Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.
Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.
Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.
Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Harga yang Tidak Tertulis
Hua’er berdiri mematung di tengah ruangan yang remang. Jubah sutra merah gelapnya tersampir longgar, namun posturnya tetap tegap dan menantang. Rambut hitamnya terurai bebas, membingkai wajah yang selalu dingin dan tak terbaca. Tatapannya jernih, terlalu jernih untuk sekadar seorang wanita penghibur. Di balik topeng ketenangannya, ada sesuatu yang mematikan, sebuah persembahan terakhir yang ia siapkan khusus untuk orang-orang di hadapannya.
Di atas kasur tipis, tiga pria duduk dengan gestur meremehkan. Pengawas senior Paviliun Tianlu berada di tengah, diapit dua bawahannya. Wajah mereka merah padam, bukan karena malu, melainkan oleh arak dan nafsu yang meluap. Jubah resmi mereka teronggok sembarangan di sudut ruangan, seolah-olah mandat agung Tianyuan bisa dilepas pasang sesuka hati saat syahwat memanggil.
“Mau sampai kapan kau berdiri di sana?” ujar pengawas itu sambil menyeringai. “Seharusnya kau tahu aturannya. Kesalahan harus segera dibayar.”
Salah satu bawahannya tertawa. “Nona, kau beruntung. Kami tidak kejam. Hanya minta apa yang memang jadi tugasmu.”
Hua’er menerima hinaan itu tanpa perubahan raut sedikit pun. Ia sudah terlalu kenyang mendengar kalimat semacam ini dari orang-orang yang meyakini bahwa kekuasaan adalah pembenaran mutlak dari mereka yang lahir di puncak strata dan percaya bahwa dunia di bawah memang layak untuk diinjak.
“Kalau kau menolak,” lanjut sang pengawas dengan nada yang meninggi, “aku tinggal melapor pada Zhao Tianlong. Satu kata dariku, Selendang Merah akan ditutup. Namamu akan dihapus. Kau paham arti ‘dihapus’, bukan?”
“Maaf, sudah membuatmu menunggu, Tuan.”
Para pria itu tersenyum puas, merasa telah memenangkan permainan. Namun, di dalam kepala Hua’er, yang bergerak bukanlah rasa takut ataupun kesedihan. Ia justru teringat pada Li Shen. Bukan pada wajah atau suaranya, melainkan pada sikapnya. Pemuda tanpa qi itu bisa saja melarikan diri atau memilih hidup tenang, namun ia justru berdiri tegak di depan maut demi orang lain tanpa mengharapkan pujian. Bagi Hua’er, orang seperti itu sangat langka di Lianzhou. Bukan hanya karena kebaikan hatinya, tapi karena eksistensinya berbahaya bagi sistem yang ada.
Jika orang seperti Li Shen harus mati begitu saja, maka Lianzhou tidak akan pernah berubah, dan Tianyuan akan terus menulis ulang dunia sesuai nafsu mereka. Ini bukan soal cinta atau kehilangan. Ini adalah perhitungan dingin tentang sebuah harapan. Bagi Hua’er, orang seperti Li Shen terlalu berharga untuk dibuang, sementara orang-orang di dalam ruangan ini hanyalah parasit yang membuangnya.
Hua’er melangkah maju dengan keanggunan yang menghanyutkan. Senyumnya terukir, begitu menggoda hingga mampu membutakan kewaspadaan siapa pun malam itu.
Tak ada jeritan saat maut menjemput. Tak ada perlawanan yang sempat pecah. Hanya tiga pria yang roboh satu per satu; mata mereka terbuka lebar dalam kesadaran penuh sementara racun bekerja perlahan, menghancurkan organ dalam mereka secara sistematis. Hua’er tidak terburu-buru. Ia membersihkan setiap jejak dengan ketelitian seorang profesional, mengatur posisi mayat-mayat itu, dan menggunakan senjata mereka sendiri. Ia membuat segalanya tampak seperti akhir yang kotor dan biasa bagi pejabat yang mabuk. Tianyuan selalu lebih menyukai kematian yang mudah dijelaskan daripada misteri yang rumit.
Ketukan dari arah pintu terdengar. Madam Luo masuk tanpa banyak bicara. Tatapannya menyapu ruangan, melihat darah mengotori seisi kamar, lalu berhenti pada Hua’er. “Kau sudah memutuskan.”
“Ya.”
Madam Luo menghela napas panjang. Tidak ada kemarahan, tidak pula keterkejutan di matanya. “Aku akan menutupinya. Paviliun Tianlu tidak akan menyelidiki terlalu jauh, mereka jarang peduli pada bidak yang tewas secara memalukan.” Ia mendekat, menatap Hua’er dalam-dalam. “Tapi kau tidak perlu melakukan ini.”
Hua’er menatap balik. “Aku tahu.”
“Lalu kenapa?”
Hua’er terdiam. “Karena kalau orang seperti dia mati sia-sia… maka dunia ini memang pantas dibakar sedikit demi sedikit.”
Madam Luo tidak bertanya siapa “dia” yang dimaksud. Ia hanya mengangguk paham. “Kau tetap keras kepala. Kalian sangat mirip.”
“Tidak ada kemiripan.” Hua’er berbalik menuju pintu. “Aku hanya tidak mau menunggu.”
Hua’er baru melangkah setengah keluar ketika suara Madam Luo menyusul dari belakang. “Kalau kau melangkah keluar sekarang, qi-mu akan kembali merosot malam ini.”
Langkah Hua’er terhenti seketika. Itu bukan ancaman, melainkan fakta pahit. Madam Luo telah lama mengamati perubahan kecil pada aura Hua’er, perubahan yang sering kali Hua’er abaikan sendiri.
Di ambang pintu, cahaya lampion koridor jatuh miring ke lantai kamar yang masih berbau anyir dan arak. Di dalam sana, tiga mayat tergeletak rapi. Di luar, Selendang Merah tetap hidup berisik seperti biasa, seolah tak peduli pada tragedi di balik kamar lantai dua itu.
“Aku sudah menyelesaikannya,” ujar Hua’er tanpa menoleh.
“Aku tahu. Justru itu masalahnya,” sahut Madam Luo. Ia berdiri tepat di belakang Hua’er. Madam Luo tahu betul bahwa setiap kali Hua’er menggunakan teknik racunnya secara penuh, tubuhnya selalu membayar harga yang mahal. Aliran qi Hua’er tidak pernah stabil; terlalu halus dan lambat tumbuh, seolah ada bagian penting yang hilang sejak ia lahir.
“Tubuhmu memaksakan diri,” lanjut Madam Luo. “Racunnya bekerja sempurna, tapi aliran qi-mu terlalu bersih dan tipis. Itu bukan ciri seorang pembunuh yang sehat.”
Hua’er mengepalkan tangan di balik lengan jubahnya. Madam Luo benar, ketenangannya saat ini hanyalah kebiasaan menahan keruntuhan raga.
“Aku masih bisa berdiri.”
“Ya, itulah yang membuatku khawatir.” Akhirnya Hua’er menoleh, dan tatapan mereka bertemu dalam kesepahaman yang tajam. Madam Luo adalah orang pertama yang menyelamatkannya, dan ia sadar bahwa cacat bawaan dalam kultivasi Hua’er tak bisa diperbaiki hanya dengan latihan biasa.
“Selama ini,” lirih Madam Luo, “kau bertahan bukan karena teknikmu sempurna, tapi karena ada sesuatu yang menahanmu agar tidak runtuh sepenuhnya.”
Madam Luo merujuk pada poros yang hilang, keberadaan seseorang yang tanpa disadari membuat aliran qi Hua’er lebih tenang dan patuh. Mendengar itu, Hua’er tidak menyangkal.
“Dan akhir-akhir ini,” lanjut Madam Luo, “kau terlalu sering keluar dari kamar itu dengan aura yang terasa lebih stabil.”
Hua’er mengalihkan pandangan ke lorong. Ia tahu siapa yang dimaksud. “Itu hanya sementara. Aku tidak berniat bergantung pada siapa pun.”
Madam Luo tersenyum prihatin. “Kebetulan tidak akan membuat qi yang rusak berhenti bocor. Kalau penopang itu hilang terlalu lama, kau tahu akibatnya. Stagnasi. Pelemahan. Lalu kematian yang pelan.”
Hua’er menarik napas panjang. Untuk sesaat, kelelahan yang luar biasa terpancar dari wajahnya. “Aku akan mengatur jarak. Selalu begitu.”
“Aku tahu. Dan itulah sebabnya kau berbahaya. Bagi mereka, dan bagi dirimu sendiri.”
Hua’er menata kembali ekspresinya sebelum melangkah keluar sepenuhnya. “Terima kasih sudah menutupinya.”
Madam Luo menatap punggungnya yang menjauh. “Aku melakukannya bukan karena mereka. Aku melakukannya agar suatu hari nanti, saat kau harus memilih antara hidup sebagai senjata atau sebagai manusia, kau masih memiliki napas untuk memilih.”
Hua’er pergi tanpa menoleh. Di belakangnya, Madam Luo menutup pintu kamar perlahan, menyegel semua rahasia dan kelemahan Hua’er di balik pintu kayu itu.
Malam itu, tiga pejabat Paviliun Tianlu lenyap. Rumor menyebar tentang skandal memalukan di Selendang Merah, dan Zhao Tianlong memilih untuk mengabaikannya. Namun, jauh di jantung hutan, seorang pemuda tanpa qi masih terus bernapas. Tanpa disadari, dialah kunci yang mungkin bisa memperbaiki jalur kultivasi Hua’er yang rusak.