Yuk follow ig nya othor
@lady.nuree
__
Di khianati oleh teman dan kekasih nya, lalu menikah dengan CEO tempat nya bekerja. Yuma, dia pikir keputusan nya menikah adalah hal baik, tapi ternyata di balik janji suci itu ada balas dendam yang tengah di rencanakan oleh sang CEO.
Yuma, gadis 25thn itu sangat tidak beruntung dengan hidup nya. Dia bercerai di saat tengah mengandung dan hal itu tanpa dirinya tahu, begitupun dengan yang lain nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lady nuree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 19
Shen sampai di lobi, langkah nya dia percepat kala mendapati Yuma yang masih berdiri di luar pintu masuk perusahaan.
" Nona ". Tepuk Shen dari belakang.
" Tuan Shen ".
" No, jangan panggil tuan ! kau cukup memanggil ku Shen saja ". Tengil Shen.
" Kau juga panggil saja Yuma tanpa embel-embel nona ". Senyum Yuma begitu manis.
" Baiklah ".
" Kau tidak membawa mobil ?! ". Tanya Shen. Saat Yuma hendak menjawab, mobil terparkir di hadapan mereka.
" Maaf lama ". Ucap Gary sembari membuka kaca pintu mobil.
" Aku duluan ya ". Yuma melambaikan tangan nya kepada Shen. Shen pun membalas lambaian tangan Yuma.
" Siapa dia ?! ". Gumam Shen melipat kedua tangan nya sembari berpikir.
...**...
" Ada apa ? kenapa lemas ?! ". Tanya Jingyi saat Yuma telah ikut bergabung dengan teman- teman nya.
" Sssh, sejak kapan manajer produksi di ganti ?! ". Heran Yuma.
" Di ganti ? apa yang kau bicarakan, ini minumlah dahulu, aku tahu kau sedang tak fokus ". Ucap Lao Da memberi minuman kaleng pada Yuma.
" Kalian tidak tahu ?! ". Mereka semua menggeleng pelan. Xian dan juga Gary hanya mendengarkan ocehan Yuma.
" Masalah pekerjaan besok kita pikirkan, sekarang ayo kita senang-senang ". Teriak Wufan.
" Setuju ". Senang Jingyi
Mereka benar-benar bersenang-senang sampai alkohol pun menguasai pikiran mereka. Yuma menempelkan dahi nya pada meja, baru saja seteguk meminum air bersoda itu tapi Yuma sudah mabuk.
" Aduh perutku kenyang ". Gumam Jingyi mengusap-usap perut nya sesekali bersendawa. Tawa di antara mereka begitu terdengar asyik.
Xian dan juga Gary berbaur dengan mereka, walaupun masih canggung namun kedua kakak sepupu Yuma itu terlihat berusaha untuk lebih dekat dengan adiknya.
" Yuma ?". Xian menepuk lembut pucuk kepala Yuma yang masih tertunduk.
" Eumm ". Yuma menepis tangan Xian. Xian sejenak melirik Gary.
" Jika tidak kuat alkohol kenapa kau tetap minum ". Ucap Gary. Dia beranjak berdiri dan berlenggang pergi ke tempat pemesanan.
" Tolong buatkan air jeruk hangat dan juga madu ". Ucap Gary dan segera kembali duduk di tempat sebelum nya.
" Ini tuan ". Sang pelayan mengantarkan beberapa saat setelah pemesanan. Gary meraih nya dan memberikan air itu pada Yuma.
" Minumlah ". Ucap Gary. Xian membantu membereskan gelas dan juga piring yang berada di depan Yuma.
" Kepala ku pusing ". Yuma mengerutkan kening nya seraya mata nya terpejam kuat.
" Minumlah ". Ucap Xian.
" Kak, aku juga mau ". Cengir Jingyi yang begitu sangat mabuk.
" Hey hey diam di tempat mu ". Tarik Levon saat Jingyi hendak berdiri.
...**...
Daniel terlihat masih mengerjakan pekerjaan nya, waktu semakin larut. Di dalam sana, Daniel hanya menggunakan penerang lampu di atas meja nya, sehingga wajah Daniel saja yang terlihat jelas dari kejauhan.
Kaca mata itu terus bertengger teguh di atas hidung nya, hal itu semakin memperkuat aura ketajaman nya.
" Halo ma ". Ucap Daniel saat mama Ella bertanya lewat handphone milik nya.
" Sebentar lagi ma, kalian makanlah terlebih dahulu ". Ucap Daniel.
Sembari menerima panggilan, Daniel merapihkan kembali berkas dan juga beberapa alat tulis di atas meja nya.
" Sayang kau selalu saja sibuk, bisakah kau bekerja hari besok nya lagi ? mama benar-benar harus mencari calon istri untuk mu ". Ujar mama Ella di seberang sana.
" Ma ". Sergah Daniel karena mamanya selalu saja berbicara seperti itu.
" Kenapa ? keberatan ?". Ketus mama Ella. " Cepat pulang, adik mu sedari tadi terus merengut menunggu pulang ". Ucap Mama Ella sembari melirik Shen yang tengah uring-uringan merasa lapar.
" Makan duluan saja, lagi pula sudah aku katakan jangan menunggu ku. Jika kalian lapar, makan saja dahulu ! ". Ucap Daniel.
" Dasar ". Teriak Shen di seberang sana.
" Shen ". Seru Mama Ella.
" Dasar bocah ". Ketus Daniel.
" Ya sudah kau pulanglah lebih cepat, kami makan dahulu ". Ucap mama Ella.
...**...
Acara makan-makan telah menyisakan cerita. Xian dan juga Gary mengantar Yuma pulang ke apartemen nya.
" Terimakasih ". Ucap Yuma.
" Istirahatlah ". Ucap Gary dan juga Xian bersamaan.
" Kalian hati-hati di perjalanan nya ". Senyum Yuma sembari melambaikan tangan.
...**...
Setelah kepergian kedua kaka sepupunya, Yuma lebih dahulu membersihkan tubuh nya, supaya dia kembali segar karena ada pekerjaan tambahan yang harus dia kerjakan.
" Mari bekerja ". Yuma menyemangati diri nya sendiri.
Baju tidur over size menjadi setelan dia untuk tidur di tambah bando menghiasi kepala. Yuma fokus pada layar laptop, sinar layar yang menyakitkan mata membuat Yuma memutuskan untuk memakai kacamata.
Jarum jam semakin terdengar berdetak, Yuma pun banyak menguap kala malam semakin menunjukkan tanduk nya.
Sementara Daniel, dia menyandarkan tubuh nya di depan mobil dan menghadap pada apartemen Yuma yang masih menyala. Mata Daniel terus menatap nya sembari melipat kedua tangan nya di depan.
Setelah lama berdiri, akhirnya lampu apartemen Yuma pun padam. Tanpa mengucapkan sepatah katapun akhirnya Daniel kembali pergi.
...**...
Pagi pun menjelang, Yuma mematikan alarm yang terus mengganggu telinga. Hal pertama yang dia periksa pastilah handphone nya.
Banyak notifikasi pesan di sana termasuk pesan dari orang tua nya. Yuma hanya membuka dan juga membacanya tanpa membalas.
Yuma beraktifitas pagi seperti biasa sebelum berangkat bekerja, setelah selesai semuanya, dia pun berangkat dengan senyum cerah terlukis pada bibir nya.
Gedung pencakar langit yang kini menjadi tempat Yuma bekerja, setiap pagi banyak pegawai berlomba untuk masuk. Senyum hangat dan juga sapaan telah menjadi adat di sana, apalagi jika yang datang adalah Yuma.
" Selamat pagi nona ". Sapa sang security yang siap siaga di depan gedung.
" Selamat juga pagi pak ". Sahut Yuma.
...**...
" Pagi semua ". Semangat Jingyi seperti biasa membawa sarapan dan juga lengkap dengan minuman nya setiap pagi, seolah itu telah menjadi jadwal untuk nya.
" Lambat, kemana saja kau ini ? perutku sudah sangat lapar." Kesal Levon meraih ketus sarapan nya.
" Yaak ini masih pagi, kenapa kau begitu suka memarahi ku ". Ketus Jingyi.
" Sudah sudah ". Lerai Yuma.
" Kau tidak makan ?! ". Tanya Wufan.
" Untuk mu saja, aku sarapan tadi di rumah ". Ucap Yuma.
" Kau memang terbaik ". Senang Wufan.
Yuma beranjak berdiri dengan berkas telah siap di tangan nya.
" Berkas apa itu ?! ". Tanya Lao Da.
" Perencanaan pengadaani, semalam aku menyusun nya dan pagi ini harus segera di laporkan ". Ucap Yuma.
" Kau bergadang lagi ? tch tch tch, memang tidak di kasih kendor ". Geleng Lao Da tidak mengerti dengan atasan baru nya .
" Itu perintah atasan baru kita kan ?! ". Ujar Lao Da sembari menunjuk singkat. Yuma mengangguk membenarkan.
" Ya sudah, pergilah ". Seru Levon.
Yuma melenggang pergi meninggalkan rekan nya, lantai 27 adalah tujuan nya saat ini.
" Selamat pagi ". Salam Yuma.
" Pagi nona, ada yang bisa saya bantu ?! ". Tanya sekretaris yang kini bekerja dengan Daniel.
" Saya ingin menyerahkan berkas laporan, apa beliau ada ?! ". Tanya Yuma.
" Ada, silahkan masuk saja ". Ucapnya sopan. Yuma sejenak heran namun dia memutuskan untuk melangkah masuk.
tok,, tok,, Ketukan di lakukan oleh Yuma sebelum membuka pintu.
" Masuk ". Sahut seseorang dari dalam. Yuma membuka pintu dan berjalan mendekati Daniel yang tengah membuka jas nya dan dia gantungkan pada kursi duduk nya.
" Duduk lah ". Ucap Daniel. Yuma duduk dan menyimpan berkas itu di atas meja.
" Ada yang harus saya kerjakan lagi pak ?! ". Tanya Yuma.
Daniel menatap Yuma sejenak dan melanjutkan untuk duduk kembali.
" Tidak ada, silahkan kembali ke ruangan mu ". Ucap Daniel.
" Baik ". Sahut Yuma kembali berdiri hendak pergi. Sebelum Yuma membuka pintu, pintu itu terbuka dan memperlihatkan sekretaris Daniel masuk dengan menenteng seperti kotak makan.
" Maaf pak, ada titipan untuk anda ". Seru sang sekretaris menyimpan kotak makan itu di atas meja dan kembali ke luar mendahului Yuma.
Saat Yuma hendak melanjutkan langkah, Daniel berucap kembali. " Temani saya sarapan ". Ungkap nya membuat Yuma terkejut.
" Saya ?! ". Gugup Yuma.
" Iya kau, siapa lagi jika bukan kau !". Ucap Daniel, namun terkesan cuek dalam pendengaran Yuma.
" Tapi saya,, ". Belum juga Yuma selesai berucap, Daniel lebih dahulu memotong nya.
" Pergilah jika tak ingin ". Daniel membiarkan kotak makan itu tergeletak begitu saja di atas meja. Daniel memilih menyalakan laptop.
Yuma yang semula terkejut kini telah berada di hadapan Daniel. " Saya siapkan ". Ucap Yuma meraih kotak makan itu dan duduk di atas sofa. Daniel mengulas senyum nya dengan ekor mata melirik Yuma yang tengah memisahkan masakan dan juga nasi.
" Simpan dahulu pekerjaan anda, ayo makanlah ". Seru Yuma.
Daniel beranjak dan mendekati Yuma, dia segera melahap apa yang telah disiapkan. Yuma tak ikut makan, dia hanya menatap wajah tampan milik Daniel.
" Boleh saya bertanya ? ". Ucap Yuma memangku dagu nya sembari tatapan nya tidak lepas dari wajah Daniel.
Daniel menghentikan makan nya sejenak dan sekilas menganggukkan kepala nya.
" Itu kau kan ? orang yang menjenguk ku saat sakit ?! ". Tanya Yuma.
" Lalu ?! ". Singkat Daniel.
" Tidak, jika itu benar kau kenapa sangat berbeda ! kau lebih dingin dari yang aku kira ". Seru Yuma berbicara santai kepada Daniel yang jelas dia adalah atasan nya.
" Sudah berapa lama kau bekerja di sini ?! ".
Daniel bertanya pada topik yang lain seolah mengalihkan pembahasan.
" Sudah hampir dua tahun ". Jawab Yuma.
Yuma berbicara tanpa henti, senyum nya terus terulas dari bibir. Daniel hanya dapat melihat Yuma yang begitu membuat mata nya nyaman.
" Astaga ". Yuma tersentak saat matanya tak sengaja melihat jam dinding, yang menunjukkan jika dia begitu lama tinggal di sini.
Daniel menautkan satu alis nya, Yuma menatap melas bersalah. " Maaf saya harus segera kembali ". Yuma tergesa-gesa lari ke luar dengan begitu cepat.
...**...
Rekan Yuma kini tengah menatap Yuma selidik tanpa berkedip. " Apa yang membuat mu lama mengantarkan berkas ? hanya berkas bukan ?! ". Levon mengintrogasi dengan mata elang nya.
" Aku menemani dia makan dahulu ". Jawab Yuma ringan.
" Apa ?! " Teriak mereka bersamaan. " Yaak ". Bentak Yuma Refleks.
" Ini benar-benar harus di perjelas. Manager baru kita mengajak mu sarapan, apa itu maksud mu ?! ". Cehcar Jingyi.
" Tidak, aku hanya menemani nya saja. Tapi dia benar-benar aneh ". Heran Yuma.
" Cepat-cepat ceritakan ". Semangat Jingyi.
Yuma menceritakan semua nya, dari awal mereka bertemu dan sampai detik ini. Levon dan yang lain nya hanya menyimak dan kadang mengangguk.
" Sudah berkenalan ? ". Tanya Jingyi. Yuma menggeleng pelan.
" Astaga Yuma kau ini benar-benar ". Kesal Jingyi.
" Mana ingat aku, lagipula kita hanya bertemu sekilas saja, jadi aku tidak terlalu ingin mengenal nya ". Cengir Yuma.
" Kau ini benar-benar polos nak ". Ejek Jingyi. " Baiklah, setelah pekerjaan selesai, kita jangan dulu pulang. Aku ingin melihat bagaimana wajahnya ". Final Jingyi dengan semangat tinggi.
" Aku tidak ikut ". Tolak Yuma.
" Harus, kita harus bertemu dengan nya ". Tekan Jingyi begitu bersungguh-sungguh. Dia sangat penasaran dengan pria itu. Dari cerita Yuma, Jingyi menyimpulkan jika dia pria dingin dan juga tampan.
" Tidak mau, tetap tidak mau ". Kekeh Yuma.
" Harus mau ".
" Yak yak yak sudah-sudah, sampai kapan kalian akan bergosip hah ? ayo selesaikan pekerjaan kalian ". Lerai Lao Da menarik kursi Jingyi pada tempat nya.