NovelToon NovelToon
ERROR 404: BOSS IN LOVE

ERROR 404: BOSS IN LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / CEO / Office Romance
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Aira Aksara

💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️


"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"



Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:


"Humanity Coaching".


Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh,detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.



Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.


🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 — GARIS YANG DITARIK

Arsenio tidak tidur. Sejak pukul dua dini hari ia terpaku di ruang kerja dengan jas masih melekat dan dasi yang terlepas setengah. Semua grafik di layar laptopnya stabil dan berjalan sesuai rencana—kecuali satu hal. Ia membenci cara Alinea berdiri terlalu dekat dengan Raka semalam. Ia lebih membenci bagaimana wanita itu terlihat sangat nyaman. Namun yang paling menyiksanya adalah kenyataan bahwa Alinea, untuk pertama kalinya, berhasil menyita pikirannya hingga fajar pecah.

Ketukan pintu terdengar pukul delapan lewat lima.

“Masuk.”

Alinea masuk seperti biasa. Rambut terikat rapi. Wajah segar. Tidak ada tanda ia kurang tidur.

“Selamat pagi, Pak.”

Pagi.

Kata itu terdengar biasa.

Arsenio mengangguk tipis. “Pagi.”

Alinea meletakkan tablet di meja. “Agenda hari ini sudah saya kirim ke email. Meeting investor dimajukan ke pukul sepuluh. Dan untuk kerja sama Artha Capital, pihak Pak Raka meminta follow-up siang ini.”

Nama itu disebut tanpa jeda.

Arsenio menatapnya.

“Proyek itu akan ditangani oleh divisi lain.”

Alinea berhenti menulis.

“Maaf, Pak?”

“Saya alihkan. Mulai hari ini Anda tidak perlu mendampingi.”

Sunyi.

Ia tidak menaikkan suara. Tidak terlihat emosi.

Justru itu yang membuat kalimatnya terdengar final.

“Apakah ada evaluasi kinerja saya?”

tanya Alinea tenang.

Tidak defensif. Tidak tersinggung.

Arsenio berdiri dari kursinya, berjalan ke jendela.

“Tidak.”

“Lalu alasannya?”

Arsenio menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

“Efisiensi.”

Itu jawaban paling aman.

Alinea menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.

“Baik, Pak.”

Tidak ada protes, tidak ada debat,Alinea hanya diam, dan entah kenapa kesunyian itu terasa jauh lebih mengganggu daripada bantahan mana pun. Arsenio terbiasa menaklukkan kata-kata, tapi ia tidak tahu cara menghadapi kekosongan. Di balik meja kerjanya, ia menyadari satu hal yang mengerikan bahwa Alinea tidak lagi cukup peduli untuk sekadar marah padanya.

Rapat pukul sepuluh berjalan normal.

Arsenio bicara dengan ketegasan yang terukur seperti biasa, namun atmosfer di ruangan itu terasa ganjil. Tak ada lagi interupsi cerdas atau detail yang biasa Alinea tambahkan untuk menyempurnakan strateginya, wanita itu hanya mencatat dalam bisu, tanpa sekalipun mengangkat wajah untuk memastikan mereka masih di frekuensi yang sama. Saat semua orang bergegas keluar karena rapat usai lebih cepat, Arsenio menyadari bahwa keheningan Alinea jauh lebih menyiksa daripada debat paling sengit yang pernah mereka lalui.

Alinea berdiri paling akhir.

“Pak, draft revisi sudah saya kirim.”

Arsenio mengangguk.

Ia hampir mengatakan sesuatu.

Hampir.

“Alinea.”

Alinea berhenti.

Itu pertama kalinya hari itu ia menyebut namanya tanpa nada formal.

Alinea menoleh.

Beberapa detik hening.

“Untuk sementara, Anda fokus di administrasi internal saja.”

Kalimat itu terdengar profesional.

Tapi maknanya jelas.

Ia sedang dipinggirkan.

Alinea mengangguk pelan.

“Baik, Pak.”

Tidak ada luka di wajah Alinea, apalagi kekecewaan yang bisa dibaca,wanita itu hanya menampilkan kekosongan yang membuat dada Arsenio terasa semakin berat. Keheningan itu jauh lebih menyiksa daripada amarah, seolah-olah Alinea telah menghapus seluruh emosinya untuk pria itu—meninggalkan Arsenio sendirian dalam ruangan yang mendadak terasa terlalu sempit untuk egonya.

Menjelang sore, Raka datang.

Langkahnya santai, senyumnya terkendali.

“Pak Arsenio.”

Mereka berjabat tangan.

Pertemuan berlangsung singkat. Angka disetujui. Strategi dibahas.

Raka tidak terlihat terpengaruh oleh perubahan komunikasi.

Justru terlihat semakin percaya diri.

“Saya dengar Alinea tidak lagi menangani proyek ini.”

Arsenio tidak berkedip. “Rotasi biasa.”

Raka tersenyum tipis. “Sayang sekali. Ia sangat kompeten.”

Kalimat itu netral.

Tapi terdengar seperti klaim.

Arsenio membalas dengan nada datar. “Perusahaan ini tidak bergantung pada satu orang.”

Raka berdiri. Merapikan jasnya.

“Saya mengajaknya makan malam nanti.”

Tidak ada dramatisasi.

Hanya pernyataan.

“Sekadar memberi tahu,” lanjutnya ringan, “agar tidak terjadi kesalahpahaman.”

Arsenio menatapnya lama.

“Anda tidak perlu memberitahu saya.”

“Tentu.” Raka tersenyum sopan.

“Karena ini urusan pribadi.”

Pintu tertutup rapat, dan untuk pertama kalinya hari itu, Arsenio merasakan sesuatu yang tidak sanggup ia definisikan sebagai amarah. Itu bukan kemarahan biasa tapi itu adalah rasa kehilangan kontrol yang purba, sebuah retakan besar pada dinding egonya yang selama ini ia anggap tak terpatahkan.

Di balik meja kerjanya yang sunyi, ia menyadari bahwa mengendalikan pasar jauh lebih mudah daripada menahan satu wanita yang sudah tidak lagi ingin dimiliki.

Pukul enam lewat sepuluh.

Alinea berdiri di depan mejanya, merapikan berkas.

Ia tidak menunggu instruksi tambahan.

Tidak menunggu ia dipanggil.

Ia mengetuk pintu.

“Pak, saya pamit.”

Arsenio tidak langsung menjawab.

Beberapa detik terlalu lama.

“Dengan dia?” tanyanya akhirnya.

Alinea tidak tersenyum.

“Iya, Pak.”

Hening.

“Alinea.”

Alinea menoleh lagi.

Tatapan mereka bertemu.

Ada sesuatu di mata Arsenio yang tidak biasa.

Bukan marah.

Bukan dingin.

Lebih seperti… tidak siap.

“Jangan pulang terlalu malam.”

Itu terdengar seperti instruksi.

Tapi nadanya tidak sekeras biasanya.

Alinea terdiam sesaat.

Lalu menjawab dengan senyum sopan yang terlalu profesional.

“Terima kasih atas perhatiannya, Pak.”

Bukan Arsenio.

Bukan Mas.

Bukan nama.

Tapi “Pak”.

Pintu tertutup.

Dan untuk pertama kalinya, kata itu terasa seperti jarak.

Dari jendela lantai dua puluh tiga, Arsenio menyaksikan sebuah mobil hitam membelah aspal, lalu berhenti tepat di depan gedung.

Raka turun lebih dulu.

Tenang. Menunggu.

Alinea menyusul beberapa detik kemudian.

Langkahnya santai—sebuah ritme yang tidak pernah Arsenio temukan saat wanita itu berada di bawah pengawasannya.

Raka membisikkan sesuatu.

Alinea tertawa kecil.

Dan seketika, sebuah realita menampar Arsenio dengan telak:

Sudah berapa lama tawa sedalam itu absen dari ruangannya?

Mobil itu melaju, meninggalkan jejak panas di aspal yang mulai mendingin.

Jari Arsenio secara refleks menyentuh layar ponsel.

Mengetik: Sudah sampai?

Arsenio menatap baris kalimat itu. Menimbang bebannya.

Lalu menghapusnya perlahan.

Satu per satu huruf menghilang, seperti haknya yang kini terasa kian menipis.

Di luar, lampu-lampu kota mulai menyulut malam.

Pantulan dirinya muncul di kaca jendela—sosok yang tegak, kaku, dan berkuasa.

Namun untuk pertama kalinya, Arsenio merasa seperti seorang penguasa yang hanya bisa menonton hartanya dicuri di depan mata.

Ia punya segala cara untuk menghentikannya.

Tapi ia sadar, sekali saja ia bergerak, ia tidak hanya akan menghentikan kepergian Alinea—ia akan menghancurkannya.

Mobil itu sudah hilang dari pandangannya.

Lampu ruang kerja Arsenio masih menyala sendirian.

Ponselnya kembali bergetar.

Layar menampilkan satu notifikasi.

Bukan dari Alinea.

Bukan pesan.

Sebuah unggahan baru.

Foto.

Raka tidak menandai siapa pun.

Tidak menulis keterangan panjang.

Hanya gambar meja makan, dua gelas wine, dan satu tangan perempuan yang tidak sepenuhnya terlihat — tapi cincin tipis di jari manis itu terlalu ia kenal.

Tangan Alinea.

Arsenio menatap foto itu lebih lama dari yang seharusnya.

Darahnya terasa naik perlahan, bukan karena marah.

Karena sadar.

Ia sedang menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak mengganggunya.

Tapi mengganggu.

Tangannya kembali mengetik.

Kali ini bukan pesan.

Melainkan perintah singkat ke divisi HR:

“Besok pagi. Meeting mendadak. Semua tim inti hadir.”

Ia menekan kirim.

Dan untuk pertama kalinya, keputusan profesionalnya benar-benar lahir dari sesuatu yang sangat personal.

Di restoran itu, Alinea tertawa tanpa tahu

bahwa besok pagi…

sesuatu akan berubah.

1
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
🙌
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
🙆✨🥰 👉👍👈
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
readers tekan jempolnya mana????

👍

🙆✨🔥
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
yang mau aku UP terosss 🫵 komen lanjut!!!
kalo gak aku gakan UP lagi loh🫸
🙌 eitss!! becanda yak readers 😹

terimakasih banyak buat pembaca setia 🫶✨✍️🔥
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: oiyaaaa kalo Sukak novel ini, pencet jempol likenya yak 👍🙆🫰
total 1 replies
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Halo para silent readers! Aku tahu kalian ada di sana mengawasi perjalanan Si Boss, berasa dipantau CCTV tapi yang ini versi baik hati. 🕵️‍♂️💖


Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Bab ini judulnya SOROTAN, tapi kok kalian malah main petak umpet sih? Makasih ya yang sudah baca! Yuk, keluar dari persembunyian dan tunjukkan pesonamu lewat tombol Like & Komen! 🔦😎✨
Nur Halida
seru banget baca tiap kalimatnya
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: 🥹🥹
makasih lohh🙌🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!