Suara Hati DARREN

Suara Hati DARREN

Bab 1

Darren saat ini tengah bersiap-siap untuk ke Kampus. Dia sekarang ini tengah memakai seragam Kampusnya dengan dirinya berdiri di depan cermin.

Seragam Kampusnya telah melekat di tubuhnya. Kini dia mengambil beberapa buku yang telah dia susun dan telah dia pisah untuk dia masukkan ke dalam tasnya.

"Selesai! Saatnya berangkat!"" seru Darren dengan penuh semangat.

^^^

Di meja makan, ayah dan keenam kakak-kakaknya tengah menikmati sarapan paginya. Mereka sarapan tanpa menunggu Darren.

Hanya lima orang saja yang tampak menikmati sarapannya, sedangkan dua diantara makan dengan sesekali melihat kearah anak tangga yang mana seseorang akan turun dari sana.

Detik kemudian..

Tap..

Tap..

Tap..

Mereka semua mendengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Dan mereka juga mendengar suara seseorang yang sedang berbicara.

Dengan kompak mereka semua melihat keasal suara. Dan mereka semua melihat kearah pemuda tampan yang tak lain adalah Darren yang tengah menuruni anak tangga sembari berbicara dengan seseorang di telepon.

"Aku masih di rumah. Sebentar lagi akan ke Kampus."

"...."

"Kayaknya iya. Aku ke Kampus hanya dua jam saja. Selesai urusan di Kampus, aku akan langsung ke perusahaan."

"...."

"Baiklah."

Pip..

Selesai berbicara dengan seseorang di telepon, Darren langsung mematikannya. Kemudian dia memasukkan ponselnya ke saku celananya.

Setelah itu, Darren berjalan menuju meja makan dengan wajah dingin dan datar. Tidak ada senyuman sama sekali. Bahkan tatapan matanya menatap ke depan dan tidak mempedulikan dengan orang-orang yang ada di meja makan.

Setibanya di meja makan, Darren duduk paling ujung. Dia sengaja duduk dengan jarak jauh karena dia tahu bahwa ayah dan kakak-kakaknya itu tidak ingin duduk berdekatan dengannya.

"Tuan muda, ini susu coklatnya!" seru seorang pelayan yang datang membawa susu coklat untuknya.

Ketika susu coklat itu hendak diletakkan di atas meja, tiba-tiba Darren berseru.

"Buang susu coklat itu. Mulai detik ini aku tidak ingin meminum susu itu. Ganti dengan susu putih saja."

"Ba-baik, tuan muda!"

Pelayan itu kemudian membawa susu coklat itu kembali ke belakang. Dia tidak ingin membuat majikannya itu marah jika tetap memberikan susu coklat tersebut.

Sementara Davin selaku kakak sulungnya seketika terkejut ketika melihat adik yang dia benci menolak untuk meminum susu coklat itu padahal dia sangat tahu bahwa adiknya itu begitu menyukainya. Bahkan susu coklat itu adalah buatan pertama darinya ketika adiknya itu berusia 4 tahun sehingga adiknya itu memasukkan ke daftar minuman favoritnya.

Tapi sekarang adiknya enggan untuk meminum susu coklat tersebut. Adiknya justru menggantikan susu coklat tersebut dengan susu putih yang mana susu putih tersebut sangat dibenci oleh adiknya itu sejak dulu.

Tak bisa dipungkiri! Dan ini benar-benar dialami oleh Davin. Dia begitu membenci adik bungsunya atas kejadian satu tahun yang lalu, tapi hatinya begitu sakit ketika mendengar ucapan adiknya saat menolak untuk tidak ingin meminum susu coklat tersebut. Dia tidak terima atas apa yang dilakukan oleh adik bungsunya itu.

Bukan hanya Davin, melainkan Erland dan kelima putranya yang lain. Mereka juga merasakan sakit yang luar biasa atas apa yang mereka dengar dari Darren.

Disini mereka yang membenci Darren atas kejadian satu tahun yang lalu, tapi justru mereka yang merasakan sakit di hatinya ketika mendengar ucapan dari Darren ketika mengatakan tidak ingin meminum susu coklat itu lagi.

Darren yang sejak tadi menikmati sarapan paginya seketika tersenyum di sudut bibirnya. Dia melirik sekilas melihat kearah ayah dan keenam kakaknya. Dapat dia lihat bahwa ayah dan keenam kakaknya itu tampak tak baik-baik saja setelah mendengar ucapannya.

"Emangnya enak ketika aku menolak untuk tidak lagi meminum susu coklat itu? Aku tahu kalian merasakan sakit luar biasa di hati kalian. Hal itu juga yang aku rasakan selama satu tahun ini atas sikap kalian."

"Berlahan tapi pasti, aku akan membalas perbuatan kalian terhadapku dengan cara kalian. Apa yang kalian lakukan padaku. Hal itu juga yang akan aku lakukan kepada kalian."

"Kalian ingin bermain dengan hati kan? Dengan senang hati aku akan melayani kalian."

Darren berbicara di dalam hatinya sembari tatapan matanya masih melirik kearah ayah dan keenam kakaknya itu.

Setelah puas menatap wajah ayah dan keenam kakaknya itu, Darren kembali fokus pada makanannya. Dan bertepatan itu, sang pelayan datang membawa segelas susu putih untuknya.

"Ini tuan muda susunya."

"Hm." Darren menjawab dengan deheman.

Setelah meletakkan susu itu di atas meja, pelayan itu kembali ke dapur.

Sementara Darren langsung meminum susu tersebut sehingga membuat ayah dan keenam kakaknya menatapnya

Yah! Erland dan keenam putranya melihat kearah Darren yang saat ini sedang menikmati susunya. Mereka semua khawatir jika Darren akan mual dan muntah jika tetap meminum susu putih itu.

Yah benar! Darren memang anti dengan susu putih. Setiap dia meminum susu putih, maka dia akan mual dan berakhir muntah. Maka dari itulah kenapa Davin menggantinya dengan susu coklat buatannya.

Namun tanpa diketahui oleh Erland dan keenam kakaknya. Sejak kejadian itu hingga berakhir dia dibenci, Darren selama ini mencoba untuk minum susu putih. Butuh perjuangan dan pengorbanan keras untuk Darren berhasil meminumnya, walau awalnya perutnya yang tak menerimanya sama sekali.

"Ach, susu ini benar-benar enak! Kenapa tidak dari dulu saja aku meminumnya? Kenapa aku harus meminum susu keparat itu," ucap Darren dengan tatapan matanya menatap gelas kosong di tangannya dengan wajah yang tampak bahagia.

Deg..

Sontak ucapan dari Darren membuat hati Davin seolah-olah ditusuk ribuan jarum. Dia tidak menyangka jika Darren akan mengatakan hal itu.

"Ini adalah balasanku atas sikapmu dua hari yang lalu, tuan Davin!" batin Darren dengan tatapan matanya menatap kearah kakak sulungnya yang mana kakaknya itu menatap dirinya dengan wajah syok.

Tatapan mata Gilang dan Darka seketika membelalak. Keduanya terkejut. Kemudian keduanya melihat kearah Darren yang saat ini menatap kearah kakak sulungnya.

Yah! Keterkejutan Gilang dan Darka karena bisa mendengar suara hati Darren. Ucapan demi ucapan isi hati Darren dapat mereka dengar.

Flashback On..

"Kau mau kemana anak pembunuh!"

Darren seketika berhenti. Kemudian dia membalikkan badannya untuk melihat kearah kakaknya itu.

"Ada hak apa anda menanyakan kemana saya mau pergi?" tanya Darren.

"Apa begini cara kau berbicara dengan kakakmu!" bentak Davin.

"Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapanku? Aku kan hanya bertanya, seharusnya kau yang lebih tua menjawab pertanyaan dari yang lebih muda."

"Lagian aku tadi tidak marah ketika kau menyebutku anak pembunuh. Seharusnya kau juga tidak marah atas pertanyaanku itu," ucap Darren dengan tatapan dinginnya.

"Aku mau pergi kemana, itu bukan urusanmu. Bukankah kau sudah tidak sudi menganggap aku adikmu lagi? So, berhentilah mengusik kehidupanku!"

Setelah mengatakan itu, Darren langsung pergi meninggalkan Davin yang tak bisa berkata-kata apapun lagi.

Flashback Off..

Gilang dan Darka menatap kearah adiknya yang saat ini masih menatap kearah kakak sulungnya.

"Apa yang terjadi dua hari yang lalu?" batin Gilang.

"Apa yang dilakukan oleh kakak Davin terhadap Darren?" batin Darka.

Keduanya bertanya pada dirinya sendiri di dalam hatinya masing-masing dengan tatapan matanya menatap kearah kakak sulungnya.

Beberapa detik kemudian..

Darren berdiri dari duduknya. Dia sudah selesai dengan sarapannya.

Setelah itu, Darren pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun, walau hanya sekedar berpamitan.

Setelah kepergian Darren membuat Gilang dan Darka langsung memberikan pertanyaan kepada kakak sulungnya, disertai dengan sorot mata yang tajam.

"Apa yang telah kau lakukan pada adikku dua hari yang lalu, Davin Aldan Smith?!" Darka bertanya tanpa menyebut kata kakak untuk Davin.

Deg..

Davin seketika tersentak ketika mendengar pertanyaan dari Darka, ditambah lagi sorot matanya yang tajam.

"Kakak Darka, kenapa kakak bicara seperti itu! Bagaimana pun....?"

Seketika ucapan Riyo sianak angkat seketika terpotong karena Gilang langsung bersuara.

"Diam kau! Kau tidak punya hak berbicara disini. Kau hanya orang luar!"

Deg..

Riyo seketika tersentak akan ucapan dari Gilang. Begitu juga dengan yang lainnya.

"Gil, kamu...." ucapan Dzaky terhenti.

"Kenapa? Mau belain dia dengan memarahi aku? Mau membuangku demi dia, begitu?"

Deg..

Dzaky membelalakkan matanya tak percaya akan perkataan Gilang.

Sementara untuk Davin, dia terkejut akan pertanyaan dari Darka barusan. Dia tidak menyangka jika Darka akan bertanya seperti itu. Ditambah lagi, dia dibuat bingung akan pertanyaan dari Darka.

Disaat Davin dalam keterkejutan, dia kembali terkejut ketika mendengar ucapan sarkas dari Gilang.

"Apa kau masih menyebut adikku sebagai pembunuh?!" bentak Gilang. Tatapan matanya begitu tajam menatap kearah kakak sulungnya. "Dimana otakmu, Davin Aldan Smith! Dia adikku kandungmu. Bagaimana bisa kau dengan kejam menyebut adikmu sendiri sebagai pembunuh!"

"Kau tahu sendiri seperti apa sifat Darren selama ini. Kau juga tahu bagaimana besarnya perhatian, kasih sayang dan kepedulian Darren terhadap Mama? Dia adalah orang pertama yang berada di depan jika melihat Mama menangis. Bahkan Mama adalah semangat hidupnya. Bagaimana mungkin Darren tega membunuh Mama!" bentak Gilang.

Braakk..

Darka menggebrak meja makan dengan keras bersamaan dia berdiri dari duduknya. Tatapan matanya menatap tajam kearah kakak sulungnya dan kakak-kakaknya yang lainnya.

"Ini untuk terakhir kalinya kalian menyebut adikku sebagai pembunuh. Jika aku mendengar kata itu lagi, maka kalian akan menjadi musuhku! Dan aku tidak akan segan-segan melawan kalian. Aku tidak peduli akan status kalian!" Darka berucap dengan penuh ancaman dan penekanan.

Darka melihat sekilas kearah ayahnya yang saat ini tampak terkejut.

"Berlaku juga untuk Papa."

Setelah mengatakan itu, Darka mengambil tasnya. Kemudian dia pergi begitu saja meninggalkan ayah dan kakak-kakaknya.

"Sama halnya dengan Darka. Aku juga akan melakukan hal itu kepada kalian. Selama satu tahun ini aku dan Darka hanya diam melihat kalian bersikap buruk terhadap Darren. Diamnya kami selama ini karena kami tidak ingin ribut dengan kalian."

"Tapi kali ini aku dan Darka tidak akan diam lagi. Kami akan langsung bertindak setiap kali kalian menyakiti adikku." Gilang berucap dengan sorot matanya yang tajam.

Gilang melihat kearah Riyo dengan sorot matanya yang tajam.

"Dan lo! Bersikaplah layaknya tamu di rumah ini. Jangan berlagak seolah-olah lo putra dan adik dari ayah dan kakak-kakakku. Ingat! Kau bukan siapa-siapa disini. Kau bukan bagian keluarga Smith. Sadarlah akan posisimu disini."

Setelah mengatakan itu kepada Riyo, Gilang langsung pergi meninggalkan anggota keluarganya dengan keadaan marah.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!