Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.
Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.
"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."
Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.
Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Liburan yang Tak Direncanakan
Bandara Adi Soemarmo, Solo — 04:45 WIB
Udara pagi Solo masih dingin, menusuk kulit meski Livia sudah mengenakan hoodie tipis di atas jarik yang ia lipat rapi di tas. Rangga berjalan di sampingnya, tangannya memegang dua koper kecil dan tas paspor—semua sudah dipersiapkan diam-diam sejak malam.
Mereka melewati gerbang VIP yang sudah diatur Rangga lewat koneksi keluarga. Tidak ada antrean panjang, tidak ada paparazzi yang mengintai. Hanya petugas bandara yang mengangguk hormat saat melihat nama Adiwinata di boarding pass.
“Kamu yakin Mama tidak akan marah besar?” tanya Livia pelan saat mereka duduk di lounge eksklusif, menunggu panggilan penerbangan ke Bali.
Rangga tersenyum tipis, tangannya meraih tangan Livia dan menggenggamnya erat. “Mama akan marah, ya. Tapi beliau juga tahu aku tidak pernah melawan tanpa alasan. Ini untuk kita, Liv. Sebulan tanpa aturan, tanpa kontrak saham, tanpa bisikan tante-tante. Hanya kamu dan aku.”
Livia menatap suaminya. Di bawah lampu lounge yang lembut, Rangga tampak lebih santai daripada saat di villa, dengan kaos hitam sederhana, celana jeans, dan jaket kulit tipis. Tapi aura posesifnya tetap ada, terpancar dari cara ia memandang Livia seperti satu-satunya orang di ruangan itu.
Penerbangan pagi ke Denpasar berlangsung singkat. Saat pesawat mendarat di Ngurah Rai, udara Bali langsung menyambut dengan hangat dan harum frangipani. Rangga sudah memesan villa pribadi di Uluwatu—tempat terpencil dengan private pool dan pemandangan samudra yang tak terhalang.
Villa itu seperti surga kecil: dinding batu alam, atap alang-alang, dan infinity pool yang seolah menyatu dengan laut biru di bawah tebing. Tidak ada staf yang menginap—hanya datang pagi untuk bersih-bersih dan masak, lalu pergi sore hari. Privasi total, seperti yang dijanjikan Rangga.
Hari pertama mereka habiskan dengan malas-malasan. Livia berbaring di daybed pinggir pool, mengenakan bikini sederhana yang ia beli diam-diam di bandara. Rangga duduk di sampingnya, membaca buku tapi matanya lebih sering melirik istrinya.
“Kamu tahu nggak,” kata Livia tiba-tiba, sambil memejamkan mata di bawah sinar matahari pagi. “Aku hampir nggak percaya kita benar-benar kabur. Rasanya kayak mimpi.”
Rangga meletakkan bukunya, lalu bergeser lebih dekat. Tangannya menyentuh lengan Livia, jari-jarinya mengusap kulit yang mulai hangat karena matahari. “Ini bukan mimpi. Ini realitas yang aku ciptakan untuk kita. Mama pasti sudah heboh telepon semua orang, tapi ponsel aku mati total. Ponsel kamu juga.”
Livia tertawa kecil. “Kamu beneran pemberontak tersembunyi, ya. Di depan keluarga kelihatan patuh banget, tapi pas giliran aku, kamu nekat kabur.”
Rangga menunduk, bibirnya menyapu bahu Livia dengan ciuman ringan. “Mungkin karena kamu.”
“Mulai lagi.” Livia decak sambil mencubit lengan Rangga pelan, tapi senyumnya nggak bisa disembunyikan. “Kamu kalau gombal gini, aku jadi lupa marah soal kabur ini.”
Rangga tertawa rendah, suaranya bikin perut Livia menggelitik “Marah boleh, tapi jangan lama-lama. Kita punya sebulan buat bikin kamu lupa semua drama ini.”
***
Hari-hari berikutnya berlalu seperti mimpi manis yang tidak ingin diakhiri.
Pagi-pagi mereka sarapan di teras—nasi goreng seafood, jus buah segar, dan kopi Bali yang pekat.
Rangga yang masak sendiri kadang-kadang, dengan celemek lucu yang ada di villa, bikin Livia tertawa, melupakan kemungkinan suaminya memiliki split personality.
Malam selalu spesial. Makan malam candlelight di villa—bebek betutu atau ikan bakar, lalu berlanjut mandi bersama di outdoor bathtub yang penuh kelopak bunga.
Rangga memijat bahu Livia dengan minyak aromaterapi, jari-jarinya ternyata lihai membuat ketegangannya perlahan lenyap. “Kamu capek?” tanyanya lembut.
“Capek, tapi happy,” jawab Livia sambil bersandar ke dada Rangga. Air hangat membasahi mereka, bintang-bintang di atas seperti menjadi penonton mereka.
Di minggu kedua, mereka mencoba hal baru.
Livia jatuh berkali-kali saat surfing, tapi Rangga selalmenangkapnya dan mengangkatnya. “Atlet nasional kok takut ombak?” godanya.
“Karena ombaknya nggak seganteng guru aku,” balas Livia sambil cium Rangga di atas papan surf.
Mereka juga hiking ringan ke Campuhan Ridge Walk di Ubud, jalan sambil pegangan tangan di tengah sawah hijau. Rangga foto Livia terus, bilang “buat wallpaper ponsel aku nanti”.
Obrolan mereka semakin dalam. Malam-malam di balkon, sambil minum wine lokal, mereka bicara mimpi. “Setelah ini, aku mau tetap tanding,” kata Livia serius. “Tapi aku juga mau punya waktu buat kita.”
Rangga angguk. “Aku dukung penuh. Aku akan atur jadwal latihan aku biar bisa nemenin kamu ke turnamen besar. Kita tim sekarang, Liv.”
Livia tersenyum, kepalanya di bahu Rangga. “Aku suka kita jadi tim. Mateo dulu bikin aku merasa bebas, tapi kamu... kamu bikin aku merasa aman sekaligus bebas.”
Rangga cium keningnya lama. “Itu yang aku mau. Kamu aman sama aku, tapi tetap jadi Livia yang liar di lapangan.”
Di akhir minggu ketiga, mereka mulai kangen rumah—bukan Solo dengan aturannya, tapi Jakarta dengan energi gaduhnya, Pelatnas, dan keluarga yang meski ribet tetap sayang. Rangga sudah cek email diam-diam lewat laptop villa—Mama Ratna marah besar awalnya, tapi Papa Adiwinata malah bilang “biarkan anak-anak bahagia dulu”.
Kontrak saham direvisi: saham Liang tetap dominan, klausul gila dihapus. Mama Ratna akhirnya setuju, dengan syarat mereka pulang dan Livia “belajar adat lebih dalam” nanti.
Malam terakhir di Bali, mereka makan malam di Jimbaran—duduk di pasir, makan seafood sambil kaki digoyang ombak kecil. Rangga pegang tangan Livia sepanjang malam.
“Terima kasih ya, buat liburan ini,” kata Livia tulus. “Aku nggak nyangka kita butuh ini sebanyak ini.”
Rangga tatap mata Livia lama. “Aku yang terima kasih. Kamu bikin aku sadar hidup nggak cuma soal adat dan bisnis. Ada kamu dan itu cukup.”
Mereka bercumbu di bawah bintang, ombak menjadi saksi. Besok mereka pulang ke Solo dan kembali ke dunia nyata dengan tantangan baru. Tapi sekarang mereka lebih kuat: bukan lagi bidak catur dinasti, tapi pasangan yang pilih satu sama lain.
Di pesawat pulang ke Jakarta, Livia tidur di bahu Rangga. Pria itu menatap istrinya lama, senyum kecil terukir di bibinya.
Liburan tak direncanakan ini bukan akhir tapi awal dari segalanya karena dia sudah mempersiapkan hati dan mental untuk menghadapi mertuanya.
"Kamu kenapa?" tanya Rangga kali tanpa tersenyum. "Kamu masih worried soal reaksi Mama-ku?"
Livia tidak tahu worriedi adalah kata yang tetap untuk menggambarkan apa yangs edang dia rasakan. "Kalau aku mau jujur, aku nggak tahu apa yang dipersiapkan ibumu, Ngga. Dia pasti marah banget sama ketika berdua."
Rangga hanya menatapnya dalam-dalam. "Aku percaya kalau kita berdua jaid tim. Nggak ada hal yang bisa kita lewati bersama."
Livia berharap dia bisa memercayai suaminya tapi entahlah...ini mungkin bagian dari paranoid-nya.