NovelToon NovelToon
JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Menjadi Pengusaha / Preman
Popularitas:898
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 22: MENUNGGU TANPA KEPASTIAN

Tiga bulan berlalu.

Ismi duduk di bangku taman sekolah—sendirian. Istirahat kedua. Anak-anak pada main, ketawa, ngobrol. Tapi dia diem aja—ngeliatin langit kosong.

Kurus.

Dia kurus banget sekarang. Pipi cekung. Mata cekung. Seragam kegedean—nggantung di badan yang udah kayak rangka.

Nggak napsu makan.

Setiap kali nyoba makan, inget Dyon. Inget mereka makan bareng di warteg. Inget senyum Dyon waktu ngunyah nasi uduk. Inget...

Terus nggak bisa nelan.

Muntah.

Setiap hari.

"Ismi."

Suara dari samping. Andra—berdiri dengan muka khawatir.

"Kamu... kamu harus makan," kata Andra pelan. Dia duduk di samping Ismi—taruh bungkusan roti di pangkuan Ismi. "Ini. Roti cokelat. Kamu suka kan?"

Ismi ngeliatin roti itu—diam. Nggak disentuh.

"Ismi, kumohon..." Andra mohon. Suaranya gemetar. "Kamu... kamu nggak boleh kayak gini. Dyon... Dyon nggak akan seneng liat kamu kayak gini."

"Dyon dimana?" tanya Ismi—suara serak, kayak nggak dipake ngomong berhari-hari. "Andra... kumohon... kamu tau kan? Dia... dia dimana?"

Andra diam—nggak berani ngeliatin mata Ismi.

"ANDRA!" Ismi teriak—tiba-tiba. Pegang lengan Andra—erat, kuku nusuk kulit. "Kumohon... kumohon kasih tau aku! Aku... aku nggak kuat lagi! Aku... aku butuh tau dia baik-baik aja! Kumohon!"

Air mata jatuh—deras. Ismi nangis—keras, di tengah taman sekolah. Anak-anak pada nengok—bisik-bisik. Tapi Ismi nggak peduli.

Andra peluk Ismi—erat. "Maafin aku... maafin aku nggak bisa bilang. Dyon... Dyon minta aku jaga rahasia. Dia... dia bilang kalau kamu tau dia dimana, kamu bakal nyusul. Dan... dan itu berbahaya."

"Aku nggak peduli bahaya!" Ismi teriak di dada Andra. "Aku... aku cuma pengen ketemu dia! Cuma... cuma pengen tau dia masih... masih ingat aku..."

Andra nggak bisa jawab. Cuma peluk Ismi—sambil nangis juga.

---

Malam hari. Rumah mewah keluarga Anisah.

Ismi di kamar—duduk di meja belajar. Di depannya ada tumpukan kertas. Surat-surat yang dia tulis—puluhan lembar. Setiap hari dia nulis. Satu surat. Kadang dua.

Ambil pulpen. Kertas baru.

Mulai nulis—tangan gemetar.

---

*Untuk Dyon yang aku cinta,*

*Ini surat yang ke-87. Aku nggak tau kamu baca atau nggak. Aku nggak tau kamu dimana. Tapi... aku tetep nulis. Karena... karena ini satu-satunya cara aku merasa deket sama kamu.*

*Hari ini aku nggak masuk sekolah. Sakit. Pusing. Mual. Ibu bilang aku harus ke dokter. Tapi aku nggak mau. Karena... karena aku tau apa penyakit aku.*

*Aku kangen kamu.*

*Kangen yang... yang bikin aku nggak bisa makan. Nggak bisa tidur. Nggak bisa bernapas dengan baik.*

*Dyon... kamu tau nggak? Aku masih inget suara kamu. Senyum kamu. Cara kamu ngelus rambut aku waktu aku nangis. Cara kamu bilang "aku mencintaimu" dengan mata yang penuh kesungguhan.*

*Aku inget semuanya.*

*Dan aku... aku nggak akan lupa.*

*Meskipun kamu pergi. Meskipun kamu ninggalin aku tanpa penjelasan yang jelas. Meskipun... meskipun aku nggak tau kapan kita ketemu lagi.*

*Aku akan menunggu.*

*Aku janji.*

*Berapa pun lamanya.*

*Sampai kamu kembali.*

*Sampai kamu... sampai kamu jadi orang yang kamu bilang mau jadi. Orang yang layak—meskipun buat aku, kamu udah layak dari dulu.*

*Aku mencintaimu, Dyon.*

*Selamanya.*

*- Ismi*

---

Selesai nulis. Ismi lipat surat itu—rapi. Masukin amplop putih. Tulis nama di depan: **"Untuk Dyon Syahputra"**.

Terus taruh di laci meja—bersama 86 surat lainnya.

Surat yang nggak pernah terkirim.

Karena dia nggak tau... harus kirim kemana.

Ismi nyandar di kursi—ngeliatin langit-langit kamar. Air mata ngalir—pelan, turun ke telinga.

"Dyon..." bisiknya ke keheningan. "Kamu... kamu janji bakal balik kan? Kamu... kamu nggak bohong kan?"

Nggak ada yang jawab.

Cuma suara angin di luar jendela.

---

Keesokan harinya. Ismi dipaksa ke dokter sama Ibu Sarah.

Klinik mewah. Dokter ramah—periksa Ismi dari ujung kepala sampai kaki. Timbang berat badan—38 kg. Turun 10 kg dalam tiga bulan.

"Anak ini... stress berat," kata dokter ke Ibu Sarah. "Depresi. Butuh konseling psikolog. Dan... butuh makan teratur. Kalau nggak, dia bisa... dia bisa kenapa-kenapa."

Ibu Sarah pucat—khawatir. "Dokter... apa... apa dia bakal baik-baik aja?"

"Tergantung," jawab dokter. "Tergantung apa yang bikin dia stress. Kalau... kalau masalahnya nggak selesai, kondisinya... bisa makin parah."

Pulang dari klinik. Di mobil, Ibu Sarah ngeliatin Ismi yang duduk di samping—diam, ngeliatin jendela kosong.

"Ismi," panggil Ibu Sarah pelan. "Ibu... Ibu minta maaf."

Ismi nengok—kaget. "Kenapa... kenapa Ibu minta maaf?"

"Karena... karena Ibu nggak tau kamu sesakit ini," Ibu Sarah ngelap matanya—berkaca-kaca. "Ibu... Ibu pikir kamu bakal lupa sama anak itu. Tapi ternyata... ternyata kamu... kamu beneran mencintainya."

Ismi diam—air mata keluar lagi.

"Ibu nggak setuju," lanjut Ibu Sarah—jujur. "Ibu tetep nggak setuju kamu sama dia. Tapi... tapi Ibu nggak mau kehilangan kamu. Ibu... Ibu nggak mau kamu sakit."

"Terus... terus Ibu mau apa?" tanya Ismi—suara putus asa. "Mau... mau paksa aku lupain Dyon? Mau... mau jodohin aku sama Edward? Mau... mau apa?"

Ibu Sarah diam lama.

"Ibu... Ibu nggak tau," bisiknya—lemah. "Ibu bingung, Ismi. Ibu... Ibu cuma mau yang terbaik buat kamu."

"Yang terbaik buat aku... adalah Dyon," kata Ismi tegas—meskipun nangis. "Cuma... cuma dia."

Mobil berhenti di depan rumah. Ismi turun—langsung masuk kamar. Kunci pintu.

Buka laci—keluarin semua surat. 87 surat.

Baca satu-satu—sambil nangis.

*"Aku mencintaimu, Dyon."*

*"Tunggu aku balik."*

*"Aku janji akan menunggu."*

*"Selamanya."*

Selamanya.

Kata yang... terlalu berat.

Tapi Ismi... nggak peduli.

Dia akan menunggu.

Meskipun nggak ada jaminan.

Meskipun nggak tau kapan.

Meskipun...

Meskipun Dyon mungkin nggak balik.

Tapi dia... akan menunggu.

Karena cinta sejati...

Adalah menunggu tanpa kepastian.

Dan dia...

Dia akan menunggu selamanya kalau perlu.

---

**BERSAMBUNG**

---

*

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏
Dri Andri: Terima kasih semoga sehat selalu ya... simak kisah kelanjutannya dan jangan lupa cek juga cerita lainnya barang kali ada yg lebih cocok dan lebih seru
total 1 replies
checangel_
Nangis dalam diam itu, sekuat apa sih batinnya 🤧🤭
Dri Andri: 🤣 gimana caranya
total 3 replies
checangel_
Belum nikah, tapi sudah layaknya suami istri /Sob/
checangel_
Lelah hati lebih melelahkan dari semua lelah yang menyapa di dunia ini😇, karena yang tahu hanya dirinya sendiri
checangel_
Janji mana yang kau lukiskan, Dyon/Facepalm/ janji lagi, lagi-lagi janji 🤭
checangel_
Dengar tuh kata Dyon, kesempatan kedua tidak datang untuk yang ketiga /Facepalm/
Dri Andri
seperti kisah cinta ini maklum cinta monyet
checangel_
Iya musuh, kalian berdua tak baik berduaan seperti itu, bukan mahram /Sob/
Dri Andri: tenang cuma ngobrol biasa ko gak ada free nya 😁🤣😁🤣😁
total 3 replies
checangel_
Ismi, .... sebaiknya jangan terlalu lelap dalam kata 'cinta', karena cinta itu berbagai macam rupa /Facepalm/
checangel_
Sampai segitunya Ismi🤧
checangel_
Nggak semua janji kelingking dapat dipercaya, maka dari itu janganlah berjanji, jika belum tentu pasti, Dyon, Ismi /Facepalm/
checangel_
Ingat ya, kisah cinta di masa sekolah itu belum tentu selamanya, bahkan yang bertahan selamanya itu bisa dihitung 🤧
checangel_
Ismi kamu itu ya /Facepalm/
checangel_
Nah, tuh kan, jadi terbayang-bayang sosok Ismi /Facepalm/. Fokus dulu yuk Fokus /Determined/
checangel_
Jangan balas dendam ya/Sob/
Dri Andri: balas dendam dengan bukti... bukti dengan kesuksesan dan keberhasilan bukan kekerasan💪
total 1 replies
checangel_
Jangan janji bisa nggak/Facepalm/
checangel_
Jangan gitu Dyon, mencintai itu wajar kok, mereka yang pergi, karena memang sudah jalannya seperti itu 😇
checangel_
Bisa kok, tapi ... nggak semudah itu perjuangannya 🤧, karena jurusan itu memang butuh biaya banyak/Frown/
checangel_
Ismi kamu ke realita aja gimana? banyak pasien yang membutuhkan Dokter sepertimu /Smile/
checangel_
Iya Dyon, don't give up!/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!