Kisah sebuah balas dendam dari seorang wanita bernama Kiara yang dikhianati oleh kekasihnya sendiri, membawanya bertemu dengan sosok NYAI RONGGENG yang dapat menjanjikan kecantikan, dan digemari banyak pria.
Kisah mistis ini berasal dari daerah Dusun 16, Desa Kolam, Kecamatan Percut Sei Tuan-Deli Serdang-Sumutera Utara (Sekitaran Medan).
Bagaimana kisah Kiara selanjutnya? ikuti kisahnya dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak-2
Jhony yang sudah terpikat oleh segala ucapan dan lekukan tubuh sang gadis, tanpa berfikir panjang mengirimkan uang lima juta rupiah ke nomor dompet digital milik Kiara.
Niat hati ingin menyita hasil aliran dana, justru mereka terjebak memberikan uang kepada sang gadis yang sudah membuat mereka seperti kerbau yang dicocok hidungnya.
"Lihatlah, aku sudah mengirimkannya, dan transaksi berhasil." Jhony memperlihatkan hasil transaksinya kepada Kiara.
"Baiklah, sekarang kemari lah," ajak Kiara dengan senyum yang menggoda.
Dengan rasa tak sabar, Jhony naik keranjang, dan langsung menyesap apem sang gadis dengan rakus.
Rudy membuka matanya saat mendengar dua insan yang saling merintih tersebut. Ia sedang menunggu gilirannya, dan ternyata ia menyadari, jika apa yang dilakukan Tarman memang diluar kendali, dimana mereka sendiri sudah terjebak didalamnya.
****
Rama sudah berada didalam kamar miliknya. Wanita paruh baya yang merupakan ibunya menatapnya dengan gelisah. "Ram, kenapa badanmu jadi seperti kuning begini?" tanya Misnah dengan rasa khawatir.
Ia melihat putih mata pada putranya berubah menjadi berwarna kuning, dan kulitnya juga ikut menguning.
Rama tak dapat menjawab, sebab ia sendiri tidak tahu. "Kamu seperti kehabisan darah," Misnah memeriksa kondisi puteranya. Lalu dengan rasa khawatir yang cukup tinggi, ia menghubungi ambulance untuk membawa Rama kerumah sakit.
Sementara itu, Rama masih saja diam, ia merasakan tulangnya sangat nyeri, dan seperti merasakan ribuan semut sedang menggigitnya, suhu tubuhnya meningkat, tetapi ia merasa kedinginan.
Misnah yang melihat kondisi puteranya terus memburuk, mencoba menghubungi Reva dan mempertanyakan sang menantu, mengapa Rama bisa sampai seperti itu.
Ia berulangkali menghubungi menantu perempuannya, tetapi panggilan tidak diangkat, meskipun sudah tersambung.
"Kemana si Reva? Kenapa Rama pulang dengan kondisi seperti ini?" ia terlihat kebingungan.
"Ram, kamu sebenarnya diapain sama istrimu? Kenapa kamu bisa seperti ini?" Misnah terlihat cemas dan gusar.
Lagi-lagi Rama tak menjawab. Seolah lidahnya kelug untuk mengeluarkan sepatah katapun.
Sementara itu, mobil ambulans yang dihubunginya sudah tiba, dan dengan dibantu oleh petugas medis, mengangkat tubuh pria itu untuk dibawah ke rumah sakit.
****
Ranjang pasien yang memiliki empat roda didorong dengan cepat. Petugas medis membawa tubuh Rama yang terbujur dengan lemah menuju ruang UGD.
Misnah semakin kalut, tetapi ia terus mendampingi puteranya.
Setibanya diruang UGD, Rama dipindahkan ke ranjang pasien, lalu dilakukan pemeriksaan, dari cek suhu tubuh, cek tensi darah, hingga cek darah untuk hasil laboratorium.
Sementara itu, Misnah sudah semakin cemas, sebab Rama tak lagi banyak bergerak, mereka menunggu hasil labor untuk melihat apa yang diderita oleh Rama.
Perawat memasang infus untuk memberikan tambahan tenaga kepada pasien. sedangkan kulit Rama semakin pucat, ia seperti kehilangan banyak darah.
"Bu, tolong cari donor darah sebanyak 5 kantong untuk golongan darah O+, secepatnya. Sebab putera ibu mengalami gejala leukimia, trombosit darah merahnya sangat turun, dan darah putih terlalu banyak," pesan seorang Dokter yang datang dari arah depan.
Sontak saja hal itu membuat Misnah tercengang. Bagaimana mungkin Rama bisa kehilangan banyak darah merah?
"Bagaimana bisa putera saya kehilangan banyak darah?" Misnah masih dilanda kebingungan. Ia saat ini sedang sendirian dalam menghadapi situasi yang buruk, ditambah suaminya yang merantau belym kembali, membuat bebannya terasa semakin berat.
"Kami juga sulit menemukan penyebabnya. Tapi tulang sumsumnya sulit memproduksi sel darah merah, dan DNA nya bermutasi, sehingga trombositnya turun," jelas sang dokter, meskipun Misnah sendiri dilanda kebingungan.
"Sebaiknya ibu segera hubungi saudara dan rekan lainnya untuk mencari donor darah dengan golongan O+, agar pasien dapat ditangani," pesan dokter tersebut,
"Saya O+, Dok. Coba cek saya, nanti sisanya saya cari, yang terpenting tolong dulu anak saya,"
"Baiklah, kita akan periksa ibu, untuk memastikan apakah layak untuk mendonorkan darah atau tidak,"
Misnah menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti langkah sang dokter, untuk diperiksa kondisi kesehatannya.
****
Jhony dan Rudy terlihat sempoyongan. Keduanya sudah banyak mengeluarkan energi. Jhony mengatur nafasnya yang tersengal, tampaknya ia terlalu, sehingga lututnya seperti bergetar karena lelah menggarap sawah milik Kuara.
Anehnya, gadis itu tampak bugar. Ia sama sekali tidak merasa lemah setelah entah berapa kali menikmati pergumulannya.
Tanpa sadar, Jhony sudah kehilangan uang seratus lima juta, sebab tiga kali mentransfer ke nomor dompet digital Kiara.
Rasa ketagihan akan apemnya Kiara, sudah membuatnya setengah gila. Saat ini ua berhenti karena kelelahan, andai saja tenaganya masih ada, maka ia akan terus menggarap Kiara meski harus mengeluarkan uang yang banyak.
Sedangkan Rudy sendiri sudah mengeluarkan uang seratus tujuh puluh lima juta, sebab sudah menggarap empat kali.
"Ini enak sekali. Aku tidak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata," ucap Rudy, sembari mengatur nafasnya yang tidak terkontrol.
Keduanya beristirahat sejenak, dan setelah sedikit merasa bugar, lalu pergi memutuskan untuk pulang, dan melupakan tujuan awalnya.
"Terimakasih, Kiara, ternyata kamu sangat hebat," Jhony berpamitan untuk pergi.
"Sama-sama, Pak. Kalau butuh tinggal hubungi saya saja, jangan ditahan kangennya, nanti bisa jadi prostat," bisik sang gadis, tepat ditelinga pria tersebut.
"Tentu saja, siapa yang bisa menolak rasa legit apemmu," sahut Rudy dengan penuh semangat.
Sedangkan Jhony masih diam seribu bahasa, dan mereka pergi meninggalkan kediaman Kiara saat hari sudah malam.
"Rud, kenapa kita yang jadi keluar duit, ya?" tiba-tiba Jhony mengeluarkan unek-uneknya.
"Ya, karena sudah ngerasain apemnya," sahut pria itu dengan santai.
"Iya tapi kita ini datang ke rumahnya untuk menarik uang hasil dari aliran dana desa yang dikorup Tarman, tapi kenapa kita yang jadi keluar duit," Jhony terlihat bingung. Tetapi ia juga merasa jika ada sesuatu yang tak wajar terjadi pada dirinya dan juga Rudy.
"Sudahlah, lapan lagi coba bisa nikmati apem selegit itu," sahut Rudy sembari menyetir mobilnya.
Sedangkan Jhony sendiri masih dalam dilema, ua tak memungkiri jika apa yang sudah diberikan Kiara memang luar biasa, tetapi uang yang mereka keluarkan untuk Kiara merupakan hal yang sulit diterima oleh akal sehat.
Akan tetapi, ia seperti merasakan rindu berat pada sang gadis, seolah tak dapat lepas dari pesonanya.
sementara itu, Misnah menghubungi saudaranya, ia sibuk menelepon satu persatu kerabatnya yang dianggap memiliki darah yang sama dengannya.
Ia melirik Rama yang terbaring dengan jarum cairan infus dan juga tranfusi darah.
Rama masih memejamkan kedua matanya, ia tak dapat merespon siapapun.
Misnah menerima tanggapan dari kakak lelakinya, jika esok akan datang untuk memberikan bantuan donor darah kepada Rama.
Mendengar kabar itu, Misnah sedikit lega, meskipun ia harus mencari tiga kantong lainnya, tetapi mendapatkan satu kantong saja sudah lega.
Wanita itu sudah lelah, sebab juga butuh istirahat dan tidur. Ia berbaring diranjang pasien yang masih kosong.
Malam semakin larut, semua orang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing.
"Ram, Rama," suara panggilan yang begitu sangat lembut, dan membuat Rama merespon.
"Rama, Rama," kembali suara itu memanggilnya, dan hingga ia harus membuka matanya.
Saat ia mengerjap, terlihat seoeang gadis cantik berkemben warna hijau tua, dengan kain jarik yang bermotif lintah menatapnya sembari mengulas senyum yang begitu menawan.
Kecantikannya tak dapat ia tolak. Hingga sosok itu mengulurkan tangannya. "Ayo," ajaknya dengan suara yang sangat lembut.
Rama mengangkat tangannya. Sepertinya kali ini ia sudah bertenaga mungkin sudah mendapatkan setengah kantong darah yang masuk ke dalam tubuhnya.
Rama butuh gol. darah O+ ,, aku nti ikutan nyumbang darah yaa Krn aku jg gol. darah nya O+ 🤣
tp spt nya Rama nti koit deh Krn sdh mau ikut sama iblis Nyai Ronggeng 🤣
apakah iblis Nyai Ronggeng mnta Tumbal yaaa ❓❓
maaf yaa kak ,, mmg TDK ada warga yg ngomong / ngadu ke orang tua nya Kiara yaa kalau anak nya JD Jalang Sampah Masyarakat 😤😤
Mungkin di mata Rama, Nyai Punden Ronggeng seperti Kiara kali yah.. 😁😁🤏
apakah kata-kata Kiara itu akan mjd kutukan untuk Beidah ❓❓
Bagus Rama gak mati di dalam galian kuburan yg di buat nya sndri 🤣🤣
Uang Gajian sebulan malah di berikan PD Kiara ,,, mmg nya nti mo d kasih makan apa tuh keluarga di rumah ,,, tp Alhamdulillah untung nya dh ketahuan duluan 💃
si Kiara di suruh nyari 100 orang laki-laki ,, sdgkan Kiara baru dpt 2 orang ( Tarman dan Rama ) ,,, tinggal 98 laki-laki lagi ,,, mmg kudu ke kota kau Kiara ,,,,,,, gaskeun 🤣🤣
Kiara untung bgt tuh , gak di garap tp ttp dapat uang 5jt dr Rama 💃💃