NovelToon NovelToon
Istri Yang Disia Siakan

Istri Yang Disia Siakan

Status: tamat
Genre:Ibu Mertua Kejam / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: SOPYAN KAMALGrab

"mas belikan hp buat amira mas dia butuh mas buat belajar" pinta Anita yang ntah sudah berapa kali dia meminta
"tidak ada Nita, udah pake hp kamu aja sih" jawab Arman sambil membuka sepatunya
"hp ku kamarenya rusak, jadi dia ga bisa ikut zoom meating mas" sanggah Nita kesal sekali dia
"udah ah mas capek, baru pulang kerja udah di sodorin banyak permintaan" jawab Arman sambil melangkahkan kaki ke dalam rumah
"om Arman makasih ya hp nya bagus" ucap Salma keponakan Arman
hati Anita tersa tersayat sayat sembilu bagaimana mungkin Arman bisa membelikan Salma hp anak yang usia baru 10 tahun dan kedudukannya adalah keponakan dia, sedangkan Amira anaknya sendiri tidak ia belikan
"mas!!!" pekik Anita meminta penjelasan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ROMATIS YANG SEMU

Pagi ini suasana rumah terasa berbeda. Anita bangun dengan perasaan ringan, seolah beban yang selama ini menekan dadanya sedikit berkurang. Setelah beberapa hari dingin dengan Arman, tadi malam mereka kembali berbicara dari hati ke hati. Bahkan, Arman meminta maaf, sesuatu yang jarang sekali terjadi.

Anita tersenyum kecil sambil menyiapkan sarapan. Tangannya lincah mengaduk telur di wajan, sementara pikirannya melayang ke Amira. Sudah beberapa hari ini ia tidak menjenguk putrinya di pesantren. Mungkin akhir pekan nanti ia bisa berkunjung.

Di meja makan, Laksmi memperhatikan Anita yang terlihat lebih ceria. Hatinya langsung panas. Ia tidak suka melihat Anita bahagia. Apalagi sejak tahu Arman semalam tidur di kamar Anita lagi. Padahal, sebentar lagi Bianka akan datang.

Namun, Laksmi tidak menunjukkan ekspresi tidak sukanya. Ia hanya melirik Dewi yang duduk di sebelahnya, lalu menyenggol tangan adiknya.

Dewi paham maksud ibunya. “Kak, nanti malam pasti ramai, ya. Akan ada tamu spesial,” katanya dengan nada menyindir.

Anita tidak merespons. Ia hanya tersenyum, lalu meletakkan teh manis di depan Arman.

“Mas, hati-hati di jalan.”

Ucapan itu membuat Arman tertegun sejenak. Sudah lama sekali ia tidak mendengar Anita berkata begitu. Ada kehangatan yang merambat di dadanya.

Arman menatap Anita yang masih tersenyum lembut. Senyum yang selama ini ia rindukan. Ia merasa nyaman, tenang, dan ingin mempertahankan momen ini selamanya.

Namun, saat melangkah keluar rumah, pikirannya kembali gelisah.

"Anita, aku tidak mau kehilangan senyummu. Tapi, ibu sudah minta Bianka datang ke rumah. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku ini suami atau anak, sih? Kenapa harus selalu menuruti ibu?"

Arman menghela napas berat.

Ia berjalan menuju motor bututnya yang terparkir di halaman. Saat mencoba menyalakan mesin, motor itu batuk-batuk sebelum akhirnya hidup.

"Ya Allah, semoga hari ini lancar. Bensin juga sudah hampir habis."

Arman merasa malu pada dirinya sendiri. Sudah jadi kepala rumah tangga, tapi beli bensin pun harus mikir panjang. Ia tahu, itu semua karena ibunya yang menguasai uangnya. Kalau saja ia bisa pegang uang sendiri, mungkin nasibnya tidak seperti ini.

Saat di jalan, pikirannya terus bergejolak.

"Anita, aku sudah menyakitimu. Aku sudah menelantarkan Amira. Tapi kamu tetap sabar. Kamu masih bisa tersenyum dan bilang hati-hati di jalan. Aku ini laki-laki macam apa?"

Hatinya semakin berat mengingat rencana malam ini.

Bianka, perempuan yang selama ini menggoda dan memberikan perhatian lebih padanya di kantor. Bianka yang ibunya sukai.

"Seharusnya aku menolak permintaan ibu. Tapi kalau aku melawan, ibu pasti marah. Aku takut ibu akan mengusir Anita dari rumah. Aku juga takut ibu tidak akan memberiku uang sepeser pun. Aku tidak punya tabungan, tidak punya rumah. Aku bergantung pada ibu. Kalau ibu marah, aku bisa kehilangan semuanya."

Arman menggigit bibirnya. Ia benci kenyataan bahwa dirinya seperti boneka yang selalu dikendalikan oleh ibunya.

"Tapi, Anita... Jika Bianka benar-benar masuk ke rumah ini, apakah senyummu akan hilang lagi?"

Bayangan wajah Anita yang tersenyum tadi pagi kembali terlintas di pikirannya.

"Aku tidak mau kehilangan itu lagi. Tapi aku juga tidak bisa menolak ibu."

Dilema itu terus menghantuinya sepanjang perjalanan menuju kantor.

Arman sampai di kantor dengan hati yang masih gelisah. Pikirannya masih dipenuhi wajah Anita yang tersenyum lembut tadi pagi.

Namun, begitu melangkah masuk ke dalam gedung, sebuah suara ceria menyambutnya.

"Mas Arman!"

Bianka berdiri di dekat meja kerjanya, menyambutnya dengan senyuman manis. Senyuman yang biasanya menggoda, tapi kali ini justru membuat Arman merasa bersalah.

"Hari ini saya semangat banget, Mas! Akhirnya bisa bertemu sama Ibu Mas Arman. Saya bahkan semalam ke salon, lho!"

Arman tertegun. Matanya memperhatikan Bianka dari ujung kepala sampai ujung kaki. Rambutnya yang biasanya dikuncir kini dibiarkan tergerai dengan rapi, wajahnya tampak lebih segar, dan pakaiannya terlihat lebih elegan dari biasanya.

"Tuh, lihat!"

Bianka mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto.

"Ini gaun yang bakal saya pakai nanti malam. Cantik, kan?"

Arman menelan ludah. Gaun itu berwarna merah marun, tampak mahal dan elegan. Terlalu berlebihan untuk sekadar bertamu ke rumah seseorang.

Bianka benar-benar serius mempersiapkan pertemuan ini.

"Aku juga udah pilih parfum yang pas, biar kesan pertama ke Ibu Mas Arman bagus. Gimana, Mas? Nanti malam saya cantik, kan?"

Arman hanya diam. Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena terpesona, melainkan karena panik.

Perempuan mana yang begitu antusias ingin bertemu ibu dari pria yang sudah beristri? Bukankah wanita baik-baik seharusnya menjaga jarak dengan suami orang?

Tapi Bianka tampak bahagia, seolah ia tidak merasa melakukan sesuatu yang salah.

"Mas Arman kok diam aja?"

Arman berdehem pelan. "Oh… iya, bagus kok, Bianka."

"Tuh, kan! Pasti Ibu Mas juga bakal suka sama saya."

Arman meremas tangannya sendiri. Jika Bianka benar-benar diterima oleh ibunya, apa yang akan terjadi? Apakah ini awal kehancuran rumah tangganya dengan Anita?

Pikiran itu membuat dadanya semakin sesak.

Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.

Ibunya pasti akan marah besar kalau Bianka tidak jadi datang. Bisa-bisa Laksmi mogok makan lagi.

Arman tidak sanggup menghadapi rengekan ibunya.

Maka, seperti biasa, ia memilih diam dan mengikuti arus.

Malam ini, Bianka akan datang.

Dan mungkin, setelah malam ini, kebahagiaannya bersama Anita benar-benar akan berakhir.

Arman duduk diam di kursi penumpang, matanya menatap kosong ke luar jendela mobil. Malam sudah turun, jalanan terlihat lengang, hanya sesekali ada motor atau mobil lain yang melintas.

Di sebelahnya, Bianka memegang setir dengan penuh semangat.

"Mas Arman, aku deg-degan banget! Gimana menurut Mas? Aku bakal cocok kan sama Ibu Mas?"

Arman hanya mengangguk kecil.

"Aku udah siap mental, lho. Aku tau nggak gampang diterima. Tapi aku yakin, kalau aku bisa bikin Ibu Mas suka sama aku, pasti semuanya bakal lancar."

Lancar?

Arman ingin tertawa, tapi tidak ada hal lucu dari semua ini.

Satu sisi, ia merasa bersalah pada Anita. Sisi lainnya, ia takut pada ibunya.

"Mestinya aku naik motor aja, Bianka. Nggak enak kalau ada yang lihat."

"Ya ampun, Mas! Masak aku disuruh datang sendirian? Nggak etis, tau!"

Arman menghela napas. Ia tahu Bianka hanya mencari alasan agar bisa berdua dengannya lebih lama.

Dan kini, ia terjebak dalam situasi yang tidak bisa ia kendalikan.

Mobil terus melaju mendekati rumahnya. Setiap detik yang berlalu semakin menambah sesak di dada Arman.

"Mas, nanti kalau Ibu Mas nanya tentang aku, Mas bilang aja aku temen dekat Mas ya?"

Arman diam.

"Apa aku harus bilang langsung kalau aku suka sama Mas?"

Arman menoleh cepat.

"Jangan!"

Bianka tertawa kecil.

"Masih takut sama istri?"

Arman tak menjawab.

"Tenang aja, Mas. Aku tahu cara bicara yang manis. Aku nggak bakal langsung bilang ke Ibu kalau aku mau sama Mas. Tapi, pelan-pelan aku pasti bisa bikin beliau percaya sama aku."

Arman meremas telapak tangannya sendiri.

Hatinya berkecamuk.

Dulu, ia menikahi Anita tanpa berpikir panjang. Ia mencintai Anita, tapi tak pernah punya keberanian untuk membela istrinya di depan ibunya.

Dan sekarang, ia kembali dihadapkan pada situasi yang sama.

Mungkin seharusnya ia berani menolak Bianka dari awal. Mungkin seharusnya ia membela Anita saat ibunya mulai menyudutkan istrinya.

Tapi nyatanya, ia hanya diam.

Sama seperti saat ini.

Mobil akhirnya berhenti di depan pintu gerbang rumahnya.

Arman menelan ludah.

Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Setiap langkah menuju rumah bagaikan menuju kematian.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi malam ini.

Tapi yang pasti, tidak ada yang baik yang akan datang dari semua ini.

Bersambung

1
Artika
datang sendiri anita
.....kasih pelajaran yang special buat tuh orang biar kapokkk ..jadi gemes saya bacanya thor
its up to me
seru
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
Asih
lanjut dong saya suka ceritanya
Asih
lanjut tuor saya suka ceritanya ayo bangkit Anita jngan lemah pa
da lelaki seperti armann
Marina Tarigan
hidupmu miris sekali Arman kamu dikelilingi wanita2 yg amnuradul semua sehingga kamu jadi pria paling nodoh sefunia hidupmu miris sekali sampai tammat riwayatmu sdh lah takdirmi memang begitj sampai tdk punya harga lagi
Marina Tarigan
si arman anak laki satunya pegawai perusahaan besar kok lemot kali cara kerja otaknya kek tahu nikmati saja kebodohanmu iymi itu tolol
Marina Tarigan
kan betul Renata kamu masih sangat bodoh ambisimu saja yg tinggi batinmu nol dan serakah kamu meringkuk seumur hdp dipenjara tanpa perlindungan apapun ayahmu jd pesuruh maharani demi Anita ibumu selena yg buat kecelakaan dulu sampai diasuh panti gara2 ibumu
Marina Tarigan
bagus Rensta teruslah culik menulik ada yg lebih berkuasa dari yg pzikopat yaitu Tuhan maha pencipta tak ada satupun mahluk di alam semesta ini mampu melawanya biarpun maharani mati ditanganmu kamu tdk bisa bangkit lagi lawanmu mkn dahsyat
Marina Tarigan
tadi Renata dan Bianka dgn congkaknya mengangkat dagu tinggi akhirnya lepe merunduk seperti sayur bayam kurang air
Marina Tarigan
perusahaan yg dibangun oleh Maharani dari nol dgn penuh perjuangan kamu ambil alih Maharani orang jenius cerdik kamu lawan Renzta Selena
Marina Tarigan
nenek lampir ngamuk marah terus ambisi kekuasaan sekaj tdk tahu terima kasih awal kehancuran kamu butet
Marina Tarigan
lanjut semuanya keluarga Arn tdk normal gila
Marina Tarigan
kalah cepat kamu Renata perusahaan sdh diserahkan kpd Anita adik cantik serakah tdk punya hayi egois gatal karma bagimu telah menumggu
Marina Tarigan
berarti bedah tadi dr gadungan yg disuruh Tenata utk menghanisi Majarani ya gagal total dibamtam olej Anita dan Hilman kami sdh setaklban ya Renata berkali kamu mau melenyapkan orang tak bersalah tunghu balasannya kamu akan hancur jatuh miskin tfk punya apa2
Marina Tarigan
joree kena bayimya anak pungut tupanya mungkin darahnya keturunan gangster kelas kakap dan kamu pak Suria kenapa kamu membela keturunan biadap kamu tdk pikir bagaimana sadismya snakmu gatal itu amak kevil zzAmira dan Anita karena kefakahan anak pungut itu
Marina Tarigan
mumgkom karena panik tampa sadar Anita yerus pergi lupa sdh ada suami sebgai pelindungnya satu sidi zHilman merasa diacuhkan sbgai suami dan penguasa
Marina Tarigan
gimana reaksi Arman Bianca laxmi deh karena Hilman bos mereka
Marina Tarigan
haha awal kebaikanmu Anita Renata provokatpr berulah
Marina Tarigan
baru sekarang aku menikmati ceritanya awal aku kesal karena ceritanya terlampau sadis dan sepihak terlampau penurut dej
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!