NovelToon NovelToon
Bernafas Tanpamu

Bernafas Tanpamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.

Tak ada balasan.

Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.

Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?

Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Ghost in the Rain

Tiga bulan telah berlalu sejak malam di mana Liora Elowyn dibuang seperti sampah di bawah guyuran hujan. Bagi dunia, Liora mungkin telah lenyap, namun di sebuah sudut kota yang tenang, ia sedang belajar untuk menyambung napasnya yang patah.

​Berkat bantuan Jacob, Liora kini tinggal di sebuah apartemen studio kecil yang sederhana namun bersih. Ia bekerja di "The Vintage Page", sebuah toko buku tua dengan aroma kertas kusam dan kopi yang menenangkan. Di sini, tidak ada yang mengenalnya sebagai "gadis miskin" atau "parasit". Di sini, ia hanya Liora, gadis pendiam yang selalu menata buku dengan jemari gemetar.

​Liora mengubah penampilannya. Ia mengenakan kacamata berbingkai hitam besar dan sering kali memakai sweater kedodoran untuk menyembunyikan tubuhnya yang kian kurus. Lesung pipinya? Ia telah menguburnya dalam-dalam. Ia tidak lagi tersenyum. Baginya, senyum adalah undangan bagi rasa sakit untuk datang kembali.

​"Liora, ada kiriman lagi untukmu," ujar Pak Bram, pemilik toko buku, sambil menyodorkan sebuah kantong kertas berisi makanan hangat.

​Liora tahu itu dari siapa. Setiap minggu, Jacob selalu mengirimkan kebutuhan pokok secara sembunyi-sembunyi melalui kurir anonim.

Jacob adalah satu-satunya jembatan antara Liora dan kewarasannya. Pria itu tidak pernah datang berkunjung, demi menjaga agar aroma keberadaan Liora tidak tercium oleh radar tajam Leo Alexander Caelum.

​Sementara itu, di puncak gedung Caelum Empire, suasana justru semakin mencekam. Leo Alexander Caelum tampak lebih mengerikan dari biasanya. Jika dulu ia dingin, kini ia membeku. Kepuasannya setelah mengusir Liora ternyata hanya bertahan semalam. Sisanya? Sebuah kekosongan yang ia sendiri tidak mengerti.

​Ia sering mendapati dirinya menatap pilar marmer di lobi, tempat di mana Liora pernah bersimpuh. Ia membenci kenyataan bahwa bayangan gadis itu tidak mau pergi dari ingatannya.

​"Jacob," panggil Leo tanpa mengalihkan pandangan dari jendela besar ruang kerjanya.

​Jacob yang sedang merapikan berkas di meja segera berdiri tegak. "Ya, Tuan?"

​"Apakah kau sudah memastikan dia tidak kembali ke kota ini? Aku tidak ingin ada 'kejutan' yang membuat Ibuku histeris lagi."

​Jacob menelan ludah, wajahnya tetap datar bak topeng. "Sudah, Tuan. Berdasarkan laporan, dia bekerja di sebuah perkebunan jauh di luar provinsi. Hidupnya sangat sulit, kemungkinan besar dia tidak akan punya ongkos untuk kembali ke sini."

​Leo terdiam sesaat. Ada kilat aneh di matanya saat mendengar kalimat 'hidupnya sangat sulit'. Seharusnya ia senang, bukan? Itu adalah doa yang ia ucapkan untuk Liora. Namun, kenapa dadanya justru terasa sesak?

​"Bagus," ucap Leo ketus. "Pastikan tetap begitu. Aku tidak butuh hama di sekitarku."

​Takdir, bagaimanapun, adalah penulis naskah yang paling kejam.

​Sore itu, mobil Leo mengalami masalah teknis tepat di depan kawasan toko buku tempat Liora bekerja. Karena ada pertemuan mendesak yang harus dihadiri secara daring dan baterai tabletnya melemah, Leo terpaksa keluar dari mobil dengan emosi yang meluap.

​"Cari tempat yang ada koneksi internet dan listrik sekarang juga!" perintah Leo pada sopirnya.

​Langkah kakinya yang angkuh membawa Leo masuk ke "The Vintage Page". Denting lonceng di atas pintu toko buku itu berbunyi, menandakan kedatangan sang predator ke dalam sarang persembunyian mangsanya.

​Liora yang saat itu sedang berjongkok di balik rak buku filsafat, membeku. Ia mengenali suara itu. Suara bariton yang rendah, tajam, dan penuh otoritas yang selalu menghantui mimpi buruknya.

​Jantung Liora seolah berhenti berdetak. Ia merapatkan tubuhnya ke rak kayu, mencoba mengecilkan eksistensinya. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

​"Maaf, Tuan, ada yang bisa saya bantu?" suara Pak Bram menyapa Leo.

​"Aku butuh meja dengan stopkontak. Dan segelas kopi hitam. Cepat," titah Leo tanpa melihat lawan bicaranya. Ia duduk di kursi kayu dekat jendela, hanya berjarak dua rak dari tempat Liora bersembunyi.

​Liora menutup mulutnya dengan kedua tangan agar suara napasnya yang memburu tidak terdengar. Dari celah buku-buku usang, ia bisa melihat profil samping wajah Leo. Pria itu masih sama—tampan, angkuh, dan mematikan.

​Ia melihat Leo membuka laptopnya, jemarinya yang panjang menari di atas papan ketik dengan gerakan yang sangat ia ingat saat Leo membuang uang seratus ribu di depannya dulu. Rasa sakit itu kembali muncul, lebih hebat dari sebelumnya.

​Liora menyadari, ia tidak bisa bersembunyi di sini selamanya. Ia harus keluar melewati meja Leo untuk menuju pintu belakang. Dengan keberanian yang dipaksakan dari sisa-sisa harga dirinya, Liora berdiri. Ia menundukkan kepalanya sedalam mungkin, membiarkan rambutnya menutupi sebagian wajahnya.

​Ia melangkah perlahan, mencoba tidak menimbulkan suara.

​Namun, saat ia tepat berada di samping meja Leo, ujung kemeja kebesaran Liora tidak sengaja menyenggol gelas kopi milik Leo.

​Pyar!

​Cairan hitam pekat itu tumpah ke atas meja, nyaris mengenai laptop mahal milik sang CEO.

​"Sialan!" umpat Leo. Ia berdiri dengan cepat, matanya menyala penuh amarah. "Kau tidak punya mata?!"

​Liora mematung. Ia tidak berani mendongak. Tubuhnya gemetar hebat, persis seperti saat pertama kali mereka bertemu di lobi.

​Leo mencengkeram lengan gadis di depannya, bermaksud untuk memaki lebih jauh. Namun, saat ia merasakan betapa kecil dan ringkihnya lengan itu, dan saat indra penciumannya menangkap aroma sabun melati yang sangat familiar aroma yang sama dengan asisten kesayangan ibunya—gerakan Leo terhenti.

​"Angkat wajahmu," perintah Leo, suaranya kini berubah menjadi bisikan yang sangat berbahaya.

​Liora menggeleng kuat, air mata mulai jatuh di balik kacamatanya.

​"Aku bilang... ANGKAT WAJAHMU!" Leo menyentak dagu gadis itu hingga kacamata Liora sedikit merosot.

​Mata mereka bertemu. Badai kelabu bertemu dengan samudra luka.

​Waktu seolah meledak di sekitar mereka. Leo tertegun. Gadis di depannya tampak jauh lebih kurus, matanya menyimpan kesedihan yang begitu dalam hingga Leo merasa sesak hanya dengan menatapnya. Namun, tidak salah lagi. Di pipi yang tirus itu, ada bekas lesung pipi yang kini tersembunyi.

​"Liora...?" bisik Leo. Namanya keluar dari bibir Leo bukan sebagai makian, melainkan sebagai sebuah pengakuan yang tak terduga.

​Liora menyentak tangannya dengan kekuatan yang tersisa. "Jangan... jangan sentuh saya, Tuan Leo."

​Suara itu. Suara yang dulu selalu memohon maaf, kini terdengar penuh dengan kebencian dan ketakutan yang murni. Liora berbalik dan berlari menuju pintu belakang, meninggalkan Leo yang berdiri mematung di tengah toko buku tua, dikelilingi oleh aroma kopi yang tumpah dan kenyataan bahwa "sampah" yang ia buang ternyata tidak pernah benar-benar pergi dari jiwanya.

​"Bagi Liora, pertemuan itu bukan takdir, melainkan cara Tuhan menunjukkan bahwa neraka bisa menemukannya di mana saja."

​"Leo menyadari bahwa membenci Liora dari jauh itu mudah, namun menatap matanya yang hancur adalah siksaan yang tidak ada dalam kamus bisnisnya."

​"Di toko buku tua itu, satu hal menjadi jelas: Leo tidak hanya menghancurkan hidup Liora, ia telah menghancurkan satu-satunya bagian dari dirinya yang masih bisa disebut sebagai 'manusia'."

1
brawijaya Viloid
Thorr update setiap harii bintang 6 untuk author 🥰🥰
Ra H Fadillah: "Wow, terima kasih atas rating bintang 5 nya 💞! 🙏 Rasanya senang banget ceritanya bisa menyentuh hati kamu. Kalau penasaran dengan kisah lain yang penuh emosi dan drama, aku baru saja merilis ‘Breathing Without You’. Siap-siap terbawa perasaan, ya!"
total 1 replies
Anonymous
mo nangiss bgt wajib baca sihh 😢
Anonymous
jgn ngagantung dong authro plis 😭
Anonymous
awas menyesal leo 🥺
Anonymous
seru bgt mo nangisss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!