NovelToon NovelToon
Cinta Di Orang Yang Sama

Cinta Di Orang Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Titik Balik

Berbulan-bulan lamanya di kediaman Laurent tidak lagi dihiasi dengan tawa atau aroma masakan, melainkan oleh keheningan yang menyesakkan atau dentuman suara pintu yang tertutup keras. Reno semakin tenggelam dalam obsesinya pada angka-angka di bursa saham dan ekspansi perusahaan, sementara Sarah semakin menutup diri di dalam kamarnya, tenggelam dalam tumpukan buku medis dan kesunyian.

Abel berada di tengah-tengah mereka, seperti jembatan yang rapuh. Ia sering membawakan buah-buahan atau susu ke kamar Sarah, mencoba mengalihkan pembicaraan dari sikap kaku Reno.

Suatu sore, saat sinar matahari senja masuk menembus jendela kamar, Abel menemukan Sarah sedang duduk melamun menatap matahari terbenam. Wajahnya jauh lebih pucat dari biasanya, dan lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa lagi disembunyikan oleh skincare semahal apa pun.

"Kak, makan dulu ya? Abel bawakan sup ayam kesukaan Kakak," ucap Abel lembut.

Sarah menoleh, tersenyum lemah. Ia menggenggam tangan Abel, tarikannya terasa dingin di kulit Abel. "Abel... Kakak mau titip sesuatu sama kamu."

"Titip apa, Kak? Kakak mau beli sesuatu? Biar Abel yang cari."

Sarah menggeleng perlahan. Matanya menatap Abel dengan kedalaman yang membuat Abel merasa tidak nyaman. "Kalau nanti... suatu saat Kakak tidak bisa lagi menemani anak ini, kamu mau kan janji satu hal sama Kakak? Jadilah ibu sambung untuk dia. Sayangi dia lebih dari kamu menyayangi dirimu sendiri."

Abel mematung. Jantungnya berdegup kencang. "Kak Sarah bicara apa sih? Kakak sedang hamil, bukan mau pergi jauh. Kakak bakal jadi ibu yang hebat buat dia. Jangan bicara aneh-aneh, Kak."

"Janji dulu sama Kakak, Bel," desak Sarah, suaranya sangat lirih namun sarat akan permohonan. "Reno... dia mungkin pintar mengurus perusahaan, tapi dia butuh hati sepertimu untuk menjaga anak ini tetap menjadi manusia. Janji?"

Abel mengangguk pelan karena takut, meski dalam hatinya ia belum benar-benar memahami makna "ibu sambung" yang dimaksud Sarah. Ia mengira Sarah hanya sedang mengalami depresi masa kehamilan akibat perlakuan Reno.

Malamnya, saat Sarah sudah tertidur lelap, Abel merapikan meja nakas di samping tempat tidur iparnya. Ia tidak sengaja menyenggol sebuah amplop putih yang terselip di balik buku harian Sarah. Amplop itu jatuh ke lantai, menampakkan isinya: sebuah hasil pemeriksaan laboratorium tingkat lanjut.

Abel tahu sedikit istilah medis dari pekerjaannya sebagai analis. Matanya menyisir kata demi kata: Preeklampsia Berat, Chronic Hypertension, dan catatan kecil dari dokter tentang risiko tinggi pada jantung ibu.

Abel menutup mulutnya dengan tangan. Ia menyadari mengapa Sarah selalu menyembunyikan hasil pemeriksaannya dari Reno. Sarah tahu bahwa fisiknya sedang tidak baik-baik saja, namun ia memilih untuk bertahan demi janin yang ia kandung—janin yang bahkan ayahnya sendiri terlalu sibuk untuk sekadar bertanya tentang perkembangannya.

Abel segera keluar dari kamar dan mendatangi Reno yang baru saja masuk ke rumah dengan wajah lelah.

"Kak, baca ini," Abel menyodorkan amplop itu tepat di depan wajah Reno.

Reno mengibaskan tangan Abel. "Bel, gue baru balik dari Bandung. Jangan kasih gue laporan riset dulu sekarang."

"INI BUKAN LAPORAN RISET, KAK RENO!" teriak Abel dengan suara yang pecah oleh tangis. "Ini nyawa istri dan anak Kakak! Kak Sarah sakit, Kak! Dia sedang bertaruh nyawa di atas sana, sementara Kakak cuma peduli sama profit perusahaan!"

Reno tertegun. Ia menyambar kertas itu dan membacanya. Untuk pertama kalinya dalam setahun, topeng es di wajah Reno retak. Tangannya mulai bergetar saat membaca diagnosis medis Sarah.

"Kenapa... kenapa dia nggak bilang?" suara Reno tercekat.

"Gimana mau bilang kalau setiap dia mau bicara, Kakak sibuk sama telepon? Gimana mau jujur kalau setiap dia mengeluh, Kakak bilang dia drama?" Abel menatap Reno dengan tatapan yang sangat dingin. "Kalau sampai terjadi apa-apa sama Kak Sarah atau bayi itu, Kakak bukan cuma gagal jadi kakak buat aku, tapi Kakak adalah kegagalan terbesar dalam keluarga ini."

Reno terhuyung mundur. Ia menatap ke arah tangga menuju kamar Sarah, namun kakinya terasa seberat timah. Penyesalan yang datang terlambat itu mulai mencekiknya.

Reno menghampiri ranjang, mencoba berbicara pada istrinya. Hening. Sarah terdiam tak bersuara. Reno Menggenggam tangan sarah yang mulai dingin, tangan itu sudah tidak kuat menahan, tangan itu terkulai jatuh ke sisi ranjang.

Wajah Reno semakin pucat, ia menyibak selimut yang menutup tubuh istrinya. Cairan dan darah membasahi kasur.

Reno dengan cepat membopong istri dan tanpa menunggu siapapun Reno membawa Sarah ke rumah sakit.

Lorong rumah sakit itu terasa begitu panjang dan menyiksa. Reno berlari di samping brankar Sarah, menggenggam tangan istrinya yang sedingin es. Wajah Sarah sangat pucat, Sarah sempat sadar sejenak, bibirnya sempat membisikkan kata "maaf" yang hampir tak terdengar sebelum matanya terpejam sepenuhnya.

Di depan pintu ruang operasi, seorang dokter senior sudah menunggu. Ia menatap Reno dengan tatapan yang sulit diartikan—perpaduan antara simpati dan ketegasan.

"Pak Reno, saya harus segera melakukan tindakan," ujar dokter itu.

"Lakukan apa saja! Selamatkan istri saya!" teriak Reno frustrasi.

"Dokter Sarah sudah memberikan instruksi tertulis kepada kami sejak sebulan lalu," dokter itu memotong dengan tenang namun dingin. "Beliau tahu risikonya. Beliau meminta kami untuk memprioritaskan keselamatan bayinya, jika pun anda meminta keselamatan dokter Sarah, hidupnya tidak akan sempurna seperti dulu, maka dari itu kami memutuskan untuk menyelamatkan salah satu di antara keduanya yang memiliki potensi hidup lebih baik. Kami akan menjalankan amanah itu sekarang."

Reno terpaku. Instruksi tertulis? Sebulan lalu? Di saat ia sedang sibuk mengejar target perusahaan, istrinya justru sedang mempersiapkan kematiannya sendiri.

Satu jam berlalu seperti selamanya. Abel duduk di samping Reno, memeluk bahu kakaknya yang terus gemetar hebat. Reno tidak bicara, ia hanya menatap kosong ke lantai, baru menyadari bahwa kekayaan dan kekuasaan yang ia kejar tidak bisa membeli satu detik pun waktu untuk memperbaiki kesalahannya.

Lampu ruang operasi berubah warna. Pintu terbuka.

Seorang perawat keluar dengan hati-hati, menggendong sebuah bungkusan kecil yang mengeluarkan tangisan halus—suara kehidupan di tengah keheningan maut.

"Selamat, Pak Reno. Bayinya laki-laki, kondisinya stabil meski lahir prematur," ucap perawat itu.

Reno berdiri dengan kaki lemas. Ia melihat wajah mungil itu, namun sebelum ia sempat merasakannya, sang dokter keluar dengan wajah tertunduk. Ia melepaskan maskernya, menampakkan guratan kesedihan.

"Kami sudah berusaha maksimal, Pak. Namun pendarahannya terlalu hebat, dan kondisi jantung Dokter Sarah tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Beliau... sudah berpulang."

Hening.

Dunia Reno seolah runtuh seketika. Suara tangis bayinya kini terdengar seperti belati yang menusuk ulu hatinya. Ia jatuh terduduk di kursi tunggu, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Tangisan Reno pecah—sebuah raungan penyesalan yang begitu memilukan hingga membuat seisi lorong terdiam.

Abel, meski hatinya hancur berkeping-keping karena kehilangan sosok kakak ipar yang paling ia sayangi, mencoba untuk tetap tegar. Ia menghampiri perawat dan mengambil alih bayi laki-laki itu ke dalam dekapannya.

Bayi itu memiliki mata yang sangat mirip dengan Sarah.

Abel teringat pesan Sarah beberapa hari lalu: "Jadilah ibu sambung untuknya." Kini ia paham sepenuhnya. Sarah tidak sedang depresi, Sarah sedang menitipkan masa depan jantung hatinya kepada Abel, karena Sarah tahu Reno mungkin akan tenggelam dalam duka.

Abel mendekati Reno, berlutut di depannya sambil menggendong keponakannya.

"Kak... lihat dia," bisik Abel di sela isaknya. "Namanya siapa, Kak? Kak Sarah pasti ingin Kakak yang memberinya nama."

Reno mendongak, matanya merah dan sembab. Ia menatap bayi itu dengan rasa bersalah yang teramat dalam. "Gue nggak pantas, Bel. Gue... gue yang bunuh dia dengan ambisi gue."

"Nggak, Kak. Jangan bicara begitu. Kak Sarah mencintaimu sampai napas terakhirnya. Dia meninggalkan anak ini agar Kakak punya alasan untuk tetap hidup dan berubah," tegas Abel.

Reno perlahan mengulurkan jarinya, menyentuh pipi lembut bayi itu. Bayi itu berhenti menangis dan seolah merespons sentuhan ayahnya.

"Farel..." ucap Reno lirih. "Namanya Farel Resaki Laurent. Resaki, artinya Reno-Sarah Kirana."

......................

Setelah hari pemakaman itu, tangis Reno tak kunjung berhenti. Keluarga yang datang perlahan pergi menyisakan kekosongan yang terasa sakit.

Tiga bulan berlalu, namun rumah megah itu masih terasa seperti makam yang sunyi. Bau parfum Sarah yang lembut perlahan menghilang, digantikan aroma obat-obatan dan kesedihan yang pekat. Reno benar-benar hancur. Ia tidak lagi menyentuh laptopnya, tidak lagi memedulikan bursa saham, bahkan tidak lagi memedulikan dirinya sendiri. Rambutnya berantakan, wajahnya ditumbuhi janggut tipis yang tak terawat, dan tatapannya selalu terpaku pada satu titik kosong di sudut kamar.

Di sisi lain, Abel berjuang di atas batas kemampuannya. Di siang hari ia harus memantau pekerjaan kantor yang terbengkalai, dan di malam hari, ia berubah menjadi seorang ibu.

Setiap jam dua pagi, saat Farel menangis karena haus atau butuh kehangatan, Abel-lah yang terbangun dengan mata merah karena kantuk. Ia menimang Farel, berjalan mondar-mandir di koridor rumah sambil menyanyikan lagu pengantar tidur.

Malam itu, hujan turun sangat deras. Farel tidak bisa berhenti menangis, seolah bayi itu bisa merasakan duka yang menyelimuti rumah tersebut. Abel, yang sudah sangat lelah, akhirnya memutuskan untuk membawa Farel ke kamar Reno.

Ia mendapati kakaknya sedang duduk di lantai di samping tempat tidur, memeluk baju terakhir yang dipakai Sarah sebelum ke rumah sakit.

"Kak... tolong," suara Abel parau, hampir hilang. "Farel butuh ayahnya. Aku nggak bisa terus-terusan begini, Kak. Tubuhku lelah, tapi hatiku lebih lelah melihat Kakak seperti mayat hidup."

Reno bergeming. Tatapannya masih kosong.

Abel melangkah maju, ia duduk bersimpuh di depan Reno, meletakkan bayi mungil itu di pangkuan Reno yang dingin. "Lihat dia, Kak. Lihat matanya. Ini mata Kak Sarah. Apa Kakak mau membuat Kak Sarah sedih untuk kedua kalinya? Dia menitipkan Farel supaya Kakak punya alasan untuk bangun setiap pagi, bukan untuk membuat Kakak menyerah pada hidup."

Reno menunduk. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, fokus matanya beralih ke makhluk kecil di pangkuannya. Farel yang tadinya menangis kencang, tiba-tiba terdiam saat merasakan sentuhan kulit ayahnya. Tangan mungil Farel yang rapuh menggenggam ujung kemeja Reno yang kusut.

Sentuhan itu seperti sengatan listrik yang menghancurkan dinding es di hati Reno. Air mata yang selama ini mengering, mendadak tumpah tanpa bisa dibendung.

Reno perlahan melingkarkan lengannya, memeluk tubuh mungil Farel dengan sangat hati-hati, seolah bayi itu adalah kaca yang bisa pecah kapan saja. Ia menyembunyikan wajahnya di dada kecil putranya, menghirup aroma bayi yang khas.

"Maafin Papa... maafin Papa, Nak..." raung Reno. Suaranya pecah, penuh dengan rasa sesak yang luar biasa. "Papa bodoh... Papa telat... Papa sudah sia-siain Mama kamu..."

Isak tangis Reno memenuhi ruangan itu. Ia menangis sejadi-jadinya di tubuh kecil Farel. Beban penyesalan yang ia pikul sendiri selama tiga bulan ini akhirnya tumpah. Farel tidak menangis, bayi itu justru tampak tenang dalam dekapan ayahnya, seolah ia mengerti bahwa tugasnya adalah menyembuhkan luka pria itu.

Abel yang melihat pemandangan itu ikut luruh. Ia memeluk Reno dan Farel sekaligus. "Kita lalui ini bareng-bareng, Kak. Jangan biarkan Farel kehilangan Papanya juga."

Malam itu menjadi titik balik. Meski masih tertatih, Reno mulai mau makan meski hanya beberapa suap. Ia mulai mau menyentuh botol susu dan belajar mengganti popok, meski tangannya masih gemetar karena takut salah.

1
Ariany Sudjana
tetap waspada yah dokter Arslan, bagaimanapun kamu dokter, konglomerat pula, pasti banyak pelakor yang ingin menjadi istri kamu
Mifhara Dewi: bumbu kehidupan tetap akan di sajikan. tunggu bab selanjutnya ya Kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, tinggal langkah selanjutnya Arslan dan Abel
Mifhara Dewi: mau seperti apa nantinya Kak? langsung sat set atau belok2 dulu?
total 1 replies
Naomi Willem Tuasela
semangatttt Thor 👊🏼😇💙💗
Mifhara Dewi: terimakasih Kak
total 1 replies
Mifhara Dewi
Satu saran dari kalian adalah penyemangat untuk ku terus berkarya 🥰🙏
Dwi Sulistyowati
lanjut kak seru cerita nya
Mifhara Dewi: di tunggu updatenya ya kak. kita usahakan 1 hari bisa up 3 bab
total 1 replies
kucing kawai
Bagus bngt
Mifhara Dewi: terimakasih banyak Kak
total 1 replies
kucing kawai
up yg banyak ya thor
Mifhara Dewi: terimakasih kak, di tunggu ya bab selanjutnya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!