Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.
Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.
Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.
Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 34
Keadaan di jembatan batu itu semakin tegang. Pasukan elit kerajaan telah membentuk barisan setengah lingkaran, tombak dan pedang mereka mengarah ke dalam, mengurung para pemuda bangsawan yang kini tak lagi berani bergerak sembarangan. Wajah-wajah yang sebelumnya penuh tawa kini pucat dan kaku. Beberapa di antara mereka bahkan mulai gemetar, menyadari bahwa satu kesalahan lagi bisa berujung pada kematian yang nyata.
Bisik-bisik warga mulai terdengar dari kejauhan. Orang-orang pasar, pedagang, dan pejalan kaki yang tertahan di ujung jalan berani mendekat perlahan. Mereka menyaksikan dengan mata terbuka lebar. Jarang sekali bangsawan kota diperlakukan seperti penjahat di depan umum. Pemandangan ini terasa seperti mimpi yang tidak berani mereka bayangkan sebelumnya.
Tak lama kemudian, kerumunan itu terbelah. Seorang pria paruh baya berpakaian sangat mewah berlari tergopoh-gopoh mendekat. Sutra mahal yang membungkus tubuhnya berkilau terkena cahaya matahari sore, namun keringat dingin membasahi pelipis dan punggungnya. Perut buncitnya naik turun seiring napas yang tersengal. Dialah Tuan Tan, saudagar terkaya di Kota Chuwei, pemilik gudang kain dan jalur dagang yang menjangkau hingga ibu kota.
Begitu matanya menangkap sosok putranya yang berlutut dengan pedang prajurit istana mengarah ke leher, lutut Tuan Tan seakan kehilangan tenaga. Ia berlari beberapa langkah lagi, lalu menjatuhkan diri berlutut di tanah tanpa memedulikan pakaian mahalnya yang kini ternodai debu dan lumpur.
“Ampun. Ampunkan putra hamba, Letnan yang perkasa,” serunya dengan suara parau dan gemetar. “Hamba adalah Tan Feng, saudagar kain yang setia kepada kerajaan. Hamba selalu membayar pajak tepat waktu dan menyumbang untuk lumbung kota. Putra hamba hanya mabuk dan tidak mengenal siapa yang ia hadapi. Mohon belas kasihan.”
Di saat yang sama, Tuan Muda Tan yang sebelumnya berdiri pongah kini merangkak mendekat dan memeluk kaki ayahnya dengan putus asa. Wajahnya basah oleh air mata dan ingus. Tidak tersisa sedikitpun kesombongan yang tadi ia pamerkan.
“Ayah, selamatkan aku,” rengeknya dengan suara pecah. “Aku tidak tahu mereka orang istana. Aku hanya bercanda. Aku bersumpah tidak akan mengulanginya lagi. Tolong katakan pada mereka untuk melepaskanku.”
Cao Yi berdiri sedikit terpisah dari kerumunan itu. Ia tidak bergerak, tidak berbicara. Tatapannya kosong dan tenang, namun justru ketenangan itulah yang terasa paling mengerikan. Mata hitamnya menatap Tuan Muda Tan seolah sedang memandang sesuatu yang sudah tidak bernyawa. Tidak ada kebencian, tidak ada amarah, hanya penilaian dingin.
Tatapan itu membuat Tuan Muda Tan merinding hebat. Ia merasa seolah jiwanya sedang ditimbang, dan hasilnya sama sekali tidak menguntungkan.
Lu Ying melangkah maju. Posturnya tegap, langkahnya mantap. Aura kepemimpinan seorang calon Selir Utama terpancar jelas dari setiap gerakannya. Ia berhenti tepat di depan Tuan Tan yang masih berlutut, memaksanya menunduk lebih dalam.
“Tuan Tan,” ucap Lu Ying dengan suara nyaring dan tegas, sengaja diperkeras agar didengar warga yang mengelilingi jembatan. “Ketidaktahuan bukan alasan untuk bebas dari hukum.”
Ia menoleh sekilas ke arah Tuan Muda Tan, lalu kembali menatap ayahnya. “Putramu tidak hanya menghina kami secara pribadi, tetapi juga merendahkan martabat wanita dengan menyamakannya sebagai barang hiburan. Jika hari ini kami hanyalah rakyat biasa tanpa pengawal, kehormatan kami mungkin sudah diinjak-injak tanpa sisa.”
Kata-kata itu membuat beberapa warga perempuan di kerumunan mengepalkan tangan. Ada kemarahan yang selama ini terpendam, kini menemukan suara.
Tubuh Tuan Tan bergetar hebat. Naluri lamanya sebagai saudagar licik membuat tangannya bergerak ke arah kantong sutra di pinggang, hendak mengeluarkan kepingan emas sebagai jalan keluar. Namun sebelum ia sempat menyentuh apa pun, ujung pedang Letnan Bai Wang sedikit terangkat, dan suara dingin sang letnan memotong gerakannya.
“Satu keping emas yang kau keluarkan sekarang,” kata Bai Wang tanpa emosi, “akan dianggap sebagai usaha menyuap petugas kerajaan. Hukumannya adalah pemenggalan kepala bagi seluruh keluargamu. Aku sarankan kau berpikir dua kali sebelum menggerakkan tanganmu.”
Tuan Tan membeku. Tangannya berhenti di udara, lalu perlahan ditarik kembali. Wajahnya semakin pucat, seolah darahnya mengalir pergi.
Lu Ying menarik napas dalam, lalu menjatuhkan vonisnya. Suaranya menggema di atas jembatan batu, memantul di dinding bangunan sekitar, menembus ke telinga setiap orang yang hadir.
“Untuk setiap pelecehan dan penghinaan yang dilakukan,” ucapnya dengan tegas, “Tuan Muda Tan beserta seluruh komplotannya dijatuhi hukuman lima puluh kali cambuk di depan umum.”
Kerumunan warga terhenyak. Lima puluh cambukan bukan hukuman ringan. Itu cukup untuk meremukkan kesombongan dan meninggalkan luka yang tak mudah sembuh.
Lu Ying melanjutkan tanpa ragu. “Ini adalah hukuman paling ringan yang bisa kami berikan. Jika kau mencoba menghalangi atau memohon dengan cara yang tidak pantas, Tuan Tan, maka hukuman cambuk ini akan segera berubah menjadi hukuman mati bagi putramu.”
Begitu kata hukuman mati terucap sebelumnya, seluruh keberanian Tuan Tan runtuh tanpa sisa. Ia segera menutup mulut putranya yang masih hendak berteriak dan memprotes keputusan tersebut. Tangannya gemetar hebat saat memeluk kepala Tuan Muda Tan, menekan wajah itu ke dadanya agar tidak mengucapkan satu kata pun lagi yang bisa memperparah keadaan. Di matanya, putra kesayangannya bukan lagi seorang bangsawan muda yang sombong, melainkan anak bodoh yang nyaris menyeret seluruh keluarga menuju kehancuran.
Prajurit elit tidak menunggu lebih lama. Dengan wajah dingin dan gerakan disiplin, mereka menarik Tuan Muda Tan dan lima pemuda lainnya menuju alun-alun kota. Kabar hukuman itu menyebar lebih cepat daripada api di ladang kering. Dalam waktu singkat, warga Chuwei berbondong-bondong datang dari segala arah. Para pedagang menutup kios lebih awal, para ibu menarik anak-anak mereka mendekat, dan para pria dewasa berdiri dengan mata menyala penuh antisipasi.
Di tengah alun-alun, sebuah panggung kayu besar telah disiapkan. Tiang-tiang hukuman berdiri tegak, kokoh dan dingin, seolah telah menunggu tubuh-tubuh yang akan dijadikan contoh. Satu per satu, para pemuda bangsawan itu diikat dengan kasar. Punggung dan bokong mereka dibiarkan terbuka, pakaian sutra mahal yang dulu menjadi simbol status kini hanya kain robek yang tidak berguna.
Seorang prajurit bertubuh kekar melangkah maju. Otot lengannya menegang saat ia menggenggam cambuk kulit tebal yang sudah diolesi minyak agar tidak mudah rusak. Cambuk itu berayun pelan di udara, menimbulkan suara desis rendah yang membuat jantung para terhukum berdegup semakin kencang.
Kerumunan warga menjadi senyap sejenak. Keheningan itu sarat dengan emosi yang telah dipendam bertahun-tahun.
Lalu cambukan pertama mendarat.
CETAAARRRR.
Suara keras itu menggema di seluruh alun-alun, memantul di dinding bangunan dan menusuk telinga siapapun yang mendengarnya. Tuan Muda Tan menjerit melengking, suara yang sama sekali tidak mencerminkan darah bangsawan. Tubuhnya melengkung ke depan, otot-ototnya menegang tak terkendali saat rasa panas dan perih merobek kulitnya.
Cambukan kedua menyusul tanpa jeda. Lalu yang ketiga.
Setiap hentakan cambuk diikuti jeritan kesakitan yang semakin serak. Teman-temannya pun bernasib sama. Ada yang meraung, ada yang menangis sambil memaki, ada pula yang hanya mampu mengerang tertahan karena suaranya telah habis.
Kerumunan warga yang semula diam kini meledak dalam sorak sorai. Tepuk tangan menggema, disertai teriakan penuh kepuasan yang selama ini tidak pernah mereka berani keluarkan.
“Rasakan itu!” teriak seorang pria tua dengan mata merah. “Itulah akibatnya jika kau menindas orang kecil!”
Seorang ibu menangis sambil menunjuk panggung. “Anakku tidak akan pernah kembali seperti semula, tapi setidaknya kalian sekarang tahu rasa sakitnya!”
Cambukan terus berlanjut. Angka demi angka dihitung keras oleh petugas. Sepuluh. Dua puluh. Tiga puluh.
Kulit mereka mulai pecah. Darah segar merembes, membasahi kayu tiang dan menetes ke tanah. Jeritan berubah menjadi rintihan lemah. Pada cambukan keempat puluh, beberapa dari mereka sudah hampir tidak sadarkan diri, tubuhnya hanya bergetar mengikuti refleks rasa sakit.
Saat hitungan kelima puluh akhirnya tercapai, prajurit menghentikan tangannya. Cambuk itu diturunkan. Ikatan dilepaskan.
Tubuh-tubuh itu jatuh tersungkur ke tanah seperti karung rusak. Tuan Muda Tan mencoba bangkit, namun kakinya langsung goyah. Bokongnya yang remuk dan berdarah membuatnya menjerit lagi saat tubuhnya menyentuh tanah. Teman-temannya tidak lebih baik. Mereka merangkak dengan wajah pucat dan mata kosong, berusaha menjauh dari panggung dengan harga diri yang telah hancur total.
Mereka berjalan tertatih-tatih, tidak mampu merapatkan paha. Setiap langkah adalah siksaan baru. Warga tahu, luka itu tidak akan sembuh dalam waktu singkat. Selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, mereka tidak akan bisa duduk dengan nyaman. Rasa perih itu akan menjadi pengingat abadi atas kesombongan mereka sendiri.
Di pinggir alun-alun, Tuan Tan berdiri kaku. Ia tidak berani mendekat, tidak berani berteriak. Matanya kosong menatap putranya yang kini bukan siapa-siapa. Pada saat itu, ia akhirnya mengerti satu hal. Kekayaan tidak berarti apa pun di hadapan hukum yang benar-benar ditegakkan.
Dari kejauhan, Cao Yi dan Lu Ying menyaksikan semuanya dengan wajah tenang. Tidak ada rasa puas berlebihan, tidak pula belas kasihan. Bagi mereka, ini hanyalah konsekuensi.
“Sudah cukup,” ucap Lu Ying pelan. “Mereka akan mengingat hari ini seumur hidup.”
Cao Yi mengangguk tipis. Tatapannya menyapu alun-alun yang kini dipenuhi sorak kemenangan rakyat. “Ketakutan adalah guru yang buruk, tapi rasa sakit seringkali membuat orang belajar lebih cepat.”
Lu Ying menoleh hormat. “Mari kembali, Tuan Putri. Yang Mulia pasti sudah menunggu laporan kita mengenai kondisi pasar dan para bangsawan lainnya.”
Kedua gadis itu pun berbalik meninggalkan alun-alun yang masih riuh. Di belakang mereka, Kota Chuwei terasa berbeda. Tidak lagi tunduk pada emas dan nama besar, melainkan pada hukum yang akhirnya berdiri tegak.