jempol kakinya berdenyut, tapi rasa malu dan euforia di hatinya jauh lebih besar.

Ia bangkit dengan gerakan kikuk, mengabaikan rasa perih, lalu menyerbu masuk ke dalam rumah seolah sedang dikejar hantu. Begitu pintu depan terbuka, ia menarik napas sedalam-dalamnya dan berteriak sekeras mungkin.

"ABAAAAANGGGGGG!!!"

Suara melengking Amara memecah kesunyian rumah yang baru saja tenang. Ryan, yang sedang asyik rebahan di sofa sambil menonton pertandingan bola, hampir saja terjatuh dari kursinya. Ia kaget setengah mati sampai ponsel di tangannya terlepas dan mengenai hidungnya sendiri.

"Aduh! Sialan! Apaan sih lo, Dek?! Ada kebakaran?!" seru Ryan sambil mengusap hidungnya yang memerah.

Amara tidak menjawab. Ia berlari ke arah Ryan dan langsung menjatuhkan dirinya di samping sang kakak, mengguncang-guncang bahu Ryan dengan tenaga yang tidak main-main.

"Bang! Bang! Kak Nick... Kak Nick tadi..." Amara bicara dengan nada sangat cepat, napasnya memburu, dan matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang baru saja mendapat hadiah mainan paling mahal sedunia.

Ryan memicingkan matanya, menyingkirkan tangan Amara dari bahunya. "Kenapa? Nick nabrak pohon? Atau dia ninggalin lo di jalan?"

"Bukan! Dia... dia cium kening aku, Bang!" bisik Amara, namun volumenya tetap terdengar seperti teriakan terpendam. "Di depan pagar! Tadi! Pas baru sampai!"

Ryan terdiam sejenak. Ia menatap adiknya dengan tatapan datar, lalu tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak sampai badannya terguling di sofa.

"Hahaha! Jadi itu alasan lo teriak-teriak kayak orang kesurupan? Cuma dicium kening doang?!" Ryan memegangi perutnya yang kram karena tertawa. "Aduh, Dek... gue pikir ada apa. Ternyata adek gue yang galak ini udah beneran luluh sama si Macan Teknik."

Amara memukul lengan Ryan dengan bantal sofa berkali-kali. "Abang! Jangan diketawain! Aku kaget tahu! Rasanya aneh banget, jantung aku kayak mau copot!"

Ryan berhenti tertawa, ia duduk tegak dan menatap Amara dengan senyum yang lebih tulus. "Nah, makanya gue bilang apa semalam. Nick itu kalau udah mode serius, dia nggak main-main. Dia bukan tipe cowok yang gampang skinship kalau nggak beneran sayang."

Amara menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik bantal. "Tapi Bang... ini nggak apa-apa kan? Maksud aku, UTBK aku gimana? Aku takut nggak fokus."

"Justru itu," Ryan menepuk puncak kepala Amara. "Jadiin itu semangat. Nick itu pinter, dia aslinya tekun banget kalau udah mau sesuatu. Kalau lo mau imbangi dia, lo harus sukses juga. Dia nggak bakal suka liat 'malaikat'-nya sedih gara-gara gagal ujian."

Amara terdiam, meresapi kata-kata kakaknya. Benar juga. Nicholas adalah mahasiswa Teknik Sipil di kampus ternama, dan dia sangat cerdas. Jika Amara ingin terus berada di sampingnya tanpa merasa rendah diri, ia harus berjuang sekuat tenaga untuk masa depannya sendiri.

Telepon dari 'Malaikat Maut'

Tiba-tiba, ponsel Amara yang ada di saku celananya bergetar. Sebuah nama muncul di layar: Nicholas.

Amara membeku. Ia menatap ponsel itu seolah-olah benda itu bisa meledak kapan saja.

"Angkat, Dek. Jangan sok jual mahal, tadi aja teriak-teriak kangen," ledek Ryan sambil kembali mengambil ponselnya yang jatuh.

Dengan tangan gemetar, Amara menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. "H-halo, Kak?"

"Udah masuk ke rumah?" suara rendah Nicholas terdengar di seberang sana. Suara motornya sudah tidak terdengar, tandanya dia sudah sampai di rumahnya sendiri atau sedang berhenti di suatu tempat.

"Udah. Udah di sofa sama Bang Ryan," jawab Amara pelan.

"Tadi gue denger ada suara teriakan pas gue baru mau gas motor. Lo kenapa? Jatuh?"

Amara melotot. Sial, Nicholas dengar teriakannya tadi! "Eh... itu... tadi ada kecoa! Iya, ada kecoa gede banget di ruang tamu, makanya aku teriak panggil Abang."

Ryan yang mendengar itu langsung menahan tawa sampai mukanya biru.

Di seberang telepon, Nicholas terkekeh pelan. Suara kekehan yang sangat renyah. "Ooh, kecoa ya? Gue kira lo teriak karena masih kaget sama yang di depan pagar tadi."

Amara merasa wajahnya kembali terbakar. "Kak Nick! Udah deh, jangan dibahas!"

"Iya, maaf. Ya udah, mandi sana, terus makan malam. Jangan lupa minum air putih yang banyak. Besok pagi gue jemput lagi. Jangan telat."

"Iya, Kak."

"Selamat istirahat, Amara."

"Selamat istirahat juga... Kak Nick."

Setelah mematikan telepon, Amara menarik napas panjang. Ia menatap tumpukan buku di meja belajar yang tadi sempat ia tinggalkan. Rasa lelahnya hilang seketika, digantikan oleh energi baru yang luar biasa.

"Bang, besok-besok kalau Kak Nick ke sini lagi, Abang jangan aneh-aneh ya," pesan Amara pada Ryan.

"Tergantung sogokannya," sahut Ryan santai. "Kalau dia bawa kopi sama martabak, rahasia aman. Kalau cuma tangan kosong, ya gue bocorin semuanya."

Amara hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang jauh lebih ringan. Malam itu, Amara belajar dengan sangat fokus. Bukan karena takut pada ujian, tapi karena ia ingin membuktikan pada Nicholas—dan pada dirinya sendiri—bahwa cinta tidak selalu harus menghambat cita-cita.

Ia membuka buku latihannya dan menuliskan satu kalimat kecil di pojok halaman paling belakang:

"Goal: Lulus UTBK. Reward: Nicholas."

Amara tersenyum sendiri melihat tulisannya. Ternyata, memiliki seseorang yang sangat peduli padanya justru menjadi bahan bakar terbaik untuk mimpinya. Nicholas memang pernah menjadi red flag yang menakutkan, tapi sekarang, dia adalah satu-satunya alasan Amara untuk terus maju tanpa rasa takut lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!