Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Setelah kepergian Farhan dari apartemennya, Riana yang sebelumnya menangis sejadi-jadinya di kamar, kini buru-buru menghapus air matanya. Ia tersenyum sinis, matanya memancarkan aura licik yang tersembunyi. Dengan gerakan cepat, ia meraih ponselnya dan menekan sebuah nomor.
"Sayang, kamu ke apartemen aku ya! Aku membutuhkan kamu," ucap Riana dengan nada manja, berusaha menyembunyikan amarah dan kekecewaan yang masih membara di hatinya. Ia menunggu dengan tidak sabar.
Tak berapa lama kemudian, seorang pria tampan dan bertubuh tegap masuk ke apartemen Riana. Pria itu tampak percaya diri dan arogan. Riana sudah menunggunya di ruang tamu, mengenakan pakaian yang sedikit terbuka untuk menarik perhatian pria itu.
Pria itu langsung nyosor dan memeluk Riana posesif. "Ada apa, sayang? Tumben kamu nelpon aku sore-sore gini?" tanyanya menggoda, mencium leher Riana dengan mesra.
Riana mendorong pria itu menjauh, wajahnya berubah menjadi serius. "Aku lagi kesal, sayang. Kamu tahu kan, Farhan sudah berubah? Ia sekarang malah ingin rujuk sama istri kampungannya itu," ucap Riana dengan nada geram.
Pria itu tertawa sinis. "Wah, gawat sayang. Jangan biarkan ia kembali pada wanita itu, nanti kita tidak bisa lagi menguras isi dompetnya," ucap pria itu, lalu tertawa sinis bersama Riana.
"Tenang, sayang. Dia tak akan lepas dari genggamanku karena sekarang ada anak kita yang akan menjeratnya," jawab Riana dengan nada penuh keyakinan. Ia mengelus perutnya yang masih rata, seolah sedang memberikan kekuatan pada janin yang dikandungnya.
"Kau memang cerdas, sayang. Pepet terus sampai dia menikahimu. Setelah itu, kita ambil semua hartanya dan tinggalkan si bodoh itu sama anak kita. Dan kita bisa senang-senang," ucap pria itu, lalu mencium bibir Riana. Ciuman itu penuh dengan nafsu dan ambisi.
Riana membalas ciuman pria itu dengan mesra. Ia tahu, pria itu hanya menginginkan hartanya, tetapi ia tidak peduli. Ia membutuhkan pria itu untuk mewujudkan rencananya.
"Aku punya ide yang lebih bagus, sayang," ucap Riana setelah melepaskan ciumannya. Ia tersenyum licik, matanya memancarkan aura kejahatan.
"Ide apa?" tanya pria itu penasaran.
"Kita tidak hanya akan mengambil hartanya, tapi juga menghancurkan hidupnya," jawab Riana dengan nada penuh dendam.
Pria itu tersenyum lebar, tertarik dengan ide Riana. "Bagaimana caranya?" tanyanya antusias.
Riana mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu dan membisikkan rencananya. Pria itu mendengarkan dengan seks, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Kau memang wanita yang luar biasa, Riana. Aku semakin mencintaimu," ucap pria itu, lalu memeluk Riana erat-erat.
"Aku juga mencintaimu, sayang. Mari kita hancurkan mereka semua," balas Riana, membalas pelukan pria itu dengan erat.
Di balik senyum manis dan kemesraan mereka, tersimpan rencana jahat yang akan menghancurkan hidup banyak orang. Mereka tidak peduli dengan penderitaan orang lain, yang mereka inginkan hanyalah harta dan kekuasaan.
_______&&______
Di ruang rawat Nafiza, Umi Maryam masih setia menemani putrinya. Ia melihat Nafiza tertidur pulas, wajahnya tampak lebih tenang. Ia berharap, putrinya akan mendapatkan petunjuk dari Allah dan mengambil keputusan yang terbaik.
Umi Maryam berdoa dalam hati, memohon kepada Allah untuk melindungi putrinya dari segala kejahatan dan memberikan kebahagiaan yang hakiki. Ia tahu, hidup ini penuh dengan ujian dan cobaan, tetapi ia percaya, Allah akan selalu memberikan kekuatan kepada hamba-Nya yang bersabar dan bertakwa.
Tiba-tiba, ponsel Umi Maryam berdering. Ia melihat nama "Abi" tertera di layar ponselnya. Dengan ragu, ia mengangkat panggilan itu.
"Assalamualaikum, Bi," ucap Umi Maryam dengan nada lembut.
"Waalaikumsalam, Umi. Bagaimana keadaan Nafiza?" tanya Abi dari seberang sana, terdengar nada khawatir dalam suaranya.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik, Bi. Tadi dia sudah bisa bicara dan makan sedikit," jawab Umi Maryam berusaha menenangkan suaminya.
"Alhamdulillah. Abi tidak bisa menemanimu di sana, Umi. Ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Tapi Abi akan selalu mendoakan Nafiza," ucap Abi dengan nada menyesal.
"Tidak apa-apa, Bi. Umi mengerti. Jaga diri baik-baik ya," balas Umi Maryam.
"Iya, Umi. Umi juga jaga kesehatan ya. Nanti Abi akan usahakan untuk menjenguk Nafiza secepatnya," ucap Abi.
Setelah menutup telepon, Umi Maryam menghela napas panjang. Ia merasa lelah dan khawatir. Ia merindukan suaminya dan ingin berbagi beban dengannya. Namun, ia tahu, Abi juga memiliki tanggung jawab yang harus dipenuhi.
Umi Maryam kembali menatap Nafiza yang masih tertidur pulas. Ia berharap, putrinya akan segera sembuh dan bisa kembali menjalani hidup dengan bahagia.
_________&&______
Ke esokan harinya, di ruang CEO-nya yang mewah, Zayn duduk di kursinya dengan wajah serius. Ia sedang membaca laporan keuangan perusahaan. Pikirannya fokus pada pekerjaan, tetapi hatinya tetap tertuju pada Nafiza. Ia terus memikirkan wanita itu dan berdoa untuk kesembuhannya.
Tiba-tiba, pintu ruangannya diketuk. Zayn mendongak dan melihat sekretarisnya, Rina, berdiri di depan pintu.
"Maaf mengganggu, Pak. Ada yang ingin bertemu dengan Bapak," ucap Rina sopan.
"Siapa?" tanya Zayn tanpa mengalihkan pandangannya dari laporan.
"Pak Farhan, Pak," jawab Rina.
Ya Farhan dan Riana sedang menjalani skorsing satu bulan tanpa di gaji karena tindakan mereka beberapa hari lalu yang mempermalukan Nafiza.
Zayn terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. Ia tahu, Farhan pasti ingin membicarakan masalah pribadi mereka. "Suruh dia masuk," ucap Zayn akhirnya.
Rina mengangguk, lalu mempersilakan Farhan masuk.
Farhan masuk ke ruangan Zayn dengan wajah tegang. Ia berjalan mendekat ke meja Zayn dengan langkah ragu.
"Ada apa?" tanya Zayn dingin, menatap Farhan dengan tatapan tajam.
Farhan menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. "Saya ingin bicara, Pak," ucap Farhan dengan nada serius.
"Tentang apa?" tanya Zayn masih dengan nada dingin.
"Tentang Nafiza," jawab Farhan serius.
Zayn terdiam sejenak, lalu mengangkat alisnya. "Apa yang ingin kau bicarakan tentang dia?" tanya Zayn dengan nada waspada.
"Saya tahu, Bapak menginginkan Nafiza. Tapi saya mohon, bapak menjauhinya biarkan saya kembali padanya. Saya menyesal telah menyakitinya. Saya ingin memperbaiki semuanya," mohon Farhan dengan nada memelas.
Zayn tertawa sinis mendengar ucapan Farhan. "Kau pikir, setelah semua yang kau lakukan padanya, dia akan mau kembali padamu? Kau sudah menyia-nyiakan kesempatanmu, Farhan. Sekarang, dia milikku," ucap Zayn dengan nada meremehkan.
"Tapi saya masih suaminya secara hukum. Kami belum resmi bercerai. Saya masih punya hak untuk kembali padanya," bantah Farhan dengan nada penuh tekanan.
"Kau pikir, dengan mudahnya kau bisa kembali padanya setelah kau campakkan dia demi wanita lain? Nafiza bukan barang yang bisa kau ambil dan buang seenaknya," balas Zayn dengan nada geram.
"Saya akan memperbaiki semuanya dari awal!" tegas Farhan tak mau menyerahkan, ia kekeh ingin mempertahankan nafiza.
"Silahkan saja, jika kamu ingin melihat hidupmu hancur!" desis Zayn dengan seringai misteriusnya. Lalu kembali fokus pada layar komputernya.
Bersambung ...