NovelToon NovelToon
Satya Wanara, Pendekar Toya Emas Angin Langit

Satya Wanara, Pendekar Toya Emas Angin Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Penyelamat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:861
Nilai: 5
Nama Author: Zaenal 1992

Di ambang keruntuhan Majapahit dan fajar menyingsingnya Islam di Nusantara, seorang pemuda eksentrik bernama Satya Wanara berkelana dengan tingkah laku yang tak masuk akal. Di balik tawa jenaka dan tingkah konyolnya, ia membawa luka lama pembantaian keluarganya oleh kelompok rahasia Gagak Hitam. Dibekali ilmu dari seorang guru yang lebih gila darinya, Satya harus menavigasi dunia yang sedang berubah, di mana Senjata bertemu doa, dan pedang bertemu tawa.

​Daftar Karakter Utama:

​Satya Wanara (Raden Arya Gading): Protagonis yang lincah, konyol, namun mematikan.

​Ki Ageng Dharmasanya: Ayah Satya, Panglima Telik Sandi Majapahit (Almarhum).

​Nyai Ratna Sekar: Ibu Satya, keturunan bangsawan yang bijak (Almarhumah).

​Eyang Sableng Jati: Guru Satya yang konyol dan sakti mandraguna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita Awal: Darah di Trowulan dan Rahasia di Gunung Kelud

​Malam itu, bulan di atas langit Trowulan tertutup mega hitam yang pekat, seolah enggan melihat darah yang akan tertumpah. Di kediaman Ki Ageng Dharmasanya, sang Panglima Telik Sandi (Intelijen) Majapahit, suasana mencekam. Ki Ageng adalah sosok yang terlalu jujur untuk dunia yang penuh intrik. Ia menyimpan sebuah gulungan rahasia tentang pengkhianatan besar beberapa pejabat tinggi istana yang bekerja sama dengan pihak asing.

​"Gagak Hitam sudah datang," bisik Ki Ageng sambil menghunus keris pusakanya.

​Seketika, puluhan pembunuh bayaran dari sekte Gagak Hitam menyerbu. Mereka adalah mesin pembunuh yang disewa oleh para koruptor istana. Pertempuran tidak seimbang terjadi. Di tengah dentingan logam, Nyai Ratna Sekar memeluk bayi mereka, Raden Arya Gading, dengan erat. Dalam keputusasaan, ia menyerahkan bayi itu kepada Suro, seorang abdi setia yang paling ia percaya.

​"Bawa dia pergi, Suro! Jangan biarkan garis keturunan ini putus!" tangis Nyai Ratna sebelum ia terjun ke medan laga membantu suaminya.

​Suro berlari menembus kegelapan menuju lereng Gunung Kelud. Namun, para pembunuh itu terlalu cepat. Sebuah anak panah berdesing, melesat menembus udara malam dan tertancap telak di punggung Suro. Anak panah itu telah diolesi racun katak buduk yang mematikan. Dengan sisa tenaga yang menguap, Suro terus berlari hingga mencapai sebuah ceruk di bawah pohon besar yang dikeramatkan. Pandangannya mulai kabur, napasnya tersengal.

​"Maafkan hamba, Gusti..." bisik Suro. Ia meletakkan bayi Arya ke dalam sebuah keranjang bambu yang terlindung akar pohon, tepat sebelum tubuhnya kaku dan nyawanya terenggut oleh racun. Suro tewas dalam posisi bersujud, menjaga keranjang itu dengan jasadnya.

​Keajaiban terjadi di sana. Seekor Induk Kera Putih yang baru saja kehilangan anaknya mendengar tangisan bayi Arya. Bukannya memangsa, kera itu justru mendekap sang bayi ke dadanya yang hangat. Selama satu bulan penuh, bayi Arya hidup di antara kawanan kera, meminum susu induk kera putih yang secara mistis mengandung energi murni pegunungan. Susu itu masuk ke sumsum tulangnya, memberikan kelenturan yang mustahil bagi manusia biasa dan insting hewani yang sangat tajam.

​Tepat satu bulan kemudian, seorang pendekar tua bernama Eyang Sableng Jati sedang melintas sambil mengejar kupu-kupu imaginer. Ia terhenti melihat pemandangan aneh: seorang bayi tampan sedang mencoba menggaruk telinga kera putih.

​"Waduh! Ini bocah manusia atau jelmaan Hanoman?" seru Eyang Sableng sambil tertawa cekikikan. Melihat jasad Suro dan kain kerajaan yang menyelimuti bayi itu, Eyang Sableng tahu ini adalah anak yang istimewa. "Nasibmu pahit, tapi wajahmu manis. Mari ikut aku, Cah Bagus. Namamu kini adalah Satya Wanara. Aku akan mengajarimu cara menertawakan dunia yang gila ini!"

​tujuh belas tahun berlalu. Satya Wanara tumbuh menjadi pemuda yang tampan rupawan. Rambutnya hitam legam, belah tengah, dan panjang sepundak. Ia memakai ikat kepala merah dengan hiasan bulu merak yang selalu bergoyang saat ia bergerak. Tubuhnya yang atletis dibalut pakaian silat tanpa lengan, memamerkan otot yang lentur namun kuat, serta celana panjang yang memudahkan gerak lincahnya.

​Namun, ketampanannya adalah tipuan. Begitu ia membuka mulut atau bergerak, sifat "Sableng" (gila) langsung muncul. Ia sering menggaruk kepalanya, berjongkok di atas meja pasar, atau tertawa terbahak-bahak tanpa alasan yang jelas di depan musuh.

​Kini, Satya turun ke kota-kota pesisir. Di sebuah pasar yang ramai di bawah kekuasaan Kadipaten yang mulai memeluk Islam, Satya berdiri di tengah kerumunan. Di depannya, beberapa prajurit sedang menindas seorang pedagang kecil.

​"Hei, Tuan-tuan yang kumisnya mirip sikat pembersih kuda!" teriak Satya sambil berjongkok di atas sebuah gentong air. "Kenapa wajah kalian cemberut begitu? Apa pagi tadi lupa sarapan nasi atau lupa sarapan tawa?"

​Seorang prajurit membentak, "Siapa kau, orang gila?!"

​Satya menyeringai, menunjukkan barisan giginya yang rapi namun nakal. "Aku? Aku hanyalah monyet yang sedang mencari kacang. Tapi kulihat di sini banyak monyet berseragam yang sedang mencari masalah."

​Satya melompat, gerakannya secepat kilat, persis kera yang berpindah dahan. Ia tidak memukul dengan kepalan tangan, melainkan dengan gerakan menangkis yang jenaka, membuat prajurit-prajurit itu saling pukul sendiri karena terkecoh. Di pinggangnya, Gada Kayu Nagasari—sepotong kayu yang terlihat biasa namun bisa meremukkan baja—bergetar, seolah ikut tertawa melihat kegilaan tuannya.

​Dalam hatinya, Satya tidak pernah lupa. Sambil tertawa dan bercanda, matanya yang tajam selalu mencari satu simbol: tato Gagak Hitam pada lawan-lawannya. Ia tahu, di antara para pejabat korup dan intrik politik Majapahit yang sedang sekarat, para pembunuh orang tuanya masih berkeliaran.

​Satya Wanara tidak akan membunuh mereka dengan kemarahan yang meluap-luap. Ia akan membunuh mereka dengan tawa, dengan tarian kera, dan dengan kebenaran yang tak pernah bisa mati.

1
anggita
wah ada anggota Wali Songo juga😊.
anggita
oke lah👌👍
anggita
ikut dukung like👍iklan👆👆, buat author novel fantasi timur lokal. semoga lancar sukses novelnya.
anggita
nama teknik jurusnya unik😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!