NovelToon NovelToon
Istri Kedua Untuk Tuan Duda

Istri Kedua Untuk Tuan Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Ibu Pengganti / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Romansa
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cerita Tina

Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.

Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.

Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.

Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.

Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.

Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamarmu Tidak Enak

Sesampai mereka di kamar. "Pak,” panggil Tisha pelan.

Willie menoleh. Tatapan Tisha turun ke arah tangannya yang masih berada dalam genggaman Willie sejak tadi.

Willie tersadar. Seketika ia melepaskan tangannya, seolah baru menyadari betapa keras ia menggenggam. “Maaf,” gumamnya.

Willie memijit pelipisnya, “Saya harus istirahat sebentar.”

Willie hendak bergerak menuju ranjang tanpa pikir panjang, tapi Tisha menahan langkahnya.

“Tapi Pak, ini kamar saya.”

Langkah Willie terhenti. Ia menatap sekeliling kamar itu. Ia terhentak, itu ternyata kamar Tisha. Ada jeda hening sebelum akhirnya ia mengembuskan napas.

“Memangnya kenapa?” suaranya datar. “Ini rumahku. Aku bebas tidur di mana saja.”

Tisha mengangguk kecil. “Iya. Anda benar, Istirahatlah”

Willie mengusap wajahnya sendiri, seolah baru sadar betapa janggal situasinya. Ada rasa malu yang tidak ia akui, tapi jelas terlihat dari cara ia menghindari tatapan Tisha.

Akhirnya tanpa komentar lagi, Willie menurunkan tubuhnya dan merebahkan diri di ranjang Tisha.

Gerakannya kaku, seperti seseorang yang tidak terbiasa berada di tempat yang bukan miliknya, tapi memaksa diri untuk pura-pura biasa.

Tisha hanya berdiri dan memandangnya sejenak. Antara bingung, terkejut, dan tetap menjaga sopan.

Tisha membuka pintu perlahan, melangkah keluar tanpa suara agar tidak mengganggu Willie.

Meski tidak melakukan kesalahan apa pun, ada rasa bersalah dihatinya kepada orangtua Willie.

Begitu sampai di ruang tamu, Tisha langsung berhenti. Ruangan itu sudah kosong.

Ratih yang memperhatikannya dari jauh segera mendekat. “Tuan dan Nyonya sudah pulang, Bu,”

Tisha membeku sejenak. “Oh…” hanya itu yang keluar dari bibirnya.

Ada sensasi mencelos yang dirasakan oleh Tisha. Selama ini ia mengira hubungan Willie dengan orang tuanya itu sangat baik.

Nyatanya lebih rumit. Dan ia tanpa sengaja berada tepat di tengahnya.

Tisha menarik napas panjang, mencoba menata perasaannya. Ia ingin bicara pada Willie, tapi langkahnya terhenti. Mungkin bukan saat yang tepat.

Ratih mendekat ragu-ragu. “Bu, apa Anda baik-baik saja?”

Tisha tersenyum tipis. “Saya tidak apa-apa, Bi."

Tisha bertanya, "Apakah hal seperti ini sudah biasa terjadi."

“Seperti ini, maksudnya apa Bu?” tanya Ratih hati-hati.

Tisha mengembuskan napas, suaranya pelan namun jelas.

“Pertengkaran, sikap dingin dan jarak seperti tadi. Apa memang seperti itu hubungan Pak Willie dan orang tuanya?”

Ratih terdiam sesaat, wajahnya tampak bimbang antara menjaga rahasia keluarga atau berkata jujur pada perempuan yang kini hidup di tengah badai itu.

Akhirnya ia mendekat, lalu berbisik. menjawab “Iya Bu. Masalah mereka itu sudah panjang sekali."

Ia menoleh ke kiri dan kanan memastikan Willie tak mendengar, "Ibu dengar sendiri kan saat di pemakaman dulu, dari awal orang tua tuan tidak merestui pernikahan mereka."

Tisha mengangkat wajahnya, sorot matanya mencari kejujuran di mata wanita paruh baya itu.

“Pak Willie itu keras kepala, tapi Bapak dan Ibunya juga punya cara yang keras. Mereka jarang akur. Kalau salah satu sudah tersinggung, biasanya lama baikan.” jelas Ratih.

Tisha menunduk, merasa makin tidak enak.

“Tuan Willie bersikap begitu pada Bu Tisha itu juga bukan pertama kali ia membentengi diri. Dulu pada Nyonya Vira pun begitu awalnya. Sampai akhirnya, Nyonya Vira yang perlahan melembutkan beliau.”

Tisha mulai paham. “Terima kasih, Bi. Saya hanya tidak ingin dianggap penyebab keretakan mereka.”

Tisha terdiam, matanya memandang kosong ke arah lantai di depannya. Bi Ratih melihat ekspresi itu, lalu menambahkan dengan suara yang lebih lembut, seakan ingin menenangkan.

“Bu Tisha, keluarga ini memang ada retaknya. Tapi ini bukan salah Ibu.Retaknya sudah ada jauh sebelum Ibu datang. Ibu hanya melihat sisanya.” ucap Bi ratih.

Ratih menatap Tisha beberapa detik sebelum melanjutkan, seolah ingin memastikan bahwa kata-katanya tidak disalah artikan.

“Bu Tisha beruntung, orang tua Tuan Willie sangat menyayangi Ibu sejak awal.”

Tisha langsung menoleh, kening berkerut.

“Dari awal?”

Ratih mengangguk, “Iya, Bu. Waktu mereka pertama kali tahu soal Ibu mereka langsung merasa Ibu seperti penyelamat.”

Ia melanjutkan, “Mereka takut Tuan Willie makin hancur setelah kepergian Nyonya Vira. Mereka merasa Tuhan mengirimkan penolong buat anak dan cucu mereka.”

Tisha hanya terdiam. Kata-kata itu menggantung lama di kepalanya.

“Sepertinya Nyonya Aina memberi tabungan tadi bukan karena mau mengatur Bu Tisha tapi karena beliau benar-benar khawatir kalau Tuan Willie belum bisa memposisikan dirinya sebagai suami yang baik."

Tisha menunduk, tangannya saling menggenggam. “Padahal saya tidak melakukan apa-apa.”

Ratih tersenyum sayu. “Kadang, Bu kebaikan orang langsung terasa, walaupun Ibu diam saja. Tapi orang tua Tuan bisa rasakan itu dari Ibu.”

Kemudian ia mendekat, menepuk lengan Tisha pelan.

“Hanya saja Tuan Willie ini keras, Bu. Dia sayang, tapi caranya aneh. Kadang menjauh, kadang melindungi berlebihan.”

Tisha memandangi Ratih, "Terimakasih Bi, atas informasinya. Setidaknya saya sudah mengerti sedikit tentang Pak Willie." Kata Tisha sambil terkekeh.

Hati Tisha pun tergerak setelah mengetahui sisi Willie yang di ceritakan Ratih barusan.

Ia segera melangkah ke dapur dan membuat segelas minuman dingin, mungkin dengan itu bisa meluruhkan sisa amarah Willie.

Begitu Tisha sampai kedepan pintu kamarnya, kebetulan juga Willie membuka pintu itu.

Langkah Tisha berhenti tepat di hadapan Willie. Tisha menatapnya sopan.

“Sudah cukup istirahatnya? Apa ada yang Anda butuhkan?”

Willie memandangi wajah gadis itu beberapa detik. Di dalam kepalanya berkata, "Aku membutuhkanmu. Setidaknya hibur aku sedikit.”

Tapi bibirnya tetap terkunci rapat. Begitu terbiasa menekan perasaannya hingga nyaris tidak berekspresi.

Ia menarik napas panjang, “Kamarmu tidak enak.” ucapnya spontan, yang dimana kata itu berbanding terbalik dengan kenyataanya.

Tisha mengerjap. Kata itu tajam, menusuk, dan jujur saja bisa membuat orang lain langsung tidak suka.

Namun ia mengingat kata-kata Ratih sebelumnya bahwa Willie adalah tipe pria 'tsundere' yang menunjukkan rasa sayang dan perhatian dengan cara terbalik.

Hatinya yang sempat tergores perlahan menahan diri.

Willie melirik gelas di tangan Tisha.

“Apa itu untukku?”

Tisha tersentak kecil.

“Hah… iya.”

Ia menyerahkannya dengan dua tangan. Willie menerima gelas itu. “Terima kasih.”

Ia tidak langsung meminumnya, hanya menatap air itu sejenak, lalu berbalik, membawa gelas itu melangkah menuju kamarnya sendiri di lantai atas.

Begitu tubuhnya melewati sisi Tisha, bibirnya terangkat sedikit tapi jelas ada kebahagiaan kecil di sana.

"Dia membawakan air minum untukku." batin Willie.

Sebuah perhatian sederhana, namun cukup membuat sesuatu di dada Willie terasa lebih ringan. Tapi egonya masih tinggi untuk mengakuinya.

Ia hanya terus melangkah naik dengan menyembunyikan senyum kecil itu.

Tisha hanya memandang punggung Willie yang berlalu begitu saja. "Dia benar-benar aneh." gumamnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!