hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘
Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.
Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.
kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Minggu terakhir sebelum keberangkatan menuju Boston terasa seperti pusaran emosi bagi Safira. Jika selama ini ia menghabiskan waktunya dengan grafik saham dan strategi pemulihan Maheswara Group, kini ia dipaksa untuk kembali menjadi "remaja" oleh dua orang sahabat setianya: Ambar dan Calista.
Keduanya adalah sahabat Safira sejak masa-masa sulit di sekolah dulu. Ambar, gadis dengan gaya boyish yang selalu tahu kabar terbaru di kota, dan Calista, si anggun yang lembut namun memiliki insting pelindung yang kuat terhadap Safira. Mereka adalah sedikit dari sedikit orang yang tahu bahwa di balik wajah dingin Safira, tersimpan hati yang sangat menyayangi orang-orang terdekatnya.
"Fira! Jangan bawa laptop! Hari ini cuma ada kita, es krim, dan shopping!" seru Ambar sambil menarik tangan Safira di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat.
Safira hanya bisa menghela napas pasrah. "Ambar, aku hanya pergi ke Amerika untuk kuliah, bukan pindah ke planet lain."
"Tapi Boston itu jauh, Fira! Kita nggak bisa tiap minggu nongkrong begini," timpal Calista sambil merangkul bahu Safira. "Lagipula, kamu harus santai sedikit sebelum masuk ke singgasana Harvard. Aku dengar di sana persaingannya sangat gila."
Sepanjang hari itu, Safira membiarkan dirinya "larut". Ia tertawa mendengar cerita konyol Ambar tentang kegagalannya mendekati barista kafe, dan ia dengan sabar mendengarkan Calista yang bercerita tentang rencananya mengambil jurusan desain interior.
Bagi Safira, momen ini sangat berharga. Ia sengaja tidak membawa pengawalan ketat atau menggunakan fasilitas VIP saat jalan-jalan. Ia hanya ingin merasa menjadi Safira yang biasa, seorang gadis yang akan mengejar mimpi di negeri orang.
"Fir, janji ya," ucap Calista saat mereka duduk di sebuah taman di area mall, menatap air mancur. "Di sana nanti, jangan terlalu menutup diri. Kamu punya hak untuk bahagia, bukan cuma buat sukses."
Safira menatap kedua sahabatnya dengan tatapan lembut—tatapan yang tidak akan pernah ia tunjukkan pada musuh bisnisnya. "Aku janji. Kalian juga, jaga diri baik-baik di sini. Kalau ada yang mengganggu kalian, hubungi aku atau Kak Raka. Aku sudah berpesan pada mereka untuk menjaga kalian juga."
"Tuh kan! Sifat bossy-nya keluar lagi," canda Ambar yang disambut tawa kecil dari Safira.
Di tengah persiapan keberangkatan, Safira mengambil sebuah keputusan besar yang sempat didebat oleh ayahnya dan kedua abangnya. Ia memutuskan untuk merahasiakan identitasnya selama kuliah di Harvard Business School.
"Kenapa harus pakai nama samaran, Fir? Maheswara itu nama besar yang bisa melindungimu di sana," protes Raga saat mereka makan malam terakhir di rumah.
"Justru karena itu nama besar, Papa," jawab Safira tenang sembari menyuapi Vian. "Fira mau dikenal karena kemampuan Fira sendiri, bukan karena pengaruh Maheswara Group. Fira mau melihat sejauh mana Fira bisa bertahan tanpa embel-embel kekayaan Papa di belakang nama Fira."
"Tapi orang-orang di sana tetap akan tahu kalau kamu orang kaya, Fir," sahut Bima. "Gaya hidup kamu nggak bisa bohong."
"Aku akan tinggal di apartemen sederhana dekat kampus, bukan penthouse. Aku juga sudah mendaftar dengan nama Safira K.M, memotong nama keluarga kita agar tidak terlalu mencolok. Aku ingin mulai dari nol, sebagai mahasiswi beasiswa parsial yang aku dapatkan dari hasil ujianku sendiri."
Raka, yang paling mengerti ambisi adiknya, akhirnya mengangguk. "Biarkan saja, Pa. Safira butuh ruang untuk menjadi dirinya sendiri tanpa bayang-bayang skandal atau kesuksesan keluarga. Dia ingin membuktikan sesuatu pada dirinya sendiri."
Minggu pagi, Terminal 3 Internasional tampak padat. Namun, di salah satu sudut dekat gerbang keberangkatan, sebuah rombongan kecil menarik perhatian karena aura mereka yang berbeda. Raga Maheswara berdiri tegak dengan mata yang berkaca-kaca, didampingi Raka, Bima, dan Vian yang terus memegang ujung baju Safira.
Tak jauh dari mereka, Ambar dan Calista juga hadir, lengkap dengan spanduk kecil bertuliskan "Go Get 'Em, Harvard Queen!" yang membuat Safira sedikit malu namun terharu.
"Kak Fira, jangan lupa bawa cokelat yang banyak kalau pulang," bisik Vian.
Safira berlutut, menyamakan tingginya dengan adik bungsunya, lalu memeluknya erat. "Vian harus jadi anak hebat di sini. Jaga Papa, Kak Raka, dan Kak Bima ya?"
"Siap, Kapten!" jawab Vian dengan suara serak menahan tangis.
Raka dan Bima maju bersamaan, memberikan pelukan hangat yang kokoh. "Kalau ada apa-apa, kalau ada cowok yang macam-macam, atau kalau lo kangen rumah, telepon kita. Pesawat pribadi Papa selalu siap jemput lo kapan saja," bisik Bima.
"Jangan sombong ya di Harvard. Inget, di atas langit masih ada Safira," canda Raka, mencoba mencairkan suasana meskipun ia sendiri merasa kehilangan separuh kekuatannya dengan perginya sang adik.
Terakhir, Safira berdiri di depan ayahnya. Raga tidak banyak bicara. Ia hanya memeluk putrinya sangat lama, seolah ingin menyalurkan seluruh kasih sayang yang sempat hilang selama bertahun-tahun.
"Maafkan Papa untuk semuanya, Safira. Pergilah, raih dunia. Papa akan selalu menunggumu pulang," ucap Raga tulus.
Safira mencium tangan ayahnya dengan khidmat. "Fira sayang Papa. Terima kasih sudah mengizinkan Fira pergi."
Gadis itu kemudian berbalik, menghampiri Ambar dan Calista yang sudah menangis sesenggukan. "Kalian berdua, berhenti menangis! Kita masih bisa video call tiap hari."
"Tetap jadi Safira yang paling keren ya, Fir!" seru Ambar sambil menghapus air matanya.
Dengan koper di tangan dan ransel di bahu, Safira melangkah masuk ke dalam area imigrasi. Begitu ia melewati gerbang dan tidak lagi terlihat oleh keluarganya, wajahnya yang tadi lembut dan "manis" perlahan berubah. Ekspresinya kembali menjadi tenang, terkontrol, dan sedikit dingin—sebuah mekanisme pertahanan diri yang sudah mendarah daging.
Di dalam pesawat, Safira duduk di kursi kelas ekonomi premium, bukan First Class seperti biasanya. Ia membuka paspornya yang kini menggunakan nama Safira K.M.
Ia menatap ke luar jendela saat pesawat mulai lepas landas, meninggalkan lampu-lampu Jakarta yang mulai mengecil. Di Boston nanti, tidak akan ada yang mengenalnya sebagai putri konglomerat Raga Maheswara. Tidak ada yang tahu bahwa gadis berusia 18 tahun ini adalah pemegang saham pengendali sebuah korporasi besar.
Ia akan menjadi "Safira si Gadis Beasiswa". Ia ingin merasakan bagaimana rasanya bertarung murni dengan kecerdasan, tanpa tameng uang. Ia ingin melihat, apakah dunia akan tetap bertekuk lutut padanya jika ia hanya membawa otaknya sebagai senjata.
Selamat tinggal, Jakarta. Selamat datang, tantangan baru, batinnya.
Ponselnya bergetar sekali lagi sebelum ia mengaktifkan mode pesawat. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak ia simpan namun ia hafal di luar kepala:
"Good luck in Boston, Safira. Don't let the cold change your heart."
Safira hanya menatap pesan itu tanpa ekspresi, lalu mematikan ponselnya. Perjalanan barunya baru saja dimulai.
...****************...
Maaf ya guys tiga hari ini gak up , hari Senin sama Selasa author ada ujian osce jadi gak sempat bikin cerita, maaf ya🙏🏻🙏🏻.
Jangan lupa like dan komen nya ya🥰🥰😘
itu di depan kan?
"mimbar" kayak acara resmi,
kenapa gak diganti aja "panggung drama" gitu
ceritanya bagus jalan alurnya juga menarik bukan seperti kebanyakan novel yang lain terlalu lambat alurnya atau pun novel kecepatan