Meila Ayunda Aksara, mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Dia membatalkan pernikahannya dengan tunangannya, Zayan Wijayakusuma. Dia tidak peduli jika keputusannya itu akan membuat nama baik keluarga Aksara rusak. Bagi Meila, keluarga itu sudah rusak sejak lama.
Sudah saatnya Meila membuka topeng keluarganya yang selalu memperlakukan dirinya dengan tidak adil. Selama ini, kedua orang tuanya dan kedua kakaknya menganggap Meila sebagai anak pembawa sial. Cacian dan makian menjadi makanan sehari-hari yang harus Meila terima.
Keputusan besar Meila itu justru membuatnya bertemu dengan Abyan Rayendra Hasan, pria yang siap memberikan Meila sebuah keluarga.
Bagaimana kehidupan Meila setelah dia meninggalkan keluarganya dan Zayan?
Bagaimana kehidupan Meila bersama Abyan?
Yuk simak kisahnya di Setelah Aku Pergi hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Dibuang
Sesaat pikiran Zayan kosong. Apakah dia sudah benar-benar keterlaluan terhadap Meila? Apakah Meila benar-benar akan pergi dari hidupnya? Saat sadar Meila sudah tidak terlihat, Zayan berusaha untuk mengejar Meila.
Belum juga melangkah, Zayan ditahan oleh Melisa. "Biarkan saja Kak Zayan. Dia tidak akan kemana-mana. Meila itu anak manja, dia tidak bisa hidup seorang diri diluar sana."
"Betul itu Zayan, dia sudah biasa seperti ini. Mengancam pergi dari rumah, tapi tetap pulang." Nyonya Hana menambahkan.
Bodohnya Zayan, dia membenarkan ucapan Melisa dan calon ibu mertuanya. Zayan juga sangat yakin, Meila tidak bisa hidup tanpa dirinya. Selama ini Zayan merasa, dia yang memenuhi kebutuhan Meila. Zayan membuatkan khusus rekening atas nama Meila. Setiap bulan, Zayan mengisi rekening itu untuk Meila gunakan. Zayan pikir, dengan apa yang sudah dia berikan, Meila tidak akan pergi dari hidupnya. Karena gadis itu terikat dengannya.
Zayan salah, Meila tidak pernah mengambil satu rupiah pun dari rekening yang Zayan buatkan khusus untuknya. Meskipun orang tuanya tidak lagi membiayai hidupnya, Meila mampu membiayai hidupnya sendiri. Dia bekerja paruh waktu untuk kebutuhannya sehari-hari, selama ini. Untuk biaya pendidikan, Meila selalu mendapatkan beasiswa, sejak sekolah menengah atas hingga dia lulus sarjana.
Lulus sarjana lebih cepat dari yang ditentukan serta mendapatkan nilai yang tinggi, membuat Meila langsung diterima kerja di perusahaan Alamanda milik Erik. Di perusahaan itu, Meila bertemu Dewi, yang memiliki kehidupan yang hampir sama dengan Meila.
Tidak ada satupun keluarga Aksara yang tahu Meila sudah menyelesaikan pendidikannya, begitupun dengan Zayan. Meila sengaja merahasiakan hal tersebut, agar Melisa tidak terus menebarkan rasa iri hatinya pada Meila.
Saat akan kembali duduk bersama keluarga Aksara, Zayan teringat kalimat terakhir Meila. "Saya sudah mengirim semua barang yang pernah Dokter Zayan berikan pada Saya, ke apartemen Dokter."
Setelah kejadian di butik. Meila tidak langsung ke perusahaan Alamanda. Dia kembali ke apartemen, lalu mengumpulkan semua barang-barang pemberian Zayan selama mereka bersama. Tidak hanya itu, Meila juga menyelipkan ATM dan buku rekening atas namanya.
Mengingat kalimat terakhir yang diucapkan Meila, Zayan segera pamit. Dia ingin memastikan, Meila tidak berbohong. Itu berarti ancaman Meila tidak main-main tentang pembatalan pernikahan mereka.
"Kak Zayan mau kemana?" Melisa segera mengajukan pertanyaan karena takut. Takut Zayan menyusul Meila, lalu keduanya berbaikan lagi seperti yang sudah-sudah. Melisa tidak ingin rencananya memisahkan Meila dan Zayan menjadi sia-sia.
Zayan tidak menanggapi pertanyaan Melisa. Pria itu pergi begitu saja. Elisa mengepalkan tangannya. Kesal Zayan masih saja memperdulikan Meila.
"Tenang saja Lisa, Zayan pasti akan menjadi milik kamu." Nyonya Hana yang mengetahui kegelisahan Melisa, berusaha menenangkan putri pertamanya itu.
Diluar, di depan kediaman Aksara, Meila sudah melewati gerbang kediaman keluarga Aksara. Dia berbalik sejenak, memandangi kediaman tiga lantai itu. Kediaman itu terlihat megah dari luar. Namun, lebih banyak memberikan luka dari pada kenangan bahagia. Meila tersenyum, meskipun luka di hatinya masih terbuka lebar.
Erik dan Dewi yang sejak tadi sudah turun dari mobil, menyambut Meila yang semakin mendekat pada mereka. "Keluarga kamu tidak menyakiti kamu, kan?" Tanya Dewi.
Meila tersenyum sebagai jawabannya. Pertanyaan basa basi itu hanya sebuah bentuk perhatian dan rasa khawatir Dewi kepadanya. Meila tahu, Erik dan Dewi pasti meretas cctv di kediaman Aksara, untuk melihat apa yang terjadi.
"Ayo kita pulang!" Ajak Erik.
Suami Dewi itu segera mengambil alih koper yang ada di tangan Meila. Sedangkan Dewi menggiring Meila untuk masuk ke dalam mobil. Erik segera kembali ke belakang kemudi setelah menutup bagasi. Lalu dia melajukan kendaraannya, bertepatan dengan Zayan yang keluar dari kediaman Aksara.
Suasana dalam kendaraan itu hening, sama seperti saat mereka menuju kediaman Aksara. Erik melirik meila lewat kaca spion. Tampak gadis itu tengah melamun.
Meila sedang memikirkan yang baru saja dia lalui. Dia merasa berdosa sudah melawan keluarganya. Baru kali ini, Meila bicara kasar dan berani menatap tajam semua keluarganya. Mungkin, karena rasa sakit itu sudah sangat menyakitkan bagi Meila.
"Apa aku salah?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Meila.
Dewi segera menoleh pada Meila. "Yang kamu lakukan sudah benar Mei. Keluar dari keluarga itu untuk menjaga kamu agar tetap waras menghadapi dunia ini." Dewi mengingatkan tujuan Meila.
Tujuan Meila keluar dari kediaman Aksara untuk kewarasan dirinya. Rasa sakit yang diberikan keluarga Aksara selama ini membelenggu Meila. Kasih sayang yang timpang, pernah membuat Meila merasa dirinya kecil dan tidak berguna.
Sampai Meila berada disatu titik keputus asaan. Dimana, tidak ada satupun keluarganya yang bersedia ke sekolah setiap waktunya pembagian rapot.
"Kamu ambil sendiri saja Mei. Sekolah kamu itu sekolah kampung, tidak ada orang tua teman-teman kamu yang bisa Papa ajak kerja sama membesarkan perusahaan." Tolak tuan Beni, saat Meila meminta pria itu mengambil rapot.
"Kami harus mengambil rapot Melisa. Ibu sudah janji bertemu teman-teman Mama yang juga istri pengusaha." Nyonya Hana menambahkan.
Ingin sekali Meila bertanya, "Mengapa sekolahnya tidak disamakan saja dengan Melisa?"
Tanpa perlu mengajukan pertanyaan itu, Meila sudah mendapatkan jawaban. "Kamu itu tidak bisa apa-apa. Kehadiran kamu itu tidak diharapkan. Sejak lahir kamu itu sudah membawa sial untuk keluarga ini. Jadi terima saja kalau kamu harus sekolah di sekolah biasa. Bersyukur, kamu masih kami sekolahkan."
Andai Meila bisa memilih saat lahir kedunia ini, tentu saja dia akan memilih keluarga yang benar-benar menginginkan kehadirannya. Sayang itu tidak bisa dia lakukan. Yang bisa Meila lakukan adalah menjaga kewarasannya, dengan keluar dari kediaman Aksara.
Menikah dengan Zayan, merupakan salah satu cara Meila untuk keluar dari kediaman itu. Namun, sikap Zayan yang berubah setelah bertemu keluarganya, membuat Meila ragu, pria itu bisa membebaskan dirinya dari belenggu keluarganya sendiri. Puncaknya hari ini, keputusan besar harus Meila putuskan.
"Bang, kita mau kemana?" Tanya Meila setelah menyadari Erik melajukan kendaraannya bukan ke apartemen miliknya.
Tidak ada jawaban dari Erik. Hanya kedipan sebelah mata yang diberikan Dewi, saat kakak angkat Meila itu melihat ke kursi penumpang bagian belakang, tempat Meila berada.
Kendaraan milik Erik terus melaju menuju sebuah perumahan elite. Keluarga Meila memang keluarga berada, namun kedudukan keluarga Erik lebih tinggi diatas keluarga Aksara. Sekarang Meila tahu, kemana kedua saudara angkatnya itu membawanya.
"Selamat datang di rumah Meila," ucap Erik setelah Meila turun dari mobil.
"Ini kediaman utama Alamanda. Oma meminta kami untuk membawa kamu pulang ke tempat ini. Oma ingin, kamu tinggal bersamanya." Dewi menjelasakan.
"Kak Dewi, Bang Erik, Aku punya apartemen," balas Meila.
"Ini perintah oma. Dan tidak ada penolakan. Titik."
Bukan Erik maupun Dewi yang membalas penolakan Meila, melainkan oma Amanda. Melihat wanita tua yang masih sehat dan cantik itu, Meila segera menghampirinya dan mencium punggung tangan itu dengan takzim.
Meila bertemu oma Amanda pertama kali sebelum pernikahan Dewi dan Erik. Sejak itu, dia sering menemani oma Amanda, setiap kali nenek Erik itu ingin jalan-jalan. Dan ini, untuk pertama kalinya meila berkunjung ke kediaman utama keluarga Alamanda.
"Cucu opa sudah datang rupanya," ucap opa Alan yang baru saja tiba.
Opa Alan mengajak meila masuk setelah gadis itu mencium punggung tangan opa Alan. Hal yang tidak pernah Meila lakukan pada keluarganya. Bukan Meila yang tidak ingin melakukannya. Tapi keluarganya yang tidak ingin Meila menyentuh mereka.
"Opa sudah mengurus semuanya Meila. Mulai saat ini, kamu akan menjadi cucu kami. Bagian dari keluarga Alamanda." Opa Alan menjelaskan.
"Kamu tidak bisa menolaknya." Oma Amanda menambahkan.
"Setelah surat-suratnya selesai, Opa akan mengumumkan kamu sebagai cucu keluarga Alamanda secara resmi."
"Tapi Opa, ...."
Meila tidak melanjutkan ucapannya. Dia memang ingin keluar dari kediaman keluarga Aksara, bukan berarti memutuskan ikatan dia sebagai anak dari kedua orang tuanya. Meila hanya ingin menjauh. Tidak berpikir sampai sejauh ini.
Seolah tahu apa yang Meila pikirkan, opa Alan menambahkan penjelasannya. "Orang tua kamu sudah setuju menyerahkan kamu pada keluarga ini."
Meila terdiam mendengar penjelasan opa Alan. Keluarganya setuju dia menjadi keluarga Alamanda. Itu artinya, Beni Aksara dan keluarga lainnya, benar-benar membuang dirinya.
Harusnya Meila tidak perlu terkejut dengan penjelasan opa Alan. Sejak dulu, keluarganya selalu mengatakan, "Kamu tahu Meila, kamu itu tidak pantas menggunakan nama Aksara." Karena itulah, tidak ada satupun dari keluarganya yang memanggil Meila dengan nama keluarga Aksara. Panggilan untuk Meila hanya berhenti sampai di, 'Meila Ayunda,' saja.
Kalimat, "Tidak pantas menggunakan nama Aksara," selama ini terdengar hanya sebuah ancaman saja bagi Meila. Ancaman itu dilontarkan setiap kali, menurut mereka, Meila melakukan kesalahan.
Mengetahui dirinya benar-benar dibuang oleh keluarganya, hati Meila terasa sakit. Inikah resiko yang harus dia terima setelah memutuskan pergi dari kediaman Aksara. Dirinya benar-benar dibuang.
udh nyktin,tp msih ngemis....
pdhl udh d ksih kmpensasi,jdga brhak gnggu meila lg....
Ternyata masih banyak rahasia dari asal usul keluarganya Melia...
dsni qta bisa belajar keserakkahan tdk akan bisa membuat kebahagian lebih lama bersama qta ,, tp kehancuran lah yg tiap detik mendekati qta ,,
lanjut kak ,,
penasaran sama kelanjutan ny,,
ga sbr nunggu meila ktmu sm bbi ana dn kmbaran'nya,dia pst bhgia bgt....trs ga sbr jg nunggu pra benalu jd gmbel.....
dtggu next episode ny yx kak
☺️☺️☺️
licik di balas licik ,,
ayoo melisa dari sekarang belajar jdi gembel yuuuk ,,
jgn mau ny hidup enk truus ,,
km bukan keluarga aksara ternyata🤭🤭l🤭🤭/Smug//Smug//Smug/ ,,
Selamat menikmatiii ibu Hana ,, ank yg km bangga2kan ternyata bukan ank km ,, 🤭🤭🤭/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Sly//Sly/
dfnisi kta adalh do'a.....pura2 bngkrut,eeehhhhh....bnrn bngkrut.....
siap2 jd gmbel kl ttp ga mau tobat....
puas bgt sm fkta yg trungkap....
Zayan kl mau nysel,silakan aja sih..tp ga guna....trs kl mau mrebut meila,mkir sribu kali sblm mkin hncur....
yg lcik,d bls lcik....pdhl udh tau kl dia cma ank pngut,msih ga tau diri meebut mlik orng lain....cckkk....