Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.
"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"
"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."
Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.
Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.
Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Kediaman orang tua Senja tidak berubah.
Masih rumah yang sama, dinding kusam, pagar besi yang catnya mengelupas, dan halaman sempit yang dipenuhi pot-pot plastik bekas ember.
Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda sore itu. Bukan lebih baik. Bukan lebih hangat. Hanya… lebih gaduh oleh rasa kagum tapi gengsi mengakui.
Winarti sedang duduk di ruang tengah, memegang ponsel dengan layar retak di sudut kiri. Matanya menyipit membaca pesan grup ibu-ibu kampung. Gosip hari ini belum habis dibahas sejak Senja pergi beberapa hari lalu.
“Anakmu sekarang ke mana, Win?”
“Katanya dibawa laki-laki ya?”
“Mobilnya bagus katanya, tetanggaku lihat.”
Winarti mendengus. “Bohong itu. Paling juga mobil sewaan,” gumamnya sambil meletakkan ponsel ke meja.
Pandi keluar dari kamar, mengancingkan kemeja lusuhnya setengah hati. Bau tembakau masih menempel di bajunya. Ia meraih bungkus rokok kosong di meja, mengaduk-aduknya seolah berharap satu batang tersisa.
“Rokok habis,” katanya datar, kian tak bersemangat menikmati sore.
“Ya sudah. Uang dari mana lagi? Makanya Bapak buruan cari kerja lagi," sahut Winarti tanpa menoleh.
"Sudah kirim surat lamaran, tapi belum panggilan."
"Pak Salim mau bangun rumah lantai empat katanya, sementara kerja di sana dulu 'kan bisa?"
"Kerja kuli?"
"Iya lah."
"Terlalu berat, nggak kuat."
Winarti tak lagi menjawab. Ia mendengus, meraup kembali ponselnya, menggeser chat menumpuk di kolom grub.
Sejak Senja pergi, tidak ada uang tambahan yang mengalir. Tidak ada lagi cicilan motor yang tiba-tiba terbayar. Tidak ada lagi uang belanja yang muncul di sela-sela tanggal tua. Tidak ada lagi anak yang pulang dengan wajah lelah tapi tetap menyerahkan amplop kecil sambil berkata, ‘Ini dulu, Bu.’
Riyan pulang dengan wajah masam. Ia menutup pintu sedikit keras, lalu menendang tasnya ke sudut ruangan.
“Kak Senja pulang nggak?” tanyanya asal.
“Tidak,” jawab Winarti cepat. “Dan jangan harap dia pulang.”
Riyan menjatuhkan badannya di sofa, menghela kasar seakan membawa beban hidup yang teramat berat. “Besok aku bolos sekolah saja. Nggak ada uang jajan, males. Biasanya Kak Senja yang ngasih.”
"Keluarga kita bisa ketimpa sial kalau dia pulang dengan aibnya itu."
Kalimat sarkas itu lagi-lagi meluncur ringan. Terlalu ringan untuk luka yang ditinggalkannya.
Belum sempat percakapan itu berlanjut, suara klakson mobil terdengar di depan rumah. Panjang dan tegas. Bukan klakson motor tetangga.
Winarti refleks berdiri. Pandi dan Riyan menoleh.
“Siapa?” gumam Winarti.
Beberapa detik kemudian, ketukan di pintu terdengar. Sopan, berjarak, tidak tergesa. Winarti membuka pintu setengah. Terlihat seorang kurir berdiri di sana, berseragam rapi. Di belakangnya, mobil box kecil terparkir rapi, bersih, berkilat, terlalu kontras dengan gang sempit itu.
“Selamat sore, Bu. Kiriman untuk Ibu Winarti.”
Winarti mengernyit. “Dari siapa?”
Kurir itu tersenyum tipis. “Atas nama Bapak Sagara.”
Nama itu membuat udara di ruang tamu berubah. Pandi melangkah mendekat. Riyan mendongak penasaran.
“Bapak siapa?” tanya Winarti, nada suaranya naik setengah oktaf.
Kurir itu tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya memberi isyarat ke belakang. Dua orang lain mulai menurunkan kotak-kotak besar. Kardus cokelat tebal. Beberapa dibungkus pita. Beberapa lain dibungkus kertas putih dengan logo toko yang jelas bukan toko sembarangan.
“Ini apa?” Winarti bertanya, kali ini lebih pelan.
“Hampers,” jawab kurir itu singkat. “Dan beberapa barang lain.”
Winarti tertawa pendek, sinis. “Habis ngotorin anak orang, sekarang main kirim barang? Kami nggak mudah dirayu, apalagi dengan barang murahan.”
Tidak ada jawaban. Kurir hanya menyerahkan surat kecil.
Winarti membacanya sekilas. Hanya tertulis satu kalimat pendek.
Sebagai bentuk tanggung jawab dan penghormatan. Sagara
Winarti mendengus. “Penghormatan apaan.”
Tapi tangannya sudah menarik kotak pertama ke dalam rumah. Pandi ikut membantu. Satu per satu kardus dibuka.
Ada makanan. Bukan makanan pasar. Bukan kue kiloan. Kue impor, ketika dibuka aroma wangi butter premium menguar ke dalam penciuman.
Juga ada buah-buahan segar dengan stiker harga yang masih menempel. Cokelat mahal, daging kemasan, teh herbal dari cina ikut memanjakan mata.
Riyan bersiul pelan. “Buset…”
Pandi duduk tanpa diminta. Tangannya langsung meraih salah satu kotak makanan. Ia membuka segelnya, mencicipi tanpa bertanya. “Enak,” katanya singkat.
Winarti melirik. “Jangan rakus.” Tapi ia sendiri mencicipinya. "Mayan," ucapnya lanjut memasukkan suapan kedua.
Ia lanjut membuka kotak lain. Matanya berhenti di label merek. “Mahal,” gumamnya lirih. Bukan marah. Bukan jijik. Lebih ke… kagum yang tidak mau diakui.
Kotak berikutnya berisi pakaian. Kemeja pria, gaun sederhana tapi elegan, jaket, sepatu.
Riyan langsung berdiri, meraih satu kemeja. “Ini kayaknya pas buat aku.”
“Eh!” Winarti refleks menegur. “Itu buat bapakmu.”
“Tapi ini ukurannya aku banget.”
Dan Riyan langsung memakainya. Berkaca di pintu lemari. “Gila… bagus,” katanya sambil tersenyum lebar.
Winarti mengambil gaun itu. Bahannya halus. Warnanya kalem. Tidak mencolok, tapi jelas mahal. Tangannya mengelus kain itu tanpa sadar. “Pinter juga dia milihnya,” gumamnya.
Pandi tidak bicara, ia memilih makan lagi tanpa berhenti.
Beberapa menit kemudian, Winarti masuk ke kamar. Keluar dengan gaun baru itu sudah melekat di tubuhnya.
Riyan bersiul lagi. “Bu… kayak ibu-ibu sosialita.”
Winarti tersenyum kecil. Lalu mengambil tas lama, memasukkan ponsel retaknya, dan melangkah keluar rumah.
“Bu mau ke mana?” tanya Riyan.
“Ke depan,” jawabnya singkat.
Di ujung gang, ibu-ibu masih berkumpul. Seperti biasa, ngerumpi. Mata mereka langsung tertuju pada Winarti.
“Eh… Narti,” sapa salah satu dari mereka. “Itu baju baru ya?”
Winarti tersenyum, senyum yang dibuat-buat santai. “Oh, ini?” katanya sambil membenarkan lengan gaunnya. “Biasa… kiriman menantu.”
“Menantu?” beberapa suara bersahutan.
“Iya,” jawab Winarti ringan. “Anaknya orang berada.”
Ia tidak menyebut nama Senja, tidak menyebut cacian, apalagi membahas pengusiran. Tapi... bukan berarti para ibu-ibu itu tidak tahu drama apa yang sudah terjadi.
"Ooh, yang itu?" celetuk salah satunya.
"Nah, situ dah tahu 'kan. Ya sudah, aku lanjut ya, mau ke warung."
Di rumah, Pandi menghabiskan makanan tanpa sisa. Riyan berganti-ganti pakaian, memotret diri di depan cermin, lalu mengunggahnya ke sosmed.nDan tidak satu pun dari mereka bertanya, bagaimana perasaan Senja?
Di tempat lain, Senja duduk di tepi tempat tidur. Ponselnya bergetar. Satu pesan masuk dari nomor seseorang. Sebuah foto. Ia membukanya.
Foto ibunya memakai gaun yang dikirim Sagara. Tersenyum di tengah ibu-ibu kampung.
Jari Senja gemetar. Bukan karena marah. Bukan juga karena cemburu. Tapi karena sebuah kesadaran yang pahit, bahwa orang-orang yang paling keras menyakitinya adalah orang-orang yang paling cepat menerima hasil dari luka itu.
Sagara berdiri di ambang pintu. Tidak bertanya dan berkomentar. Ia melihat wajah Senja yang memucat.
“Sudah?” tanyanya pelan.
Senja mengangguk paham. “Sudah.”
Ia tidak menunjukkan foto itu. Tidak perlu.
Sagara duduk di kursi. Tangannya bertaut tenang. “Aku mengirim bukan untuk mereka,” katanya akhirnya. “Aku mengirim supaya kamu tidak dipermalukan.”
Senja menunduk. Dadanya sesak. “Aku tidak ingin kamu dianggap anak yang dibuang tanpa harga,” lanjut Sagara. “Itu saja.”
Senja mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca, tapi tidak jatuh. “Mereka menerimanya,” katanya lirih.
Sagara mengangguk. “Aku tahu.”
“Dan mungkin…” suara Senja hampir pecah, “…mereka tidak akan pernah meminta maaf.”
“Tidak apa-apa,” jawab Sagara tenang. “Tidak semua orang bisa dewasa.”
Kalimatnya tidak menghakimi, tapi cukup untuk membuat Senja merasa dilindungi.
Sejak diusir dan diterima di keluarga Sagara, Senja tidak pernah merasa kecil.
Ia merasa berdiri di tempat yang benar.
Dan di rumah orang tuanya itu, di balik gaun mahal dan makanan mewah, keluarga Senja makan dengan lahap tanpa sadar bahwa yang mereka kunyah bukan sekadar rasa, tapi juga harga diri seorang anak yang pernah mereka buang.
Bersambung~~