NovelToon NovelToon
Black

Black

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Mengubah Takdir / Romansa / Menyembunyikan Identitas / Penyelamat
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Black--- Seorang pria misterius yang menjadi pelindung bumi. Di balik pakaian hitam dan topeng hitam nya, tidak ada yang tau wajah nya. Kecuali satu--- Sang kekasih hati-- Evelyn Savana Alexa.

Sampai sebuah kasus tiba - tiba muncul yang memaksa Black harus turun tangan untuk menyelesaikan nya.. Kasus tentang kematian misterius yang tidak bisa di pecahkan oleh pihak detektif kepolisian terpaksa harus melibatkan Black.

Namun.. Apa yang terjadi jika pelaku dari kasus tersebut tiba - tiba memanggilnya. " Ayah!"

Rahasia apakah yang ada di balik kasus kematian para korban. Dan Siapakah sosok pelaku misterius itu? Apakah dia kawan atau lawan?

----------

Update Senin & Kamis... Setiap Update 3 Bab.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Tak Terduga

Cahaya matahari sore yang mulai menjingga menembus dinding-dinding kaca setinggi plafon, menciptakan bayangan panjang yang dramatis di atas lantai marmer putih yang mengkilap. Suasana kantor biasanya bising, namun sore ini terasa berbeda—sunyi yang tegang, seolah gedung ini baru saja melewati sebuah badai besar.

Angel melangkah masuk. Bunyi ketukan hak sepatunya bergema di lobi yang luas, ritmis dan penuh penekanan. Di tangannya, sebuah rantang makanan berbahan baja antikarat dijinjing dengan anggun, kontras dengan setelan mahalnya.

Resepsionis Utama membungkuk dalam."Selamat sore, Nyonya Besar. Mari, biar saya bantu bawakan..."

Angel mengangkat tangan sedikit, nada bicaranya datar namun dingin. "Tidak perlu. Lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku tahu jalan menuju ruangan suamiku."

Sepanjang perjalanan menuju lift eksekutif, setiap karyawan yang berpapasan dengannya seolah kehilangan keberanian untuk menatap mata. Mereka menepi, memberikan jalan, dan menunduk hormat layaknya prajurit di hadapan ratu.

Angel hanya mengangguk tipis tanpa ekspresi setiap kali seseorang memberi hormat. Wajahnya bak porselen—cantik, namun tak tersentuh. Ia masuk ke dalam lift khusus dan menekan tombol lantai teratas

Karyawan A berbisik setelah Angel lewat. "Itu Nyonya Angel... auranya selalu membuatku sesak napas."

Karyawan B menimpali. "Ssst! Jaga bicaramu. Kabarnya hari ini Pak Langit sedang 'membersihkan' departemen keuangan. Jangan sampai kau jadi tikus berikutnya."

Pintu lift berdenting terbuka. Di sana, Sekretaris Han sudah menunggu dengan wajah pucat.

Sekretaris Han membungkuk sopan. "Nyonya, Anda datang di waktu yang tepat. Tuan Langit baru saja menyelesaikan... 'urusan internalnya'."

Angel berhenti sejenak, melirik ke arah pintu ruang rapat yang tertutup rapat. "Aku dengar suamiku sibuk memburu tikus hari ini, Han. Apakah kantor ini benar-benar sekotor itu sampai dia harus lembur hanya untuk membuang hama?"

Sekretaris Han menelan ludah. "Tuan sangat teliti, Nyonya. Beliau tidak ingin ada satu pun hama yang tersisa di fondasi perusahaan ini."

Angel tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak mencapai mata. "Baguslah. Tikus-tikus itu biasanya suka mencuri remah-remah, tapi jika dibiarkan, mereka akan merusak struktur bangunan. Langit terlalu berharga untuk menghabiskan energinya demi makhluk rendah seperti itu

Angel melangkah menuju pintu besar ruangan Langit. Tanpa mengetuk, ia mendorong pintu itu terbuka. "Langit, sudah cukup bermain dengan hamanya. Bau darah dan pengkhianatan di gedung ini mulai membuatku mual. Sekarang, duduklah dan makan. Aku membawakan sesuatu yang jauh lebih bersih daripada urusan kantormu ini."

Langit terkekeh, ia melangkah cepat dan langsung memeluk pinggang Angel dengan erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya. Ia menghirup aroma parfum Angel yang menenangkan, seolah beban ribuan ton yang baru saja ia singkirkan—para pengkhianat di dewan direksi yang ia sebut 'tikus'—hilang tak berbekas.

"Tikus-tikus itu sudah habis, Sayang. Aku baru saja menandatangani surat pemecatan dan tuntutan hukum mereka. Tapi jujur, melihatmu di sini jauh lebih memuaskan daripada kemenangan bisnis apapun hari ini."

Angel melepaskan pelukan sedikit, menatap mata Langit. "Baguslah kalau sudah bersih. Sekarang, duduklah. Aku membawa masakan rumah yang setidaknya bisa membuatmu ingat bahwa kau punya kehidupan yang jauh lebih indah di luar gedung dingin ini."

Langit menatap istrinya dengan binar penuh cinta, ia menarik Angel untuk duduk sebelum dia ikut duduk di sampingnya. "Selama kau ada di sini, ruangan ini tidak terasa dingin lagi bagi hatiku." Cup! Langit memberikan ciuman manis di bibir Angel. Ciuman yang tadinya hanya singkat berubah menjadi lumatan dan penuh nafsu.

Sampai akhirnya apa yang harusnya terjadi memang terjadi. Makanan yang masih tersimpan rapi di dalam rantang bukan lagi yang utama.

"Wah, Kak Elvi! Lihat! Bunganya walna-walni!" seru Elmira sambil melonjak kegirangan, jemari mungilnya menggenggam erat tangan Elvira. "Ada kupu-kupu juga, mau kejal!"

Elvira tidak langsung menjawab. Langkahnya melambat begitu mereka melewati gerbang besi taman yang berkarat. Matanya yang tajam menyapu setiap sudut—dari rimbunnya pohon akasia hingga bayangan di balik air mancur yang mati.

Di balik lipatan gaunnya, jemari Elvira bergerak samar, pendar cahaya tipis kebiruan muncul di ujung kukunya, memindai seisi taman untuk memeriksa bahaya yang mungkin mengintai.

Kenzie, yang berjalan beberapa langkah di belakang, memandangi punggung Elvira dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Taman ini sudah saya periksa, Putri Mahkota.. semuanya bersih. Tidak ada bahaya yang akan menyerang."

"Bersih menurut matamu belum tentu aman menurut sihirku, Kenzie," balas Elvira tanpa menoleh.

Elmira mendongak, menarik-narik ujung baju Elvira. "Kak Elvi, kenapa wajahnya galak telus? Ayo main pelosotan itu!"

Elvira menghela napas, ketajamannya sedikit melunak saat menatap mata bulat adiknya. "Iya, baiklah. Tapi tetap di samping Kakak, ya?"

"Siap, Kapten!" seru Elmira dengan suara cadelnya yang menggemaskan, sementara Elvira kembali memfokuskan sensor sihirnya ke arah pepohonan gelap di ujung taman.

Tiba-tiba, perhatian Elvira teralih sekejap oleh fluktuasi energi di semak-semak sebelah kanan. Sedetik kelengahan itu cukup bagi Elmira untuk melepaskan genggaman dan berlari mengejar kupu-kupu.

DUK!

Elmira menabrak kaki seseorang yang baru saja muncul dari balik pilar mawar. Bocah kecil itu terduduk, mendongak, dan seketika matanya yang bulat berbinar penuh kerinduan.

" Ibunda!" pekik Elmira dengan suara cadelnya yang melengking senang. Ia segera memeluk kaki orang asing itu dengan erat.

Elvira tersentak. Sihir di tangannya langsung padam, berganti dengan keterkejutan yang nyata. Jantungnya serasa merosot ke perut. Di hadapannya, berdiri versi muda dari ibunya--- Evelyn--- namun baik di tahun 2072 ataupun 2047 baginya wajah sang Ibu tetap sama--- awet muda.

Di belakangnya, Kenzie mematung. Wajahnya yang biasanya tenang kini pucat pasi. " Putri Mahkota... itu... Permaisuri Evelyn?" bisiknya dengan suara bergetar.

" I-bu?" suara Evelyn bergetar, ia menunduk menatap bocah cadel yang memeluknya. "Maaf, Dek... sepertinya kamu salah orang."

Evelyn mendongak, matanya bertemu dengan mata Elvira. Ia terkesiap, berkali-kali mengedipkan mata karena syok melihat wanita dewasa di depannya yang memiliki garis wajah, warna mata, yang identik dengannya... bukan.. itu adalah dia! Tapi juga bukan dia.. ' Apa aku punya kembaran?'

"Kau..." Evelyn berbisik tak percaya. "Siapa kau?"

Elvira menelan ludah paksa, berusaha menyembunyikan pendar sihir di tangannya. Gawat... kenapa Ibu bisa ada disini sih?'

Elvira ketar - ketir. " Anu.. maaf.. adek saya suka manggil gitu kalo lihat wanita cantik... Elmira! Lepas, sayang!"

" Nda mau.. ini Ibunda loh!"

' Tolong lah... ya ampun nih bocah.. gini nih kalo udah umur tua tapi masih aja buat anak lagi.. jatuh nya bakal nyusahin.. untung sayang!'

Kemudian Elvira berjongkok dan berbisik. " Ibunda sudah tua.. dia masih muda." Elmira menatap wajah Evelyn sekali lagi, benar kata kakak nya. Tapi wajah nya tetap mirip-- Elmira yakin bahwa itu adalah ibunya.

Karena merasa frustasi dengan terpaksa, Elvira menggerakkan jarinya dengan pola melingkar di udara. Gelombang energi transparan menghantam dahi Evelyn dengan lembut. "Tidurlah dalam ingatanmu. Kau tidak melihat kami. Kau hanya merasa mengantuk di sore yang cerah ini.

Evelyn terdiam, matanya sayu sejenak sebelum Elvira menarik Elmira menjauh dengan paksa.

Suara Elmira Cadel dan Protes. "Tapi itu Ibu, Kak Elvi! Kenapa Ibu nda kenal Mila?"

Napas Elvira memburu, menatap Kenzie. "Kita harus pergi dari sini sekarang. Kenzie. Jika Ibu ada disini, Ayah juga pasti ada disini.. kekuatan sihir ku tidak mungkin bisa mempengaruhi Ayah.. ayo!"

BERSAMBUNG

1
gaby
Ntar kalo Elvira pny anak jgn dikasih nama Elvis y thor, makin puyeng
gaby
Namanya agak bikin bingung, beberapa mirip, Elmira, elvira, Eveleyn. Ga ada nama lain apa, bikin puyeng
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
gaby
Mantap crazyup nya thor. Smangat👍👍
gaby
Bukannya anak Rodrigo dah mati di bunuh Elvira di toilet mall. Tp ko Vania msh hdp?? Kan vania anak Rodrigo
ROGUES POINEX: Yang di bunuh Elvira anak dan Istri dari Menteri Pertahanan
total 2 replies
gaby
Msh misteri, kebahagiaan siapa yg akan mreka hancurkan?? Karena yg kliatan lg bahagia cm Sky & Evelyn. Apa mreka mau menghancurkan kebahagiaan ortu mreka sendiri??
gaby
Kayanya critanya lbh seru dr kisah Angel & Langit di Judul sebelumnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!