Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.
Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan
Matahari pagi baru saja mengintip di balik rimbunnya pepohonan di Hutan Terlarang, mengusir sisa-sisa kabut dingin yang menyelimuti tanah lembap. Lin Xi terbangun dengan perasaan segar yang luar biasa. Aliran energi di dalam tubuhnya, yang kini telah mencapai Tingkat Penguatan Otot, terasa stabil dan kokoh. Setiap embusan napasnya kini terasa lebih panjang, dan indranya menjadi berkali-kali lipat lebih tajam.
Di seberang api unggun yang sudah padam, Yan—atau sang Kaisar Tiran yang dingin itu—sudah berdiri tegak. Meski jubahnya masih berlumuran darah kering dan robek di sana-sini, aura keagungan yang menindas kembali terpancar dari tubuhnya. Luka dalamnya memang belum sembuh total, tapi jamur Lingzhi Ungu pemberian Lin Xi semalam jelas telah melakukan keajaiban.
"Mereka datang," ucap Yan tiba-tiba. Suaranya rendah, namun penuh kewaspadaan.
Lin Xi mengernyitkan dahi. Ia mencoba mempertajam pendengarannya. Benar saja, dari kejauhan, terdengar derap kaki kuda yang sangat cepat, diiringi denting baju besi yang beradu. Bukan hanya satu atau dua orang, tapi sebuah pasukan kecil.
"Pengawalmu?" tanya Lin Xi sambil berdiri dan membersihkan debu dari pakaiannya.
"Pasukan Gagak Hitam. Pasukan elit yang hanya tunduk pada perintah pribadiku," jawab Yan. Matanya menatap ke arah utara, tempat debu mulai mengepul di balik pepohonan raksasa.
Tiba-tiba, semak belukar di depan mereka tersibak dengan kasar. Puluhan ksatria berbaju zirah hitam legam, yang menunggangi kuda perang bertanduk satu, merangsek masuk ke area gua. Gerakan mereka sangat disiplin dan sinkron. Begitu melihat sosok pria tinggi yang berdiri di depan gua, seluruh pasukan itu langsung melompat turun dari kuda mereka dan berlutut serentak hingga menciptakan suara dentuman yang menggetarkan tanah.
"Hamba, Jenderal Feng, beserta Pasukan Gagak Hitam, memohon ampun atas keterlambatan kami! Kami pantas mati karena membiarkan Yang Mulia berada dalam bahaya!" teriak seorang pria kekar di barisan paling depan. Kepalanya menunduk dalam, dahinya hampir menyentuh tanah.
Suasana seketika menjadi sangat berat. Aura membunuh dari pasukan itu begitu pekat, namun di hadapan Yan, mereka semua tampak seperti domba yang ketakutan.
Yan menatap mereka dengan tatapan datar yang membekukan. "Jika bukan karena bantuan seseorang, kalian benar-benar hanya akan menjemput mayatku. Bangunlah. Aku tidak butuh permohonan ampun kalian, aku butuh hasil."
"Siap, Yang Mulia!" Jenderal Feng bangkit berdiri. Matanya yang tajam kemudian beralih ke arah Lin Xi yang sedang berdiri santai sambil bersandar di dinding gua, memutar-mutar sebuah jarum perak di jemarinya. "Yang Mulia... siapa gadis ini? Apakah dia mata-mata dari pemberontak?"
Sring! Dalam sekejap, Jenderal Feng sudah mencabut pedang besarnya dan mengarahkannya tepat ke leher Lin Xi. "Katakan! Apa tujuanmu mendekati Kaisar?!"
Lin Xi bahkan tidak berkedip. Ia menatap ujung pedang yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari kulitnya dengan senyum miring yang mengejek. "Bapak Jenderal yang terhormat, kalau aku ingin dia mati, aku cukup membiarkannya membusuk dengan racun tiga hari lalu. Kenapa aku harus repot-repot memberinya obat mahal kalau hanya untuk jadi mata-mata?"
"Beraninya kau—!"
"Cukup, Feng! Turunkan senjatamu!" bentak Yan. Suaranya mengandung tekanan energi yang membuat Jenderal Feng tersentak dan segera menarik pedangnya kembali. "Dia adalah penyelamatku. Berani kau menyentuh sehelai rambutnya, aku sendiri yang akan memenggal kepalamu."
Para prajurit elit itu terkesiap. Selama ini, Kaisar Yan dikenal sebagai pria yang tidak pernah peduli pada nyawa siapa pun. Mendengar beliau membela seorang gadis remaja dengan begitu keras adalah hal yang sangat langka, bahkan mustahil.
Yan berjalan mendekati Lin Xi. Jarak mereka kini cukup dekat. Untuk pertama kalinya, Lin Xi melihat sedikit kilatan manusiawi di balik mata merah gelap sang Kaisar.
"Aku harus kembali ke ibu kota. Tikus-tikus di istana pasti sudah mulai merayakan kematianku. Aku harus memastikan perayaan mereka berubah menjadi pemakaman," ucap Yan dingin.
Lin Xi mengangguk paham. "Tentu. Dunia politik bukan tempatku untuk saat ini. Aku masih punya urusan dengan hutan ini."
Yan merogoh sesuatu dari balik ikat pinggangnya. Sebuah lencana giok hitam dengan ukiran naga emas yang sedang melilit. Ia melemparkannya ke arah Lin Xi.
"Ambil ini," kata Yan. "Itu adalah Lencana Naga Hitam. Jika kau sampai ke kota dan ada orang yang berani mencarimu masalah—terutama keluarga Lin—tunjukkan lencana itu. Siapa pun yang melihatnya, mereka harus berlutut seolah-olah mereka melihatku sendiri."
Lin Xi menangkap giok itu. Terasa dingin namun mengandung energi yang sangat murni. "Wow, hadiah perpisahan yang sangat berguna. Terima kasih, Yang. Aku akan menyimpannya baik-baik."
"Jangan mati, Lin Xi," bisik Yan pelan, hampir tidak terdengar oleh pasukannya. "Aku ingin melihat bagaimana kau mengguncang dunia ini. Jika kau butuh bantuan untuk meratakan kediaman Jenderal Lin, gunakan lencana itu untuk memanggil pasukanku di perbatasan."
"Heh, untuk urusan sampah seperti mereka, aku tidak butuh tentara. Aku hanya butuh jarumku," balas Lin Xi penuh percaya diri.
Yan berbalik, jubah robeknya berkibar saat ia melompat ke atas kuda perang yang disiapkan pasukannya. Tanpa menoleh lagi, ia memacu kudanya keluar dari Hutan Terlarang, diikuti oleh deru debu dari lima ratus prajurit elitnya.
Setelah suasana kembali sepi, Lin Xi menghela napas panjang. Ia duduk kembali di depan gua, menatap tumpukan tanaman obat yang sudah ia kumpulkan.
"Oke, Lin Xi. Sekarang waktunya fokus," gumamnya pada diri sendiri. "Kaisar itu punya jalannya sendiri, dan aku punya jalanku. Dengan kekuatanku yang sekarang, aku mungkin bisa mengalahkan prajurit biasa, tapi untuk melawan Jenderal Lin dan selir-selir liciknya, aku butuh lebih dari sekadar Tingkat Penguatan Otot."
Lin Xi memutuskan untuk tidak langsung keluar dari hutan. Baginya, Hutan Terlarang adalah tempat pelatihan terbaik sekaligus gudang senjata medisnya. Ia mengeluarkan Teratai Api Sembilan Kelopak yang ia dapatkan dari ular sanca kemarin.
Tanaman ini mengandung energi Yang (panas) yang luar biasa murni. Jika ia bisa menyerapnya dengan benar, ia bisa memperkuat sumsum tulangnya—tahap selanjutnya setelah penguatan otot.
Lin Xi mulai meracik obat di dalam gua. Tanpa tungku alkimia yang layak, ia menggunakan kemampuannya sebagai ahli medis masa depan. Ia menghancurkan Jamur Lingzhi Ungu, mencampurnya dengan nektar dari Rumput Embun Surga untuk menetralkan panas yang berlebihan dari Teratai Api, dan membentuknya menjadi beberapa bulatan hitam kecil.
"Ini bukan pil kualitas tinggi, tapi untuk tubuh ini, ini sudah lebih dari cukup," katanya.
Ia menelan salah satu butiran obat itu.
BOOM!
Seketika, Lin Xi merasa seolah-olah ia menelan lahar panas. Seluruh pori-porinya mengeluarkan keringat hitam yang berbau busuk—itu adalah kotoran-kotoran sisa racun dan sumbatan energi yang keluar dari tubuhnya. Tulang-tulangnya mengeluarkan suara krak-krak yang mengerikan, seolah-olah sedang dipatahkan dan disusun kembali dengan struktur yang lebih kuat.
Ia menahan rasa sakit itu tanpa bersuara. Di kehidupan sebelumnya, ia pernah melakukan operasi pada dirinya sendiri tanpa bius saat berada di medan perang. Rasa sakit ini baginya hanyalah sebuah proses menuju kesempurnaan.
Selama tujuh hari berikutnya, Lin Xi menghilang ke dalam bagian terdalam Hutan Terlarang. Ia tidak lagi lari dari binatang buas, melainkan memburu mereka. Ia menggunakan teknik jarum akupunktur medisnya untuk melumpuhkan titik saraf binatang tingkat tinggi, lalu mengambil inti energi mereka.
Ia berlatih teknik pernapasan kuno yang ia temukan dari ingatan samar pemilik tubuh asli, dikombinasikan dengan pengetahuan anatomi modern. Hasilnya mengerikan. Gerakan Lin Xi menjadi begitu cepat hingga ia tampak seperti bayangan di antara pepohonan.
Pada hari ketujuh, ia berdiri di atas sebuah tebing tinggi. Pakaiannya yang lama sudah ia ganti dengan kulit serigala hutan yang ia jahit sendiri secara kasar. Matanya tidak lagi menunjukkan keraguan. Ada kilatan otoritas yang bahkan mungkin bisa menyaingi Yan.
"Tingkat Penguatan Sumsum... tercapai," bisiknya sambil mengepalkan tangan. Udara di sekitarnya seolah bergetar saat ia melepaskan sedikit energinya.
Ia menatap ke arah kejauhan, ke arah Ibu Kota Kekaisaran tempat keluarga Lin berada.
"Ayah... Kakak... kalian pasti berpikir aku sudah menjadi kotoran binatang di hutan ini, kan? Nikmatilah tidur nyenyak kalian malam ini. Karena besok, Lin Xi yang baru akan datang untuk menagih hutang nyawa."
Lin Xi melompat dari tebing setinggi dua puluh meter itu dengan ringan. Ia mendarat tanpa suara, bagaikan seekor kucing hutan yang siap menerkam mangsanya. Dengan ransel penuh ramuan racun yang mematikan dan obat penyembuh yang ajaib, ia mulai berjalan keluar dari Hutan Terlarang.
Langkah kakinya mantap. Di balik jubah kulit serigalanya, Lencana Naga Hitam pemberian Yan berkilau tertimpa cahaya matahari. Lin Xi tahu, perjalanannya ke ibu kota bukan sekadar pulang, tapi untuk melakukan sebuah perubahan.