NovelToon NovelToon
ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Dokter / Ilmu Kanuragan / Penyelamat
Popularitas:713
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.

Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.

Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAHASIA YANG SULIT DISEMBUNYIKAN

Hujan deras mengguyur kota Cirebon pada hari Sabtu sore itu, membuat jalanan licin dan membuat sebagian besar orang memilih untuk tinggal di dalam rumah. Namun Evan dan beberapa teman sekelasnya termasuk Rina sedang berada di sekolah untuk mengikuti ekstrakurikuler klub sains yang sedang mengadakan kegiatan praktikum di laboratorium sekolah. Mereka sedang mempersiapkan alat dan bahan untuk eksperimen tentang sifat-sifat zat kimia ketika terdengar suara teriakan yang menusuk dari arah lapangan olahraga.

"ADA YANG TERLUKA!" teriak seorang siswa yang berlari masuk ke dalam gedung dengan baju yang basah kuyup akibat hujan. "Adi terjatuh dari tangga tinggi saat membersihkan jaring voli – dia terluka parah dan tidak bisa bergerak!"

Tanpa berpikir dua kali, Evan dan beberapa teman lainnya termasuk Rina segera berlari ke arah lapangan olahraga dengan membawa beberapa perlengkapan pertama dari kantin sekolah. Saat mereka tiba di lokasi kejadian, mereka menemukan Adi – salah satu anggota klub voli yang dikenal sebagai anak yang aktif dan ceria – terbaring tak berdaya di atas tanah yang berlumpur, dengan darah yang terus mengalir dari sayap kirinya yang tampaknya patah dan lukaan di dahinya yang dalam. Wajahnya pucat dan napasnya tersengal-sengal, menunjukkan bahwa dia sedang dalam kondisi yang sangat kritis.

"Saya sudah menghubungi ambulans tapi mereka bilang akan butuh waktu sekitar 30 menit karena jalanan macet akibat hujan!" teriak salah satu teman dengan suara yang penuh kegawatan. "Kita tidak bisa hanya diam dan menunggu saja – dia bisa kehilangan banyak darah!"

Para guru yang datang kemudian segera mencoba memberikan pertolongan pertama dengan menggunakan peralatan yang ada, namun kondisi Adi tidak kunjung membaik. Darahnya terus mengalir dan suhu tubuhnya mulai menurun akibat terkena hujan dan kehilangan darah. Rina melihat ke arah Evan dengan mata yang penuh harapan – dia tahu bahwa Evan memiliki pengetahuan tentang pengobatan tradisional yang mungkin bisa membantu.

"Evan... kamu bisa melakukan sesuatu kan?" bisik Rina dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Kita tidak bisa biarkan Adi seperti ini!"

Evan merasa hati dan pikirannya sedang berjuang hebat. Dia tahu bahwa menggunakan ilmu pengobatannya di depan banyak orang akan membuat rahasianya terbongkar dan mungkin akan menimbulkan masalah besar – baik dari pihak sekolah maupun dari orang lain yang mungkin tidak mengerti atau bahkan meragukan ilmu tradisional yang dia pelajari. Namun ketika dia melihat kondisi Adi yang semakin parah, dia tahu bahwa dia tidak punya pilihan lain selain bertindak.

"Biarkan saya mencoba membantu dia," ujar Evan dengan suara yang tenang namun penuh tekad. Ia segera bergerak mendekati Adi dengan hati-hati, kemudian memeriksa kondisi lukanya dengan cermat sambil menjelaskan apa yang akan dia lakukan kepada guru dan teman-teman yang ada di sekitarnya.

"Saya tahu beberapa cara pengobatan tradisional dari leluhur saya," ujar Evan dengan jelas. "Saya tidak bisa menjamin akan berhasil, tapi saya akan melakukan yang terbaik untuk membantu Adi bertahan hingga ambulans datang."

Tanpa menunggu tanggapan dari orang lain, Evan mulai bertindak dengan cepat namun hati-hati. Pertama, dia meminta salah satu teman untuk mengambil beberapa daun sirih merah dan kunyit yang secara kebetulan tumbuh di taman sekolah dekat kantin – dia tahu bahwa kedua tanaman ini memiliki sifat untuk menghentikan perdarahan dan mencegah infeksi. Dia menggosok daun dan kunyit tersebut dengan cepat menggunakan batu kecil hingga menjadi bubur, kemudian menerapkannya pada lukaan di dahi dan sayap Adi dengan lembut namun merata.

Setelah itu, dia menggunakan kain bersih yang dibawa oleh salah satu guru untuk membungkus luka dengan erat namun tidak terlalu ketat agar tidak menghambat peredaran darah. Sambil melakukan itu, dia juga menggunakan teknik pijat ringan pada bagian tubuh Adi yang tidak terluka untuk membantu menjaga aliran darah tetap lancar dan mencegah tubuhnya menjadi terlalu dingin akibat kehilangan darah.

"Saya juga perlu memberikan dia sesuatu untuk diminum agar tetap sadar dan menjaga energi tubuhnya," ujar Evan kepada guru yang sedang membantu menyangga tubuh Adi. Ia segera berlari ke arah kantin sekolah dan mengambil sedikit madu dari toples yang biasa digunakan untuk membuat minuman hangat di kantin, kemudian mencampurkannya dengan air hangat sebelum memberikannya kepada Adi untuk diminum perlahan.

Setelah beberapa menit melakukan pertolongan pertama dengan cara tradisional tersebut, mereka melihat bahwa perdarahan pada luka Adi mulai berkurang dan wajahnya sedikit mulai kembali memiliki warna. Dia bahkan bisa sedikit membuka mata dan mengucapkan terima kasih kepada Evan dan semua yang membantu dia.

"Bagaimana kamu bisa melakukan semua itu, Evan?" tanya salah satu teman dengan suara yang penuh kagum. "Kamu seperti dokter atau bidan yang berpengalaman!"

Sebelum Evan bisa menjawab, suara sirene ambulans sudah terdengar semakin dekat. Beberapa petugas kesehatan segera turun dari mobil dan mulai memeriksa kondisi Adi dengan cermat. Setelah melakukan pemeriksaan awal, salah satu petugas kesehatan yang bernama Bu Ani melihat ke arah Evan dengan tatapan yang penuh rasa hormat.

"Siapa yang memberikan pertolongan pertama pada anak ini?" tanya Bu Ani dengan suara yang penuh perhatian. "Yang melakukan ini benar-benar ahli – cara menghentikan perdarahan dan cara membungkus luka sangat tepat dan efektif. Bahkan ramuan yang digunakan pada luka tampaknya memiliki khasiat yang baik untuk mencegah infeksi."

Semua mata segera tertuju pada Evan, membuatnya merasa sedikit tidak nyaman. Ia berdiri dengan sopan dan menjelaskan bahwa dia hanya menggunakan pengetahuan yang dia pelajari dari leluhurnya di kampung. Bu Ani mengangguk dengan penuh pemahaman dan rasa hormat.

"Pengetahuan tradisional seperti itu sangat berharga, anak muda," ujar Bu Ani dengan lembut. "Banyak orang yang meremehkannya, tapi dalam kasus seperti ini, pengetahuan itu bisa menjadi perbedaan antara hidup dan mati. Saya akan mencatat ini dalam laporan saya dan mungkin kita bisa berbicara lebih jauh tentang hal itu nanti ya?"

Setelah Adi dibawa ke rumah sakit dengan menggunakan ambulans, teman-teman dan guru mulai mengelilingi Evan dengan berbagai pertanyaan tentang ilmu pengobatan tradisional yang dia ketahui. Beberapa dari mereka merasa kagum dan ingin tahu lebih banyak, sementara yang lain sedikit meragukan namun tetap menghargai apa yang telah dia lakukan untuk menyelamatkan nyawa Adi.

"Kamu benar-benar menyelamatkan nyawa Adi tadi, Evan," ujar Rina dengan suara yang penuh rasa syukur, menjabat tangan Evan dengan erat. "Aku tahu kamu khawatir tentang rahasiamu yang terbongkar, tapi apa yang kamu lakukan adalah benar sekali."

Evan mengangguk dengan rasa lega dan sedikit kelelahan. Dia tahu bahwa dari saat itu, rahasia yang dia simpan selama ini tidak akan bisa lagi disembunyikan dengan sempurna. Namun dia juga merasa bahwa apa yang dia lakukan adalah benar – bahwa menyelamatkan nyawa orang lain jauh lebih penting daripada menyembunyikan kemampuannya.

Ketika pulang ke kampung itu malam hari, Evan segera pergi menemui Kakek Darmo untuk memberitahukan seluruh kejadian yang telah terjadi. Dia menceritakan dengan jujur tentang bagaimana dia terpaksa menggunakan ilmu pengobatannya di depan banyak orang untuk membantu Adi yang terluka parah.

Kakek Darmo mendengarkan dengan penuh perhatian, kemudian tersenyum dengan bangga dan menepuk bahu Evan dengan lembut. "Kamu telah membuat keputusan yang sangat tepat, cucu," ujarnya dengan suara yang penuh kebanggaan. "Saya pernah mengatakan bahwa kamu harus menjaga rahasia ini dengan baik – tapi saya juga pernah mengatakan bahwa ilmu ini harus digunakan untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Kamu telah menunjukkan bahwa kamu benar-benar memahami makna dari warisan yang diberikan kepadamu."

Ia berdiri dan mengajak Evan untuk masuk ke rumahnya, kemudian membawanya ke ruangan rahasia yang menyimpan buku-buku kuno tentang ilmu pengobatan. Di sana, ia mengambil sebuah buku yang lebih besar dan lebih tua dari yang lain, kemudian memberikannya kepada Evan.

"Ini adalah buku yang berisi tentang ilmu pengobatan tradisional yang lebih mendalam – termasuk cara menangani luka berat, penyakit menular, dan kondisi darurat lainnya," ujar Kakek Darmo dengan lembut. "Dari sekarang ini, saya akan mengajarkan kamu ilmu ini secara penuh. Karena kamu telah membuktikan bahwa kamu bisa dipercaya untuk menggunakan nya dengan benar dan untuk kebaikan orang lain."

Ia melanjutkan berbicara dengan suara yang penuh makna. "Rahasia yang kamu simpan tidak lagi bisa disembunyikan dengan sempurna setelah kejadian hari ini. Mungkin akan ada orang yang meragukan atau bahkan mencoba menghalangi kamu. Tapi ingatlah selalu – ilmu yang kamu pelajari adalah warisan leluhur yang sangat berharga, dan kamu harus bangga dengan nya. Gunakan nya dengan bijak dan selalu untuk kebaikan – maka kamu tidak akan pernah salah jalan."

Evan menerima buku itu dengan tangan yang gemetar namun penuh rasa hormat. Ia merasa bahwa dunia nya telah berubah sekali lagi – bahwa ia tidak hanya harus menyimpan rahasia warisan leluhurnya namun juga harus mulai membagikannya kepada orang lain yang membutuhkan dan bisa dipercaya. Di bawah sinar lampu yang lemah di ruangan rahasia itu, Evan merasa bahwa dirinya telah siap untuk menghadapi tantangan baru yang akan datang – siap untuk menjadi penerus warisan yang tidak hanya menjaga rahasia namun juga siap untuk berbagi manfaatnya dengan dunia luar yang semakin luas dan kompleks.

Dan seperti cahaya yang menerangi kegelapan ruangan itu, ilmu pengobatan tradisional yang dia pelajari mulai menyebarkan manfaatnya kepada orang lain – memberikan harapan baru dan kesempatan hidup bagi mereka yang sedang dalam kesusahan, serta menunjukkan bahwa pengetahuan tradisional memiliki nilai yang tak ternilai harganya yang harus dilestarikan dan dikembangkan untuk kesejahteraan umat manusia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!