NovelToon NovelToon
Kilatan Waktu

Kilatan Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / Hantu / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:67
Nilai: 5
Nama Author: Ami Greenclover

Bagaimana rasanya kembali ke masa lalu?Mia dan Dania kembali ke masa lalu, namun... cerita mereka sedikit berbeda... Makam kuno yang mereka lihat membawa mereka kembali ke masa kejayaan Dinasti Song. Dinasti yang kala itu berdiri dengan megah yang menjadi tonggak kemajuan zaman.
"Dimana ini?"
Kalimat yang sering Mia dan Dania ucapkan setelah menjadi target "Kilatan Waktu"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ami Greenclover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Lagi

Hari ini adalah jadwal Mia harus pergi mengecek kondisi kesehatan nya. Mia adalah seorang pasien dengan skizofrenia. Mia biasanya pergi bersama ayahnya, namun kali ini ayah Mia sibuk dan Dania yang mengantarkan dia pergi bertemu psikiater.

Mereka berdua duduk bersebelahan sambil menunggu nomor antrian dipanggil. Di bangku ketiga ada seorang pasien dengan gangguan jiwa yang bisa dikatakan parah.Pasien itu hanya duduk menunggu dipanggil. Pasien itu bernama Chien Min. Mia dan Dania duduk disana. Mereka sesekali mengobrol. Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu datang kepada Chien Min.

“Dek, tolong geser sedikit.”

Ibu itu meminta Chien Min untuk bergeser, namun Chien Min enggak memberikan tempatnya. Melihat itu, Dania berinisiatif memberikan kursinya pada ibu tersebut.

“Bu, silahkan duduk disini.”

Ibu itu duduk di kursi yang di berikan oleh Dania.

“Mia, aku tunggu disana ya.”

Dania berjalan pergi.

Ibu itu tampak tak senang melihat Chien Min. Ibu itu berbisik pada Mia

“Orang mereka itu memang berbeda dengan orang kita, kalau orang kita santun kalau sama yang lebih tua.”

Mendengar itu Mia hanya tersenyum. Kalimat rasis terus keluar dari mulut ibu itu.

“Dia ini keturunan Cina kan?pantes aja kelakuannya seperti itu.”

Mia sangat tak senang mendengar kalimat tersebut.Menurutnya tidak semua keturunan Tionghoa itu berperilaku tidak sopan. Baik buruk nya manusia itu bukan ditentukan oleh suku maupun ras apalagi agama. Di dalam hati Mia dia kesal karena orang yang dia cintai juga merupakan pria yang di dalam darahnya mengalir darah Cina.

“Bu, dia pasien psikiater jadi wajar seperti itu.”

Mia yang sering bertemu dengan Chien Min memberikan penjelasan mengenai mengapa Chien Min bertingkah seperti itu.

“Pantaslah dia begitu, ternyata dia pasien dokter jiwa.”

Ibu itu tampak meremehkan. Tak lama dia bertanya lagi pada Mia.

“Adek mau ke dokter apa?”

Mendengar itu Mia sedikit kaget dan bingung mau menjawab apa.

“Saya mau ke dokter saraf bu.”

Ucap Mia berbohong, Mia tak berani jujur karena dia takut dipandang remeh sama seperti pasien sebelumnya.

“Berarti kamu ketemu dokter Nimah nanti. Ibu dulu sering ketemu dokter Nimah.”

“Oh iya…”

“Keluhan kamu apa?”

“Tangan saya kadang tidak bisa di tekuk.”

“Oalah…”

Tak lama nomor antrian ibu itu dipanggil. Mia merasa lega karena Mia tak bisa berbicara dengan orang lain. Tak lama nomor antriannya juga dipanggil. Selanjutnya Mia harus pergi ke ruangan tunggu khusus pasien psikiater.

Saat bertemu Dania, Mia menceritakan tentang ibu rasis tersebut. Dania hanya tertawa terbahak-bahak. Sesampainya di ruang tunggu mereka mengobrol mengenai beberapa hal.

“Pasien atas nama Mia Amalia…”

Nama Mia di sebut. Mia maju.

“Mau ketemu dokter atau tidak?”

“Mau, bu.”

“Kalau begitu tunggu dulu ya.”

“Iya, bu.”

“Ada keluhan?Apakah masih sering berhalusinasi?”

“Tidak bu.”

“Tidurnya bagaimana? Apakah sudah bisa tidur?”

“Sudah bu, semenjak minum obat saya bisa tidur dengan nyenyak.”

“Oke, coba kamu timbang dulu berat badan kamu.”

“Baik, bu.”

Mia menimbang berat badannya. Berat badan Mia naik 9kg.Mia tampak kaget.

“Berapa?”

“59, bu.”

“Baiklah, silahkan tunggu ya…”

Mia kembali menunggu gilirannya dipanggil.

“Kau mau ketemu dokter?”

Dania bertanya.

“Iya.”

“Kenapa?Biasanya kan cuma ngambil obat.”

“Aku mau nanya ama dokternya tentang kejadian yang kita alami. Aku khawatir itu cuma imajinasi aku.”

“Kalau itu cuma imajinasi kau, terus kenapa aku juga ngalamin? Aku kan gak ada masalah mental. Tidur aku juga teratur.”

“Iya juga ya… ah tapi nanti ku tanya ama dokter, siapa tau dia punya solusi.”

“Oke, oke.”

Mereka dibuat bingung dengan apa yang terjadi pada diri mereka. Mereka masih saja seperti tidak percaya dengan apa yang dialami.

Tak lama nama Mia dipanggil. Ia masuk ke ruangan dan bertemu dengan psikiater.

"Apa ada keluhan?"

"Tidak ,bu."

"Tapi..."

"Ya?"

"Akhir-akhir ini saya bermimpi bu, mimpi itu terasa begitu nyata."

"Kamu sudah minum obat secara rutin kan?"

"Iya, bu."

"Minum obatnya jangan sampai putus ya..."

"Iya, bu."

"Coba kamu ceritakan bagaimana mimpi kamu itu."

"Jadi, saya seperti kembali ke masa lalu. Di dalam mimpi itu saya dapat merasakan sakit, saya juga dapat merasakan kenyang.Nakun, setelah saya bangun dari tidur saya, saya kadang melihat ke jam dinding dan saya kaget karena waktu malah mundur."

Psikiater mencoba mencerna perkataan Mia.

“Kamu kira-kira mau tidak kalau menginap di RSJ?”

Mendengar itu Mia sedikit kaget dan langsung menolak saran dari psikiater.

“Gak mau bu! Saya gak mau bu! Saya minum obat ajah kaya biasanya.”

“Tapi-”

“Saya minum obat ajah ya bu, hehe.”

“Baiklah, tapi kamu jangan lupa minum obat ya…”

“Oke bu.”

Mia keluar dari ruangan.

“Woilah! Aku dikira gila.”

“Hahaha! Aku udah duga sih pasti bakal dikira gila.”

“Yaudah, kita sekarang ngantri di apotek.”

Mereka berjalan menuju apotek dari kejauhan wajah tak asing membuat mereka terhenti sejenak.

“Mirip pacar kau…”

Dania menunjuk ke arah seorang pemuda.

“Aduh!aduh! Pelan-pelan woi!”

Ternyata itu Wu Fei yang sedang dipapah oleh kedua temannya menuju IGD.

Mia dan Dania langsung menghampiri mereka. Saat di IGD Mia dan Dania melihat-lihat mencari kemana Wu Fei pergi. Tak lama mereka menemukan Wu Fei dan teman-temannya.

Terlihat kaki dan lengan Wu Fei luka cukup parah dan mengeluarkan banyak darah.

“Kamu kenapa?!”

Mia bertanya panik.

“Aku jatoh yang hehe”

“Kok bisa?”

Dania heran.

“Tadi dia naik motor ngebut, terus ada anjing lewat. Dia ngehindarin nabrak anjing, dia jatoh.”

Teman Wu Fei menjelaskan, Mia menggelengkan kepalanya.

“Lain kali naik motornya lebih kencang lagi ya…”

“Hehehe…”

Pemuda itu hanya cengengesan.

Dokter memeriksa keadaan Wu Fei, untungnya tak ada yang serius.

“Aku pulang ,ya.”

Mia berpamitan.

“Eh, yang! Kok pulang? Gak mau jagain aku?”

“Gak, temenmu kan ada.”

“Bedalah, maunya di jagain ayang hehe.”

“Gak bisa, aku sibuk.”

Mia beranjak pergi.

“Mian, jangan tinggalin aku…”

Wu Fei merengek.

“Huuh.”

Mia menghela nafasnya dan berbalik. Dia duduk di samping Wu Fei, dia mengurungkan niatnya untuk pergi. Dania duduk di samping Mia, Dania menarik lengan baju Mia, lalu berbisik.

“Kok muka di Wu Fei ini kaya gak asing ya?”

Mia memperhatikan wajah Wu Fei, Wu Fei tersenyum kepadanya.

“Zhang Wei…”

Mia menyebut pelan.

“Aa? Zhang Wei? Aku Wu Fei… koko A Fei.”

Wu Fei heran namanya diganti menjadi Wu Fei.

“Iya woi! Dia mirip Zhang Wei versi lite! Gantengan Zhang Wei sih…”

Dania sontak teringat wajah Zhang Wei.

“Siapa Zhang Wei? Selingkuhan kamu kah Mian?”

“Iya.”

Wu Fei cemberut.

“Pantes di chat gak pernah dibalas, di telpon gak pernah diangkat ternyata selingkuh.”

“Kapan kamu ngechat?”

Mia heran.

“Nih, coba liat.”

Wu Fei menunjukkan isi chat di HPnya. Ada banyak pesan yang dikirim oleh Wu Fei namun tak satupun ada yang dibalas oleh Mia.

“Kayanya aku salah ngasih nomer, foto profil aku gambar Liu Hairan bukan gambar motor balap.”

“Aa? Salah nomor?”

Mia menunjukkan nomor Whatsapp nya.

“Aku salah tulis angka hehe, pantes gak pernah dibalas.”

Mia memasukkan nomornya ke dalam HP Wu Fei.

“Oh iya, kalian berdua kenapa ada di RS ini? Apa jenguk saudara?”

Salah satu teman Wu Fei bertanya.

“Kami abis dari poli jiwa.”

“Haha.Siapa yang gila?”

Mereka tertawa.

“Aku.”

Mia mengaku.

“Serius?”

“Iya.”

Seketika mereka terdiam, mereka kira itu hanya candaan.

“Mia pasien psikiater, dia gak gila cuma butuh obat.”

“Ooo…”

Wu Fei telah di perban dan diberi obat dia sudah diperbolehkan untuk pulang.

“Aku pulang duluan ya.”

Mia berpamitan.

“Oke, Hati-hati dijalan ya, Mian.”

Mia memberikan jempolnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!